
Tokk..Tokk..Tokk...
Ada suara ketukan pintu dari arah teras rumah, kemudian sang ART berlalu dari dapur.
"Ada, Rani?" terlihat Rangga datang ke rumah Rani, dengan wajah palsunya tersenyum ramah kepada sang ART.
"Ibunya sedang sakit, Pak, masih tidur," jawab sang ART.
"Bangunkan Mbak, ada Rangga bilang sama dia" ucapnya terdengar seperti memerintah.
"Nggak bisa dibangunkan Pak, Kasian. Bu Rani masih tidur," ucapnya kembali.
Rangga pun duduk di teras rumah.
"Ya, sudah aku nunggu disini saja," ucapnya.
Rangga seakan memaksa ingin bertemu dengan Rani.
•••••
Kemudian sang ART dengan rasa takut dia menutup pintu dan menguncinya.
"Aneh orang ini, di bilang sakit, malah duduk di teras rumah," ucap sang ART bernama
Sari itu.
"Mbak Sari.." teriak Rani.
Terdengar suara Rani memanggil dari arah kamar, kemudian dengan cepat Sari menyeret langkahnya menuju kamar sang majikan. Nampak sang majikan sedang duduk di depan cermin dengan memakai jaket tebal.
•••
Terlihat oleh Rani dari kaca cermin Sari tengah menghampiri, karena kebetulan pintu kamar tidak di kunci.
"Mbak, Bapak kemana?" tanya Rani.
"Dari semalam keluar Bu, tapi belum pulang, soalnya mobilnya nggak ada." jawab Sari.
Degh..
Rani dihinggapi rasa heran, mengapa sang suami belum pulang. Kemudian dia mengambil ponselnya di atas nakas, kemudian dia membuka layar ponselnya dan dia baru menyadari ponselnya dia matikan sejak malam tadi.
Setelah ponsel tersebut dia nyalakan, betapa terkejutnya hati Rani, karena panggilan tidak terjawab begitu banyak dari sang suami dan ada beberapa pesan muncul disana.
Rani dihinggapi rasa penasaran, kemudian Rani membuka isi pesan tersebut.
"Mah, Papa, sedang ada di Rumah Sakit. Papa ada yang memukul semalam," betapa terkejut hati Rani ketika melihat beberapa gambar dari sang suami, yang mukanya terlihat babak belur penuh dengan luka.
Rani tertegun sejenak, dia mengingat-ingat kejadian semalam, ketika dirinya menampakkan muka cemberut terhadap suaminya kemudian dia mengunci pintu kamar.
"Mungkin dia kesal atau mungkin ingin menenangkan diri, jadi dia semalam meninggalkan rumah," ucap Rani.
Rani pun melihat pesan sang suami, dimana keberadaan suaminya sekarang berada.
"Mungkin aku harus kesana," gumam hatinya.
"Bu, ada tamu diluar," ucap sang ART.
"Siapa, Mbak?" tanya Rani terlihat penasaran karena dia tidak ada janji untuk bertemu orang hari ini.
"Rangga.." ucap sang ART.
Nampak Rani terkejut ketika mendengar tamu yang datang tersebut adalah Rangga.
"Dia sekarang dimana, Mbak?" Rani seakan malas, dengan kedatangan Rangga.
"Nunggu di teras rumah, tadi Mbak, sudah bilang Ibunya sedang sakit, tapi dia malah duduk di teras rumah," ucap sang ART.
__ADS_1
"Sialan! Mau dia apa ya?" ucapnya terlihat kesal.
Rani kemudian menyeret langkahnya ke teras rumah, nampak sebelum membuka pintu dia mengintip, di balik jendela.
Dia melihat Rangga sedang duduk di kursi dengan pandangan menatap ke depan garasi.
"Selalu buat ulah!" ucap Rani terlihat marah.
Rani menghela napas panjang setelah itu baru dia membuka pintu.
Krekkk..
Setelah terdengar suara pintu terbuka, sontak pandangan Rangga, melirik ke arah pintu tersebut.
"Rani.." Rangga tersenyum.
"Mau apa kau kesini!" ucap Rani terlihat marah.
"Nggak apa-apa lah, kalau cuma mampir sebentar ke rumahmu. kan, suami kamu sedang tidak ada di rumah ya," ucapnya tertawa terkekeh.
•••
Pandangan Fani otomatis lekat ke bola mata Rangga, Rani seakan dihinggapi rasa curiga karena Rangga bisa tahu kalau suaminya sedang tidak ada di rumah.
"Mungkin si Rangga, dalang dari semua ini. Suamiku semalam di pukul babak belur oleh ulah si Rangga!" gumam hatinya.
"Kenapa, kamu menatap aku seperti itu!" Rangga memalingkan mukanya.
"Jahat kamu.." ucap Rani.
PLAK....
Tamparan keras mendarat indah ke pipi Rangga. Rani terlihat emosi dan marah.
••••
PLAK...
Rangga membalas tamparan yang diberikan oleh Rani. Rangga seakan kesal, karena secara tiba-tiba dia di tampar oleh Rani.
"Kamu tega ya, mencelakai suamiku. Kamu kan, yang menyuruh orang untuk mencelakai suamiku!" ucap Rani sambil memegang pipinya yang terasa sakit.
Rani meringis menahan rasa sakit yang teramat.
"Apa...Aku mencelakai Kakek tua! Hahaha..." Rangga tertawa terbahak seakan mengejek Rani.
"Sifat kamu tidak berubah ya, dari dulu. Kamu selalu membuat onar!" ucap Rani.
Dada Rani bergemuruh, dia seakan tidak kuasa menahan emosi.
Rangga mendekat ke arah Rani lalu dia memegang kedua tangan Rani dengan sekuat tenaga. Rani di dorong ke kursi otomatis posisinya sekarang duduk dan Rangga mencoba menciumnya.
Rani dengan cepat mendorong lelaki brengsek itu dengan kedua kakinya dan Rangga pun tersungkur jatuh.
"Bu..." Sari berteriak histeris tatkala melihat sang majikan sedang berkelahi.
•••
Rangga pun bangkit dari lantai kemudian telunjuknya mengarah ke wajah Rani.
"Tunggu ya, pembalasanku!" ucapnya terdengar marah.
Rangga menendang kursi yang menghalanginya ketika dia hendak berjalan ke arah garasi.
"Bu, tenang. Ayo kita masuk ke dalam," sang ART lalu membawa Rani masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
Sesudah sampai di dalam rumah, kemudian Sari memberikan obat dan mengompres luka lebam dengan memakai air hangat.
Nampak Rani meringis kesakitan rasa perih dan sakit terasa menghinggapi pipinya.
"Lelaki kurang ajar, apa maksudnya dia ingin mencium ku!" gumam hatinya.
__ADS_1
Rani nampak terlihat kesal dan marah.
"Bu, sebenarnya yang tadi datang siapa?" tanya Sari sambil memijit tangan sang majikan karena, habis kena pegangan erat dari Rangga terasa sakit.
"Dia mantan pacarku, Mbak," ucap Rani.
"Aneh, ya, maksud dia apa? Mungkinkah dia ingin kembali lagi sama Ibu," ucap sang ART.
"Ya, kayaknya begitu" jawab Rani.
"Mbak, aku nanti antar ya, ke Rumah Sakit," ucap Rani.
"Ke Rumah Sakit, siapa yang sakit Bu?" tanya sang ART.
"Bapak, di Rumah Sakit, semalam dia ada yang mengeroyok," ucap Rani.
"Ya, ampun. Siapa yang tega mengeroyok Bapak, Bu?" tanya Sari, wajahnya terlihat dihinggapi rasa khawatir kepada sang majikan.
"Aku berpikir Rangga Mbak, pelakunya, aku yakin dia nyuruh orang. Kelakuan dia dari dulu memang selalu begitu, bikin kerusuhan," ucap Rani. Membuang napas kasar
Dia sebenarnya geram dengan kelakuan sang mantan yang selalu merecokinya terus dari dulu sampai sekarang.
"Apa sebaiknya nggak lapor polisi, Bu," ucap Sari menatap lekat majikannya itu.
"Urusan jadi panjang Mbak, lihat saja kalau sampai berani macam-macam lagi, aku juga akan menyewa suruhan untuk menghabisi dia, biar dia mati sekalian!" ucapnya terdengar emosi.
Sontak sang ART nampak terkejut, dia berpikir dalam hatinya ternyata sang majikan tidak lembut bicaranya,seperti yang dia pikirkan selama ini.
Rani terdengar kasar bicaranya karena sang ART baru bekerja di tempat Rani sekitar satu bulan ini.
•••
Ting..
Tiba-tiba pesan muncul dari sang suami.
{"Mah, kapan Mama datang ke Rumah Sakit,"}tulis pesan suami Rani.
{"Aku kurang enak badan, tadi terjatuh di kamar mandi nanti mungkin sebentar lagi,"}
balas pesan Rani.
Rani mencoba membohongi sang suami. Karena dia tahu jika nanti bertemu dengan suaminya, pasti menanyakan pipinya yang lebam dan tangannya yang meringis kesakitan.
Bersambung...
__ADS_1