
Tiba di Rumah Sakit.
Mama Astri pun tiba di Rumah Sakit.
Sang Mama langsung masuk keruangan IGD. Nampak Bianca terlihat dihinggapi rasa khawatir yang teramat dengan sang Mama masuk ke ruangan IGD.
Bianca pun kemudian menghubungi sang kakak untuk segera datang ke Rumah Sakit karena keadaan sang Mama kritis.
•••
{"jatuh di mana Mama!? Sampai masuk IGD,"} tanya Tyanca di sambungan teleponnya, Terdengar dia begitu panik ketika menerima kabar bahwa sang Mama masuk ruang IGD.
{"Jatuh di kamar mandi Kak,," jawab Bianca terdengar dengan suara lirih dan sedih.
{"Ya,,,sudah Kakak segera kesana,"} jawab sang Kakak. Nampak sang Kakak pun ketika berucap nampak terdengar serak seperti menahan tangis.
____
Akhirnya sambungan telepon pun ditutup oleh Bianca. Nampak terlihat Papanya Bianca meremas rambutnya dengan kasar, dia tidak menyangka setelah dia bicara kepada sang istri bahwa dia sudah menikah, sang istri kemudian terjatuh di kamar mandi, dan ini menjadi tanda tanya besar di dalam diri sang suami. "Apakah dia sedang melamun, dan mengakibatkan dia akhirnya terjatuh di kamar mandi?" sang suami terlihat begitu gusar dan sedih memikirkan sang istri.
"Pah, yang sabar dan tenang. Kita berdoa semoga Mama baik-baik saja, dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Mama," ucap Bianca, dan sang Papa pun merasa tenang Ketika sang anak berucap seperti itu.
"Ayo, Pah kita sholat, kebetulan ada musholla di ujung sana," kembali sang anak menyabarkan hati Papanya itu, dan Bianca telunjuk Bianca pun mengarah ke tempat musholla yang keberadaannya di ujung IGD.
Sang Papa pun dan Bianca berlalu dari tempat itu untuk menuju ke ruangan musholla.
___
Setengah jam kemudian.
"Dok,, bagaimana dengan istri saya!?" tanya Papanya Bianca dihinggapi rasa khawatir kepada sang istri.
Sang Dokter nampak menghela napas panjang." Alhamdulillah Pak, keadaan istri Bapak baik-baik saja, hanya saat ini di usahakan untuk istri Bapak, jangan mikir yang berat ya, keadaannya harus rileks dan tenang." ucap sang Dokter.
Sang dokter pun berlalu dari hadapan Papanya Bianca, dan Dokter pun mengabarkan akan pindah ruangan.
Sang suami dan Bianca akhirnya memasuki ruang IGD, dimana Mama sedang di rawat.
"Mah,, maafkan Papa," sang suami menangis tersedu dia seakan menyesali telah membuat kecewa kepada sang istri dengan cara berpoligami.
"Sudah,,,Papa tidak salah, sudah jangan bicara lagi," sang mamah matanya lekat ke arah Bianca seakan mengisyaratkan bahwa sang suami jangan berkata lagi tentang wanita yang sudah dinikahinya, karena takut Bianca nantinya kecewa.
___
__ADS_1
"Hatimu sangat lembut Mah, aku tahu kamu kecewa dan terluka tapi kamu coba tutupi dari aku, demi anakmu yang telah berubah sifat dan berperilaku nya, kamu terlihat pasrah menerima kenyataan ini," gumam hati sang suami dengan membuang napas kasar.
____
"Mama,,," tiba-tiba Tyanca datang dengan memeluk sang Mama dan sesenggukan menangis.
"Mah,, kenapa sampai jatuh di kamar mandi? Mama lagi ngelamun ya? Sebenarnya Mama sedang memikirkan apa?" bertubi-tubi pertanyaan datang terucap dari mulut Tyanca sang anak.
"Mungkin licin saja, Sayang," sang Mama terlihat bahagia karena anak-anaknya begitu sangat mengkhawatirkannya.
••
"Kak, kata Dokter jangan banyak pertanyaan sama Mama, biar Mama tidak menjadi berat kepalanya. Buatlah pikirannya sedikit rileks," ucap Bianca lekat ke kuping Tyanca sang Kakak.
•••
Tyanca seakan memahami itu semua, dia pun lalu menyuruh sang Mama untuk beristirahat agar pikirannya sedikit tenang.
Keluarga Bianca pun nampak keluar, dan Dokter mengabarkan satu jam lagi sang Mama akan di pindahkan ruangannya.
___
Tiba di luar ruangan.
Nampak sang Papa menghela napas panjang.
"Papa juga tidak menyangka Mama sampai terjatuh di kamar mandi. Padahal sebelumnya Papa sedang bersenda gurau dengan Mama. Tapi,,,tadi Papa sedang berbicara masalah serius dengan Mamamu, apa mungkin dia jadi memikirkan hal tersebut!?" sang Papa nampak terlihat gelisah.
"Sedang berbicara apa Pah, jawab?" Tyanca seperti dihinggapi rasa penasaran dengan ucapan sang Papa yang terdengar menggantung.
••••
Sang Papa nampak lekat pandangannya ke arah anaknya itu. Dia pun tidak mau jika bicara masalah serius tentang dirinya sudah menikah lagi dengan wanita lain karena sekarang sedang berada di Rumah Sakit.
Sang Papa pun berpikir tidak mau sampai hati anaknya itu terluka, dengan berbicara bahwa dia sudah menikah dan sang anak sedih lalu menangis dilihat oleh orang lain yang berada di Rumah Sakit.
"Nanti saja,, enggak ada apa-apa kok," sang Papa berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Nampak Tyanca dihinggapi rasa penasaran yang teramat karena dia melihat sosok Papanya seakan menyimpan rahasia, tapi belum mau di ungkapkan karena melihat keadaan sedang di Rumah Sakit.
"Ya,, sudah nggak apa-apa Kalau Papa enggak mau bicara dengan Tyanca, enggak maksa kok, mungkin nanti kalau saatnya tiba pasti Papa akan bicara atau Mama yang bicara sama Tyanca, selama ini kan Papa sama Mama tidak ada yang ditutupi semuanya terbuka," ucap Tyanca tersenyum.
•••
__ADS_1
Mendengar perkataan tersebut, sang Papa merasa tersindir, dan malu karena memang benar apa yang diucapkan oleh Tyanca. Mama sama papa selama ini tidak ada yang ditutupi, semua terbuka. Tapi kenapa Papa membohongi Mama, dan selama 1 tahun tidak membuka diri bahwa dia sudah berpoligami.
Entah mengapa mata sama Papa berkaca-kaca, dan akhirnya bulir putih pun lolos menetes di pelupuk matanya, dan Tyanca pun merasa terkejut dengan melihat sang Papa yang meneteskan air mata, karena Tyanca tahu bahwasanya sang Papa tidak mudah meneteskan air mata di depan anaknya.
"Pah,,,kenapa?" ucap Tyanca berkaca-kaca sambil memeluk sang Papa.
"Maafkan,,, maafkan, Papa ya, Nak! Papa saat ini belum bisa menjadi Papa yang baik buat Tyanca dan adikmu. Papa sangat berharap semoga kamu sayang sama Mama dan bisa menjaga Mama," ucapnya lirih dan terdengar isak tangis begitu jelas dari mulut sang Papa tersebut.
____
"Pah kata Dokter, Mama akan segera dipindahkan ke ruangan lain," ucap Bianca tiba-tiba datang menghampiri sang Papa, dan nampak jelas terlihat oleh Bianca, sang kakak tengah menghapus air mata yang terus-menerus menetes di hamparan pipinya.
"Kak,,,jangan nangis dong,' sang adik pun memeluk erat sang Kakak.
•••••
"Ayo,, kita pindah ruangan," ucap Gerry suami dari Tyanca tiba-tiba datang menghampiri.
Papa dan kedua anaknya itu kemudian berjalan menuju ruang IGD untuk menjemput Mama yang akan dipindahkan ruangan.
____
Setengah jam kemudian setelah Mama Astri pindah ruangan.
Nampak Papa dan Gerry keluar menuju kantin yang berada di Rumah Sakit untuk sekedar minum kopi. Sementara Tyanca dan Bianca menunggu sang Mama di dalam ruangan pasien yang di tempati oleh Mama Astri.
Nampak Bianca sedang menyuapi sang Mama, begitu telaten dia mengurus sang Mama yang menimbulkan rasa tanya dari Tyanca karena nampak terlihat olehnya Bianca begitu telaten mengurus sang Mama.
Setelah Mama makan, Bianca pamit untuk keluar sebentar membeli minuman.
Karena sudah tidak ada siapa-siapa dan hanya ada Tyanca dan Mama akhirnya Tyanca memberanikan diri untuk bertanya kepada sang Mama.
"Mah,,," ucap Tyanca, seakan tidak bisa meneruskan perkataannya. Bianca menghela napas secara perlahan.
Sang Mama nampak menatap lekat kepada sang anak."Iyaa,,," jawab sang Mama.
"Mama sebelum mengalami kecelakaan katanya ada hal serius yang di sampaikan oleh Papa, nah Tyanca penasaran dengan hal tersebut, kalau boleh tahu ada persoalan apa dengan Mama, dan Papa yang mengakibatkan mungkin Mama terjatuh karena melamun," tanya sang anak.
Degh...
Pertanyaan sang anak sungguh membuat hati sang Mama dihinggapi tidak karuan untuk berterus terang. Dia pun tidak mau jujur atas pernikahan sang suami atau Papanya Tyanca.
Bersambung...
__ADS_1