
Ibu Amel sakit.
Keesokan harinya nampak Amel sedang menyuapi Ibunya yang sedang sakit, Bayi Amel pun sedang terlelap dari tidur karena sudah minum susu formula begitu banyak.
"Nak, Bayimu sudah diberi susu?" tanya Ibu sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Sudah Bu, dia sedang tidur," pandangan Amel mengarah ke tempat Box bayi.
"Bapakmu?" kembali Ibu bertanya.
Dari semalam Ibu tidak pindah tempat tidur. Dari mulai percekcokan di antara Amel dan sang suami, Ibu tidak beranjak dari tempat tidur Amel. Sang Ibu mengkhawatirkan anaknya takut kabur.
"Bapak pergi Bu, katanya mau nyari pinjaman untuk modal usaha," nampak Amel menunduk dan menghela napas panjang.
Dia pun sebenarnya kasihan kepada Bapaknya karena uangnya di pakai oleh Rama suaminya, dan sampai saat ini belum kembali.
"Nak, percaya sama Ibumu ya, sebenarnya Bapak sangat sayang dan peduli sama kamu. Jadi kamu jangan menganggap Bapakmu, tidak perhatian sama kamu, dia lagi banyak masalah saja, jadi dia marah sama kamu. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, kamu jangan pernah kabur dari rumah ini!" ucap Ibu menatap lekat kepada anaknya itu.
Amel menunduk dan menganggukkan kepalanya, bulir putih pun lolos seketika di ujung matanya.
Amel merasa bersalah atas sikapnya selama ini kepada kedua orang tuanya dan Kakaknya Angga. Dia kemudian memeluk erat tubuh sang Ibu. Amel berusaha mengupaskan senyum manisnya, walau dadanya terasa sesak dan bergemuruh karena memikirkan sang suami Rama, yang tak kunjung kembali.
"Iya Bu, Amel berjanji tidak akan kabur dan akan selalu menjaga Ibu," ucapnya lirih.
Tidak bisa di pungkiri bayangan sang suami terus menerus hinggap di dalam pikirannya.
"Aku harus menanyakan keberadaan Rama kepada Ibu mertuaku, yang akan datang hari ini," gumam hati Amel.
~~
Tokk...Tokk...Tokk...
"Assalamualaikum.."
Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk beberapa kali di depan rumah dan suara salam begitu nyaring terdengar. Dalam hati Amel sudah bisa menebak yang datang tersebut adalah Ibu mertuanya, terdengar dari bunyi suaranya sudah tidak asing lagi di telinga Amel.
"Wa'alaikumsalam.." serentak Ibu dan Amel membalas kata salam kepada tamu yang datang.
"Siapa itu Nak, yang datang?" tanya Ibu memandangi anaknya itu.
"Itu pasti Ibu mertuaku, aku kenal suaranya," ucap Amel. Kemudian dia berlalu dari kamar untuk membuka pintu depan.
Ceklek....
Bunyi suara pintu terdengar keluar rumah, nampak Ibu mertua sudah memasang senyum manisnya untuk melihat sang menantu dan Cucunya.
"Amel.." Ibu mertua langsung memeluk Amel, dia terlihat sedih ketika memeluk erat sang menantu. Adik dari sang mertua yaitu, Tante Fani hanya mengelus dada, seakan tahu apa yang sedang di rasakan oleh sang Kakak tersebut, hatinya sedang hancur karena sang suami sama sifatnya dengan suami sang menantu suka berselingkuh.
__ADS_1
"Bu..." ucap Amel lirih.
Amel memeluk sang ibu mertua dengan pandangan mengarah kepada Tante Fani.
Tante Fani hanya mengelus pundak sang Kakak seakan menyabarkan.
"Nak, siapa yang datang!" teriak Ibu, dari dalam kamar dengan suara seraknya.
"Ibunya Rama Bu," jawab Amel.
"Ayo, masuk Bu, Tante," sambung Amel, kembali mempersilahkan Ibu mertua dan Tantenya untuk memasuki rumah.
Setelah duduk di ruang tamu.
"Nak, Ibumu sakit?" tanya Ibu mertua.
"Iya, Bu." jawab Amel.
"Sakit apa, Ibumu?" tanya Tante Fani.
Pandangan mengarah kedalam kamar dimana keberadaan Ibunya Amel.
"Dadanya sesak sakit, tapi sudah diberi obat," Amel menghela napas secara perlahan.
"Bapakmu ada?" tanya kembali Ibu mertua.
"Bapak..." Amel tidak meneruskan ucapannya, karena terdengar tangisan Bayi di dalam kamarnya.
"Aku, ambil Bayiku dulu ya, Bu," Amel kemudian berlalu untuk mengambil sang Bayi, mungkin Bayinya ingin minum susu kembali karena jarak setelah minum susu tadi sudah 3 jam berlalu.
Tante Fani iba dengan kondisi Amel.
"Kak ini, kasih buat Amel," ucap sang adik, dia memberikan uang beberapa lembar berwarna merah kepada sang Kakak.
"Apa ini Dek," ucap Ibunya Rama.
"Terima saja, mumpung aku ada sedikit rezeki, jangan menolak," ucap Tante Fani.
"Alhamdulillah, terima kasih," ucap Ibunya Rama, kemudian sang Ibu memasukkan uang tersebut kedalam amplop yang sebelumnya sudah ada isinya uang beberapa lembar berwarna merah juga, yang sudah di sediakan sebelumnya.
"Buat beli susu formula, aku bisa merasakan bagaimana keadaan hati Amel sekarang ini, sudah tidak diberi napkah sama suami, juga harus membeli susu formula," ucap Tante Fani, berbisik pelan lekat ke kuping sang Kakak.
Tante Fani nampak menghembuskan napas kasar, pikirannya melayang memikirkan Rama dan suami Kakaknya tersebut, yang sama-sama sedang mempunyai masalah saat ini dan berimbas kepada sang Kakak.
__ADS_1
Ibunya Amel nampak pucat.
"Ada tamu.." ucap Ibunya Amel, tiba-tiba datang dari dalam kamar dengan muka lusuh, dan nampak matanya sembab.
Nampak di ikuti oleh Amel dari belakang, sambil menggendong Bayinya.
Tante Fani terlihat dihinggapi rasa penasaran dengan kondisi Ibunya Amel.
"Sakit apa Bu," ucap Tante Fani ketika Ibunya Amel duduk di sebelahnya.
Tante Fani menatap Ibunya Amel dan mengusap lembut pundaknya.
"Penyakit orang tua, biasa. Masuk angin dan kecapean," Ibunya Amel seakan menyembunyikan semuanya.
Tante Fani dan Ibunya Rama seakan tahu, isi hati dari Ibunya Amel, mereka pun tidak banyak bicara.
Kemudian Ibunya Rama menggendong Cucunya itu dan mengelus rambut Bayi tersebut. Matanya berkaca-kaca seakan pilu melihat sang Bayi.
"Maafkan Ayahmu ya Nak, doakan semoga Ayahmu dapat kerja dan rezeki yang halal. Agar bisa berkumpul lagi dengan kamu dan Mama kamu," ucap Ibunya Rama, sambil menatap lekat kepada sang Bayi dengan suara serak.
Nampak terlihat ada kesedihan yang luar biasa nampak terlihat disana.
Ibunya Rama kemudian mengambil amplop dan menyimpannya di bawah selimut Bayi.
"Ini buat beli susu ya, Adek Bayi jangan rewel ya, nanti Nenek akan sering nengokin kamu kesini," ucap Ibunya Rama.
"Bu, Rama gimana sudah dapat kerja?" tanya Amel kepada Ibu mertua.
Sang Ibu menggelengkan kepalanya.
"Belum.." ucapnya lirih.
"Doakan ya Mel, semoga Rama dapat kerja, dia nggak diam ko, dan bukannya nggak ingat kepada istri dan anak. Dia sedang berusaha mencari pekerjaan," ucap sang Tante, mencoba menenangkan hati Amel.
Ibunya Amel seakan tidak bisa berkata apapun, mengenai masalah Rama dengan sang suami.
"Iya Bu, di rumah ini terus menerus terjadi percekcokan karena masalah uang yang di pinjam Rama," ucap Ibunya Amel dengan lirih.
"Iya, sekali lagi maafkan kelakuan Rama ya, Bu," Ibunya Rama seakan bersalah atas semua ini.
__ADS_1
Bersambung...