
Tiga bulan kemudian.
Akhirnya Papanya Bianca keluar dari Rumah Sakit, dan nampak sekarang dia memakai kursi roda, tapi sang Papa malah tidak bisa menerima dirinya bahwa dia kondisi keadaan sedang sakit dan selalu marah-marah terhadap sang istri meskipun sang istri dengan setia merawatnya dengan setia.
"Pah, kamu tidak bisa menerima keadaan hanya marah tidak jelas, aku kalau gini terus sudah tidak sanggup mengurus kamu!" ucap sang istri.
Nampak sang Mama sesenggukan menangis karena pengorbanan dia selama sang suami sakit, seakan tidak di terima oleh sang suami di pandang sebelah mata.
Dulu ketika sang suami selingkuh dia begitu sabar dan mencoba menahan emosinya dan sekarang setelah semua berlalu nampak dia membuat ulah lagi dengan cara marah tidak jelas terhadap istrinya tersebut.
____
Sang suami hanya terdiam, entah mengapa semenjak dia mengalami kecelakaan dan kakinya memakai kursi roda, dia terlihat marah-marah terus terhadap sang istri seakan tidak menerima keadaan. Mungkin karena tidak menerima keadaan karena kakinya sudah memakai kursi roda.
Sementara Bianca pergi lagi ke rumah Tyanca tidak tinggal di rumah sang Mama, di rumah sang Mama nampak terlihat ada saudara dari sang Papa yang setia melayani dan membantu Papanya Bianca.
_____
Keesokan harinya.
" Mbak Win, aku capek dengan suamiku, bukannya aku enggak ikhlas untuk mengurus dia, tapi sifat dia yang selalu marah-marah dan seakan tidak bersyukur sudah di urus sama istri, kok dia malah marah-marah. Aku ingin istirahat menenangkan badanku. Bilang ya, sama Papanya Bianca aku mau rehat ke rumah anakku Tyanca," ucap sang Mama ngadu kepada Wina Kakak dari suaminya itu.
Sang Mama nampak membereskan baju ke dalam tas besar, dengan terisak tangis.
"Maafkan adikku ya,,,sudah mendingan kamu istirahatkan badan kamu dulu di rumah anakmu nanti setelah badanmu sehat dan pikiran tenang baru kamu datang lagi ke sini," ucap Wina Kakak dari suaminya tersebut.
_____
Mamanya Bianca pun pamit untuk pergi ke rumah Tyanca, dan saat dia izin kepada sang suami untuk pergi ke rumah anaknya, sang suami hanya terdiam dan nampak mukanya terlihat dihinggapi rasa kesal dan emosi.
"Silahkan, pergi saja dan tidak usah kembali lagi," ucap sang Papa
Degh..
Sontak sang istri terkejut tatkala sang suami berucap seperti itu, dia tidak menyangka bahwa suaminya jadi berubah sifatnya semenjak dia sakit dan selalu marah-marah tidak jelas.
__ADS_1
"Ya, sudah Astri Kamu pergi saja tidak apa-apa, biar suamiku ditunggu sama aku," ucap Wina sang Kakak, dia pun nampak disana datang bersama suaminya.
Mama Astri pun pergi ke rumah Tyanca dengan memakai Bis. sementara Ruko yang dulu dia kelola bersama Bianca, dia kontrakan kepada sahabatnya yaitu Bu Risma.
_____
Tok...Tok...Tok...
Mama Astri mengetuk pintu beberapa kali di depan rumah sang anak dengan rasa berdebar di dada karena baru kali ini dia pergi ke rumah sang anak tidak bersama dengan sang suami tapi kedatangannya sendiri.
Krekkkk
Pintu terbuka lebar
"Mama,,,!!" Tyanca nampak terkejut dengan kedatangan sang Mama.
"Mama,,,kesini sama siapa!?" tanya Tyanca dengan penuh tanya yang sesak karena sang Mama dengan membawa tas besar dan matanya sembab seperti sudah menangis.
"Sendiri, Nak,," ucapnya lirih.
____
Sang Mama nampak duduk dan di peluk erat oleh Bianca. Kemudian sang Mama menceritakan semua apa yang telah terjadi kepada kedua anaknya tersebut dengan berderai air mata.
"Mah,,jadi sekarang di rumah ada kakaknya Papa? Dan Papa ngamuk dan marahin Mama terus. Aneh ya, lelaki itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya telah menerima karma yang dia lakukan dulu." ucap Tyanca terdengar geram.
"Mah,,kalau menurut Tyanca sudah aja Mama pisah dari Papa meskipun usia Mama sudah tidak muda lagi, Mama pun perlu bahagia. Maaf Tyanca bukan mencampuri urusan pribadi Mama, dan mungkin Mama juga tidak enak jika bercerai dengan Papa karena Mama dan Papa sudah tua pastinya dengan banyak pertimbangan. Tapi jika mendengar cerita Mama mencoba bertahan dengan Papa selingkuh, dan sekarang dikhianati oleh Papa dengan cara dimarahin terus menerus dan Papa, itu tidak menghargai Mama lebih baik pisah saja Mah, jangan di terusin. Itu tidak sehat hubungannya," Tyanca menggebu ketika berucap kepada sang Mama agar sang Mama bisa pisah dari Papanya.
____
Gerry dan Bianca hanya tertegun.
Kemudian mata Bianca tertuju ke arah tangan sang Mama yang terlihat luka lebam seperti terkena siraman air panas.
"Mah, itu kenapa tangan Mama!?" tanya sang anak dihinggapi rasa khawatir.
__ADS_1
"Tangan Mama tersiram oleh Papa, Mama waktu itu lama mengambil air hangat untuk Papa, mungkin Papa tidak sengaja menyiram ke arah Mama," ucap sama mama nampak menitikkan air mata.
"Tidak mungkin, tidak mungkin tersiram pasti disiram oleh Papa! betulkan yang di ucapkan oleh Tyanca!?" tanya Tyanca dengan sorot mata tajam memandang sang Mama.
Mama Astri hanya menundukkan kepalanya, dia tidak bergeming sedikitpun hanya derai air mata yang terhampar di pipinya. Mama Astri pun tidak menyangka, kenapa sang suami wataknya jadi pemarah dan keras kepala.
Padahal tiga bulan ini Mama Astri sudah cukup sabar menghadapi sang suami yang sedang sakit tapi sang suami nampak seperti tidak menerima rasa tulus pengorbanan sang istri tersebut.
___
Di dalam kamar.
"Mih, kamu jangan ikut campur, masalah kedua orang tuamu," ucap Gerry.
"Tapi aku pun harus peduli Pih, karena itu Mamaku, masa iya,,jika Mama di sakiti sama Papa aku diam saja," ucap Tyanca terlihat kesal.
"Jadi menurut kamu sang Mama mending pisah saja!?" tanya sang suami.
"Iya,,lebih baik begitu saja," jawab Tyanca.
"Aku sudah berpikir, jika Mama cerai mending Mama sama Bianca tinggal saja disini, aku kasihan dengan Mama dan Bianca karena penuh kenangan buruk di rumah itu. Aku tidak bisa membayangkan jika posisi keadaanku saat ini sama seperti Mama, mungkin aku sudah gila!" ucap Tyanca.
Gerry hanya membuang napas kasar, dia pun merasakan gimana hatinya sang Mama saat ini begitu tersiksa dan dihinggapi rasa pilu dengan semua beban yang ada.
_____
Tyanca nampak menghampiri Bianca yang sedang duduk di teras rumah sendiri.
"Dek, jika Mama bercerai dari Papa gimana apa kamu setuju!?" tanya sang Kakak menatap lekat kepada sang adik.
Nampak Bianca menghela napas panjang.
"Sebenarnya Mama semalam sudah cerita denganku, dia ingin pisah dari Papa tapi Mama seakan sulit jika harus berterus terang dengan anak-anak," ucap Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.
Bersambung...
__ADS_1