Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 61 Pertengkaran


__ADS_3

Bapaknya Rama datang bersama Rani.


Malam itu terlihat sepi di daerah tempat dimana Rama, tinggal. Tetangga pun seakan sedang merebahkan badannya yang sedari siang sibuk dengan aktifitas yang membuat badan tertidur lelap.


Tokk..Tokk..Tokk..


Suara ketukan pintu diluar sana membuat semua orang yang berada di rumah terhenyak, karena terdengar begitu gaduh ketika mengetuk pintu.


"Siapa sih, nggak sopan, ketuk pintu kenceng amat," ucap Rama.


Badannya Rama hendak berdiri untuk membuka pintu. Namun tiba-tiba sang Tante dengan cepat melarang Rama untuk membukakan pintu. Tante Fani lalu dengan sigap menarik kursi meja makan untuk membukakan pintu. Karena nampak mereka sedang menikmati makan malam.


Kreekkkk...


Pintu terbuka lebar setelah Tante Fani membuka pintu tersebut. Nampak membuat geram Tante Fani, karena Istri siri dari Bapaknya Rama, datang dengan menggandengnya.


"Mau apa datang kesini?" tanya Tante Fani mencibir Rani, istri siri dari Bapaknya Rama.


"Bebas lah, ini rumah aku. Terus aku tanya ngapain kamu ada disini!" tatapan Bapaknya Rama menyorot tajam.


"Aku disini? melindungi istri dan anakmu, karena mereka keadaannya sedang susah, paham!" ucap Tante Fani.


•••


Terlihat sang Tante, berkacak pinggang.


Dia sudah lama menyimpan rasa amarah kepada lelaki yang tengah berada di hadapannya. Inginnya sang Tante, melakukan hantaman bogem mentah kepada lelaki dan sang pelakor.


•••


"Kamu sekarang berkuasa ya, Fani. Mungkin otak anakku dan istriku telah di cuci oleh kamu, jadi mereka sekarang pun lebih berani sama aku. Pantesan saja, kamu biang keladinya," ucap Bapaknya Rama dengan muka merah padam.


"Terus tujuan kamu kesini untuk apa?" tanya Tante Fani terlihat ketika melihat Rani, penuh sinis karena dia sang pelakor.


"Fani! ini rumahku dan kamu tidak berhak berkata begitu," ucapnya dengan mata melotot.


"Rumahmu? apa aku nggak salah dengar. Dulu ketika membeli rumah ini perasaan duit berdua dengan Kakakku, itu pun uangnya hasil dari bisnis denganku, untung saja aku masih beri kamu duit," tegas Tante Fani.


__________


Dahulu ketika orang tuanya Rama menikah mereka masih ngontrak. Namun setahun kemudian orang tua Rama, di ajak bisnis oleh Tante Fani. Bisnis yang di jalani oleh mereka lancar lalu mereka mendapatkan uang lebih dari bisnis tersebut.


Tante Fani orangnya loyal dan baik, kemudian orang tuanya Rama, dibelikan rumah oleh Tante Fani, memang uang dari pembelian rumah tersebut dari hasil usaha, namun kekurangan dari uang untuk membeli rumah semua yang nanggung Tante Fani, karena sang Tante, iba melihat keadaan sang Kakak belum maju saat itu.


Sekarang seenaknya Bapaknya Rama, mengaku itu rumahnya, Tante Fani pun tersulut emosinya.


__________


"Ya sudah, aku ikhlaskan rumah ini buat si Rama," Bapaknya Rama, seakan mengejek.


"Hahaha.. terdengar lucu!" ucap Tante Fani. Sang Tante pun seakan mengejek lelaki tidak tahu diri itu.


"Pah, wanita ini orangnya gak tahu sopan santun, pipiku juga kemarin di tampar," ucap Rani terdengar manja ketika berucap nampak dia ingin ada pembelaan dari sang suaminya tersebut.


•••


Melihat keadaan Rani yang terlihat bermanja-manja dengan suami Kakaknya. Sontak tangan sang Tante, mengepal tangannya. Tante Fani nampak jijik melihat pemandangan tersebut seperti ABG, padahal sudah tua renta. 🤭🤣

__ADS_1


•••


"Kamu mau aku tampar lagi," pandangan Tante melotot lekat ke arah sang pelakor.


Otomatis Rani, badannya mengarah ke belakang lelaki itu dan posisinya tidak bergandengan lagi.



Tiba-tiba Rama dan sang Ibu datang dari arah belakang. Mereka nampak terkejut melihat sang Bapak dengan membawa seorang wanita muda.



"Rani, kamu ngapain datang ke rumahku, sudah cukup penderitaan yang aku alami selama ini, tolong jangan menambah keributan," ucap sang Ibu.


•••


Melihat sang pelakor berada di hadapannya, sang istri sungguh terbakar api cemburu yang begitu membara. Jantungnya seperti di remas sakit tiada tara.


•••


Karena dari tadi terdengar cukup keras ketika mereka beradu mulut, namun sang Ibu dan Rama menelaah dulu, siapakah yang datang dengan berani berteriak di rumahnya.



"Mau apa kesini, sudah menabrakku, sekarang ambil Bapakku," ucap Rama, dadanya bergemuruh tidak karuan.



"Ikhlaskan saja Rama, Bapakmu ke pelukan si pelakor itu, buat apa mempunyai Bapak, yang tidak ada gunanya." sang Tante mengejek kembali Bapaknya Rama.



ucap sang Bapak terdengar begitu percaya dirinya ketika berucap dan seakan menantang, memberitahu kepada semua orang bahwa istri sekarang banyak duit.



"Mau nolong! ada Tapi-nya kan?" ucap sang Tante. " Tapi.....Kakakku asal mau diceraikan sama kamu?" sambung lagi sang Tante. Tante Fani seolah menantang ucapan Bapaknya Rama.



"Iya, memangnya si Rama punya duit untuk membayar utang, syukur ini Rani udah mau nolong," ucapnya tersenyum sinis.



"Tidak usah, sana bawa saja uangnya buat dipakai bulan madu saja sama istri barumu. Tidak usah jadi alasan bahwa dengan uang tersebut agar bisa membeli perceraian dengan Kakakku. Tanpa uang yang 100 juta, Kakakku sudah akan menggugat cerai!" ucap sang Tante begitu tegas ketika berucap.



"Kamu jangan sombong Fani, pasti si Rama butuh uang 100 juta itu, untuk bayar utang," sambung lagi Bapaknya Rama.



"Uang yang 100 juta sudah ada, jadi kamu tidak perlu repot-repot datang kesini untuk memberikannya," ucap sang Tante.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Bapaknya Rama tertegun sejenak, dia pun memahami dan percaya kalau Rama, diberi oleh Tante Fani uang untuk utang, karena Tante Fani uangnya berlebih.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Ibunya Rama menghela nafas panjang.


"Aku mau gugat cerai kamu, kalau di madu aku nggak mau Pak. Aku sudah lelah dengan kebohongan kamu selama ini," ucap sang Ibu terdengar begitu lirih. Air mata yang dia tahan seakan tidak bisa di bendung lagi, akhirnya bercucuran menetes.


Air mata dari ujung mata sang Ibu, begitu deras meluncur di pipinya.



Tante Fani memeluk erat dengan rasa iba, kemudian Tante Fani, seakan tidak kuat menahan rasa sesak yang dia tahan sedari tadi. Sang Tante pun menggandeng dengan erat membawa sang Kakak masuk kedalam rumah.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Setelah Tante Fani dan sang Ibu berlalu kemudian Rama, menatap kedua orang yang tengah berada di hadapannya.



"Pergi dari sini Pak, pergi!" ucap Rama terdengar kesal dan matanya melotot.



Sang Bapak terlihat mengepalkan tangannya, dalam dirinya dihinggapi rasa malu yang teramat karena ketika dia di usir secara halus, dia dilihat oleh sang istri barunya, mungkin dalam dirinya dihinggapi rasa malu.


Dia seakan tidak ada harga dirinya.



"Ayo, Pah, kita pergi saja, aku kesal dari tadi berada disini." ucap Rani membujuk sang suami agar keluar dari rumah tersebut.



"Bilang sama Ibumu, segera selesaikan perceraian ini!" ucapnya tidak tahu malu dan terdengar ingin diperhatikan oleh istri sirinya tersebut.



Dalam hati Rani tertawa puas, ada kemenangan bagi sang pelakor.


Sementara Rama dengan spontan menampar pipi Rani, sontak sang Bapak, marah dan ingin menampar balik tapi Rani dengan sigap melarangnya.



Plaakkk...



Terlihat meringis Rani memegang pipinya,


"Aww...sakit," ucapnya.



"Sakitmu tidak seberapa, dengan rasa sakit Ibuku, dasar pelakor," ucap Rama.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2