Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 57 Amel bertemu Ibunya Bianca.


__ADS_3

Bapak Amel Marah.


Bapaknya Amel sangat menunggu Rama, untuk membayar utang karena sang Bapak, sudah tidak punya simpanan apa-apa lagi.


Sedangkan Rama berjanji akan membayar uang itu dengan cepat tapi buktinya sampai detik ini sudah menginjak 6 bulan belum juga dibayar utang tersebut.


"Mana Rama, janji mau bayar utang, sampai hari ini belum bayar. Papa butuh!" Bapaknya Amel terus-menerus menagih utang kepada sang anak yang sedang memberikan susu formula kepada Bayinya tersebut.


"Belum ada mungkin Pak, sabar. Mungkin kalau sudah ada dia datang kesini," ucap sang istri seakan membela anaknya.


Sebenarnya dalam hati Ibunya Amel kesal juga kepada sikap sang menantu, yang tidak punya itikad baik untuk menengok Bayinya.


Ibu berharap meskipun di usir oleh Bapak mertua, seharusnya Rama datang saja untuk menengok anaknya, bukannya pergi tidak kembali.



"Tapi sampai kapan Bu. Lelaki tidak berguna, buat makan istri pun tidak ada," ucap sang Bapak. Akhirnya Bapak pun lama kelamaan geram dengan sikap sang menantu yang makin hari makin tidak ada kepastian.


Amel bercucuran air mata tatkala mendengar ucapan sang Bapak yang selalu menagih utang Rama. Dia pun sampai hari ini mencoba menghubungi Rama tapi ponsel tidak aktif dan Amel, lupa tidak minta nomor teleponnya Rama, kepada Ibunya Rama.


"Aku harus minta nomor teleponnya Rama, ke Ibunya. Aku harus menanyakan uang yang 100 juta itu. Atau aku akan temui Rama ke rumahnya," gumam hati Amel.


Amel pun berinisiatif untuk datang ke rumah Rama siang ini. Amel menunggu saat yang tepat untuk datang ke rumahnya Rama, dimana Bapaknya akan pergi keluar lalu dia akan pergi ke rumah Rama, karena jika Bapaknya tahu Amel mengunjungi rumah Rama, Bapaknya pasti akan marah.



Tepat pukul satu siang Amel terlihat sudah siap-siap pergi ke rumah Rama.


"Bu, titip dulu Bayiku, aku mau ke rumah Rama. Tolong jangan bilang sama Bapak ya, kalau aku pergi ke rumah Rama," ucap Amel terlihat menyimpan kesal kepada sang suami karena belum.juga kembali.



"Hati-hati ya, tapi awas jangan buat keributan disana. Ibu takut nanti kamu membuat ulah disana. Bertengkar," ucap sang Ibu, karena sang Ibu tahu betul sifat dari anaknya itu. Amel selalu tidak bisa mengendalikan emosi jika tersulut emosi.



"Iya Bu, aku juga ngerti," jawabnya.



Amel pun pergi ke rumah Rama dengan memakai kendaraan motor. Nampak dia memandangi anaknya dengan lekat.


"Nak doakan Ibu ya, Ibu mau cari Ayahmu yang belum datang nemuin kamu," Amel mencium Bayinya tersebut. Nampak terlihat bola matanya berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tertumpah disana.


\_\_\_


Dalam perjalanan menuju rumah Rama, Amel teringat sang Ibu mertua, karena dia tidak ada masalah dengan sang Ibu mertua dan perlakuan Ibu mertua sangat baik kepadanya. Kemudian Amel ada niat untuk memberikan oleh-oleh kepada sang Ibu mertua.



Dia pun mampir ke pasar untuk memberikan oleh-oleh. Dia teringat sang Ibu mertua suka Buah Mangga. Dia pun berinisiatif untuk membeli buah mangga ke pasar yang pernah dia beli mangga tersebut.


\_\_\_\_


Sampai di pasar.


"Bu, Manngga nya beli 3 kilo," ucap Amel sambil memilih Buah Mangga yang akan dia beli.



"Baik Neng, ini Mangga nya manis loh, Neng," ucap sang Penjual lalu sang Penjual memasukkan Buah Mangga yang sudah dikilo sebesar 3 kilo. Sang penjual lalu menyerahkan Buah Mangga tersebut sambil tersenyum ramah kepada sang pembeli.


__ADS_1


"Iya Bu, enak kalau manis buat oleh-oleh," jawab Amel sambil memilih buah Pisang juga. Dia teringat Bayinya yang suka Buah Pisang.



Dia berpikir Buah Pisang ini akan diberikan kepada Bayinya yang usianya sudah menginjak 7 bulan. Dalam hati Amel dihinggapi rasa syukur karena dia diberi uang lebih dari Ibunya. Jadi dia bisa beli Buah Mangga dan Buah Pisang untuk Bayinya.



"Bu, untuk Bayi bagusnya diberi Buah Pisang apa ya?" tanya Amel sambil memilih-milih Buah Pisang yang ada di keranjang.



"Pisang Ambon, Neng, kalau untuk Bayi," ucap sang penjual sambil memberikan Pisang Ambon tersebut kepada Amel.



"Ini saja Pisangnya 1 kilo," Amel kemudian merogoh uang dari dalam tas satu lembar berwarna merah.



"Rumah mertuanya, memangnya dimana Neng?" tanya sang penjual.



"Di jalan Merpati, Bu," ucap Amel.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Sang penjual langsung teringat ke masa lalu mengingat yang di sebutkan oleh sang pembeli dengan nama Jalan Merpati.


Jalan Merpati menyimpan luka dimana dia di usir secara halus oleh Keluarga dari lelaki yang menghamili anaknya, dan yang lebih perih lagi kedua orang tua tersebut tidak mengakui anak dari dalam kandungan anaknya tersebut.



Bayangan Bapak dari sang lelaki yang seakan mencibir dan terlihat sinis membuat dia seakan dihinggapi rasa kesal dan amarah yang terpendam.



"Kalau saja kejadiannya tidak seperti ini, anakku menikah dalam keadaan normal. Mungkin aku sekarang punya besan yang di Jalan Merpati," gumam hatinya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_



"Buuuuu..." ucap Amel.



Amel terlihat heran dengan sang penjual ketika mendengar kata Jalan Merpati, kemudian dia langsung terdiam dan pandangannya jauh seakan kosong.



"Iya Neng, Alhamdulillah masih punya mertua ya," jawab sang penjual yang tidak lain adalah Mamanya Bianca. Dia hanya tersenyum tipis.



"Iya Ibu mertuaku baik. Jadi semua totalnya berapa Bu?" tanya Amel menatap lekat ke Mamanya Bianca.



"Totalnya 90 rb, Neng," ucap Mamanya Bianca dan tersenyum lebar.


__ADS_1


"Neng memangnya rumahnya dimana?" tanya kembali Mamanya Amel sambil mengambil uang kembalian di laci sebesar 10rb, karena uang dari Amel 100rb.



"Rumah saya di Jalan Anggrek, Bu," jawab Amel sambil mengambil uang 10 rb, kembalian dari Mamanya Bianca.



"Deket dong, kalau Ibu di Jalan Anggrek, Ibu rumahnya di jalan Mawar, nanti kalau mau mampir tanya saja disana mau ke warung Ibu Astri," ucap Mamanya Bianca.



"Bu, Minggu kemarin tutup ya ini tokonya, waktu itu aku kesini," ucap Amel menatap lekat.



"Iya Neng, karena Ibu sekarang kalau males untuk ke pasar suka jualan di rumah saja. Jualan di halaman rumah Neng," jawabnya.



"Kalau gitu nanti bisa beli langsung ke rumah Ibu ya, kalau di toko tutup," ucapnya Amel.



"Iya Neng, ke rumah saja. Ibu sendiri di rumah, tidak ada orang. Anak ibu pada tinggal di luar kota semua," ucap Mamanya Bianca.



"Boleh Bu, nanti sambil bawa Bayiku jalan-jalan," ucap Amel.



"Iya Neng bawa Bayinya, usia berapa sekarang Bayinya?" tanya lagi Mamanya Bianca.



"Usianya sekarang 6 bulan lebih, makannya sudah saya kasih buah pisang," Amel tersenyum kepada Mamanya Bianca.



"Hampir sama usianya seperti anaknya Bianca, kalau saja dekat Cucuku udah aku bawa jalan-jalan tiap hari," gumam hatinya. Mama Astri menghela napas secara perlahan.



"Cucu Ibu usia berapa?" sambung Amel kembali.



"Hampir sama dengan anaknya Neng," jawab Mamanya Bianca.



"Yasudah, nanti kapan-kapan saya mampir ke rumah Ibu untuk beli buahnya ya, saya pamit dulu ya Bu, keburu siang,"



Amel pun berpamitan kepada sang penjual, lalu dia menyeret kakinya kembali keluar pasar, kemudian dia menyimpan bawaannya di dalam bagasi motornya.


Lalu dia melajukan motornya menuju arah rumah Rama.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2