
Di ruang keluarga.
Nampak malam itu setelah selesai makan malam, keluarga Bianca berkumpul di ruang keluarga, mereka nampak sedang santai.
"Gimana Bianca, jadi mau buka usahanya?" tanya Gerry tersenyum manis kepada Bianca.
Pikiran Bianca melayang jauh, dia seakan tidak berani secara langsung menjawab pertanyaan dari suami kakaknya tersebut.
Bianca seakan ingin merencanakan sesuatu kepada Amel yang dia anggap wanita yang tengah merebut pacarnya dulu yaitu Rama.
_____
"Aku tahu maksud dari Mama dan kakakku Tyanca, mengenai hubungan Kang Burhan dan Amel. Intinya Amel menurutku suka sama Kang Burhan tapi dia perlu waktu dan proses ke depan yang akan berjalan seperti apa." gumam hati Bianca.
"Mungkin ini saatnya aku akan mendekati hati Kang Burhan dengan berpura-pura suka, agar Amel cemburu terhadapku," hati Bianca kembali dihinggapi rasa kesal, senyum yang ditorehkan oleh Bianca terlihat sinis dan dihinggapi rasa puas.
_____
"Nak, itu kamu ditanya sama Kak Gerry," ucap sang Mama sambil menepuk pundak Bianca yang sedang melamun.
Bianca pun terlihat sangat terkejut dengan tepukan pundak, dari sang Mama.
"Oh iya! Iya aku minta nomor telepon Kang Burhan saja, nanti biar aku janjian ketemu dengan dia, nanti aku akan lihat Rukonya dengan temanku. Kak Gerry sama Kak Tyanca kan, mau pulang besok ke Bandung, biar nanti aku lihat dulu Rukonya seperti apa," ucap Bianca berusaha berbohong.
"Besok kakak pergi ke Bandung sore, Dek! Kan paginya bisa mengantar kamu ke Ruko dulu," ucap Gerry mencoba meyakinkan Bianca agar dia bisa mengantar Bianca ke Rukonya milik Kang Burhan. Gerry terlihat sangat mengkhawatirkan Bianca jika pergi tidak ditemani olehnya.
"Pagi aku mau bertemu dengan Merry. Iya aku mau bertemu dengan Merry!" ucapnya terdengar gugup dan bicara pun seakan tidak jelas. Padahal Bianca besok tidak akan bertemu dengan Merry, dia hanya berbohong saja agar tidak diantar ke Ruko milik Kang Burhan oleh Gerry.
"Apa sebaiknya ketemu dengan Merry nanti saja sore. kan, melihat Ruko lebih penting untuk masa depan kamu daripada kamu tunda. Kalau dengan Merry sore pun bisa kamu bertemu dengan dia," ucap Tyanca.
Sang Kakak dihinggapi rasa kesal karena sang adik seakan mengulur waktu.
"Nggak enak Kak, saya udah janji dari minggu kemarin," jawab Bianca terlihat berusaha menutupi kebohongannya dengan ulas senyum di bibirnya.
"Iya Dek, atau siang saja Merry suruh ke sini main. Katanya kan lagi ada Febri juga, jadi sekalian Febri ketemu sama Tyanca," ucap sang Mama.
_____
Mama Astri pun berharap sang anak mau nurut kepada Gerry yang bersusah payah untuk pergi ke Bandung karena ingin melihat Ruko yang nantinya, Ruko tersebut kalau cocok akan dibelinya dan dihadiahkan kepada adik istrinya itu.
Bianca nampak cemberut karena sudah dari tadi dia tidak ada dukungan dari keluarganya, Bianca merasa di pojokan.
Keluarganya selalu mengatur Bianca, kebebasan Bianca seakan terbelenggu setelah melahirkan seorang anak dari Rama.
Rasa ingin membalaskan dendam kepada Amel dan Rama pun begitu bergejolak di hati Bianca.
___
"Kamu belum cukup umur untuk punya kekasih kembali, kamu jangan main dengan orang sembarangan nanti kamu hamil lagi!" ucapan sang kakak terus terngiang di kuping Bianca. Sang kakak seakan mengatur hidupnya begitupun dengan sang Mama.
Bianca dekat dengan anak Bu RT pun yang bernama Raden, selalu dijaga jarak oleh sang Mama meskipun sang Mama didepan Bu RT atau Raden nampak mencoba menjodohkan.
Tapi jika di belakang sang Mama selalu mengatur anaknya tersebut. Mungkin sang Mama khawatir terulang lagi kejadian terdahulu Bianca kembali hamil diluar nikah.
Mama Astri dan sang suami selalu menganggap Bianca anak kecil, anak SMP yang belum cukup umur untuk menikah kembali.
__ADS_1
___
Dalam benak Bianca selalu menyalahkan Amel karena dulu di saat Bianca sedang dimabuk asmara, dan Rama berdalih akan memilih Bianca seutuhnya, tapi impian itu musnah ketika Rama memutuskan menikah dan hidup dengan Amel.
Bianca pun seakan malu oleh Merry, karena Merry saat itu mengatakan Bianca wanita yang tidak berguna bagi Rama, karena Rama memilih Amel yang segalanya mungkin lebih baik dari Bianca, sehingga Rama lebih memilih Amel dari pada Bianca.
Bianca nampak dihinggapi rasa malu oleh Merry, sahabatnya sendiri.
_____
Bianca membuang napas kasar.
"Pokoknya aku nggak bisa!" ucapnya.
Bianca pun berlalu ke dalam kamar.
Tanpa melihat keadaan keluarganya yang sedang mencoba merayunya agar Bianca mau berangkat ke Ruko besok pagi.
Keluarga yang sedang berkumpul di ruangan tersebut nampak keheranan tatkala melihat perilaku dari Bianca yang seakan menyimpan rasa kecewa dan kesal.
_____
"Mah, kenapa ya, Bianca seakan tidak mau diatur dan tidak bisa menghargai Gerry yang mau mengantarkan besok pagi," ucap Tyanca sambil memandang ke arah sang Mama yang terlihat bingung dengan tingkah laku anaknya tersebut.
"Mama pun nggak tahu Kak, kenapa kok, dia tiba-tiba seakan kesal dan tidak nurut sama Mama. Biasanya Bianca selalu nurut dengan omongan Mama, apapun itu!" ucap sang Mama menghela napas panjang.
"Hati-hati Mah, takutnya Bianca bergaul dengan orang yang tidak sopan. Mama harus ingat masa lalu Bianca seperti apa!" ucap Tyanca terlihat geram.
Gerry otomatis melirik sang istri.
"Mih, sudah jangan bahas masa Lalu, gimana sih kamu ini!" ucap Gerry terlihat kesal.
_____
Tyanca pun seakan malu dengan teguran sang suami, dia akhirnya menundukkan kepalanya.
_____
"Iya, Nak Gerry, Mama salah mendidik anak terlalu sibuk!" sang Mama matanya berkaca-kaca.
"Mama mau tidur ya, capek!" ucap sang Mama kembali sambil berlalu ke kamarnya.
______
Nampak di dalam kamar sang Mama seakan dihinggapi rasa bersalah, dia kembali mengingat masa lalu ketika Amel hamil. Perjuangannya sangat besar sang Mama menjauhkan Bianca darinya karena ada rasa malu dalam diri sang Mama terhadap cemoohan semua orang.
Sang Mama pun berpikir, dia terlalu egois saat itu karena dia dihinggapi rasa malu jika semua orang tahu bahwa anaknya sudah berbadan dua tanpa ada status pernikahan.
"Mama minta maaf Nak," ucapnya lirih.
Mama menangis sendiri di dalam kamar sesenggukan, Mama Astri berusaha mengecilkan bunyi suaranya agar tidak terdengar oleh sang anak yang berada di luar.
_______
Nampak di ruang keluarga Gerry dan Tyanca terdiam. Mereka dihinggapi dengan pikirannya masing-masing. Gerry nampak menghela napas secara perlahan.
__ADS_1
"Mih ada apa sih, dengan Bianca? Kelihatannya dia sedang ada masalah. Coba kamu sebagai kakaknya selidiki dia kenapa?" tanya Gerry kepada sang istri, dia pun seakan dihinggapi rasa khawatir terhadap Bianca.
"Mungkin dia pengen cari perhatian saja," jawab Tyanca terlihat cuek.
"Kamu jangan gitu sama adik kamu, jangan terlalu cuek. Aku heran dengan kamu Mih, kamu selalu tidak akur dengan adik kamu. Padahal waktu terakhir kita ke sini kamu sudah akur dengan adik kamu, tapi sekarang kembali lagi berantem kenapa sih!" Gerry terlihat kesal dan menatap lekat kedua bola mata sang istri.
"Kenapa sih nyalahin aku terus, jelas-jelas Bianca yang bikin gara-gara," jawab sang istri.
Gerry pun terdiam tidak membalas ucapan sang istri karena dia tahu, Tyanca kalau diladeni untuk berbicara dia menjadi marah.
_____
Ting....
Tiba-tiba pesan muncul dari ponsel milik Gerry, nampak terlihat Kang Burhan memberikan sebuah pesan.
{"Assalamualaikum, Pak Gerry besok pagi jadi kan, melihat Ruko dengan Bianca?"} pesan dari Pak Burhan membuat hati Gerry dihinggapi rasa bingung karena dia belum ada kepastian dari Bianca untuk melihat Ruko besok pagi.
{"Wa'alaikum salam, insya Allah semoga saya bisa melihat Rukonya, besok pagi."} balas pesan Gerry.
_____
Gerry membuang napas kasar.
Nampak pikiran Gerry seakan lelah tidak karuan. Gerry bingung, (Apakah Bianca bisa diajak ke Rukonya milik Kang Burhan, besok pagi?).
Melihat sang suami terlihat dihinggapi rasa lelah seperti banyak yang di pikirkan Tyanca pun menggenggam erat jemari tangan sang suami. "Pih, mau dibikin teh hangat manis ya, biar pikirannya rileks," ucap Tyanca, dia pun mencium punggung tangan sang suami sambil berlalu ke dapur.
"Aku harus bicara dengan Bianca 4 mata, mungkin dia kesal dengan keluarganya yang selalu memojokkannya, karena selalu menilai Bianca anak kecil yang semuanya mesti di atur dan tidak memberikan kebebasan interaksi dengan orang sekitar," gumam hati Gerry. Dia sangat yakin Bianca sedang ada masalah. Tapi dia tidak mampu berbicara secara terbuka terhadap keluarganya.
Gerry pribadi yang lembut dan dewasa, mungkin hati Bianca bisa luluh dan tidak tersulut emosi jika Gerry yang menghadapi semua persoalan Bianca.
_____
Tiba-tiba Tyanca datang dari arah dapur.
"Pih, minum dulu teh hangatnya," ucap Tyanca mengusap lembut rambut sang suami.
Gerry mencoba tersenyum walaupun dia sedang memikirkan adik sang istri yang sedang gundah gulana.
"Iya, Mih, terima kasih ya," ucapnya, sambil menyeruput air hangat tersebut.
Gerry memejamkan matanya di kursi, dia seakan ingin menenangkan pikirannya yang sedang gusar.
"Mih, aku mau ngerjain dulu pekerjaan kantor yang belum selesai ya," ucap Gerry sambil melirik laptopnya yang berada di meja.
"Tidur dulu saja Pih, kalau capek. Jangan terlalu diforsir kerjanya," ucap Tyanca.
Sang istri seakan mengkhawatirkan kesehatan suaminya.
"Nggak tenang kalau tidur juga, karena pekerjaan belum selesai," ucap Gerry tersenyum tipis.
Gerry pun berlalu dari hadapan sang istri menuju kursi sofa. Nampak dia membuka laptopnya dan membuka dokumen kerjanya yang menumpuk.
"Lusa aku mesti ke Semarang, untuk mengurus Bisnisku yang tertunda bulan kemarin." gumam hati Gerry.
__ADS_1
Gerry seakan dihinggapi rasa belum tenang, jika dia belum menempatkan Bianca ke bisnis usahanya. Gerry sosok lelaki yang tanggung jawab dan pengertian. Meskipun Bianca bukan adik kandungnya tapi adik dari istrinya, namun Gerry seakan punya kewajiban untuk mengurus Bianca.
Bersambung...