
Mama merasa bersalah.
Mama menghampiri suaminya ke dalam kamar, nampak Papa terlihat memalingkan muka kepada sang istri, ketika dia masuk kamar. Mama mengelus dada kembali.
"Pah, memang tadi Mama salah mengijinkan Bianca datang ke acara perayaan ulang tahun Merry, jika karena hal ini membuat Papa kesal, Mama.." Mama menghela napas panjang, kemudian dia meneruskan bicaranya kembali. "Mama akan minta bantuan Tante Astrid saja, agar melarang Bianca datang kesini," ucap sang Mama lirih.
Mama pun tidak mau kalau Papa menjadi marah dan menyalahkan Mama.
Papa diam seribu bahasa tidak merespon sedikitpun. Akhirnya Mama mencoba menelepon Tante Astrid, adiknya.
{"Halo, Dek. kamu kan besok mau ke Jakarta, ada urusan dan anakku Bianca, katanya mau ikut. Lebih baik jangan di ajak saja ya, Dek," ucap Mama Astri, sang Kakak.
{"Loh, memangnya kenapa? dia bilang nanti balik ke Bekasi lagi bareng sama Kakak,"} jawab sang adik.
{"Tapi tujuan dia kesini untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun Merry, sahabatnya,"} ucap sang Kakak.
{"Oh, kalau itu aku nggak tahu Kak, dia cuma bilang mau kesana saja main,"} tegas sang adik.
{"Maksudnya kalau dia datang ke acara perayaan ulang tahun Merry, kan dia teman sekolahnya, disana banyak teman sekolah. Aku takut teman-temannya nanti megejek dia, bisa-bisa dia stres mikirin bulian dari temannya, dan akan mengganggu janin yang ada di dalam kandungnya,"} sang Kakak, berusaha bijak ketika berucap dan mencoba meyakinkan adiknya tersebut.
Astrid sang adik hanya terdiam, seakan memahami keluhan sang Kakak.
{"Aku salah tadi mengijinkan dia, tapi Papanya jadi marah,"} Astri sang Kakak, berbisik cukup pelan ketika berucap karena takut sang suami mendengar.
{"Yasudah nanti aku bujuk dia. Memang Kakak, jadi kesini lusa?"} tanya sang adik
{"Jadi Dek,"} jawabnya.
Sambungan telepon pun akhirnya di tutup oleh Mama Astri.
"Gimana?" tanya Papa.
"Tenang Pah, adekku lagi bujuk Bianca," ucap sang Mama.
"Ini semua gara-gara Mama, yang selalu memanjakan anak!" ucap Papa terlihat kesal.
"Papa juga selama ini bukannya selalu memanjakan Bianca?" sang Mama seakan tidak mau kalah, dengan serangan dari sang suami yang seakan menyudutkannya.
"Kenapa jadi Papa, yang di salahkan!" sang Papa mendelik
"Apakah Papa tidak menyadari, dulu Papa selalu memanjakan dengan cara semua keinginan Bianca dipenuhi," ucap sang Mama.
"Itu dulu, dulu Mah!" Papa melotot.
"Nah, sekarang apakah Papa memanjakan dia? justru Papa mau mengarahkan anak itu biar lebih mandiri dan dewasa!" sambung Papa kembali dengan nada tinggi.
Sang Mama menutup kupingnya, kepalanya berasa pecah. Seakan sang suami memojokkan dirinya.
Memang tidak bisa dipungkiri dulu sang Mama, terlalu memanjakan sang anak dan percaya ketika pulang sekolah, jika ada kesempatan Bianca untuk bertemu Rama, sang Mama begitu saja mengijinkan sang anak pergi tanpa bertanya arah tujuan mau kemana, cukup Bianca bicara (Belajar Kelompok) masalah selesai.
Sang Mama pun mengingat dulu, ketika Merry datang ke rumah dan menanyakan Bianca, Mama cuma bilang anaknya sedang belajar kelompok sedangkan Merry, tidak belajar kelompok, harusnya ini menjadi teka-teki dalam diri sang Mama.
__ADS_1
Sang Mama begitu mudah dibohongi oleh sang anak, yang nampak terlihat polos dan manja di depan kedua orang tuanya, tapi telah mencoreng semuanya.
Berderai air mata sang Mama, dia merasa di bodohi oleh anaknya yang terlihat polos.
Sang Mama meremas lembut rambutnya. Dadanya terasa sesak menahan rasa sesal dan kecewa.
"Aku salah, aku salah Pah!" sang Mama tiba-tiba sesunggukkan menangis. Melihat sang istri yang terisak tangis, Papa pun dihinggapi rasa bersalah yang teramat.
"Mah..., maafkan Papa, tidak ada maksud untuk menyakiti hati Mama," ucap sang Papa.
"Aku terlalu percaya sama anakku, aku bodoh!" sang Mama menyalahkan dirinya sendiri.
Drettt... Drettt... Drettt..
Tiba-tiba gawai Mama berbunyi, nampak terlihat sang adik, Astrid menelepon. Mama Astri tidak memperdulikan suara telepon tersebut. Akhirnya Papa yang mengangkat telepon tersebut.
{"Halo, iya Dek.."} ucap Papa.
Nampak sang penelepon tertegun lama tidak bicara. {"Halo, Mas, kenapa Kak Astri?"} karena Astrid mendengar suara tangisan sang Kakak yang sesunggukkan.
Papa hanya diam dan menghela napas panjang.
Papa seakan terlihat bisa bernapas lega.
{"Terus, Astrid kan mau ke Jakarta. Katanya besok ada urusan gimana?"} tanya Papa kembali.
{"Nggak apa-apa, semua urusan biar suamiku yang atur,"} jawabnya.
Kebetulan Astrid bersama suaminya punya bisnis usaha baju, dan mempunyai konveksi. Kedatangannya ke Jakarta untuk bertemu dengan relasi bisnisnya.
{"Yasudah kalau begitu, maaf jadi ngerepotin kamu, Dek,"} ucap Papanya Bianca.
~~
Sang Papa pun kemudian menutup sambungan teleponnya. Dia menepuk pundak sang istri.
"Sudah Mah, jangan sedih. Barusan adikmu menelepon katanya Bianca gak jadi kesini, dia sudah dibujuk Tantenya," ucap sang Papa.
Mama hanya mendengarkan ucapan sang suami tanpa bicara.
__ADS_1
Tokk...Tokk...Tokk...
Tiba-tiba suara pintu ada yang mengetuk dari arah depan teras.
Papa bertanya dalam hatinya, siapakah gerangan yang mengetuk pintu. Kemudian Papa pun berjalan ke arah depan.
Kreekkkk....
Pintu terbuka.
Setelah pintu terbuka lebar, terlihat seorang wanita membawa sepiring puding coklat.
"Ada Bu Astri?" tanya Bu Risma.
Bu Risma adalah Bu RT, dari tempat tinggal setempat.
Papa tersenyum ramah, dan mempersilahkan Bu RT, untuk masuk. Setelah Bu Risma duduk kemudian Papa berjalan ke arah kamar.
"Mah, ada Bu RT," ucap Papa.
Mama terlihat mengusap air matanya yang terus menetes, kemudian Mama merapikan kerudungnya yang terlihat tidak rapi.
Setelah Mama keluar dari kamar lalu Mama pun dengan berat melangkah ke arah ruang tamu. Mama ketika melihat Bu RT, mencoba memperlihatkan senyum ramahnya.
Meskipun senyuman yang di torehkan seakan terpaksa karena Mama, dalam keadaan sedang sedih dan menangis.
Tapi Bu RT, seakan mengerti kondisi keluarga Bu Astri yang sedang di rundung masalah.
"Bu...yang sabar ya," Bu RT memeluk erat Mama Astri.
Nampak terlihat Mama Astri kembali meneteskan air matanya yang baru saja dia tahan untuk tidak keluar.
Mama Astri hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya.
Bu RT, menatap lekat kepada Bu Astri.
"Bu, kenapa gak aktif lagi acara kegiatan di warga? jangan mengurung diri di rumah, dan hanya berjualan di pasar saja. Biasanya kalau sore, Ibu ikut acara senam dan pengajian. Saya bisa merasakan keadaan Ibu Astri seperti apa untuk sekarang ini, tapi saya harap Ibu Astri jangan larut dalam kesedihan," ucap Bu RT. Nampak Mama Astri pun mengusap air matanya. Dia seakan tidak bisa berkata apa-apa di depan Bu RT.
Bu Astri kemudian menghela napas secara perlahan. "Pasti tetangga sedang mencibir," lirih Mama Astri.
"Itu mungkin hanya perasaan Ibu saja, tenang Bu!" Bu RT, mengelus pundak Mama Astri.
Mama berpikir dalam hatinya, warga semua sudah tahu keadaan yang menimpa keluarganya, dan mungkin juga tahu bahwa Bianca telah di bawa pindah oleh sang Tante ke Bekasi.
"Assalamualaikum.."
Tiba-tiba di depan teras rumah ada yang mengucapkan salam.
Bersambung...
__ADS_1