
Amel Larasati gadis berusia 22 tahun, dia sedang mengandung bayi anak dari Rama. Usia kandungannya kini menginjak 3 bulan. sifat dari Amel Larasati yaitu cuek dan agak berani. Bertolak belakang dengan Bianca yang polos, ramah dan periang.
Amel saat ini bekerja di salah satu kantor swasta, namun semenjak dia hamil jadi dia berhenti dari pekerjaannya.
Amel dua bersaudara, dia anak bungsu. Sang Kakak seorang laki-laki yang bernama Angga Wiguna, usianya sekitar 30 tahun tapi belum menikah sama seperti Amel, sifatnya cuek dan terlihat berani.
***
Di pagi hari.
Amel terlihat mengusap-usap perutnya, sifatnya yang cuek namun manja kepada kedua orang-tuanya.
"Bu..!" teriaknya.
"Iya, Mel, ada apa sih, pakai acara teriak segala," jawab sang Ibu.
"Aku lapar Bu!" ucapnya, matanya lekat ke layar Televisi.
"Lapar, tinggal makan saja, Nak!" jawab sang Ibu ketus.
"Minta di ambilkan dong, sama Ibu, perutku sakit Bu,," Amel merengek manja.
"Ambil lah, sendiri! Kalau sudah nikah, terus kamu mau nyuruh-nyuruh Ibu terus!" ucap Angga, sang Kakak. Tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya.
"Kalau sudah nikah, suruh suami. Hehe.." Amel tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Mel, Mel..kamu belum dewasa sudah menikah. Kalau saja kamu tidak berbadan dua, Ibu tidak akan mau nikahin kamu dulu," gumam sang Ibu.
Ibu kemudian masuk kedalam dapur untuk mengambil nasi dan lauk.
~~
Tidak lama kemudian, Ibu datang dari arah dapur dengan membawa nasi dan lauk.
"Ini Nak," ucap sang Ibu, sambil menyodorkan makanan tersebut kepada sang anak.
Amel tersenyum lebar ketika sang Ibu membawakan nasi beserta lauk untuknya.
Begitu lahap ketika dia makan.
"Nak,..." ucap Ibu sambil memandangi sang anak yang sedang makan.
"Apa Bu," Jawabnya.
"Kamu coba berusaha untuk bersikap dewasa, dan tidak manja. Sebentar lagi kamu mau menikah. Ibunya Rama kan, meminta kamu untuk tinggal disana, gimana nanti jika kamu berada di rumah Angga, dan kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Masak nggak bisa, nyuci masih sama Ibu, dan.." Ibu tidak bisa meneruskan bicaranya, karena telunjuk dari Amel lekat ke bibir sang Ibu.
"Cukup..! ada pembantu Bu, di rumah Rama. semua pakai pembantu yang ngerjain," ucapnya dengan enteng.
Sang Ibu hanya menggelengkan kepalanya, dia seakan tidak habis pikir dengan kelakuan sang anak, yang selalu tidak mau mendengar ucapan dari sang Ibu.
***
__ADS_1
Ibu pun kesal lalu dia berlalu dari hadapan sang anak.
Ibu duduk di depan halaman rumah disana ada sang suami sedang mencuci kendaraannya yang beroda empat.
Ibu mukanya cemberut, dan tampak menekuk. Melihat sang istri seperti di rundung masalah kemudian sang suami mendekatinya dan berkata.
"Bu, kenapa, ko' murung?" tanya sang suami.
"Amel, Pak!" ucapnya ketus.
"Amel, ada apa lagi dengan dia?" tanya sang Bapak.
"Dia manja sifatnya tidak berubah, aku takut jika nanti dia tinggal di rumah mertua," ucap sang Ibu.
"Loh, takut kenapa?" tanya sang suami.
"Dia tidak bisa apa-apa Pak, masak, nyuci," ucap sang Ibu.
Pandangan melirik kedalam rumah, nampak terlihat Amel sedang rebahan di kursi sofa.
"Coba lihat, baru saja beres makan, bukannya piring di simpan di dapur, ini malah berantakan di meja," sambung Ibu kembali terlihat kesal
"Ibu, Ibu, itu masalah sepele, kenapa jadi pikiran. Di rumah Rama ada pembantu, jadi semua tinggal sama pembantu yang ngerjain," ucap sang Bapak seakan membela anaknya itu.
Sang Ibu terlihat nampak kecewa, dia pun berlalu dari hadapan sang suami
__ADS_1
"Anak dan Bapak, nggak ada bedanya!" ucap Ibu nampak terlihat kesal.
Sang Bapak hanya tertawa terkekeh.