
Papa Bianca marah.
"Pokoknya kamu harus menikahi anakku, dan harus tanggung jawab, kepada anakku yang sedang berbadan dua," Papa telunjuknya menunjuk-nunjuk ke arah Rama.
Rama tidak bergeming, dia tertunduk. Rama tidak bisa berkata sepatah katapun, dia seakan bisu.
"Anakku tidak bisa menikahi anak Bapak, karena dia bulan depan akan menikahi wanita lain!" jawab Bapaknya Rama, menatap lekat ke arah Papanya Bianca. Dia terlihat ngotot, tidak mau menikahkan sang anak dengan Bianca.
Papanya Bianca seakan menahan amarah, sang istri mengelus pundak suaminya itu.
"Tenang, Pah," bisik sang Mama.
"Pak, Bapak jangan gitu! adikku sedang mengandung anaknya Rama. Dia harus mempertanggung jawabkan semuanya. Bapak jangan seenaknya berbicara, tidak mau menikahkan anak Bapak, dengan adikku" sambar Tyanca. Dia terlihat marah penuh emosi ketika berucap.
"Sudah, sudah..kalau dibicarakan dengan keadaan panas dan emosi masalah tidak akan selesai. Sekarang gini saja, Rama kamu harus menikahi Bianca, dan setelah itu terserah kamu!" ucap Gerry. Dia pun nampak kesal ketika berucap karena semua yang berada disana seakan penuh emosi ketika berucap, tidak di bicarakan dengan kepala dingin.
Tyanca kembali emosi.
"Jawab Rama, kamu jangan diam saja!" ucap Tyanca, sorot matanya sangat tajam mengarah ke Rama.
Dia mengepalkan tangannya, seakan ingin menghantam lelaki itu. Rasa kesal dan marah bercampur jadi satu.
"Sabar, Mih." ucap Gerry, lekat ke kuping istrinya itu.
__ADS_1
"Iya, saya akan menikahi Bianca," ucap Rama dan pandangannya masih tetap dalam keadaan menunduk.
"Apa..! aku tidak salah dengar," ucap Bapaknya Rama.
Bapaknya Rama seakan tidak rela, jika Rama mau menikahi Bianca.
***
Sementara Ibunya Rama, memandangi Bianca dengan rasa iba, dalam hatinya dihinggapi rasa kasihan. Mungkin sang Ibu merasakan karena dia seorang wanita.
"Bianca masih sekolah ya?" pandangan Ibunya Bianca mengarah ke Mama Bianca.
"Iya, dia baru kelas dua SMP." jawabnya, sambil melirik anaknya yang sedang terisak tangis, dan mulutnya dia tutup dengan tisu, terdengar sesunggukkan.
***
Kemudian dia menghampiri Bianca, lalu mengusap lembut rambut sang anak.
"Yang sabar ya Nak, pasti anak Ibu, akan menikahimu," ucap sang Ibu.
Mata Tyanca mendelik dalam hatinya berpikir.
"Iya, akan dinikahi, tapi nanti akan pisah setelah ijab kabul karena pernikahan ini hanya untuk menutupi kehamilan saja,"
__ADS_1
"Jadi pernikahannya mau di adakan kapan,?" tanya Tyanca kepada Ibunya Rama.
"Sabar, memangnya gampang untuk menikah
Tidak semudah itu," ucap Bapaknya Rama.
"Pihak lelaki bisa berucap kata sabar, tapi kalau dari pihak wanita, keadaan hamil perut membesar. Apa itu tidak malu!" Tyanca melawan omongan Bapaknya Rama.
"Kita akan bicarakan malam ini, untuk acara nikahnya," ucap Ibunya Rama.
"Lusa atau minggu depan saja!" ucap Tyanca, menatap Ibunya Rama.
***
Papa dan Mama Bianca, seakan tidak mau berkata apapun. Mereka seakan memasrahkan semuanya kepada Tyanca dan Gerry sang menantu.
"Yasudah, kita akan bicarakan lagi dengan keluarga," ucap Bapaknya Rama, seakan terpaksa ketika berucap.
"Pak, saya mewakili keluarga dari Bianca, mohon jangan menunda lama. Untuk pernikahan Bianca dan Rama," ucap Gerry melirik Bapaknya Rama, kemudian pandangannya beralih kepada Ibunya Rama.
"Kamu harus bisa mempertanggung jawabkan semuanya, Rama!" Gerry menepuk pundak Rama.
Rama menganggukkan kepalanya.
__ADS_1