Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 79 Kecewa


__ADS_3

Angga tetap pemasaran dengan wanita yang tiba-tiba datang yang berada di dalam mobil tersebut.


"Ada Bapakmu?" tanya sang lelaki terdengar begitu keras ketika berucap.


"Anda siapa ya?" tanya Angga dihinggapi rasa penasaran yang teramat sangat.


"Anak, nggak sopan. Orang nanya. Malah balik nanya," ucapnya terlihat kesal.


•••


Angga mencoba mengingat-ingat kembali wajah lelaki tersebut karena sepertinya dia pernah melihat sosok lelaki tersebut.


Setelah lama menatap lelaki tersebut dengan seksama, karena keadaan sudah gelap juga.


Angga baru ingat yang nampak di depan matanya tersebut adalah Bapaknya Rama.


Tapi Rama seakan tidak percaya dia adalah Bapaknya Rama, karena wanita yang bersama Bapaknya Rama, bukan Ibunya Rama, tapi sosok wanita yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


___


"Bapaknya Rama, ya?" tanys Angga dengan sorot mata tajam.


"Iya, aku mau ketemu Bapak kamu, mau membayar utangnya Rama," ucapnya terlihat sombong dan merasa banyak uang.


Padahal uang yang dia punya selama ini milik sang pelakor yaitu Rani.


"Sudah lunas, dibayar sama Tantenya," Angga dihinggapi rasa heran, kenapa Bapaknya Rama tidak tahu jika anaknya atau sang Tante sudah membayar utang.


Dalam hati Angga dihinggapi rasa tanya. Mungkinkah kedua orang tuanya Rama sudah berpisah atau sedang ada pertengkaran karena nampak wanita yang ada di hadapannya itu terlihat sudah tidak ada jarak ketika menatap Bapaknya Rama, begitupun sebaliknya, dan tatapan mereka penuh arti seakan ada hubungan khusus.


"Yasudah Pah, nunggu apalagi, kita cabut aja dari sini. Duit aku kan awet 100 juta tidak susah payah keluar!" ucapnya terdengar suaranya seperti mengejek sang suami.



Angga pun seakan percaya, jika wanita yang kini tengah berada di mobil Bapaknya tersebut adalah istri barunya.



Mereka pun berlalu dari luar halaman rumah, sang wanita tersebut mencoba menutup kaca mobil dan mobil tersebut di lajukan oleh sang pengemudi begitu kencang.


•••••


"Sama siapa ya, Angga ngobrol." ucap sang Ibu. Yang dari tadi Ibu dan Bapaknya Angga, sedang mengintip dari arah kaca jendela ruang tamu yang arahnya tepat menuju halaman teras rumah.



"Iya, malam-malam gini," ucap sang suami.


__ADS_1


"Mungkin nanyain alamat Bu," ucap Amel yang mengambil anaknya dari gendongan sang Ibu. Amel pun berlalu dari kursi tamu, menuju kamarnya. Dia pun merebahkan diri ketika memasuki kamarnya.


Angga memasuki rumah.


"Siapa barusan yang ngobrol sama kamu di dalam mobil?" tanya sang Bapak seperti dihinggapi rasa penasaran.


Angga menghela napas panjang.


"Nggak penting!" Jawabnya.


Sang Ibu nampak mengernyitkan dahi sambil melihat ke sang suami tatapannya. Sementara sang Bapak masih dihinggapi rasa penasaran.


"Siapa, Bapak penasaran," ucap lagi sang Bapak, ekor matanya terus mengikuti Rama, yang merebahkan tubuhnya di kursi sofa dengan kasar.


Sang Ibu kemudian menghampirinya, kemudian duduk di dekat sang anak.


"Barusan yang datang Bapaknya Rama," ucap Angga


Angga mencoba berbisik lekat ke kuping sang Ibu. Agar tidak terdengar sang Bapak.


Tapi karena sang Ibu dihinggapi rasa kaget ketika mendengar Bapaknya Rama, sontak sang Ibu nada bicara terdengar keras.


"Apa, Bapaknya Rama!" ucap sang Ibu.


Dengan cepat pandangan Bapak mengarah ke kursi sofa dimana sang Ibu dan Angga sedang duduk disana,


"Nanyain utang, dia mau membayarnya," ucap Angga dengan pandangan masih fokus ke layar ponsel.


"Sedang banyak duit tuh, keluarga si Rama," sindir sang Bapak.


"Tapi anehnya, dia bersama wanita dan rasanya wanita itu orang kaya, karena Bapaknya Rama, mau membayar utang dengan uang istri yang baru." sambung Angga kembali.


Sontak mendengar istri baru dari Bapaknya Rama, Bapaknya Angga tertawa terbahak. Tertawa yang menggoreskan rasa benci dan mengejek.


"Tuh, kan, Bapaknya saja sudah brengsek gitu, berarti kelakuan Bapaknya turun kepada anaknya, lucu dan konyol!" sang Bapak terdengar puas mendengarnya.


••••••


Sementara Amel yang sedang memeluk sang anak di dalam kamarnya, dia hanya mendengarkan semua apa yang terjadi.


"Keluarga Rama, hancur!" ucap Amel.


Teringat ketika dulu Amel menginap di rumah sang mertua, Bapaknya Rama suka curi-curi waktu untuk menelepon dan terdengar kata Sayang, dari mulutnya. Dan sekarang Amel baru memahaminya bahwa Kakek tua dari anaknya itu berselingkuh atau tebar pesona.


Ting...


{"Amel, kamu harus sayang sama anakmu. Kamu jangan dengarkan apa kata Bapakmu. Kamu harus berpendirian teguh. Jangan cerai!"} pesan muncul dari Rama.


Tatkala melihat isi pesan dari sang suami, Amel terasa muak membacanya.

__ADS_1


{"Kamu sama saja seperti Bapakmu, ternyata. Suka mempermainkan hati wanita, dasar lelaki brengsek tidak tahu malu,"} balasnya.


{"Amel, mungkin kamu sedang emosi, baik akan tetap kutunggu kamu, sampai kapanpun. Ingat ya, aku tidak mau bercerai dengan kamu,. Awas kalau kamu sampai menceraikan aku!"} pesan kembali muncul dari Rama, membuat hati Amel seakan tidak nyaman, entah mengapa. Dia merasakan hal tersebut.


_____


Rasa takut terhadap sang suami kian menggelayuti. Takut Rama melakukan hal yang nekad, karena Amel tahu dia pasti dendam kepada dirinya. Dia takut keluarganya di ancam keselamatannya oleh Rama.


Amel ingat kejadian lalu ketika dia kesal oleh Rama sebelum menikah, karena Rama di hinggapi rasa cemburu, kemudian Amel meminta pisah saja karena kecemburuannya tidak beralasan. Lalu Rama melakukan hal yang konyol dengan melakukan baku hantam dengan lelaki tersebut sehingga mengakibatkan keributan.


______


"Aneh lelaki brengsek dasar, dia sangat cemburu tapi masih berkhianat dengan cara berpacaran dengan Bianca, dan sampai hamil, lelaki goblok!" Amel menggerutu.


Dia kecewa dan begitu yakin dia akan menggugat dengan cepat lelaki itu.


Tokk..Tokk..Tokk..


"Mel, udah tidur belum," ucap Ibu mengetuk pintu beberapa kali di depan pintu kamar.


"Ada apa lagi sih," gumam hati Amel.


Dalam hatinya berpikir, bukannya persoalannya sudah selesai dan mengapa sang Ibu masih mengganggunya.


"Ada apa Bu, aku ngantuk!" jawabnya terdengar kesal.


Krekkk..


Pintu akhinya terbuka lebar.


"Nak, besok Ibu akan membawa kamu liburan kerumah Nenek di daerah Ciamis, disana ada pemandangan. Daerahnya masih sejuk dan suasana kampung. Ibu harap kamu bisa menenangkan pikiran dulu dengan tinggal beberapa hari disana," ucap sang Ibu.


Mengusap lembut rambut Amel yang terlihat berantakan.


•••


Amel dengan cepat menganggukkan kepalanya, karena dia dihinggapi rasa takut oleh Rama, takut lelaki itu tiba-tiba datang kembali ke rumahnya, jadi dia harus menghindar sementara dari Rama.


•••


"Dengan Bapak?" tanya Amel.


"Nggak Nak, kita berdua dan bawa anakmu. Kita pakai kereta Api saja, biar Angga besok antar kita ke Stasiun," ucap sang Ibu. tersenyum renyah kepada anaknya itu, yang sedang gundah gulana pikirannya.


"Ya sudah Bu, Amel capek, mau istirahat dulu," ucapnya sambil melihat jam yang menempel di dinding sudah pukul 11 malam.


"Ya, sudah kita berangkat besok pagi ya," ucap sang Ibu sambil mengecup kening sang anak. Kemudian sang Ibu keluar dari dalam kamar anaknya tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2