
Satu bulan kemudian.
Tyanca bersama Mamanya, kembali datang ke Bekasi untuk menjenguk keadaan Bianca.
Tyanca pun khawatir kepada sang adik, karena nampak melamun terus seakan tidak bergairah.
"Mah, bagaimana kalau aku ajak Bianca beberapa hari ke Bandung, pikirannya biar sedikit rileks saja. Aku kasihan dengan kondisinya sekarang," ucap Tyanca.
Mama Astri, nampak berpikir sejenak.
"Boleh, tapi Mama ikut saja. Mama khawatir Bayinya nanti nggak ada yang ngurus," jawab sang Mama. Mama Astri nampak khawatir jika kepergian ke Bandung, tidak dibarengi oleh sang Mama.
"Kan ada aku Mah, nggak apa-apa kok," jawab Tyanca, menatap lekat kepada sang Mama.
"Iya tapi Mama, tetap mau ikut." ucapnya.
Keesokan harinya Tyanca pun pulang dari Bekasi tidak sendiri karena ada sang adik dan kedua orang tuanya ikut menemani.
Nampak sang Tante begitu berat melepaskan Bianca dan Bayinya. Padahal mereka kepergiannya hanya sebentar, sekitar satu minggu. Tante Astrid sudah menganggap Bianca seperti anaknya sendiri, begitupun dengan suami dan kedua anaknya Tante Astrid, sudah begitu dekat dengan Bianca dan Bayinya tersebut.
"Cepet pulang, jangan lama-lama tinggal di Bandung nya," ucap sang Tante, memeluk erat Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis kepada sang Tante.
Nampak kedua anaknya Tante Astrid pun seperti nggak rela jika Bianca, beserta Bayinya pergi, mereka menangis ingin ikut.
"Sebentar saja ko, Adek Bayinya perginya," sang Tante mencoba menenangkan hati anaknya tersebut.
Setelah semuanya beres, keluarga dari Bianca pun berpamitan untuk pergi. Nampak lambaian tangan yang diberikan Bianca kepada keluarga Tante Astrid begitu berat.
"Sudah Nak, jangan sedih gitu. Katanya jenuh tinggal di Bekasi. Nah, sekarang Kakakmu mau bawa kamu ke Bandung," ucap sang Mama, ketika di dalam mobil.
"Iya, nanti kita kalau sudah sampai di Bandung, kita jalan-jalan keliling kuliner kota Bandung," sang Kakak mencoba menghibur sang adik.
"Mama menatap lekat kepada sang anak, ada perubahan dalam diri anaknya tersebut. Bianca pribadi yang supel, periang dan manja tapi sekarang malah sebaliknya, dia nampak pendiam, murung dan terlihat cuek.
Dahulu dia selalu bergelayut manja dengan kedua orang tuanya dan Kakaknya, namun sekarang dia seakan tidak bisa melakukan hal tersebut, entah itu ada rasa canggung atau pribadi dia menjadi malu karena faktor hamil diluar nikah.
"Nak, sini Mama kuncir rambutnya," sang Mama nampak sibuk merogoh sisir yang ada di dalam tasnya kemudian dia menyisir rambut Bianca. Karena Mama, merasa risih dengan sang anak ketika sedang menyusui sang Bayi, rambut terurai panjang tidak karuan.
Sementara Tyanca melihat dari kaca spion dalam mobil, ketika sang Mama menyisir rambut sang adik.
"Rambutnya entar di potong ya!" ucap Tyanca dengan pandangan tetap fokus ke depan jalan raya.
__ADS_1
Sementara Gerry, sang suami tidak ikut ke Bekasi karena sedang sibuk.
Tyanca duduk di depan bersama Papanya, dan anak dari Tyanca, dipangku oleh sang Papa tercinta.
"Biar panjang saja!" ucap Bianca.
"Gerah Nak, kalau sudah punya Bayi harus praktis biar nggak canggung," sambar Mama Astri.
______
Tyanca teringat kepada Rama.
{"Rambut kamu bagus, jangan di potong pendek ya, biarkan panjang terurai,"} dengan rayuan gombalnya, dia membelai rambut Bianca, dan memeluk erat tubuhnya.
Bianca membuang napas kasar. Mengapa bayangan Rama nampak selalu hadir, apalagi ketika dia sedang menatap lekat tatkala sedang menyusui Bayinya, yang nampak mukanya hampir mirip dengan Rama.
Tak terasa bulir putih menetes di pelupuk mata Bianca. Entah itu air mata kecewa atau rasa rindu kepada Ayah sang Bayi yang sedang di berikan ASI olehnya.
_______
"Hey,..kenapa nangis!" ucap sang Mama. sambil menepuk pundaknya Bianca dan mengusap air mata anaknya itu.
Bianca tidak menjawab, pandangannya hanya lekat tertuju kepada sang Bayi, yang sedang gemar minum susunya.
"Jangan sedih, Mama ngga suka!" Mama Astri tidak mau melihat anaknya terus menerus dihinggapi rasa sedih.
Tyanca dan Papa, saling pandang. Mereka pun tidak berani berbicara, seakan ada tanda tanya di dalam diri masing-masing.
Sang Bayi, sontak menangis secara perlahan, entah mengapa mungkin ada kontak batin dengan sang Mama, yang sedang gundah gulana.
"Tuh Bayimu jadi ikut nangis kan, sudah jangan sedih," Mana Astri lalu mengambil sang Bayi dari dekapan Bianca.
Mamanya Bianca, begitu sangat sayang kepada sang Cucu, nampak akan ada air mata yang akan tertumpah di ujung matanya, tapi sang Mama, seakan melawan air mata tersebut untuk tidak keluar.
Tatapan Bianca hanya menunduk dan memainkan ponselnya, ketika Bayi sudah berada di dekapan sang Mama.
Dia melihat layar WhatsApp, status demi status dari layar ponselnya dia lihat. Kemudian Bianca melihat status sang sahabat tersebut.
Merry sang sahabat sekolah dulu, nampak terlihat sedang duduk di kantin bersama teman-teman sekolahnya, dengan memasang raut muka sumringah.
Nampak berjejer teman-temannya tersebut, mereka adalah teman satu kelas.
"Aku seharusnya berada disini!" gumam hati Bianca. Dia menghela napas panjang, kemudian mematikan ponselnya.
__ADS_1
Mata Bianca terpejam, bayangan teman-teman sekolah putih-biru nampak hinggap dibenaknya.
Gelak tawa mereka seakan membuat suasana menjadi ceria. Merry yang selalu hadir kini entah mengapa hilang begitu saja tidak ada kabar berita. Bianca pun seakan enggan untuk sekedar mencoba menanyakan kabarnya.
"Nak, masih suka berkomunikasi dengan Merry nggak?" tanya Mama.
Bianca terkesiap, karena dia sedang melamun sahabatnya itu juga yaitu Merry.
Bianca hanya menggelengkan kepalanya.
Dalam hatinya berpikir kenapa sang Mama, seakan merasakan dia sedang mengingat sang sahabatnya itu yang bernama Merry.
Mendengar nama Merry sontak Tyanca terbelalak matanya, karena dia teringat kepada Febry, Kakaknya Merry yang sampai saat ini juga sudah tidak ada kabar berita darinya, terakhir mereka bertegur sapa lewat sambungan telepon ketika Rama menikah dengan Amel.
"Oh, iya. Aku jadi teringat kepada Febry, kabar dia kemana ya," ucap Tyanca.
"Mereka mungkin sibuk!" ucap Bianca.
Bianca seakan tidak mau membahas kedua orang tersebut.
Tyanca dan Mama pun seakan mengerti isi hati dari Bianca, yang sedang banyak pikiran. Mereka pun tidak banyak berkata lagi di dalam mobil tersebut.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari Gerry suami dari Tyanca.
{"Mih, langsung saja ke Kafe baru, milik Papi ya, jangan ke rumah. Nanti kita makan disini. Kasihan kalau langsung ke rumah. Takutnya pada lapar mau makan,"} pesan dari sang suami membuat perut berbunyi seakan kelaparan dan meronta ingin makan. karena sang suami, Gerry mengirim gambar beberapa makanan khas Sunda yang sangat menggugah selera.
{"Oke,"} balas Tyanca singkat.
Setelah memakan waktu sekitar dua jam setengah dari arah Bekasi ke Bandung, akhinya keluarga dari Bianca, sampai juga ke tempat tujuan, yaitu Kafe milik Gerry, suami dari Tyanca.
"Ayo, semua turun!" ucap Gerry menyambut keluarga dari istrinya itu.
Nampak Gerry sudah menunggu dari arah depan Kafe tersebut.
Bersambung...
__ADS_1