Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 134 Papanya Bianca gelisah


__ADS_3

Pagi itu di meja makan nampak keluarga Bianca sedang menikmati sarapan pagi.


Nampak Tyanca cemberut tidak mengulas senyuman sedikitpun dari bibir mungilnya, dan ini menjadi tanda tanya besar bagi Gerry sang suami.


"Kenapa sih Mih, mukanya cemberut kayak gitu. Malu sama Papa dari tadi ngeliatin terus," bisik Gerry kepada sang istri.


•••


Tyanca pun pandangannya melirik ke arah sang Papa yang tengah menatap lekat ke arahnya dan seketika itu juga tatapan Tyanca mendelik kepada sang Papa dan ini menjadi tanda tanya besar dihati sang Papa.


"Kenapa Tyanca tidak sopan begitu, tumben. Dia seakan marah dan kesal kepadaku! Ada apa ini?" tanya sang Papa dalam hatinya.


"Pah,,dimakan ayam saos mentega nya, biasanya Papa sama Tyanca senang dan langsung lahap habis kalau Mama masakin menu ini," sang Mama melirik ayam saos mentega kemudian menuangkannya ke piring Tyanca yang terlihat hanya baru ada nasi yang tertuang disana, itu pun takarannya baru sedikit kira-kira hanya 3 sendok makan saja.


"Jangan,,,jangan Mah, Tyanca enggak suka!" ucapnya dengan masih pandangan mukanya cemberut.


"Loh,,kenapa!? Biasanya kamu suka ayam yang di masak seperti ini!? tanya sang Mama dihinggapi rasa penasaran.


•••


"Mungkin,,, kenyang, ya,,,kenyang! Tadi dia sudah makan roti di kamar," ucap Gerry berusaha menyembunyikan rasa khawatir sang Mama terhadap sang istri.


"So, tahu!" gerutunya.


•••


Melihat sang anak terlihat seperti menahan rasa marah, sang Mama pun seakan berpikir. Mungkinkah kejadian kemarin sore saat sang anak menanyakan Papanya menikah lagi, dan ini menjadi ada rasa kesal yang hinggap di diri sang anak. Nampak sang Mama pun terlihat gelisah tiba-tiba, nampak menghela napas secara perlahan.


Sang Mama pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menatap Bianca yang tengah lahap memakan makanan yang Mama masak.


"Sayang,,, enak ya, masakannya!?" tanya sang Mama menepuk pundak Bianca dengan halus karena posisi duduk Bianca bersebelahan dengan sang Mama.


Bianca kemudian melirik sang Mama dengan senyuman manisnya pertanda masakan yang Mama masak enak.


•••

__ADS_1


"Dek,,hari ini kamu istirahat dulu di rumah ya, jangan pergi ke Ruko karena sudah ada karyawan yang jaga disana, kamu tidur atau jalan-jalan sama Raden," ejek Gerry dan tertawa terkekeh.


Bianca tersenyum tipis seakan tersipu malu dengan ledekan sang Kakak, Gerry tidak tahu kalau saat ini Bianca tidak memikirkan lelaki, dia hanya fokus pada usahanya itu.


"Kak Gerry, bisa aja," jawabnya tersipu malu.


"Nak Raden, sedang ada di rumah ya, kebetulan Mama ada perlu sama Bu RT, biar nanti siang ini Mama mau datang kerumahnya sambil silaturahmi karena sudah lama enggak bertemu," ucap sang Mama.


"Kamu ikut ya, Nak!?" ucap sang Mama menatap lekat kepada Bianca.


•••


Bianca hanya diam tidak menjawab, dalam hatinya dihinggapi rasa bingung karena saat ini dia tidak mau bertemu dengan semua lelaki yang pernah hinggap dihatinya.


Dia niatnya mau membenahi dirinya dulu tidak mau terfokus dengan hal yang menyangkut lelaki. Karena bagi Bianca untuk sekarang ini, jika memikirkan lelaki, hanya akan membuat waktunya terbuang percuma.


"Lihat saja nanti Mah, mungkin akan ada temanku datang kesini," jawabnya.


"Kalau menurut Kakak enggak apa-apa kamu datang ke rumah Raden, karena Raden masih sendiri dia belum mempunyai pasangan. Jadi kamu itu bukan Pelakor Dek!" sindir sang Kakak dengan pandangan mengarah terhadap sang Papa.


Sang Mama pun nampak pandangannya mengarah ke sang anak yang nampak terlihat ketika berucap seakan menyimpan rasa amarah dan dendam.


••••


Bianca tertawa terkekeh tatkala mendengar ucapan sang Kakak.


"Enggak dong kak, aku enggak akan menjadi Pelakor, tidak bisa dibayangkan juga ya Kak, jika jadi Pelakor dan orang yang disakiti Pelakor rasa sakitnya gimana!?" ucap Bianca dan bayangan kembali ke masa lalu saat Rama meninggalkan pergi demi Amel.


"Kamu mungkin bisa merasakan sakit dan perihnya seperti apa Dek, coba tanya Mama!?" sindir Tyanca kembali.


"Loh,,,kok tanya Mama sih, apa hubungannya. Kamu kalau bicara ada-ada saja Mih," tegur sang suami Gerry.


"Mungkin,,,mungkin, Mama banyak tahu soal ini, dan teman-temannya korban dari Pelakor, jadi Mama banyak makan garam. Iya kan Mah!?" Tyanca kembali berucap seakan tidak puas untuk membuat rasa malu dan menyindir sang Papa.


Degh...

__ADS_1


Nampak terlhat seketika muka sang Papa merah padam tatkala mendapatkan sindiran dari sang anak.


Tiba-tiba sang Papa menaruh sendok dan garpu di atas piringnya tersebut dan beranjak dari kursi tersebut.


"Pah,,mau kemana? makannya belum beres," ucap sang istri ketika mendapati sang suami berlalu begitu saja dari meja makan sedangkan makanan yang tersaji di piring sang suami masih tersisa banyak.


"Papa kenyang, Mah," jawabnya.


Sang Papa pun kemudian berlalu dari hadapan meja makan, dan meninggalkan keluarganya. Dia berlalu ke arah kursi sofa.


___


Sang Mama membuang napas kasar dan pandangannya mengarah kepada Tyanca yang terlihat sinis saat matanya tertuju ke arah Papanya yang sedang berlalu ke arah kursi sofa.


Gerry pun seakan dihinggapi rasa penasaran dengan sang istri yang tiba-tiba menyindir soal wanita Pelakor.


"Mih,,,ada apa sih, tiba-tiba kamu bahas wanita Pelakor! Kadang aku heran deh dengan sikap kamu yang tiba-tiba suka menyindir tidak jelas," tanya sang suami lekat ke kuping sang istri.


"Aku kan cuma nanya, jika posisi kita Pelakor atau di sakiti Pelakor bagaimana!? ucapnya dengan pandangan mengarah kepada sang Mama dan terdengar keras.


___


Ucapan Tyanca yang keras tersebut pun nampak terdengar oleh sang Papa karena pandangan sang Papa yang tengah berada di kursi sofa langsung melirik kembali ke arah meja makan, kebetulan jarak meja makan dana kursi sofa hanya terhalang dengan lemari kaca jadi ucapan Tyanca sangat jelas terdengar oleh sang Papa.


"Apakah Tyanca tahu, bahwa aku pernah menikah dengan Azizah karena nampak sedari tadi dia seakan menyimpan rasa kesal terlihat dari tatapannya ketika dia menatapku." gumam hati sang Papa, dan sang Papa pun seperti dihinggapi rasa khawatir jika sang anak mengetahui bahwa dia pernah mengkhianati sang istri atau Mamanya itu.


Nampak sang Papa membuang napas kasar.


"Aku tahu sifat dari anakku Tyanca, dia orangnya cepat tersulut emosi dan nekad, beda dengan Bianca, dan jika benar Tyanca tahu tentang pernikahan aku dengan Azizah walaupun sudah pisah mungkin Tyanca akan bicara sama Gerry suaminya. Mungkin jika itu sampai terjadi, mau taruh dimana mukaku, aku malu kepada sang menantu," kembali sang Papa melayang jauh pikirannya.


Dia tidak bisa membayangkan dalam dirinya, jika sang anak dan menantunya sampai tahu bahwa dirinya pernah melukai sang istri.


Entah mengapa hati sang Papa saat itu terasa berdebar, dia berpikir bagaimana jika semuanya terbongkar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2