Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 63 Amel Ke Rumah Mamanya Bianca.


__ADS_3

Amel ke Pasar.


Pagi itu nampak cuaca sangat bersahabat begitu cerah sekali. Amel mengajak anaknya yang bernama Amera ke pasar.


Amel tertegun tatkala berada di depan toko tempat dimana Mama Astri atau Ibunya Bianca berjualan, karena nampak toko tersebut sedang tutup.


•••


"Bu, toko ini tutup ya?" tanya Amel kepada pemilik toko sebelah dan telunjuknya mengarah ke arah toko milik Mama Astri.


"Iya, tutup Neng," ucapnya.


__________


Amel pun berlalu dari toko tersebut, dan dia ingat waktu itu sang pedagang berucap.


"Kalau toko tutup cari saja, Ibu ke rumah


dan kebetulan jarak rumah dari pasar


tidak jauh,"


__________


Amel pun tanpa pikir panjang kemudian dia berlalu dari pasar tersebut menuju rumah Mama Astri yang berada di Jl. Mawar.


Dia berniat untuk beli Pisang ambon, kebetulan dia sudah keliling pasar tidak ada yang jualan. Amel berpikir nggak apa-apa mampir untuk beli ke rumahnya sang pedagang, mumpung hari masih pagi dan cuaca pun sangat mendukung, jadi dia pun bisa bawa anaknya, Amera untuk jalan-jalan.


Amera pun nampak senang ketika dibawa jalan-jalan oleh sang Mama.


Di perjalanan.


Nampak peluh bercucuran terlihat di kening Amel, dia nampak capek karena dia hari itu tidak memakai motor tapi berjalan kaki.


Amera berat badannya sudah gemuk juga jadi ketika Amel, menggendong sang Anak pun terlihat nampak capek.



Tidak butuh waktu lama untuk mencari rumah Mama Astri ternyata, nampak ketika terlihat nama Jl. Mawar, langsung Amel menemukan rumah Mama Astri, disana terlihat Mama Astri sedang melayani pembeli.



Sontak dari jauh muka Amel terlihat sumringah tatkala menemukan rumah Mama Astri. Kemudian Amel menyeret langkah kakinya dengan cepat karena dia sudah sampai di tujuan.


•••


Amel menghela napas secara perlahan.


"Bu, tadi saya ke pasar kebetulan toko Ibu tutup jadi saya mampir kesini," ucap Amel yang baru saja datang dia langsung nampak duduk di teras rumah Mama Astri.



Mama Astri berjualan buah-buahan di teras rumahnya,


•••


Nampak terlihat Mama Astri, sedang sibuk membereskan dagangannya dalan keadaan pandangan menunduk, sontak tatkala mendengar bunyi suara yang memanggil Mama Astri mendongakkan kepalanya.



"Neng," ucap Mama Astri tersenyum ramah.



"Iya, Bu, saya cari pisang ambon buat Anak saya, di pasar nggak ada yang jualan, terpaksa saya jalan kesini," ucapnya sambil mengelap peluh yang bercucuran dengan ujung selendang gendongan bayi.



"Anaknya gemuk ya, berapa bulan?" tanya Mama Astri


__ADS_1


"Sekarang jalan 10 bulan Bu," jawab Amel.



Kemudian Amel memilih Pisang ambon dan beberapa belanjaan yang akan dia beli, lalu sang Bayi, menengok ke arah Mama Astri.



Betapa terkejutnya Mama Astri ketika melihat anaknya Amel, karena mukanya sama seperti anaknya Bianca atau Cucunya.


"Mukanya mirip dengan Cucu Ibu, Neng," ucap Mama Astri. Kemudian dia ijin ingin menggendong anaknya Amel tersebut.


Setelah di gendong nampak sang Bayi, tersenyum renyah. Mata Mama Astri lekat ke arah sang Bayi.


"Aku ingat Cucuku, mukanya sama persis dengan Bayi yang sedang aku gendong ini," Mama Astri memeluk erat Bayinya Amel, begitu erat matanya terpejam.


\_\_\_\_


Dalam hatinya berbisik


"Andai saja ini Cucuku yang ada di pelukanku, aku sangat bahagia sekali," Mama Astri nampak matanya berkaca-kaca lalu dicium pipi Bayinya anak Amel dengan gemas.


\_\_\_\_\_


"Cucu Ibu, ada disini atau tinggal dimana?" tanya Amel menatap Mama Astri.



"Cucuku tinggal di Bekasi," jawab Mama Astri, sambil tersenyum renyah kepada sang Bayi.



"Mungkin dibawa sang suami ya, Bu, kesana. Alhamdulillah ya, Bu." ucap Amel.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Dalam bayangan dia berpikir.


Mungkin hidupnya sudah mapan jadi dia


tinggal bersama suami dibawa ke Bekasi,"


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Nampak muka Mama Astri menunduk saat Amel menyinggung masalah suami anaknya tersebut.


Mama Amel menghela napas panjang.


"Ya, begitulah Neng," Mama Astri seakan menyembunyikan semuanya tentang nasib anaknya itu.



"Kapan Cucu, Ibu kesini. Aku jadi penasaran ingin lihat Cucu Ibu, yang mukanya mirip dengan anakku," ucap Amel begitu antusias ketika menanyakan Cucu dari Mama Astri.



"Ng-nggak tahu, Neng," ucap Mama Astri terdengar gugup ketika berucap.



"Oh, mungkin sibuk ya Bu? Alhamdulillah, memangnya suaminya kerja dimana?" tanya Amel terlihat penasaran ketika menanyakan sosok suami dari anaknya tersebut.


•••


Mama Astri terdiam ketika Amel menanyakan pekerjaan dari suaminya Bianca. Mungkin tidak sepantasnya dia menceritakan, cerita yang sesungguhnya mengenai anaknya tersebut. Krena Mama Astri baru mengenal sosok Amel dan itu merupakan aib bagi keluarga Mama Astri.



Amel pun seakan mengerti dengan diamnya Mama Astri berarti dia tidak mau menceritakan tentang keluarganya lebih dalam lagi. Amel pun lalu mengalihkan pembicaraan.


__ADS_1


"Bu, sini Bayinya berat. Kasihan Ibu," ucap Amel, mengambil Bayinya dari gendongan Mama Astri. Nampak sedang sepi di warung Bu Astri.



kemudian Amel memisahkan sayuran dan pisang ambon ke keranjang dan tidak lupa Amel pun beli ikan dan ayam potong untuk di hitung sama Mama Astri sang pedagang.



Setelah selesai belanja, Amel pun pamit dan dia pun berlalu dari warung Bu Astri.


"Neng, sering-sering kesini ya," ucap Mama Astri dengan menatap lekat ke Bayinya Amel. Sang Bayi dari Amel seakan obat penawar rindu Kepada sang Cucunya, yang selama ini pertemuannya jarang terjadi.



Amel menundukkan kepalanya dan tersenyum, begitu pun dengan sang Bayi, dia tersenyum lebar


"Aku kenapa jadi ingat Bianca, aku coba menelpon Bianca dan aku ingin melihat Cucuku. Aku harus Video-call lewat sambungan WhatsApp," ucap Mama Astri.


Kemudian Mama Astri berjalan menuju ruang depan karena warung nampak sepi tidak ada yang beli. Lalu Mama Astri duduk di kursi dan dia menghela napas secara perlahan.


Kemudian dia menekan ponselnya, dan coba menyambungkan ke nomornya Bianca, lalu tiba-tiba panggilan Video-call pun tersambung. Disana nampak Amel nampak sedang menggendong bayinya.


•••


•••


{"Amel, sehat,"} ucap sang Mama sambil melambaikan tangannya ke arah Bayinya Amel yang terlihat nampak gemuk.


{"Mah, kenapa minggu kemarin nggak datang ke Bekasi?"} tanya Amel dihinggapi rasa penasaran, karena sang Mama, biasanya tidak pernah telat untuk datang menjenguknya, tapi minggu kemarin tidak datang.


{"Mama kurang enak badan Sayang. Hai...Neng, Neng cantik, kamu bikin gemas saja,'} ucap Mama Astri, mencoba berinteraksi ngobrol kepada Bayinya Amel, dengan sebutan Neng cantik.


Melihat sang anak terlihat sehat dan gembira begitupun dengan sang Cucu, hati Mama Astri, dihinggapi rasa bahagia yang teramat.


Nampak mata sang Mama berkaca-kaca.


{"Mah, boleh kan Bianca sama Cucunya Mama datang ke Jakarta, bersama Tante Astrid minggu depan. Jadi Mama jangan kesini biar Bianca yang datang kesana,"}


ucap Bianca penuh harap, Mamanya bisa menyetujui permintaannya.


{"Boleh, boleh, Sayang,"} ucap sang Mama.


Mama Astri seakan tidak perlu waktu untuk berpikir lama untuk mengucapkan kata -Boleh- kepada anaknya, yang ingin datang ke rumahnya.


__________


Mama berpikir dalam hatinya sudah tidak akan menutupi anaknya Bianca, dari siapapun dan Mama sudah tidak mau peduli dengan omongan semua orang tentang diri Bianca saat ini. Sang Mama pun berpikir {"lama-lama akan tercium juga semuanya oleh semua orang tentang kondisi anakku. Jadi aku sudah tidak memusingkan lagi omongan orang lain."}


__________


{"Tante Astrid, kita minggu depan ke Jakarta,"} ucap Bianca, menatap sang Tante.


Nampak mukanya Bianca terlihat sangat senang sekali. Begitupun dengan Tante Astrid terlihat terharu tatkala melihat roman muka anak kakaknya tersebut terlihat bahagia. Karena sang Ibu akhirnya mengijinkan anaknya untuk bisa datang kembali ke Jakarta, yaitu tanah kelahirannya.


Dimana disana tersimpan luka yang teramat perih, dari seorang lelaki yang tega mengkhianatinya.


Nampak Mama Astri pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri, nampak dia bercucuran air mata tatkala melihat reaksi muka sang anak begitu senang.


Selama kurun waktu kurang lebih 8 bulan ini, Bianca baru lagi menginjak ke tanah kelahirannya atau ke rumahnya lagi.


{"Mah, nanti bereskan ya, kamar tidurnya Bianca, nanti Bianca tidur nggak sendirian lagi tapi sama Bayi mungil ini,"} nampak Bianca tertawa terkekeh.


Sang Mama hanya mengelus dada. Terlihat haru, sedih, kecewa dengan keadaan yang membawa anaknya di situasi seperti ini. Semua campur aduk menjadi satu.


{"Yasudah sayang, Mama ada yang beli, Mama tutup dulu ya, Video-call nya,"} sang Mama melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Bianca pun melakukan hal yang sama, dia tersenyum kepada sang Mama.


•••


•••


{"Sungguh berat perjuangan kamu, Nak!"} ucap sang Mama. Setelah menutup sambungan telepon selularnya.

__ADS_1


__ADS_2