Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 27 Bianca mau dibawa sang Tante


__ADS_3

Bianca kesal.


Mendengar suara pintu yang sangat keras ditutup, lalu Tyanca dihinggapi rasa penasaran, Tyanca berlalu dari hadapan keluarga nya untuk melihat.


"Coba lihat Kak, ada apa?" ucap sang Mama.


Tyanca berjalan ke ruang depan.


Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Bianca dengan posisi duduk di lantai dan memeluk kedua lututnya. Tangisnya sesunggukkan.


"Hai, kenapa..kenapa?" tanya sang Kakak. Tyanca menggerakkan badan Bianca.


Bianca seakan tidak mau menghiraukan Kakaknya, lalu beberapa menit kemudian dia berdiri. Kemudian Bianca, berlari ke arah kamarnya. Tyanca mengernyitkan dahi.


"Apa adikku berantem dengan si Bram? atau.." Tyanca seperti dihinggapi rasa curiga lalu dia pun menyeret kakinya ke arah kamar adiknya itu. Kemudian Tyanca mengintip dari arah jendela pintu kamar, dengan lekat matanya berselancar mengelilingi ruangan kamar Bianca.


Terlihat hanya Bianca saja yang ada di dalam kamar tersebut. Tiba-tiba ada yang bergemuruh dalam dadanya.


"Lelaki itu kemana! kenapa tidak ada ya, kurang ajar! " Tyanca dihinggapi rasa kesal dan penuh tanya di benaknya.


Plaakkk


Punggung Tyanca ada yang menepuk, sontak dia kaget. "Pih, ngagetin aja!" ucapnya melotot. Tiba-tiba Gerry, sang suami datang.


"Ngapain ngintip pengantin!" tanya sang suami. Tertawa terkekeh.


"Apaan sih! aku cuma curiga, si Rama kayaknya pulang, soalnya dia tidak ada di kamarnya. Dan tadi aku lihat si Bianca, nangis di depan pintu depan," ucap Tyanca.


"Ada apa ini?" tiba-tiba sang Papa datang.


"Rama, pulang katanya," Gerry berucap dengan lirih, dan menundukkan kepalanya.


"Apa..!" sang Papa terkejut.


"Iya Pah, tadi sepertinya Bianca membanting pintu depan karena Rama pulang, dan dia nangis di lantai bawah pintu," ucap Tyanca.


Papa terlihat mengepalkan tangannya.


"Besok urus perceraian!" ucap Papa.


Mulut Tyanca terbuka lebar, dia sangat terkejut dengan ucapan sang Papa.


"Setuju Pah!" sambungnya..


Gerry mencubit punggung belakang sang istri, dan Tyanca terlihat meringis.


Papa dengan wajah yang berubah menjadi merah padam dan menyimpan rasa kesal dia pun mengetuk pintu.


Tokk...Tokk...Tokk...


"Buka, buka pintunya,!" ucap sang Papa.


Tidak ada jawaban disana, dan tangisan Bianca sudah tidak terdengar lagi. Tyanca kemudian mengintip dari arah jendela.


"Pah, sepertinya Bianca tidur," ucap Tyanca.


"Nggak mungkin, baru saja dia terdengar tangisannya," ucap sang Papa.


"Mungkin kecapean Pah," ucap Gerry, dia pun mengintip dari arah jendela. Nampak terlihat Bianca memakai selimut penuh menyelimuti badannya.


"Ada apa ini?" tanya Mama, di ikuti oleh sang Tante beserta suaminya yang hendak menuju ruangan depan.


Karena tadi setelah akad nikah mereka berkumpul di ruang tamu.


"Lihat Bianca sedang tidur, tapi suaminya pulang?" ucap Tyanca, terlihat sambil mendelik.


Sontak sang Mama, dan Tante beserta suaminya terkejut. Pandangan tertuju semua ke arah Tyanca.


"Mari kita ke ruang depan, kita ngobrolnya disana," ajak Gerry.


Mereka pun berlalu ke ruang depan.


*****


Setelah di ruang depan.


Gerry menghela napas secara perlahan, kemudian dia menceritakan semuanya apa yang terjadi yang menimpa kepada Bianca.


Terlihat pandangan Mama mengarah ke pintu kamar Bianca, matanya berkaca-kaca terlihat nampak sedih.


"Besok kita ke Pengadilan Agama!" ucap sang Papa. Sontak Mama melirik ke arah suaminya tersebut, air mata Mama menetes, dan Mama tidak mampu berkata apapun.


Mungkin hanya air mata yang bisa menjawab semuanya.

__ADS_1


"Sabar..." ucap Tante Astrid.


Sambil mengusap pundak Kakaknya itu secara perlahan. "Lebih baik istirahat dulu, dari kemarin kayaknya kurang istirahat," kemudian Astrid menggandeng Kakaknya tersebut ke kamarnya untuk beristirahat.


Sesampai di kamar.


Sang Mama sesunggukkan, dia memeluk adiknya itu, dia tumpahkan semua isi hatinya yang sedang gundah gulana.


"Aku capek, capek..." ucapnya terdengar serak ketika berucap.



Tante Astrid pun seakan iba melihat kondisi sang Kakak, keadaan hatinya sedang tidak karuan dan pikirannya kalut.



"Sabar, ikhlas dan istighfar," ucapnya menepuk-nepuk pundak sang Kakak.



"Aku malu, dengan tetangga, teman di sekolah nya nanti pasti datang kesini dan teman-teman aku di pasar," ucap sang Mama, seperti memikirkan terus rasa malu yang akan dia hadapi kedepannya seperti apa.



Sang Mama seperti terkena mental karena teman-temannya yang di pasar mengejek dan menyindir, tapi kalau tetangga tidak ada yang tahu. Mungkin hanya Pak RT dan RW, yang mengetahui bahwa Bianca sedang hamil. Tapi lambat laun kedepannya, pasti mereka akan tahu semua.



"Bagaimana kalau Bianca, ikut aku ke Bekasi saja. Biar tidak jadi pikiran juga dengan kamu Kak, kalau anakmu disini." ucap sang adik memberikan solusi.



Sang Mama, terlihat sedang berpikir mungkin benar juga saran dari adiknya itu, lagian jarak antara Jakarta dan Bekasi tidak terlalu jauh menempuh jarak kurang lebih satu jam saja. Jadi sang Mama tidak terlalu jauh untuk menengoknya, jika ingin bertemu.


"Aku akan obrolkan dengan suami dan Bianca," ucap Mama Astri.


\_\_\_\_\_


\*\*\*


Keesokan Harinya.


Nampak terlihat Mama pagi sekali sudah bangun membuat sarapan di atas meja makanan yang di sajikan cukup banyak dan beraneka ragam.




"Kita mulai saja makannya, tadi Mama sudah ajak makan Bianca, tapi nggak mau," ucap sang Mama.



Mereka pun makan, tidak ada suara yang terdengar dari mulut mereka, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu.


"Pah, bagaimana kalau Bianca tinggal di tempat Astrid saja," ucap sang Mama, memulai pembicaraan.


Papa terdiam, nampak sedang berpikir.



"Iya, Mah, mending tinggal sementara di rumah Tante saja, setelah melahirkan tinggal lagi disini. Biar dia menenangkan dulu pikirannya," ucap Tyanca.



"Masa kita suruh tinggal disana Mah, nanti anaknya merasa di asingkan loh, sama kita." ucap sang Papa.



"Maksudnya gini Mas, biar situasi di rumah ini tidak memanas sementara Bianca, tinggal di rumahku. Aku tidak memaksa ko' itu sih, terserah Bianca. Apa mau tinggal disini apa di rumahku," ucap Tante Astrid, mencoba memberikan penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara suami kakaknya itu dengan ucapan Kakaknya.



Tiba-tiba Bianca datang.


"Aku mau ikut Tante Astrid saja!"ucapnya dengan mata sembab karena sisa semalam nangis terus.



"Makan, Bianca, sini dekat Tante," ucap sang Tante, tersenyum ramah.



Tante Astrid sangat sayang dan perhatian kepada Bianca. Dia menganggap Bianca seperti anaknya sendiri, karena Tante Astrid tidak mempunyai anak perempuan.

__ADS_1


Anak dari Tante Astrid semua laki-laki ada 2 orang, mereka masih kecil yang bungsu usia 7 tahun kelas 1 SD, dan yang kedua kelas 3 SD usia 9 tahun.



Bianca duduk di pinggir Tantenya tersebut.


Sang Tante membelai rambut Bianca yang terurai panjang. Sang Mama terlihat ingin menguncir rambut Bianca, Mama tidak mau melihat anaknya dengan rambut berantakan. Kemudian Mama, mengambil sisir dan memberikan sisir tersebut kepada adiknya.



"Sayang, ikut tinggal sementara dengan Tante ayo! dari sini kita jemput dulu Dito dan Doni ya, di rumah Neneknya," ucap sang Tante.


Sang Tante kemudian menyisir rambut Bianca, dan menguncirnya.



Gerry terlihat menahan tawa, kemudian Tyanca melirik suaminya tersebut lalu dia menginjak kaki Gerry dibawah meja.


Sontak muka Gerry meringis sakit.



"Kamu mentertawakan adikku ya, karena sudah menikah masih di kuncir rambutnya," bisik Tyanca lekat ke kuping Gerry.



Gerry hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian Gerry pamit, berlalu dari meja makan yang di ikuti oleh Tyanca. Mereka menuju ruang keluarga.



Gerry Kemudian merebahkan badannya di kursi sofa. "Apa sih, Mih!" Gerry tersenyum kepada Tyanca, sambil mencubit lembut pipinya. Karena Tyanca melotot ke arahnya seakan mengejek.



"Tadi Papi ngeledek Bianca!" ucapnya lagi.



"Iya Mih, tapi bukan ngeledek sih, lebih ke mereka semua peduli terhadap Bianca.


Seakan melupakan hal yang telah terjadi kepada Bianca, dan masih menganggap Bianca anak kecil." ucap Gerry tertawa terkekeh.



"Iya, karena mereka terlalu sayang, kepada adikku," Tyanca menghela napas.



"Kamu..?" tanya Gerry.



"Maksudnya," Tyanca heran dan mengernyitkan dahi.



"Kamu sudah tidak sayang, maksudnya," ledek sang suami.



"Loh, ko' kenapa Papi bisa menilai seperti itu,?" tanya Tyanca.



"Karena Mami, dari kemarin marah-marah terus pada adiknya," Gerry tertawa lebar.



Sontak Tyanca melempar bantal kecil kehadapan suaminya itu.



"Dasar.." ketus Tyanca.



Tiba-tiba sang Mama datang.


"Kak, Bianca jadi katanya ikut kepada Tante Astrid, ke Bekasi," ucap sang Mama.


Tyanca menganggukkan kepalanya.


"Terserah Bianca saja Mah," jawab Tyanca.

__ADS_1


"Ya, kalau menurut Gerry, benar juga. Mendingan nenangin diri dulu disana, dan itu kemauan anaknya kan, kita tidak memaksa," ucap Gerry.


Bersambung.


__ADS_2