Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 120 Pertengkaran


__ADS_3

Nampak sore itu Rani melempar beberapa baju dengan kasar milik sang suami, yang berada di dalam lemari. Dia terlihat kesal kepada sang suami karena dia selalu dibohongi oleh suaminya tersebut.


Entah setan apa yang merasuki Rani saat itu dia berteriak histeris seakan menyesali diri mengapa harus menikah dengan lelaki tua dan tidak berduit.


"Sana keluar lelaki tua! Aku enggak mau hidup bersama kamu lagi!" ucapnya dengan mata melotot mengarah ke Bapaknya Rama.


"Sabar,,, sabar, kamu Ran. Kamu kenapa Ran," ucapnya dengan pelan, dia mencoba menenangkan hati sang istri agar tidak tersulut emosi dan bersikap tenang.


_____


Sepertinya Bapaknya Rama pandai sekali bersandiwara, dan dia tahu kelemahan sang istri yaitu mudah luluh hatinya meskipun Rani dalam keadaan marah sekalipun.


Bapaknya Rama mendekap dengan erat sang istri, dia mencoba menenangkan hati sang istri agar terlihat sabar dan tenang.


Rani mencoba melepaskan pelukan erat dari sang suami tapi semua sia-sia saja karena pelukan dari sang suami begitu kuat dan erat.


Lalu Rani pun mencoba mendorong sang suami sekuat tenaga, dia mengambil vas bunga yang berada di meja rias.


Prakk...


Vas bunga dia lempar ke arah kepala sang suami, nampak terlihat bercucuran darah keluar dari kepalanya sang suami. dia pun meringis kesakitan menahan nyeri di arah kepalanya.


"Aww...sakit sekali!" ucapnya.


Karena dihinggapi rasa kesal dan amarah Bapaknya Rama pun mendorong Rani ke arah lemari sangat kuat dan keras. Rani pun ambruk ke bawah lantai terasa linu badannya dan sakit. Rani meraung menangis menahan rasa sakit yang teramat.


"Cukup,,,cukup! Aku sakit!" Rani berteriak histeris dengan mencoba akan bangkit kembali dalam keadaan badannya tersungkur.


Pikirannya dia akan kembali mendorong sang suami. Tapi apalah daya badan Rani dalam keadaan lemah lunglai, dia pun tidak sanggup melakukan itu semua walau dengan tenaga kuatnya.


_____


Sang ART tiba-tiba datang, melihat sang majikan sedang beradu mulut dan nampak terlihat Rani dalam keadaan tersungkur di lantai. Sang ART dengan spontan membantu Rani untuk dia rebahkan di kasur.


"Pak, sudah, sudah kasihan Ibu. Istighfar Pak,,,!" rengek sang ART terlihat dihinggapi rasa panik yang teramat dalam melihat pertengkaran yang dilakukan oleh majikannya tersebut.


Nampak Rani terlihat lemah tidak berdaya.


Sang suami pun membereskan semua baju yang berceceran di bawah lantai. Dia masukan kembali ke dalam lemari.


"Sudah, kamu keluar Mbak, aku mau ngobrol dulu dengan Ibu!" ucap sang majikan.


_____

__ADS_1


Sang ART pun keluar dari kamar sang majikan dengan dihinggapi rasa khawatir ketika meninggalkan majikan perempuan, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kembali menimpa ke diri sang majikan tersebut.


Nampak terlihat sang menutup pintu kamar tersebut. Sang ART nampak menguping dari arah balik pintu, kupingnya lekat ke pintu tersebut. Nampak dia terlihat siap siaga karena takut hal yang tidak di inginkan terjadi kepada majikan perempuannya.


____


"Mah, sekarang mau kamu apa!? Jawab jujur," nada bicara sang suami berusaha sangat santai, dia seakan tidak mau terlihat emosi di depan Rani. Bapaknya Rama pun tidak mau kalau sampai di usir dari rumah tersebut karena dia sudah tidak punya tempat tinggal lagi.


"Aku mau uang yang 100 juta dibayar sama kamu. Aku kasih waktu sebulan ini!" ucapnya seakan mengancam.


Nampak raut muka Bapaknya Rama seakan dihinggapi rasa tanya. (Dari manakah uang sebesar itu, dan dalam jangka waktu sebulan dia harus cari!?).


Pikirannya berselancar.


"Sertifikat rumah itu, atas namaku. Apa aku bawa saja ambil dari mantan istriku? Toh, dia orangnya diam tidak banyak kata!" gumam hati licik sang suami.


___


Bapaknya Rama berniat akan mengambil sertifikat rumah yang atas nama dia. Rumah tersebut di kontrakan oleh dia, dan Ibunya Rama kepada temannya. Padahal rumah tersebut hasil dari usaha bersama.


Mungkin karena keadaan yang memaksa dia harus berbuat semaunya dengan cara tidak baik.


Nampak dari raut mukanya terlihat tersenyum lebar. "Sabar Sayang, sebelum sebulan aku pasti ganti uang itu!" ucapnya menatap Rani.


"Dari sertifikat rumah aku yang satu lagi," jawabnya seakan tidak tahu malu.


"Memangnya itu rumah punya siapa?" tanya sang istri kembali.


"Punya berdua sih, tapi atas nama aku tercantum di sana!" jawabnya.


_____


Bapaknya Rama tidak menceritakan sebelumnya kepada Rani bahwa dia mempunyai rumah yang di kontrakan kepada seorang teman.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang sama aku, bahwa kamu punya rumah dan di kontrakan ke temanmu!?" tanya sang istri menatap tajam dengan dihinggapi rasa curiga yang sangat dalam.


"Sudah Mah, kamu jangan mikir macam-macam yang penting sekarang udah ada jalan agar aku bisa dapatkan uang!" jawabnya lagi.


_____


Pikiran suami istri itu sudah kotor, dan tidak tahu malu karena mereka merebut jalan pintas dan seakan tidak ada dosa bagi mereka untuk mendapatkan uang secara tidak halal. Bagaimanapun berbagai cara mereka lakukan untuk mendapatkan uang.


Nampak terlihat jelas raut muka Rani tersenyum lebar meskipun dalam keadaan sakit, badannya linu karena didorong oleh sang suami.

__ADS_1


"Ya, Pah, pokoknya kamu harus menguras uang dari mantan kamu itu, aku enggak mau tahu!" ucap Rani tersenyum licik penuh kemenangan.


_____


Diluar kamar.


Nampak di balik pintu sang ART tersenyum kesal tatkala mendengar kedua majikannya itu bersikap licik kepada Ibunya Rama.


"Ternyata aku bekerja di orang yang salah, kedua majikan ternyata licik, berbagai cara dia halalkan untuk mendapatkan uang," gumam sang ART.


Sang ART tersebut kemudian berlalu dari hadapan pintu kamar mengarah kembali ke belakang.


______


Nampak sang ART termangu di dapur, dia seakan sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahukan Rama, bahwa Bapaknya akan mengambil sertifikat tersebut, karena sang ART tahu keberadaan rumahnya Rama. Kebetulan anaknya sang ART tersebut rumahnya agak dekat dengan Rama.


Teringat waktu kejadian malam itu, Bapaknya Rama diserang oleh suruhannya Rangga, dan anaknya sang ART tersebut mengetahui bahwa yang dikeroyok itu adalah majikan dari Ibunya, tapi sang anak seakan diam seribu bahasa, tidak membicarakan kepada warga bahwa yang dikeroyok itu adalah majikannya sang ibu.


Sang anak berpikir kalau dia bicara kepada warga bahwa yang dikeroyok itu adalah majikannya sang ibu takut melebar panjang permasalahannya.


______


"Mungkin besok atau lusa, aku harus ke rumahnya Ibunya Rama, untuk memberitahukan hal ini. Tapi gimana caranya ya, agar tidak ketahuan oleh Bu Rani!" sang ART pun seakan berpikir keras untuk merencanakan dia akan datang ke rumahnya Rama sangat sulit, karena bentrok dengan waktu dia yang harus bekerja di rumahnya Rani sebagai seorang ART dengan segala pekerjaan rumah dilakukan oleh dia.


_____


Tok...Tok..Tok ..


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah depan halaman rumah, suara bunyi ketukan itu terdengar begitu kasar di ketuk.


Sang ART pun nampak terperanjat kaget karena pikirannya sedang berselancar melamun.


"Siapa lagi yang datang!?" ucapnya.


Pandangannya mengarah ke arah depan, sang ART pun menyeret langkahnya ke arah pintu depan.


•••


Tiba di depan pintu.


Krekkkk...


Akhirnya pintu pun terbuka lebar dibuka oleh sang ART, dan nampak sang ART terkejut dengan kedatangan tamu tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2