
Pagi hari
Keesokan harinya Febry datang ke rumah Bianca. Dia tidak tahu bahwa di rumah Bianca ada sang Kakak yaitu Tyanca.
Tok..Tok...Tok...
"Pagi-pagi sudah ada tamu," Tyanca dan Gerry saling berpandangan, dalam diri mereka dihinggapi rasa tanya. Siapakah tamu yang datang di pagi hari itu
Pintu ada yang mengetuk beberapa kali dari arah depan, terlihat Mischa berlari untuk membukakan pintu.
Krekkkk..
Terlihat pintu terbuka dengan lebar.
"Eh, ada Mischa," Febry mencium anak tersebut.
"Siapa, yang datang sayang," teriak Tyanca
Kemudian nampak Tyanca menghampiri Mischa yang sedang membukakan pintu.
"Tyanca..!" Febry begitu histeris ketika melihat Tyanca karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Lalu mereka berpelukan begitu erat, Gerry datang dan kemudian mereka bersalaman.
"Mama ada?" tanya Febry.
"Mama ke pasar, biasalah kerja," Jawab Tyanca. "Ayo, masuk.." sambung lagi Tyanca, mempersilahkan duduk kepada Febry.
Setelah mereka duduk di sofa.
"Iya, aku datang kesini ingat terus sama adikmu Bianca, dan juga Mama.
Mama takut kepikiran tentang apa yang menimpa Bianca," ucapnya Febry lirih.
Tyanca menunduk dan seakan malu dengan sahabatnya itu, karena Febry ternyata sudah mengetahui bahwa adiknya hamil.
"Iya, aku nggak nyangka, Bianca bisa hamil. Padahal perjalan hidup dia masih panjang." Tyanca menghela napas secara perlahan.
"Yasudah kan sudah terjadi, harus gimana lagi," ucap Febry.
"Oh iya, gimana kamu sudah hamil?" tanya Tyanca berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Belum, suamiku sibuk pergi keluar kota terus, tidak ada waktu untuk kita, hehehe.." ucapnya tersipu malu.
"Alhamdulillah ya, kamu mendapatkan lelaki yang tajir. oh ya, suami kamu sekarang sedang kemana ke luar kota, atau ikut kesini?" tanya Tyanca.
Dia sedang tugas luar kota, makannya aku bisa datang kesini seminggu," ucap Febry.
"Syukur kalau begitu," Tyanca tersenyum.
***
Terdengar ada sayup-sayup seperti suara orang sedang menangis sesenggukan. Sontak Tyanca dan Febry saling berpandangan.
"Apa Bianca, menangis?" pandangan Febry lekat ke arah pintu kamar Bianca.
__ADS_1
Tyanca menganggukkan kepalanya, lalu dia berlalu menuju kamar Bianca, yang di ikuti dari belakang oleh Febry.
Setelah Tyanca membuka pintu kamar Bianca. Tyanca nampak tertegun di depan pintu kamar dan sang Kakak memandangi adiknya tersebut, keadaan Bianca sedang menangis. Tyanca melirik Febry.
"Kenapa lagi dia!" gumam Tyanca
Kemudian Tyanca dan Febry masuk kedalam kamar. Melihat sang Kakak masuk, dengan cepat dia menyimpan gawai nya, dibawah bantal, dan tangisannya berhenti.
Melihat kelakuan sang Adik terlihat aneh, sang Kakak dihinggapi rasa penasaran dan heran.
"Kenapa kamu, kayak kaget melihat Kakak masuk kamar?" tanya Tyanca, menatap sang adik. Tyanca duduk di pinggir kasur dekat Bianca sementara Febry duduk di sebelah Tyanca.
"Ng-nggak, apa-apa Kak," jawabnya terbata-bata.
"Bohong, kamu menyembunyikan sesuatu dari Kakak," Tyanca pandangannya mengarah ke bawah bantal.
"Nggak ada Kak," jawabnya terlihat kesal.
Febry, mengusap pundak Tyanca.
"Sabar, kasihan adikmu jangan di pojokan gitu," bisik Febry lekat ke kuping Tyanca.
Febry berdiri kemudian mengusap lembut rambut Bianca yang terurai panjang.
"Sayang, kamu menyembunyikan sesuatu ya, Kakak yakin itu. Karena kamu sampai menangis sesenggukan. Kalau kamu tidak menyembunyikan sesuatu kamu tidak akan menangis. Jadi Kak Febry dan Kak Tyanca, curiga. Mungkin kamu sedang sedih ada masalah tapi nggak mau bicara," ucap Febry, terdengar lembut saat bicara, nggak seperti Kakaknya Tyanca, yang terdengar emosi membuat sang adik dihinggapi rasa takut terhadap Kakaknya itu.
Bianca yang tertunduk akhirnya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengambil gawai yang dia sembunyikan di bawah bantal, lalu dia memperlihatkan isi pesan yang di tulis dari Rama.
Dibaca dari persatu oleh Febry, lalu dia menghembuskan napas kasar, kemudian dia perlihatkan isi pesan tersebut kepada Tyanca.
Setelah Tyanca membaca satu persatu pesan masuk dari Rama, matanya terbelalak dan dihinggapi rasa kesal dan kecewa karena isi pesan tersebut intinya.
"Kurang ajar!" Tyanca mengepalkan tangannya, matanya melotot. Dadanya bergemuruh menahan amarah.
"Aneh ya, ko' bisa gitu keluarganya," Febry pun terlihat kesal dengan membaca isi pesan dari Rama.
"Kamu antar aku, sekarang!" ucap Tyanca.
"kemana?" Febry dihinggapi rasa heran.
"Ayo, pokoknya, Febry menyeret tangan Febry keluar kamar,"
***
"Mas, aku pergi dulu bentar, tunggu Mischa ya. Aku antar Febry sebentar," ucap Tyanca, sambil mengedipkan mata ke arah Febry, karena dia berpura-pura untuk mengantar Febry ke luar.
Gerry sang suami hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
***
Di dalam mobil.
"Kamu mau ajak aku kemana sih," tanya Febry.
"Ke rumah lelaki goblok itu!" Tyanca terlihat geram ketika berucap.
__ADS_1
"Maksud kamu ke rumah Rama,?" tanya Febry.
"Iya, sudah jangan banyak tanya," ucap Tyanca. Febry pun diam.
Dia sudah tahu karakter sahabatnya itu. Jika dia kesal atau marah sama seseorang, pasti dia akan menyelesaikannya detik itu juga. Tidak perlu akan ada rintangan apa yang akan terjadi di depan pasti akan dia hadapi.
Pagi itu jalan lancar dan sang pengemudi sangat ngebut ketika menyetir mobilnya tersebut.
Febry sampai menggelengkan kepala.
"Kamu mau menyaingi pembalap mobil yang ada diluar sana ya, terus terang jantungku seakan ikut berlari maraton loh," ucap Febry.
Setengah jam kemudian tiba di rumah Rama.
Nampak keadaan sedang sepi, mungkin penghuni rumah tidak ada.
"Nggak ada orang kayaknya, percuma kita kesini," ucap Febry.
"Ada..!" jawab Tyanca.
***
Tok...Tok...Tok..
Pintu di ketuk oleh Tyanca secara kasar, otomatis sang pemilik rumah keluar dengan cepat.
Krekkkk..
Nampak Rama yang membukakan pintu.
Rama terkejut ketika melihat Kakaknya Bianca, datang lagi ke rumahnya.
Dia berusaha tersenyum dengan datangnya Tyanca.
"Orang tua kamu ada, apa sudah pergi berangkat kerja?" tanya Tyanca menatap lelaki itu, yang sudah menodai keperawanan milik sang adik.
"Sudah pergi Kak, baru saja," pandangan Rama menunduk karena malu.
"Kamu jangan kurang ajar ya, masa Bapak kamu tidak percaya bahwa Bianca tengah mengandung anak kamu!" ucap Tyanca, tanpa dia masuk kedalam rumah, dia masih berdiri tegak didepan pintu.
"Ma..maaf Kak," jawab Rama.
"Kamu merasa kan, sudah menikmati tubuh adikku dan tidur dengannya!" ucap Tyanca, dengan nada kasar.
Rama hanya terdiam, dia seakan dipermalukan di depan Febry oleh Tyanca.
"Enak saja, setelah menikmati tubuh anak polos itu, lalu kamu meu lari dari tanggung jawab," sambung lagi Tyanca.
"Saya mau nikahin dia Kak, tapi kalau untuk berumah tangga dengan dia mungkin tidak, karena saya harus menikahi Amel juga," ucapnya gugup
"Karena perempuan yang bernama Amel itu hamil juga. Dasar kamu lelaki jahat, goblok, tidak tahu diri!" Tyanca menampar pipi Rama.
Rama terlihat meringis kesakitan.
"Sudah, malu dilihat tetangga," bidik Febry.
__ADS_1
"Awas ya, kalau sampai kamu tidak menikahi adikku, kamu akan tanggung akibatnya.
Tyanca menyeret tangan Febry, mereka pun memasuki mobil dan pulang.