Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 91 Terkuak Semua


__ADS_3

Tante Fani menghela napas panjang tatkala melihat mobil Rani, yang baru saja berlalu dari pandangan matanya.


"Iya, aku tidak salah lihat, memang benar itu mobilnya Rani si pelakor!" gumam hatinya.


"Memangnya Sherly datang ke sini sama siapa?" tanya Tante Fani, terlihat basa-basi.


"Dia bersama Rani, dan dia itu adalah mantanku," ucap Rangga, tersipu malu.


"Mantan kamu nikah sudah berapa lama?" Tante Fani kembali bertanya kepada Rangga.


"Kira-kira tiga tahun, itu yang aku dengar," Rangga terlihat heran dengan Tante Fani, karena dia seakan ingin tahu lebih banyak tentang pribadi Rani.


Dalam benak Rangga, dia menyangka kalau Tante Fani itu cemburu, karena menguak masa lalunya dengan mantannya. Padahal Tante Fani penasaran dengan Rani, sang pelakor. karena Rani telah merebut suami dari kakaknya.


___


"Sudah tiga tahun!" Tante Fani matanya terbelalak, dia begitu kaget mendengar kabar berita dari Rangga, karena pernikahan Rani sudah berjalan tiga tahun dengan Bapaknya Rama.


Pernikahan Rama, baru menginjak setahun berarti sebelum Rama menikah. Dia sudah menikahi Rani sang pelakor itu.


"Goblok! Kakakku ternyata selama ini di tipu oleh Bapaknya, si Rama!" gumam hatinya.


___


"Fan, memangnya kenapa? Kamu nanya-nanya masalah pribadi Rani, bagiku dia sudah tidak penting, dan aku sudah tidak mau peduli lagi." ucap Rangga terlihat sudah tidak peduli dengan Rani.


Rangga pun seakan menyimpan rasa kesal kepada Rani, karena dia telah mengkhianati dirinya dengan cara menikahi Pak tua atau Bapaknya Rama.


"Kata Sherly suaminya udah tua, nggak kerja. Aku juga heran dia si Rani, memilih lelaki tua yang miskin itu!" Rangga menggerutu.


Tante Fani menghela napas panjang.


"Aku mau berkata sama kamu, tapi kamu jangan kaget," ucap Tante Fani pandangan seakan jauh, entah kemana. Yang jelas membuat Rangga dihinggapi rasa penasaran.


"Ada apa Fan!" Rangga terasa dag-dig-dug jantungnya berdebar tidak karuan karena, sesuatu takut di ungkapkan oleh Tante Fani yaitu di tolak cintanya.


"Semoga, bukan penolakan yang aku dengar. Dari mulut wanita yang aku kagumi selama ini," gumam hati Rangga.


•••


"Sebelumnya aku mau lihat foto Rani mantan kamu boleh?" tanya Tante Fani seakan membuat hati Rangga, dibuat lebih penasaran lagi. Dalam pikiran Rangga, dihinggapi beribu tanya. Karena tiba-tiba Tante Fani ingin melihat mantannya itu.


"Sebenarnya ada apa sih, Fan?" tanyanya lagi.


"Tenang, nggak ada apa-apa Kok, Aku hanya ingin melihat saja," Tante Fani mencoba tersenyum dihadapan Rangga, walau hatinya sedang berkecamuk marah kepada Rani dan Bapaknya Rama.


Tante Fani ingin melihat foto Rani karena dia, tidak mau gegabah dengan apa yang sedang dipikirkannya. Dia takut kalau ternyata orang yang dimaksud itu bukan Rani, sang pelakor yang telah merebut suami kakaknya.


•••

__ADS_1


"Aku sudah tidak menyimpannya, untuk apa!" jawabnya. Rangga pun seakan nggak mau jika dituduh oleh Tante Fani masih ada rasa kepada Rani, dengan menyimpan foto sang mantan.


"Di sosmed? Masa dia nggak ada Instagram atau apa lah,' ucapnya lagi.


"Fan, sebenarnya ada apa sih, kamu ingin lihat foto Rani. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi!" ucapnya terlihat kesal karena.Rangga mengira Tante Fani ingin melihat foto tersebut karena dihinggapi rasa cemburu kepada Rani tentang mantannya.


Tante Fani menggenggam jemari tangan Rangga, dan tersenyum.


"Aku ingin melihat saja, penasaran," ucapnya dengan suara lembut dan senyuman renyah.


•••


Hati Rangga seakan berdebar tatkala jemari tangannya di genggam oleh wanita yang di kagumi nya itu.


Akhirnya Rangga mengalah untuk membuka aplikasi Instagram setelah muncul nama Rani di Instagram nya itu. Kemudian Rangga memperhatikan foto tersebut ke Tante Fani.


Di sana nampak jelas Rani sedang berpelukan dengan Bapaknya Rama, begitu banyak foto tersimpan disana, seakan membuat geram hatinya. Mata Tante Fani melotot, lekat ke arah foto tersebut.


Muka Tante Fani yang tadinya lembut ketika memegang jemari tangan Rangga, kini berubah seperti seekor singa yang akan memangsa.


•••


"Dasar pelakor, wanita goblok!" Tante Fani terlihat dihinggapi rasa emosi.


Sontak Rangga matanya melotot, dengan perkataan Tante Fani dan dihinggapi rasa heran. Baru kali ini terucap kata-kata kotor dari mulut wanita yang lembut dan baik itu.


"Fan, kenapa kamu ini! kamu kenal dengan Rani?" tanya Rangga dihinggapi rasa penasaran.


Rangga menatap Tante Fani dengan rasa terkejut, dia seakan tidak percaya apa yang baru saja di ucapkan dari mulut Tante Fani tersebut.


"Apa yang kamu ucapkan itu benar Fan?" tanya Rangga, matanya lekat ke arah Tante Fani yang dihinggapi beribu pertanyaan dan rasa penasaran.


Tante Fani menganggukkan kepalanya.


"Tapi sudahlah, lagian Kakakku udah menggugat cerai lelaki itu!" ucapnya.


"Jadi suami di Rani itu, Bapaknya Rama?" tanya Rangga kembali, dia terlihat ingin tertawa.


"Iya, dia Bapaknya si Rama, suami si Rani yang sekarang," jawab Tante Fani.


"Hahaha..." Rangga tertawa terbahak.


Tante Fani mengernyitkan dahi.


"Kenapa, ada yang aneh!" ucap Tante Fani.


"Aku heran saja, si Rani memilih lelaki tua," ucap Rangga mencoba menahan tawanya lagi.


•••••

__ADS_1


Tante Fani terlihat sedang memikirkan sesuatu, dia hanya mengaduk-aduk kopi panas yang menyeruak ke penciuman hidungnya.


"Sudah jangan terlalu banyak dipikirkan, biar pembalasan kepada si lelaki tua, aku yang urus," ucap Rangga menatap Tante Fani sambil meneguk air mineral.


Rangga pun seakan belum puas untuk membalaskan rasa kesalnya, kepada lelaki itu atau suaminya Rani.


Rasa tersakiti oleh Rani karena tiba-tiba begitu saja meninggalkan dirinya, dan Bapaknya Rama yang merebut Rani darinya.


"Maksud kamu apa, pembalasan! kamu mau hajar! Bapaknya si Rama," Tante Fani terlihat khawatir.


"Aku nggak mau dia di serang, atau kamu nyuruh orang, nanti juga ada pembalasan dari Tuhan untuk dia dan pelakor. Ada hukum karma, lihat saja nanti. Sebenarnya Minggu kemarin dia ada yang menyerang dia, beberapa orang dan mukanya babak belur, malah aku yang urus dia ke Rumah Sakit," ucap Tante Fani.


Degh..


Rangga terlihat salah tingkah


"Yang menghantam lelaki tua itu adalah suruhan dari aku, karena aku kesal! Dan terbakar api cemburu." gumam hati Rangga.


___


"Kenapa kamu, seperti yang kaget ketika aku membicarakan Bapaknya si Rama, yang di hantam oleh beberapa orang?" Tante Fani dihinggapi rasa heran.


"Ng-nggak Kok, nggak apa-apa. Cuma aku salut sama kamu, meskipun si lelaki tua sudah menyakiti Kakak kamu, tapi kamu masih tetap peduli dengan membawa dia, pergi ke Rumah Sakit," ucap Rangga mencoba menutupi rasa kagetnya.


_____


Dalam hati Rangga pun sangat bersimpati kepada Tante Fani, karena meskipun Bapaknya Rama sudah menyakiti Kakaknya sendiri, tapi tetap saja Tante Fani mau peduli kepada lelaki itu.


Rangga berpikir, Tante Fani mempunyai hati yang mulia. Karena tidak membiarkan Bapaknya Rama, begitu saja. Setelah dihantam oleh suruhannya itu.


Entah kenapa sifat Rangga yang dulu penuh emosi dan pemarah dan terlihat keras kepala, sekarang menjadi luluh dan berusaha untuk lembut setelah mengenal Tante Fani.


_____


"Jangan pernah menyalahkan orang lain dalam kehidupanmu. Karena kita pun sebagai manusia tidak luput dari salah. Orang baik membuatmu bahagia. Sedangkan orang jahat membuatmu belajar, aku jadi banyak belajar dari semua ini, harus berhati-hati terhadap lelaki." ucapnya lirih.


•••••


Rangga menghela napas panjang.


Rangga pun sekarang mengerti alasan dari Tante Fani menolak cintanya. Mungkin Tante Fani begitu sulit untuk bisa kembali membuka lembaran baru, atau menjalin cinta dengan seorang lelaki. Tante Fani belum mampu melupakan kekecewaan tentang dirinya dan suami kakaknya.


Yang membuat dia seakan berpikir, bahwa semua lelaki itu sifatnya sama. Yaitu ingin menyakiti perasaan hati seorang wanita.


•••


"kuharap kamu mengerti dengan semua ini, alasan aku menolak cinta kamu untuk sekarang ini. Sebenarnya aku ingin mencoba membuka lembaran baru. Tapi entah mengapa bayangan kekecewaan, yang menghinggapi hatiku, dan Kakakku. Selalu menggelayuti hati dan pikiranku. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat, untuk aku membuka lembaran baru, tapi tidak bisa dipungkiri ke depannya, aku mau mencoba membuka hati aku. Entah itu untukmu atau lelaki yang tepat untuk membuatku lebih baik lagi." ucap Tante Fani.


"Aku sekarang paham Fan, dan sekarang aku tidak akan memaksamu, agar kamu menjadi kekasihku saat ini. Tapi aku berharap kamu bisa menjadi kekasihku, bahkan lebih dari itu yaitu istriku, karena aku sudah terpikat oleh sifat pribadimu." Rangga berharap penuh kepada Tante Fani untuk menjadi istrinya.

__ADS_1


Tante Tante Fani hanya diam, tidak memberikan jawaban. Tatkala Rangga mengungkapkan isi hati kepadanya.


Bersambung...


__ADS_2