
"Rani, apa yang kau harapkan dari Kakek tua itu!" ucap Sherly sahabat dari Rani, dia seakan mengejek temannya tersebut yang mempunyai suami yang numpang hidup darinya. Selama menikah dengan Rani. Bapaknya Rama, tidak bermodal kan uang.Dia hanya memanfaatkan uangnya Rani yang berlimpah.
"Sudah ya, kamu jangan usik kehidupan aku, terserah aku mau ngapain juga dan itu bukan urusan kamu, paham!" Rani terlihat kesal dan melotot ke arah Sherly, temannya itu.
"Aku mengingatkan saja sih, mending kamu balik lagi sama pacarmu yang tajir itu." Sherly kembali memanasi sahabatnya itu yang nampak tergila-gila kepada Bapak tua, yaitu Bapaknya Rama.
•••
Sherly adalah sahabat dari Rani, yang sudah lama dia kenal. Hubungan persahabatan mereka sekitar 5 tahun jadi sudah lama terjalin. Pacar Rani sebelum Bapaknya Rama bernama Rangga.
Dia sosok lelaki yang cukup terbilang kaya, seorang pengusaha dan pencemburu.
•••
"Apa kamu tahu, aku dulu putus dari Rangga karena apa?" ucap Rani yang usianya sekitar kepala 4 tapi masih tetap terlihat segar dan cantik.
"Apa.." jawab Sherly.
"Dia wataknya keras dan kasar, juga pencemburu. Jadi aku malas untuk hidup dengan dia. Aku juga dulu pernah di pukul oleh dia. Sedangkan yang sekarang, dia sosok lelaki yang baik hati dan lembut jadi aku merasa nyaman. Saat ini aku butuh rasa kenyamanan bukan masalah finansial," Rani mencoba meyakinkan terhadap Sahabatnya itu. Lelaki yang sekarang menemani hari-harinya adalah sosok lelaki yang membuat hatinya nyaman.
"Terserah sih, tapi tetap saja aku nggak setuju kalau kamu memilih lelaki yang sekarang karena miskin!" Sherly terlihat mengejek.
Rani sontak naik pitam, dia merasa tersinggung dengan ucapan sang sahabat.
"Dasar goblok, kamu teman macam apa! Menghina suamiku dan seakan kamu itu mentertawakan aku." raut mukanya cemberut, warna mukanya pun terlihat merah padam. Rani menahan emosi yang teramat sesak.
Sherly hanya tersenyum tipis. Dia pun berpikir dalam hatinya, sudah biasa temannya itu berkata kasar ketika rasa tersinggung menyelimuti hatinya.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari ponsel Sherly, nampak Sherly tersenyum lebar karena yang mengirim pesan adalah Angga.
{"Gimana, Rani sudah kamu yakinkan untuk kembali lagi sama aku? Ingat ya, jika kamu berhasil meyakinkan dia mau bersama untukku lagi, kamu akan ku kasih uang 20 juta,"} pesan yang di sampaikan Angga, sungguh membuat hati Sherly tergiur dengan sejumlah uang tersebut.
{"Aku sedang mencoba merayunya, tapi entahlah si Kakek Tua itu, kayaknya pakai Pelet atau guna-guna, atau entahlah apa itu! Kenapa si Rani bisa tergila-gila dengan dia,"} Sherly membalas pesan kepada Rangga.
Ternyata Sherly sang sahabat punya niat yang nggak baik, dia mencoba menjodohkan kembali Rani dan Angga.
"Kamu kalau nanti suamiku datang kesini, diam! Jangan banyak ngomong," ucap Rani.
Rani dan Sherly saat ini sedang di sebuah Kafe menikmati makan malam.
Kebetulan sang suami mau datang ke Kafe tersebut menyusul Rani, karena tadi suaminya sedang ada acara rapat di usaha milik Rani. Semenjak Rani menikah dengan Bapaknya Rama, semua masalah usahanya suaminya yang atur.
Tapi keuangan tetap masuk ke rekening Rani.
Ting..
{"Kayaknya aku gak jadi datang kesana, aku masih satu jam lagi mengikuti rapat,"} pesan dari sang suami muncul. Rani hanya mengernyitkan dahi.
Kemudian dia menutup layar teleponnya.
•••
"Rangga mau kesini," ucap Sherly.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Rangga mau kesini, untuk apa?" jawab Rani terdengar kaget.
"Ya, nggak apa-apa, mau jemput aku pulang. Memangnya kenapa?" Sherly menatap lekat kepada Rani yang seakan tidak mau jika Rangga datang ke tempat itu.
"Awas ya, kalau kamu coba-coba ada niat untuk membuat aku bisa bersatu kembali dengan dia!" ucapnya terlihat kesal
Setengah jam kemudian.
"Halo, Rani. Gimana kabarmu." Rangga tiba-tiba datang dan mengulurkan tangannya. Nampak terlihat dari sinar matanya masih tersimpan rasa gejolak asmara.
Rani cemberut tidak nampak senyuman yang terpancar dari bibir mungilnya sedikitpun.
Kemudian Rangga duduk di sebelah Rani, dia seakan sengaja memancing emosi Rani, tatapan matanya begitu tajam.
"Kamu jangan menatapku seperti itu!" ucap Rani, nampak dia terlihat kesal dengan tatapan yang diberikan oleh Rangga, yang terlihat ingin memangsanya.
___
"Dulu dia pernah memukulku, dengan hal yang sama, tatapannya seperti ini," gumam hati Rani.
Rani lalu pindah duduk karena dalam dirinya dihinggapi rasa takut oleh gerak-gerik yang di lakukan oleh Rangga.
___
"Akan ku hajar si Pak tua, suami kamu. Enak saja dia telah merebut pacarku!" gumam hati Rangga terlihat licik terlihat dari sorot matanya.
Melihat Rani yang bergeser tempat duduknya seakan menyinggung perasaan Rangga.
"Kamu kenapa sih!" Rangga memandang sinis.
•••
"Rangga, kamu katanya pulang dari Bali ya, mana oleh-olehnya," ucap Sherly mencoba melumerkan suasana karena nampak kedua orang yang tengah berada tepat di hadapannya salah tingkah terutama Rani.
"Ada oleh-olehnya di rumah, aku lupa nggak bawa kesini. Buatmu juga ada Ran, oleh-oleh spesial! Aku masih tetap loh, ingat sama kamu," ucap Rangga mencoba terseyum renyah ke arah Rani.
Senyuman yang di lemparkan Rangga kepada Rani seakan senyuman palsu karena dalam diri Rangga pun ada rasa kesal karena Rani telah mengakhiri hubungan dengannya dan tiba-tiba sudah menikah dengan Bapaknya Rama.
"Maaf ya, aku tidak butuh!" ucap Rani terdengar sinis.
"Kamu cantik, pintar usaha, tapi kamu sakit, Rani!" ucap Rangga. Rani mengernyitkan dahi seakan tidak paham apa yang di maksud dengan omongan Rangga.
"Ya, kamu sakit karena telah memilih lelaki miskin dan tua! Hahaha.." Rangga tertawa terbahak.
Rani seakan kesal dengan ejekan Rangga karena dia telah menyindirnya dan menghina suaminya.
Rani kemudian menggeser kursinya dia pun berdiri tegak lalu tangannya menggebrak meja.
"Cukup, ya! Kamu jangan hina aku lagi," ucapnya dia pun keluar dari Kafe tersebut.
Sementara Sherly terkejut dan Rangga hanya tertawa kecil melihat tingkah mantannya itu.
"Kamu keterlaluan Rangga, dia tersinggung mungkin," ucap Sherly.
"Sudahlah, nanti dia biasa lagi ko," ucap Rangga. "Gimana sih, kamu Sherly. Kamu bisa nggak buat Rani balik lagi sama aku," pandangan Rangga lekat ke arah Sherly.
"Kamu ngebet banget sih, ngejar Rani. Ada apa sebenarnya," Sherly terlihat penasaran.
"Sebenarnya kedua orang tuaku sih, mereka ingin nanti kedepannya jika aku bisa memiliki Rani usaha yang Papa aku kelola bisa join dengan usaha yang dimiliki Papanya Rani, dan itu uangnya tidak sedikit kalau mereka bisa bergabung usahanya," ucap Rangga berharap Rani bisa kembali lagi ke pelukannya.
__ADS_1
"Makannya kamu jangan kasar, katanya kamu kasar ya," ucap Sherly.
Rangga hanya diam ketika Sherly berkata seperti itu. Dia mengingat kembali kejadian waktu itu ketika dihinggapi rasa cemburu kepada Rani, Rangga melakukan tindakan tidak terpuji dengan cara memukul Rani.
Di dalam.mobil.
Nampak pikiran Rani sedikit terganggu dengan ucapan yang di lontarkan oleh Sherly dan Rangga. Dalam benaknya dihinggapi seribu tanya. Mengapa dia jadi bahan bulian mereka, padahal Rani pun tidak pernah mengganggu mereka.
Rani seakan ingin berbicara kepada suaminya mengungkapkan semua isi hatinya itu.
Drettt.. Drettt... Drettt..
Tiba-tiba bunyi telepon masuk dari ponselnya Rani, nampak terlihat sang suami menelepon.
Rani kemudian memarkirkan dulu mobilnya ke arah mini market.
{"Halo.."} ucap sang suami.
{"Ada apa.."} Rani erdengar kesal ketika menjawab sambungan telepon.
{"Masih dimana, sebentar lagi aku kesana,"} jawab sang suami.
"Nggak perlu aku mau pulang!" jawab Rani sambil menutup sambungan teleponnya.
Rasa kaget menghinggapi diri sang suami karena sang istri terdengar marah ketika berucap.
Sampai di rumah.
"Mah, kenapa sih!" sang suami terlihat penasaran karena Rani terlihat tidak selera untuk berbicara.
"Pah, bisa nggak kalau kamu usaha dengan uang modal sendiri!" ucapnya seperti terbakar emosi.
Ucapan dari kedua orang yang tadi bertemu di Kafe, Sherly dan Rangga seakan memancing emosi Rani.
"Hai, kamu kenapa Mah, tiba-tiba berucap seperti itu," sang suami terlihat dihinggapi rasa heran.
"Iya kamu lelaki harusnya bisa menyenangkan istri," ucapnya.
"Sejak kapan kamu bisa berkata seperti ini, bukannya kamu nyaman dengan keadaanku sekarang ini, tapi mengapa kamu jadi nuntut masalah keuangan," ucapnya.
Rani seakan terngiang-ngiang dengan ucapan Rangga dan Sherly yang berkata. Sang suami lelaki miskin dan tua.
"Kenapa kamu mah, aku nggak ngerti dengan ucapan kamu yang tiba-tiba, seakan marah sama aku," sang suami memeluk Rani.
Rani dengan cepat melepaskan pelukan sang suami.
Bersambung...
__ADS_1