
Ibunya Rama terkejut.
Sang Ibu terkejut ketika mendengar apa yang di ceritakan oleh sang anak, bahwa Rama telah ditipu, dan uang yang dia pakai adalah uang mertuanya. Nampak sang Ibu seperti dihinggapi rasa khawatir dan sedih dengan kejadian ini.
"Kenapa kamu enggak bilang sebelumnya, kalau kamu pinjam uang sama mertua kamu. Ibu jadi kesel dengan tingkah laku kamu yang selalu membuat ulah, dan kalau sampai Bapakmu tahu, Ibu nggak tahu akan seperti apa nanti Bapakmu memarahi kamu!" ucap Ibu nampak kesal dan emosi.
Nampak mata Ibu berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tertumpah disana.
"Maafkan aku Bu," ucap Rama, pandangannya menunduk seakan tidak berani menatap sang Ibu yang sedang tersulut emosi.
"Antar Ibu ke rumahnya Sandy, yang menipumu itu!" sambung sang Ibu kembali sambil melotot.
"Dia sudah pindah kostnya, dan Ibu tadi dengar sendiri temenku Rudi mengabarkan, bahwa dia sudah mencari Sandy, kemana-mana tapi tidak ada," Rama terlihat bingung dan mukanya pucat pasi.
"Anak ini selalu bikin ulah, dari dulu,!" gumam hati sang Ibu. Menghela napas secara perlahan.
Rama dan sang Ibu pun beranjak dari tempat tersebut
Tiba di Bu Bidan.
Mereka pun akhirnya tiba di tempat semula yaitu dimana Amel sedang dirawat.
Rama nampak duduk di teras sedangkan Ibunya berlalu menemui sang menantu untuk pamitan ijin pulang.
Sementara Bapaknya Amel mendekati Rama, dan dia menanyakan tentang bisnis yang sedang dijalani oleh Rama dan uang yang sudah di pinjam sang menantunya itu harus segera di kembalikan.
"Gimana bisnis kamu?" tanya Bapaknya Amel.
Rama menghela napas panjang.
"Lan..lancar Pak," ucapnya gugup.
Rama belum bisa berkata jujur kepada sang Bapak mertua karena keadaannya seperti tidak memungkinkan, atau momennya kurang tepat untuk mengadu.
Di dalam kamar.
"Jadi sore ini Amel dan Bayinya bisa dibawa pulang," ucap Mamanya Amel, terdengar dari dalam kamar. Dan nampak Amel begitu sangat senang sekali mendengar dia dan sang Bayi sudah sehat dan bisa pulang.
.~~~
Sore tiba dan Amel pun pulang ke rumah kedua orang tuanya bersama Rama.
Nampak Amel begitu senang menjadi seorang Ibu, dia begitu menikmati peran baru sebagai seorang Ibu muda.
Dia memandangi Bayi mungilnya di dalam Box Bayi dan tersenyum sumringah.
Rama nampak ingin segera mengabarkan kepada Amel bahwa dirinya kena tipu, tapi entah mengapa bibirnya seakan terhalang untuk tidak bisa berkata apapun, yang dilakukan Rama hanya termenung.
"Mas, kenapa" tanya Amel karena melihat sang suami terlihat sedih dan sedang berada dalam masalah.
Rama menatap lekat sang istri lalu dia menghela napas panjang.
"Mah, Aku kena tipu oleh Sandy, dan dia sekarang kabur." ucap Rama kepada sang istri nampak seperti memohon ingin di belas kasihan. Mendengar ucapan sang suami sontak Amel terkejut.
"Maksudnya..!" jawab Amel seakan tidak percaya, dan ingin Rama kembali bicara.
__ADS_1
"Sandy relasi bisnis kita kabur," Rama mencoba memberanikan diri untuk berbicara.
Mata Amel nampak terbelalak dia seakan tidak mau mendengarnya, dengan apa yang baru saja di utarakan oleh Rama.
"Kamu sedang tidak becanda kan?" tanya Amel menahan rasa kesal.
Rama menggelengkan kepalanya, dan pandangannya menunduk tidak berani menatap sang istri.
"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak cari keberadaan si Sandy, itu uang tidak sedikit. Uang tersebut sangat besar nominalnya dan harus segera di kembalikan kepada Bapakku," ucap Amel terdengar dari nada bicaranya dia seperti marah.
Karena suara Amel keras dan mengakibatkan sang orang tua Amel mendengar. Mereka pun menerka dalam pikirannya ada apa gerangan.
Kemudian kedua orang tuanya menghampiri kamar Amel dan memasuki kamar anaknya tersebut.
"Nak, ada apa?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa penasaran.
Nampak wajah Amel terlihat penuh emosi, sedangkan Rama hanya tertunduk diam.
Nampak Amel mengatur napasnya kemudian dia melirik ke arah sang suami.
Sang orang tua tambah bingung dengan ucapan Amel.
"Tenang Nak, ada apa?" sang Ibu kemudian berjalan menuju tempat Box Bayi, lalu dengan cepat sang Ibu menggendong Bayi tersebut yang terbaring sambil menangis.
Sang Bayi terbangun dan menangis karena terkejut mendengar suara Amel dengan nada tinggi dan penuh emosi.
"Ngomong, jangan diam saja!" Amel mendesak Rama untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya tersebut.
Rama membuang napas kasar.
"Begini Pak, sebelumnya Rama mau minta maaf, karena Rama pinjam uang ke Bapak, belum bisa diganti bulan ini, dan yang jadi pokok masalahnya sebenarnya, Rama kena tipu oleh rekan bisnis yang bernama Sandy," ucap Rama masih dengan muka tertunduk.
Sontak kedua orang tua Amel terkesiap, apalagi sang Bapak, dia seakan tidak mau menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Muka Bapak merah padam, sepertinya dia menahan rasa marah dan kesal.
"Kamu sudah mencarinya keberadaan si Sandy dimana?" tanya sang Bapak terlihat penuh emosi.
__ADS_1
Rama menganggukkan kepalanya.
"Pokoknya Bapak tidak mau tahu, uang itu harus segera kembali karena mau dipakai modal usaha," sambung lagi sang Bapak.
"Tapi..." jawab Rama.
"Tapi si Sandy keberadaannya sudah tidak di ketemukan!" Sambar Amel mengejek.
"Ya, kamu cari dong, jangan pasrah begitu saja. Uang itu besar 100 juta! Pokoknya sebelum kamu mengembalikan uang tersebut kamu jangan pernah kembali kesini!" ucap sang Bapak.
"Maksud Bapak, aku di usir secara halus," Rama seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sang Bapak mertua.
"Iya, kamu pergi dari sini!" tegas sang Bapak.
Sontak, Ibu dan Amel terkejut mendengar ucapan Bapak yang begitu spontan dan terdengar marah sekali.
Rama pun terkejut dia seakan tidak bisa berkata-kata, dia diam tidak berbicara lagi.
Dia hanya menatap sang Bayi yang sedang di gendong Ibunya Amel sambil merengek menangis.
"Ayo, tunggu apa lagi, kamu cari si Sandy, pokoknya Bapak tidak mau tahu, uang itu harus kembali secepatnya," Bapak kembali mengulang ucapannya.
Nampak Amel berkaca-kaca matanya, dia tidak menyangka sang Bapak akan setega itu, mengusirnya. Dia berpikir sang Bapak hanya memarahinya dan persoalan selesai.
Tapi sang Bapak malah kalap marah dan Rama harus mengganti uang tersebut dalam jangka waktu yang singkat.
"Pak, masa Rama harus pergi dari sini. Ini kan ada anaknya!" Amel melirik Bayinya dan nampak membela suami, karena dia merasa terdesak.
Bapak hanya terdiam, dan menatap lekat kepada Rama, seakan memberikan isyarat bahwa dia harus pergi dari rumah itu secepatnya.
Rama pun akhirnya berpamitan kepada istri dan Bayinya, nampak dia mengelus lembut rambut kepalanya.
"Ayah pergi dulu ya, jangan rewel, jagain Mama," bisiknya lekat ke kuping bayi.
Lalu dia bersalaman kepada kedua mertuanya. Sang Bapak seakan tidak peduli dengan kepergian Rama.
Amel terisak tangis.
"Bu, kenapa diam, Ibu ngomong sama Bapak. Jangan usir Rama," Amel memelas kepada sang Ibu. Ibunya Amel pun seakan tidak bisa berbuat apapun, karena sang suami berwatak keras, jika ada kemauan tidak bisa di tahan.
__ADS_1
Rama pun menyeret kakinya keluar kamar, nampak matanya berkaca-kaca, jantungnya seperti di remas. Rasa sakit begitu menyelimuti dadanya saat ini.