
Nampak malam semakin larut.
Bapaknya Rama masih dihinggapi rasa penasaran terhadap sang istri, karena Rani dari tadi cemberut tidak menegur kepadanya. Dan sekarang dia sudah terlelap tidur.
Dia pun berangkat keluar untuk menenangkan pikirannya tanpa pamit terhadap Rani sang istri. Selama di dalam perjalanan entah mengapa sosok istri tua atau Ibunya Rama hadir hinggap dalam dirinya.
•••
"Kenapa aku tiba-tiba ingat kepada Ibunya Rama, mantanku," gumam hatinya.
Sepertinya dia ingin bertemu dengan mantan istrinya tersebut. Dalam hatinya ingin melihat wajah sang mantan, entah nanti mau di usir atau tidak baginya, itu tidak peduli. Yang penting dia ingin melihat wajah mantan istrinya itu.
Mobil pun dia belokkan ke arah rumahnya dulu, dimana dia tinggal bersama istri dan anaknya Rama.
Setelah tiba di tujuan nampak sang Bapak diam, seakan malu untuk memasuki rumah tersebut. Dia hanya termangu di depan gerbang rumah.
Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca jendela mobilnya itu.
"Keluar.." ucap seorang lelaki yang terlihat berbadan tegap dan mukanya terlihat sangar.
Terasa dag-dig-dug ketika melihat sesosok lelaki yang tiba-tiba datang tepat berada di luar mobilnya itu. Samar bayangan nampak terlihat lelaki tersebut memakai masker dan berjenggot.
Kemudian Bapaknya Rama secara perlahan membuka pintu mobil.
Bugh...
Beberapa pukulan keras menghantam badannya, ketika Bapaknya Rama, baru saja membuka pintu. Bapaknya Rama seakan tidak bisa melawannya karena tangannya di pegang oleh lelaki yang tiba-tiba datang, badan lelaki itu sama persis dengan lelaki yang menghantam tubuhnya. Kulitnya hitam dan badannya tegap.
Terasa samar bayangan ketika tamparan indah melayang ke pipinya dan kuku panjang sang penjahat itu mengenai mata sang Bapak, yang mengakibatkan rasa perih dimatanya.
Kemudian sang penjahat memukul perut sang Bapak dan penjahat lainnya memegang tangan Bapak dari arah belakang.
"To... to..long," ucapnya lirih..
Sang penjahat pun dengan cepat memasuki mobil dan mobil pun di kemudikan dengan kecepatan tinggi. Karena mereka takut di serbu massa.
•••
Pandangan terasa kabur terlihat ketika ada beberapa orang yang menghampirinya.
Darahnya bercucuran keluar dari mulut dan hidungnya. Dadanya terasa sesak seakan lemah lunglai. Kepala sang Bapak terasa pusing, akhirnya dia pun tak sadarkan diri.
"Loh, ini Bapaknya Rama kan," ucap lelaki yang terlihat menolong.
"Iya, ini Bapaknya Rama, ini rumahnya kan disini," lelaki lain menunjukkan jarinya ke arah depan halaman rumah.
Nampak rumah tersebut gelap gulita sepertinya tidak ada orang disana.
"Kita bawa saja ke rumah Pak RT," ucapnya.
kebetulan jarak rumah Pak RT dari situ hanya terhalang beberapa rumah saja.
Kemudian Bapaknya Rama di bawa kerumah Pak RT.
Nampak sesampai di rumah Pak RT, sang Bapak di obati oleh Pak RT dan tetangga lain.
Karena keadaan ribut jadi warga lain pun nampak berdatangan walaupun, waktu sudah larut malam.
____
"Bu RT, bukannya Bapaknya Rama sudah cerai dengan istrinya," ucap salah seorang tetangga berbisik lekat ke arah kuping Bu RT yang sedang melihat sang suami, membersihkan darah yang kotor yang bercucuran di hidung.
__ADS_1
"Masa, sih, Bu. Saya pun pernah dengar kabar tersebut. Kirain itu hanya kabar burung saja,' ucap Bu RT.
"Bu, Bapaknya Rama kan, selingkuh!" ucapnya pelan "Dan dia sekarang tinggalnya dengan selingkuhannya itu, mungkin dia kesini lagi mengunjungi anaknya," sambungnya lagi.
"Kasihan kalau gitu ya, istrinya," ucap Bu RT nampak tersenyum sinis, kepada Bapaknya Rama yang terlihat babak belur.
"Istrinya sakit terus Bu, mungkin sang suami di ambil wanita lain," ucapnya lagi.
"Iya, sekarang banyak pelakor ya, Bu, pantesan Ibunya Rama, tidak pernah keluar rumah lagi karena sakit dan mungkin malu takut para tetangga nanya keadaan rumah tangganya," jawab Bu RT.
Akhirnya Bu RT dan Ibu lainnya menceritakan sifat buruk dari Bapaknya Rama yang terlihat mukanya babak belur.
______
"Pak, bangun. Pak..!" ucap Pak RT, mencoba membangunkan Bapaknya Rama yang terlihat pingsan.
Sementara tetangga yang lain nampak memberikan kayu putih ke bagian bawah hidungnya agar Bapaknya Rama cepat bangun.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit saja Pak," tanya warga kepada Pak RT.
Arrghh
Kemudian Bapaknya Rama terbangun, sedikit demi sedikit dia membuka matanya dengan lebar, nampak dia terkejut karena ada beberapa orang yang tengah memperhatikannya dan pandangannya meringis. Seakan merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Bapaknya Rama.
"Aku dimana," ucapnya sambil meringis menahan rasa sakit. Dia mencoba mau bangun dari kursi sofa yang keadaan badannya terlentang.
"Tenang Pak, jangan dulu bergerak," ucap Pak RT, mencoba menenangkannya.
"Apa yang terjadi Pak.." ucap Bapaknya Rama, terlihat samar bayangan tatkala melihat wajah Pak RT.
"Bapak tadi di pukul oleh orang yang tidak di kenal dan mereka melarikan diri, sekarang Bapak ada di rumah saya," ucap Pak RT.
"Saya mau pulang Pak," ucapnya.
"Di rumah Bapak, tidak ada orang dan keadaan rumah gelap, sudah nggak apa-apa disini saja dulu diam," ucap Pak RT.
Pak RT pun mencoba membersihkan darah yang melumuri wajahnya dan memberikan obat kepada Bapaknya Rama.
•••
Nampak Bapaknya Rama meneteskan air mata, dia nampak mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi dan dalam pikirannya dihinggapi rasa penuh tanya. "Siapakah yang telah tega memukulnya,"
Warga pun secara bergantian pulang.
Sementara ketua keamanan menunggunya di ruang tamu.
___
"Pak, awas ya, kalau kamu kelakuan seperti Bapaknya Rama!" ucap sang wanita yang baru saja keluar dari halaman rumah Pak RT kepada sang suami.
"Apa sih, Bu, jangan di sangkut pautkan sama aku," tegas Bapak tersebut, kepada sang istri.
"Pak, itu kan mobilnya Fani, Tantenya Rama," ucap wanita tersebut tatkala melihat Tante Fani, keluar dari dalam mobil dan membuka garasi halaman rumah.
"Terus mau apa, Bu, sama Tantenya Rama," ucap sang suami.
"Ya kasih tahu lah, Bapaknya Rama sedang ada disini dan baru saja mengalami kecelakaan, di hantam oleh orang jahat." ucap sang istri.
"Biarkan saja, Bu. Belum tentu Tante Fani mau melihatnya karena orang tua Rama sudah pisah" jawab sang suami.
"Dasar pikirannya gak ada rasa kasihan," ucap sang istri, kemudian dia berlalu ke hadapan mobilnya Tante Fani.
"Fani, Bapaknya Rama ada di rumah Pak RT tuh," ucap tetangga tersebut yang tiba-tiba menghampiri Tante Fani.
Tante Fani mengernyitkan dahi, seakan tidak mengerti dengan ucapan yang di sampaikan oleh tetangga tersebut.
"Maksud Ibu," ucap Tante Fani. Terlihat dari raut mukanya dihinggapi rasa heran.
"Tadi Bapaknya Rama ada yang memukul tepat disini," telunjuk tetangga tersebut mengarah ke mobil Tante Fani yang terparkir tepat di depan luar gerbang halaman rumah.
•••
Tatkala mendengar sang Bapak kena pukul orang jahat, langsung dengan spontan Rama keluar dari dalam mobil, sedangkan Ibunya Rama yang duduknya berada di belakang mobil nampak terkejut.
"Ada apa lagi ini," ucap sang Ibu dihinggapi rasa penasaran.
"Sudah, Tante sama Ibu, masuk saja ke dalam rumah jangan masuk ke rumah Pak RT, biar Rama yang datang ke rumah Pak RT." ucap Rama.
__ADS_1
\_\_\_
Dia pun berlalu ke rumah Pak RT.
Sesampai di rumah Pak RT, nampak sang Bapak, tengah meringis menahan rasa sakit. Rama pun terkejut tatkala melihat mukanya Bapaknya itu babak belur.
Dia menatap tajam kepada sang Bapak, nampak rasa kesal dan kecewa masih hinggap dalam dirinya. Tapi untuk meluapkan itu semua dia seakan malu karena ada ketua keamanan setempat dan Pak RT.
"Rama, kamu dari mana?" tanya Pak RT, tatkala melihat Rama datang ke rumahnya.
"Habis kontrol Ibu, terus tadi ke rumah saudara dulu mampir," ucap Rama tersenyum sinis ke arah sang Bapak.
"Rama, Ibu kamu kenapa?" tanya sang Bapak.
Rama sekaan tidak memperdulikan sang Bapak yang menanyakan kesehatan sang Ibu.
"Pak, maafkan ya, sudah merepotkan," ucap Rama kepada Pak RT.
"Kejadian seperti ini, gimana ceritanya," ucap Rama terlihat basa-basi, padahal dia malas untuk menanyakan keadaan Bapaknya tersebut.
•••
Kemudian Pak RT menceritakan semuanya, apa yang tengah terjadi yang menimpa sang Bapak barusan.
Pak RT pun berlalu dari hadapan mereka, sementara ketua keamanan berlalu ke arah teras.
"Rama, Ibu kamu kenapa?" tanya sang Bapak kembali.
"Bukan urusan Bapak!" ucap Rama lekat ke kuping Bapaknya, terdengar penuh emosi ketika berucap.
"Pak, Bapak pulang saja ke rumah istri muda, malu, masa tinggal di rumah Pak RT," ucapnya.
"Bapak nggak kuat berjalan Nak, masih sakit badan," ucapnya.
"Jadi maunya Bapak, nginep di rumah! Nggak mau, jangan nginap di rumah," ucap Rama.
"Kalau pun dibawa sama istri muda dan dia berani menjemput kesini, aku yang malu sama Pak RT, nanti pak RT nanya ("Siapakah perempuan itu!")," ucap Rama.
Bapak terdiam tidak bergeming.
"Ayo, Pak pulang saja, Rama nggak mau kalau Bapak, berdiam diri di rumah Pak RT," ucap Rama melotot.
Rama pun berpamitan kepada Pak RT dan membawa Bapaknya, ke dalam mobil.
Tiba di dalam mobil.
"Nak, bawa nggak kuat," ucapnya.
"Ya, sudah, tidur di mobil saja," ucap Rama. Dia pun berlalu dari hadapan Bapaknya tersebut.
Tiba-tiba Tante Fani datang.
"Dengar ya, walaupun kamu sudah melukai Kakakku, tapi aku masih ada rasa kasihan terhadap kamu!" ucap Tante Fani. Tatapannya menatap Bapaknya Rama.
"Ayo Rama, kita tinggalkan saja dia di Rumah Sakit," ucap sang Tante.
Sang Tante pun melajukan mobilnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung..