Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 59 Pertemuan


__ADS_3

Pertemuan


Amel nampak terlihat kesal dari raut mukanya, dia cemberut tatkala melihat sosok Rama, berada tepat didepan matanya.


Tante Fani pun seakan mengerti apa isi hati dari Amel yang kesal dan kecewa terhadap suaminya. Rama sudah tidak lagi bertemu istri dan anak hampir 6 bulan ini.


Mereka saling bertatapan tatkala dengan tidak sengaja kedua mata Amel, dengan sorot mata tajam mengarah ke mata Rama.


Tapi Amel dengan cepat memalingkan mukanya itu, mungkin dalam hatinya berpikir.


Lelaki yang di depan matanya itu sudah tidak berguna, tidak ingat dengan istri dan anaknya yang masih Bayi.


"Amel sehat?" tanya Ibunya Rama.


Nampak Amel agak sedikit gugup, karena pandangannya sedang ke arah Rama dan pikirannya sedang kalut juga kesal.



"Baa-baik....Bu," Amel mencium punggung tangan Ibunya, dengan senyuman yang terlihat lebar namun seakan terpaksa.


Melihat situasi tersebut Ibunya Rama, seakan tahu kondisi, lalu dia berlalu ke belakang dengan di ikuti oleh Tante Fani.


Tante Fani terlihat menyadari bahwa Amel hatinya sedang dihinggapi rasa kesal yang teramat terhadap Rama, namun Tante Fani tidak bisa berbuat apapun karena itu urusan rumah tangga mereka, yang harus di selesaikan oleh kedua belah pihak, jadi Tante Fani tidak mau lebih jauh untuk ikut campur.


Tante Fani mengelus pundak Fani, pertanda untuk menenangkan hati Amel yang sedang gundah gulana.


"Mel, Tante ke belakang dulu ya, sabar yang tenang ya, Fan." ucap Tante berbisik, lekat ke kuping Amel.


Amel hanya menganggukkan kepalanya.


Nampak terlihat Rama menghempaskan tubuhnya duduk di teras rumah, Amel pun mencoba duduk di sampingnya.


Beberapa saat kemudian mereka hanya diam, seakan tidak banyak kata yang terucap dari mulut masing-masing.



Amel berdehem.


Kemudian dia mencoba mengatur napasnya yang sudah mulai memburu.


"Apa kamu nggak ingat sama anakmu!" ucap Amel terdengar dari nada suaranya dihinggapi rasa kesal.



Rama terdiam, didalam hatinya dia merasa bingung harus berkata apa, karena dia menyadari intinya pasti Amel akan menagih utang kepada dia sebesar 100 juta.



"Ngomong! kamu nggak ada rasa perhatian sedikitpun ya, kepada anakmu," sambung lagi Amel dengan mata berkaca-kaca.



Nampak terlihat Rama membuang napas kasar lalu dia menatap kearah Amel.


"Aku sampai saat ini belum bekerja, aku sudah mencoba melamar kerja kemanapun, namun akhirnya tidak ada perusahaan yang membuka lowongan kerja." jawab Rama.



"Alasan!" ucap Amel.

__ADS_1



"Bukan alasan, kamu tanya sama Ibuku, aku sudah melamar kemana-mana tapi hasilnya gak ada," ucap Rama seakan membela diri.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Amel terlihat terpejam matanya.


Begitu berat penderitaannya selama ini, dia berjuang sendiri agar bisa hidup bersama anaknya. Tapi bukan berarti kedua orang tuanya tidak mengurus dia, malah Ibunya sangat berperan penting kepada anaknya, selama ini. Disaat sakit dan tidak ada uang Ibunya yang terdepan yang membantu dia.



Entah sampai kapan, dia harus berpisah dengan suaminya Rama, berapa lama lagi dia akan hidup terus bersama anaknya tanpa ada suami mendampinginya.



Meskipun Tante Fani mau membayar uang utang kepada Bapaknya Rama, sebesar 100 juta. Tapi itu pun kedepannya harus di bayar oleh Rama.



Amel terlihat menghela napas panjang, mungkin kalau akhirnya semua akan terjadi begini. Dulu dia dan Rama tidak akan memberikan pinjaman uang yang begitu besar kepada temannya Rama.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"kamu nggak malu, aku selama ini hidup di tanggung sama orang tuaku," ucap Amel.



"Aku juga sehari-hari makan bersama Ibuku disini. Jadi harus gimana lagi," dengan entengnya Rama berkata seperti itu.



Amel seakan geram terhadap suaminya itu.



"Aku kan sudah kesana-kemari cari kerja. Aku tadi sudah bilang sama kamu, tapi belum ada panggilan. Nah di tambah sekarang aku ada musibah tertabrak, apa kamu tidak iba dengan keadaan aku sekarang ini," ucap Rama.



"Iba! maksud kamu harus iba? apa aku nggak salah dengar. Hai, kamu laki-laki harus kuat, harus bisa berdiri tegak jangan lemah. Apa kamu tidak iba, dengan kondisi anakmu dan aku, istrimu yang selama ini kamu telantarkan," ucap Amel terdengar mulai panas dengan keadaan



"Ya, aku mengerti tapi.." ucap Rama



"Tapi, malas!" Amel menyambar ucapan sang suami.



"Tapi keadaan aku sedang sakit, nanti kalau sudah pulih aku cari kerja lagi," ucapnya.



"Siapa suruh sakit," ucap Amel.


__ADS_1


"Sakit aku nggak mau, ini kan musibah aku tertabrak," jawab Rama.



"Tertabrak istri Bapakmu!" Amel mengejek.


Rama sontak terkejut tatkala mendengar Amel berbicara seperti itu. Di dalam hatinya dihinggapi rasa penasaran.


Mengapa Amel tahu bahwa Bapaknya, sudah menikah lagi. Rama berpikir tidak mungkin Tante Fani yang berbicara.


"Jangan ngarang cerita ya, kamu," ucap Rama terlihat kesal, karena Amel sudah menyindir Bapaknya. Dia seakan menutupi aib Bapaknya sendiri.


"Ngarang! maksud kamu, aku ngarang. Aku tahu semuanya," Amel tertawa terkekeh.


"Cukup, cukup, ini nggak ada hubungannya dengan Bapakku. Kenapa kamu jadi ngomongin Bapakku," Rama terlihat tersulut emosi.


__________


Sebenarnya dia marah bukan karena Amel ikut campur ke tanah pribadi Bapaknya, namun setelah Amel menyebut sang Bapak dan istri sirinya, Rama jadi teringat kepada kedua orang tersebut, Rama di hatinya dihinggapi rasa kesal dan amarah yang memuncak terhadap sang Bapak, yang begitu tega mempermainkan hati Ibunya.


Meskipun dia menyadari bahwa sebenarnya, dia pun sudah menyakiti hati Amel dan Bianca. Amel dan Bianca selama ini dia telantarkan.


Rama terlihat berkaca-kaca matanya, dadanya seakan sesak jika mengingat 7 bulan yang lalu. Dia 2 bulan berturut-turut menikah dengan 2 orang wanita, tapi 1 orang wanita hanya ijab kabul yang terucap kata setelah itu tidak ada rumah tangga yang di bangun.


Nah, dengan wanita yang ada di depan matanya yaitu Amel, dia hanya menikmati rumah tangga berdua saja tanpa ada orang ketiga yaitu anak. Karena ketika sudah melahirkan dia dipisahkan oleh Bapaknya Amel, karena masalah uang 100 juta.


__________


Amel terdiam ketika Rama mulai berbicara dengan nada tinggi. Amel terlihat serba salah.


"Aku mau kerja, dan anakmu urus saja sama kamu!" Amel menggerutu, dengan raut muka terlihat kesal.


"Terserah kamu!" jawabnya.


"Terserah kamu gimana, terus anakmu!" Amel melotot.


"Ya kan, kata kamu anak di suruh, di urus sama aku. Jadi aku ngurus anak, kamu kerja," ucap Rama, terdengar ucapan tersebut bagi Amel buat dia tambah kesal dan marah.


"Enak aja, aku tulang punggung, harusnya istri tulang rusuk." gumam hati Amel.



Karena suara Rama dan Amel terdengar keras, tiba-tiba Ibu dan Tante Fani datang ke arah dimana mereka berada.



"Mel, ngobrolnya di dalam yu," Tante Fani merangkul Amel.



"Iya nggak enak ngobrol di teras, entar terdengar tetangga malu," ucap sang Ibu.



Mereka pun berlalu dari teras rumah, menuju ruangan keluarga.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2