Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 17 Keluarga Bianca berkunjung ke rumah Rama


__ADS_3

Keluarga Bianca ke rumah Rama.


Pukul lima sore keluarga dari Bianca, nampak tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Rama, lelaki yang telah menghamili Bianca, gadis polos.


Nampak di dalam mobil semua tidak bergeming, mereka seakan menyimpan tanda tanya di benaknya masing-masing.


"Tante, kenapa menangis terus?" tanya Mischa, sang keponakan kepada Bianca.


Bianca tersenyum hambar, dia hanya terdiam lalu menundukkan kepalanya.


"Mischa, ayo minum susunya." ucap Tyanca sambil mengarahkan pandangan anaknya itu ke arahnya. Karena dari tadi pandangan anaknya itu, mengarah ke arah Bianca terus.


***


Keadaan macet menuju rumah Rama.


"Kamu sudah telepon belum, si Rama?" tanya Tyanca kepada Bianca. Sang Kakak seakan sinis ketika berucap.


"Su..sudah, tapi.. tidak aktif?" jawab Bianca, terbata-bata ketika berucap.


Tampak Bianca di hinggapi rasa khawatir.


Mungkin takut Rama tidak ada di rumah. Bianca nampak gelisah, dan sang Mama seakan tahu hati dari anaknya tersebut.

__ADS_1


Peluh dari Bianca bercucuran, rambutnya terurai panjang terlihat tidak rapih.


Sang Mama pun terlihat, merasa kasihan terhadap anaknya tersebut walaupun telah melakukan kesalahan.


Lalu sang Mama, membuka tas nya, kemudian dia mengambil sisir dan ikat rambut. Sang Mama lalu menguncir rambut sang anak.


Itu mungkin kebiasaan sang Mama, terhadap anaknya dan dari mata Bianca, merasa ada rasa kenyamanan ketika sang Mama, dengan penuh telaten menyisir rambut sang anak.


Bianca dalam hatinya merasa bersalah dan terpukul.


***


Bianca mual.


Nampak Bianca memegang mulutnya, seperti mau muntah. Sang Mama seakan tahu apa yang di rasakan oleh sang anak. Lalu Mama membalurkan minyak kayu putih, ke leher sang anak. Mungkin dia mual karena sedang hamil, selama hamil dia baru mengendarai kendaraan.


"Pusing dan mual ya Nak?" tanya Mama, dihinggapi rasa khawatir kepada sang anak.


Bianca menganggukkan kepalanya.


Dia terlihat memijit kepalanya lalu mengusap-usap lehernya.


Sang Mama memijit kepalan sang anak, begitu perhatian. Meskipun dalam hati Mama sangat kesal dan menyimpan rasa kecewa yang teramat.

__ADS_1


"Mah, Mama, istirahat tidur saja, perjalanan masih jauh setengah jam lagi." ucap Papa.


Rumah orang tuanya Rama, menempuh perjalanan satu jam, dan keadaan macet.


Sang Papa seakan tidak memperdulikan keadaan Bianca, dia hanya peduli terhadap sang istri.


"Pah.." ucap Mama, sambil mengedipkan matanya. Karena Bianca, sontak menatap sang Papa.


***


Tiba di rumah Rama.


Akhirnya tiba juga di rumah Rama, terlihat disana sedang banyak orang. Melihat kedatangan keluarga Bianca, nampak keluarga dari Rama dihinggapi rasa heran.


"Mau bertemu siapa ya?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Ibu dari Rama.


"Saya keluarga Bianca," ucap Tyanca.


"Bianca.." sang Ibu terlihat dihinggapi rasa heran. Karena dia tidak mengenal sosok Bianca.


"Bianca itu pacar Rama. Dan dia sekarang lagi mengandung anaknya Rama!" Tyanca seakan tidak bisa menahan emosinya itu.


Gerry suami dari Tyanca, menatap istrinya itu.

__ADS_1


"Mami, tenang?" ucap sang suami pelan lekat ke kuping istrinya itu. Dia mencoba menenangkan istrinya.


sifat dari Tyanca, keras dan tidak sabar. Beda jauh dengan sang suami yaitu Gerry, dia suami yang sabar dan dewasa. Segala sesuatu selalu dia pikirkan baik itu untuk berbicara mau bertindak.


__ADS_2