Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 29 Hati Mama Astri tidak karuan


__ADS_3

Mana melamun.


Semenjak kepergian anaknya, hati Mama Astri, dihinggapi rasa pilu karena sang anak bungsunya, sekarang sudah pergi. Tidak tinggal di rumahnya lagi tapi di rumah sang adik yaitu Tante Astrid.


Tiba-tiba Papa menghampiri sang istri.


"Mah, jangan ngelamun terus, nggak baik. Anak kita yang penting betah tinggal disana, baru juga tiga hari ditinggal Bianca," ucap sang Papa, tatkala melihat sang istri termangu didalam kamar Bianca.


Mama hanya terdiam.


Nampak sang Mama, sedang membereskan baju seragam Bianca dan tas yang selalu dia pakai ketika pergi sekolah.


Hati Mama sangat sakit sekali.


Biasa di depan kaca rias sang anak merapikan seragamnya dan menguncir rambutnya yang dibantu oleh sang Mama.


Nampak terlihat di meja rias tersebut berjejer make-up yang selalu dia pakai, ada parfum, bedak dan bando, beserta karet rambut yang berwarna-warni.


Mata Mama kemudian lekat tertuju ke arah pigura gambar. Nampak disana terlihat Bianca, bersama teman-teman sekolahnya, kira-kira ada 10 orang sedang memakai seragam putih biru.


Disana Bianca memeluk erat tubuh Merry, sang sahabat. Senyuman yang di torehkan Bianca sangat sumringah seakan tidak ada beban disana.


Mungkin gambar foto tersebut di ambil ketika Bianca, kelas 1 SMP. Kemudian mata Mama tertuju kembali ke lelaki yang di pinggir Bianca, lelaki yang terlihat manis dan lembut.


Dia adalan Faisal, Ibu dari Faisal adalah teman Mama. Ibunya Faisal sangat menyukai Bianca.


\*Dulu\*


"Bianca, wajahnya sangat cantik. Mama Astri, bagaimana kalau kita nanti besanan ya, awas Mah Astri, anaknya jangan dikasihkan ke orang lain ya," ucap Ibunya Faisal, menggoda dan tertawa terkekeh.



Faisal dan Bianca pun mereka seakan saling suka. Dan mengapa sosok Rama tiba-tiba muncul, entah darimana datangnya. Kemudian mereka saling kenal dan pada akhirnya Bianca hamil.


Ini yang menjadi pertanyaan sang Mama.


"Mah..ngelamun! kenapa sih?" tanya sang Papa menatap lekat.


"Nggak apa-apa," Mama dengan cepat merapikan baju Bianca, kedalam lemari.


"Besok kita bertemu Pak Hans, yang seorang pengacara itu, untuk proses perceraian Bianca!" ucap sang Papa.


Mama hanya diam, tidak banyak kata.


"Dari pada tidak segera bercerai, kasian anak kita lebih terluka. Tinggal menghitung hari si Rama, akan menikahi wanita lain," pandangan Papa mengarah ke jendela luar kamar.



-Dulu-


Papa teringat Bianca, selalu menatap sang Papa dari jendela kamar tersebut, ketika sang Papa sedang mencuci mobil, anak itu selalu menggoda Papanya, merasa senang jika mendengar canda tawa sang anak di balik pintu jendela.


"Pah, yang semangat nyuci mobilnya, entar kalau capek Bianca yang pijitin," ucap sang anak seakan mengejek.


Di perlakukan seperti itu sang Papa, merasa senang dan terhibur rasa lelah seakan sirna.


Gelak canda dan tawa Bianca, seakan membuat Papa semangat.


\*\*\*

__ADS_1


"Semua tinggal kenangan!" ucap Papa, bicara sendiri sambil menatap halaman rumah.



"Pah, kenangan apa?" ucap sang Mama, dihinggapi rasa penasaran. Karena sang suami tiba-tiba bicara seperti itu.



Papa terkesiap, lalu menghela napas panjang.


"Teringat Bianca, dulu dia selalu mengejek Papa, dan dia berdiri disini, melihat Papa,"



Papa memandang lekat jendela dan memainkan gorden yang berwarna pink, kebetulan Bianca menyukai warna pink.



Sang Mama pun teringat masa-masa tersebut, begitu banyak kenangan yang ditorehkan bersama sang anak.



"Pah, tetangga dan teman Mama, sudah hampir semua tahu tentang kehamilan Bianca, dan nanti tiba-tiba ada kabar tentang perceraian dari Bianca, apa yang akan Mama katakan kepada mereka. Mama malu dan tidak tahu harus jawab apa, dan bagaimana kalau tahu bahwa Rama, sebenarnya minggu depan akan menikahi wanita lain. Pasti cerita ini akan menyebar Pah," ucap sang Mama.



"Yang jadi khawatir selalu rasa malu, kenapa sih Mah, Papa heran," sang Papa terlihat kesal.



"Papa sehari-hari tidak di rumah, dan ruang lingkup kantor saja," ucap Mama.



\*\*\*


\*\*\*


Malam itu Mama tidur di kamar Bianca, dia memeluk erat guling yang selalu di peluk Bianca. Karena dihinggapi rasa rindu yang teramat kemudian sang Mama, menelepon anaknya itu.



{"Nak, sehat kan? Mama kangen,"}


ucap sang Mama, di sambungan telepon selularnya.



{"Bianca, sehat ko,"} jawabnya, terdengar riang dari nada suara sang anak itu, ketika sang Mama, meneleponnya.



{"Nak, besok Mama dan Papa mau bertemu dengan Pak Hans, dia pengacara yang akan mengurus perceraian kamu,"} ucap sang Mama lirih.



{"Jadi Bianca...Jadi cerai!"} Bianca seakan berat mengatakan kata cerai dari mulutnya.


__ADS_1


{"Iya, sayang. Dari pada kamu bersuami tapi suami kamu tidak ada, dan tidak tanggung jawab. Mama yakin dia orang yang tidak pantas untuk kamu!"} sang Mama mencoba meyakinkan hati sang anak.



Bianca hanya terdiam, dia seakan tidak rela dalam hatinya untuk bercerai dengan Rama, secepat itu.


Dia belum merasakan dan menjalani biduk rumah tangga bersama Rama, sedangkan dia sudah menikah.


Mungkin dalam bayangannya, Rama akan bertanggung jawab dan Bianca rela di madu karena dia sangat mencintai dan menyayangi Rama.


Teringat dulu.


Pertemuan antara Bianca dan Rama di kenalkan oleh seorang teman. Kebetulan Bianca sedang mampir ke rumah teman sekolahnya. Temannya tersebut mempunyai seorang kakak laki-laki, dan dia mempunyai teman yaitu Rama.


Kesan pertama melihat sosok Rama, entah mengapa Bianca terpesona kepada Rama, dan lelaki itu pandai merayu. Bianca gadis polos itu terbuai bujuk rayu sang playboy.


Perkenalan yang singkat itu menimbulkan benih cinta, padahal Rama sudah mempunyai pacar yaitu Amel atau sebutan nama tren nya yaitu Siska.


"Aku ingin sekali nikahan si Rama datang, akan aku permalukan," gumam hatinya.



\*\*\*


"Halo sayang, Halo Bianca, kamu masih dengar kan Mama bicara!" ucap sang Mama, karena disaat Mama bicara Bianca seakan tidak menangggapi hanya diam saja.



"Iya, Mah. Bianca nurut saja," terdengar seperti sedih.



Sang Mama tahu bahwa Bianca tidak rela kalau begitu saja cerai dengan sang suami Rama, yang pernikahannya baru seumur jagung itu. Malah malam pertama pun sang suami malah pergi.



"Kamu yang sabar ya, sayang," ucap sang Mama lirih.


Bianca pun menutup sambungan teleponnya.


\*\*\*


\*\*\*


Mama terlihat melamun ketika sang anak menutup sambungan teleponnya.


"Nasib kamu sungguh kurang beruntung," gumam hati Mama.



Mama menatap langit-langit kamar, Mama mencoba memejamkan matanya, tapi entah kenapa seakan tidak bisa matanya untuk terpejam.



Mama mengkhayal anaknya yang sekarang tinggal di Bekasi, bersama Tante Astrid. Bianca pasti sedang melamun memikirkan masalah perceraian dengan Rama.



Pasti hatinya sedang hancur, dan menangis pilu. Sebenarnya Mama tidak tega mengucapkan kata perceraian itu tapi mungkin ini jalan yang terbaik.

__ADS_1


"Semoga dengan perceraian ini, adalah awal kebahagiaan. Bagi anakku, Bianca," bisik hati sang Mama.


__ADS_2