Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 132 Ikhlas melepaskan


__ADS_3

Bapaknya Azizah pun akhirnya pamit pulang.


Nampak di dalam mobil dia termenung, memikirkan sang menantu dan Mama Astri, rasa bersalah kian hinggap menerpa hati dan pikirannya.


____


Tiba di rumah.


"Bah,,gimana kabar dari Mamanya Bianca?" tanya Azizah, wajahnya seperti dihinggapi rasa khawatir.


"Kalau Abah pikir penyakitnya dari hati maksudnya sepertinya dia sakit mikirin suaminya nikah lagi, dan Abah sudah cerita banyak dengan suami kamu juga," ucapnya. Nampak terlihat wajah sang Bapak seperti dihinggapi rasa bersalah.


Azizah matanya berkaca-kaca.


"Bah,,,lebih baik aku mundur," jawabnya lirih dan air matanya menetes di ujung matanya.


"Maksud kamu apa Nak,,,!?" tanya sang Bapak terlihat terkejut.


"Aku, mau minta pisah saja dari suamiku, kalau keberadaan aku menjadi tidak nyaman keluarganya Mama Astri," jawabnya kembali.


_____


Sang Bapak tidak bergeming hanya air mata yang menetes di pelupuk matanya.


"Ya, dulu mungkin Abah yang salah, terlalu cepat menikahkan kamu dengan lelaki itu karena Abah pikir kalian sudah dewasa, dan tidak baik jika kebersamaan kalian terlalu lama terjalin meskipun kalian tidak melakukan apa-apa, tapi kan, pandangan orang berbeda," jawab sang Bapak kembali mengenang masa itu.


"Pokoknya aku mau bicara sama suamiku aku mau pisah saja Bah, dan aku mau pergi dari sini, aku mau pergi ke rumah Uwa saja, dan tinggal disana, seperti dulu. Aku mending disana hidup tentram bersama anak-anak yatim, hidupku mungkin akan bermanfaat jika aku kembali tinggal di yayasan milik Uwa," ucap Azizah seperti memohon.


•••


Sang Bapak pun nampak tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun menyadari jika Azizah lebih baik tinggal disana dari pada hidup dengannya dan selalu dibayangi dengan Papanya Bianca.


"Nak,,,gimana dengan Bianca yang sudah dekat denganmu? Bagaimana jika dia mencari keberadaan kamu?" tanya sang Bapak seperti dihinggapi rasa khawatir karena sang Bapak tahu jika Bianca sangat dekat dengan Azizah anaknya.


"Aku tidak peduli Bah, yang penting hidupnya Bianca sekarang sudah berubah dan tertata tidak jadi wanita yang mudah emosi, cemburu dan egois. Semoga dia lebih ikhlas dan sabar untuk menatap hari ke depan," ucap Azizah.


_____


Dadanya bergemuruh dalam hatinya yang paling dalam sebenarnya dia tidak mau untuk jauh dari Bianca. Dia sudah merasa dekat dengan Bianca dan terlalu sayang kepada Bianca. seperti anak sendiri.

__ADS_1


Sepertinya Azizah sudah ikhlas kalau dia melepas sang suami dari pada menyakiti hati Mamanya Bianca, belum lagi cibiran dari anak-anaknya, apalagi dari diri Bianca sendiri.


"Nak, maafkan Abah," ucap sang Bapak kemudian dia memeluk sang anak dengan erat.


_____


Malam itu Azizah menangis sesenggukan di atas sajadah sejadi-jadinya, dia luapkan rasa emosi dan bersalahnya karena telah menyakiti hati wanita lain, meskipun hati yang lain ikhlas menerima madunya.


"Semoga aku mantap dan yakin ini adalah jalan yang terbaik yang aku lakukan, dan aku berharap Bianca tidak mencari keberadaan aku, meskipun nanti aku tidak ada di sampingnya untuk sekedar berkeluh kesah," lirihnya.


_____


Azizah mencoba menulis pesan kepada sang suami atau Bapaknya Bianca.


"Bismillah.." nampak Azizah menghela napas secara perlahan.


•••••


"Mas,, maafkan aku, jika selama ini aku tidak bisa menjadi wanita atau istri yang baik. Tapi selama aku bersama kamu, aku tulus dan ikhlas dengan mendidik Bianca menjadi wanita yang pribadinya lebih dewasa dan ikhlas menerima semua ujian. Mungkin semua yang dilalui Bianca dengan masalahnya yang bertubi-tubi itu merupakan ujian hidupnya, agar dia lebih dewasa untuk menatap ke depan. Di balik ujian pasti ada kado terindah sedang menunggunya," pesan pertama terkirim untuk Papanya Bianca dari Azizah.


"Maafkan aku dan aku lebih baik mundur, atau aku minta kata pisah saja (cerai) setelah aku pikir ternyata aku menyakiti hati wanita lain. Aku berharap Mas, mengerti dengan keputusanku ini. Aku pun berharap Mas, bisa fokus dengan usaha Bianca agar kedekatan kalian terjalin dari pada Mas, kerja selalu di luar kota tidak ada waktu untuk keluarga," pesan kedua terkirim oleh Azizah.


____


"Aku sabar, aku ikhlas itu harus aku lakukan. Masa aku mengajarkan hal demikian kepada Bianca sementara aku tidak bisa melakukannya! Kamu bisa Azizah, kamu wanita kuat dan kamu harus bisa meninggalkan masa lalu kamu!" gumam hati Azizah mencoba menyemangati dirinya sendiri dan berusaha tegar.


___


Nampak pesan sudah di terima dan dibaca oleh sang suami atau Papanya Bianca.


Azizah seakan belum siap menerima jawaban dari sang suami. Dia pun menyimpan ponselnya dengan kasar di atas nakas, kemudian dia membuang napas kasar.


Azizah naik ke ranjangnya, rasa pusing di kepala pun hinggap, dia pun merebahkan badannya itu lalu mencoba memejamkan matanya agar bisa tertidur sejenak dan menepis bayangan tentang sang suami.


Beberapa kali dia mengelus dada, bayangan Mama Astri yang begitu sopan dan bersahabat kian nyata hinggap di pikirannya, dan Bianca yang sifatnya manja di hadapannya seakan tidak sanggup untuk menjauh dari sosok Bianca.


"Bianca merasa nyaman, Bianca seperti menemukan sosok Ibu kembali,' ucapan itu kembali terngiang di telinganya Azizah.


Azizah kembali meneteskan air mata.

__ADS_1


_____


Keesokan harinya.


Tok...Tok ..Tok..


"Nak,,,Nak,,,bangun, shalat subuh," ucap sang Bapak dengan mengetuk pintu beberapa kali ke kamar Azizah.


Azizah pun nampak membuka matanya secara perlahan, dia pun terhenyak tatkala melihat jam sudah menunjukkan pukul 6, biasa dia terbangun pukul 4 subuh.


"Aku kesiangan!" ucapnya.


Azizah pun menyeret langkah kakinya untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka nampak sosok Bapaknya yang sedang mematung di depan pintu. Sang Bapak kemudian tersenyum ke arah sang anak.


"Nak, cepat ambil air wudhu dan shalat subuh setelah itu Abah mau bicara," ucap sang Bapak sambil berlalu dari kamar Azizah.


Azizah pun dengan cepat ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


_____


Setelah selesai shalat.


Nampak Azizah tidak bisa menatap sang Bapak, pandangan menunduk. Dia pun mencoba menahan air mata agar tidak menetes di hamparan pipinya.


"Nak,,," ucap sang Bapak dengan menghela napas secara perlahan.


"Suamimu sudah memberi kabar kepada Abah, katanya dari semalam dia mencoba menghubungi kamu, namun tidak ada jawaban dan dia juga bercerita sudah memahami dan membaca isi pesan yang kamu sampaikan. Dan Abah pun mencoba menerangkan semua dan memberi pengertian kepada suamimu,," nampak sang Bapak seakan tidak bisa meneruskan perkataannya beberapa kali dia nampak mengelus dada.


Azizah kemudian mendongakkan kepalanya seperti sedang menunggu sebuah jawaban dari sang Bapak.


"Suami kamu sepertinya sudah ikhlas melepas kamu, itu baru kesimpulan Abah ya, karena Abah pun bicara dengan dia kalaupun di lanjutkan lagi hubungannya dengan kamu, mungkin situasinya tidak seperti dulu pasti ada rasa bersalah. Dan bayangan Mamanya Bianca selalu hadir karena kamu sudah bertemu langsung dengan Mama Astri, mungkin beda cerita jika kamu belum bertemu dengan Mamanya Bianca atau istri tua dari suamimu." sang Bapak mencoba menerangkan itu semua kepada sang anak dengan sangat hati-hati dan nampak matanya berkaca-kaca saat melihat sang anak meneteskan air mata.


"Nak,,," ucap sang Bapak sambil menggenggam erat jemari sang anak.


"Kamu wanita sabar, dan harus ikhlas dengan kenyataan ini semua," ucap sang Bapak.


Azizah hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba tersenyum kepada sang Bapak, meskipun dari hatinya seperti ada belati yang menyayat hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2