
Rani masih terasa sakit badannya karena akibat dorongan yang begitu keras dari Rangga, sementara sang suami masih terbaring di kamar dengan keadaan masih lemah, akibat pukulan yang di hantam malam itu oleh para penjahat.
"Pah, masa kamu tidak ingat siapa yang memukul kamu!" ucap sang istri terlihat kesal karena sang suami tidak bisa mengingat sedikitpun wajah yang memukulnya.
"Benar Mah, aku lupa," ucapnya meringis, menahan sakit dan rasa ngilu di badannya.
Yang dia ingat para penjahat itu memakai masker.
___
"Gimana si Pak tua, ini. Masa nggak ingat, siapa yang memukulnya, dasar pikun!"
"Kalau aku melabrak si Rangga, takutnya salah sasaran nanti bisa-bisa dia melapor ke pihak berwajib, tapi aku kesal kepada Rangga, orang itu harus diberikan pelajaran!" gumam hatinya terlihat raut mukanya penuh emosi dan menahan amarah.
___
Rani pun meninggalkan sang suami yang sedang meringis kesakitan. Kemudian Rani
keluar dari kamarnya.
Dia berjalan menuju teras rumah, setelah berada di teras rumah lalu dia duduk, tepat di kursi yang kemarin, yang dia duduki saat dirinya di dorong dengan keras oleh Rangga.
Nampak ketika Rani membayangkan semua itu, dia seperti menahan rasa sakit dan meringis. Sebuah tamparan indah yang begitu keras, seakan menggelayuti pikirannya. Dia mengelus dada dan membuang napas kasar.
"Kurang ajar, dasar lelaki brengsek!" ucapnya terlihat geram.
•••••
Pandangan Rani seakan kosong, entah apa yang ada di pikirannya saat ini, karena begitu banyak yang dia pikirkannya saat ini.
Nampak dia menghela napas panjang.
Usahanya sekarang mulai tidak stabil semenjak menikah dengan Bapaknya Rama.
Sebenarnya orang tua Rani sedang uring-uringan, karena usaha yang di kelola oleh sang suami seakan sepi, dan akan bangkrut. Usaha yang di jalani Rani dan dikelola oleh suaminya, di bidang kuliner akhir-akhir ini sepi pengunjung.
Uang modal usaha seakan menipis karena hari demi hari oleh Rani, uang tersebut di ambil untuk dipakai resiko belanja.
Sedangkan orang tua Rani, sudah tidak percaya lagi untuk memberikan modal.
"Kalau modal aku habis, berarrti aku harus menjual semua perhiasan yang aku simpan rapat, di dalam lemari tanpa diketahui oleh suamiku" ucap Rani.
"Kenapa dia, tidak becus mengurus usahaku! Aku pikir dia lebih paham karena usianya jauh lebih tua dari aku, dan aku pikir dia lebih berpengalaman, ternyata tidak!" Rani terlihat kecewa.
Untuk menghubungi orang tuanya, Rani seakan malu. Meskipun dia dari orang berada.
"Dulu sebelum menikah, kalau aku minta uang tidak malu sama Papaku, tapi sekarang seakan malu, karena aku ada suami," hati Rani seakan berkecamuk tidak karuan.
__ADS_1
••••
Drettt... Drettt.. Drettt...
Rani terkejut ketika ada bunyi getaran ponsel di saku celananya, karena keadaan dia sedang melamun. Terlihat dari layar ponsel sahabatnya Sherly menelepon.
{"Halo Ran, kamu sehat? Ran, kamu tahu tidak, kayaknya Rangga sedang jatuh cinta, soalnya tadi dia menelepon aku, dan dia cerita sama aku. Dia sedang mencoba mendekati seorang janda. Rangga bilang sih, rekan bisnis dia. Rangga kan mau buka bisnis kuliner di Kota Bandung,"} tulis pesan Sherly.
_____
Rani hanya mendengarkan ocehan Sherly, tanpa langsung menyambar ucapan sahabatnya itu. Entah mengapa ada rasa cemburu di dalam hatinya, karena Rangga pun pernah jadi bagian dalam hidupnya. Meskipun beberapa kali Rangga kasar terhadapnya, dan mengancam dia.
Tapi kalau masalah uang, tidak bisa dipungkiri dia seorang yang tajir.
"Kalau saja dulu, aku nikah sama Rangga, mungkin aku tidak akan berpikir keras untuk memikirkan masalah uang." ucapnya.
_______
Rani menghela napas panjang.
"Syukurlah, mungkin wanita yang nanti dekat dengan dia juga, nasibnya akan sama denganku. Disiksa badannya oleh dia, karena Rangga pribadi yang kasar!" Rani seakan mengejek sosok Rama kepada sahabatnya itu.
"Ran, dengar ya, dia kasar, karena kamu juga berlaku kasar sama dia!" bela Sherly.
"Aku nggak pernah kasar ya, sama dia! Camkan itu!" terdengar Rani tersulut emosi.
"Sudah, sudah, cukup! Untuk apa kamu menelepon kalau hanya untuk bilang si Rangga sedang naksir seorang wanita!" ucap Rani.
"Kamu cemburu Ran! Hahaha.." Sherly tertawa puas ketika mendengar Rani, dari nada suaranya seakan menahan rasa cemburu.
"Dengar ya, aku tidak cemburu karena aku sekarang sudah menikah dan suamiku baik memperlakukan aku, tidak seperti teman kamu itu, jahat!" ucapnya menggebu.
"Ya, sudah kalau kamu nyaman dengan lelaki tua itu! Hahaha.." Sherly kembali mengejek.
Rani seakan kesal mendengar ucapan Sherly seakan terus menerus mengejeknya. Dia pun menutup sambungan teleponnya.
"Dasar, goblok, kurang ajar!" Rani cemberut.
Hatinya dihinggapi rasa panas karena terbakar api cemburu. Dia berpikir berarti Rangga sudah bisa melupakan dirinya.
"Dasar lelaki, baru saja kemarin merengek minta kembali dan ingin mencoba mencium aku, dengan mudah dia bisa melupakan aku!" ucapnya.
Tiba-tiba sang ART datang, dia menatap sang majikan yang terlhat wajahnya cemberut dan murung.
__ADS_1
"Bu, kenapa? Masih sakit, mau saya pijit badannya?" sang ART, mencoba menawarkan diri untuk memijat badan sang majikan karena terlihat lesu.
"Nggak apa-apa Mbak, cuma pusing dikit," jawabnya. "Mbak, suamiku curiga tidak dengan pipiku yang memar," ucapnya.
"Ya, tadi nanya, katanya Ibu, apa benar terjatuh! Mbak hanya menganggukkan kepala saja, nggak berani ngomong macam-macam," ucapnya.
"Ya, bagus kalau begitu," Rani pun sedikit lega karena sang suami tidak curiga.
Di dalam kamar
Nampak sang suami sedang menahan rasa nyeri, dia memejamkan matanya. Bayangan penjahat tersebut seakan menghampirinya saat ini. Pukulan demi pukulan dia terima dengan begitu sakit.
___
Samar terdengar dari salah satu penjahat tersebut mengucap kata Bos Rangga.
"Kata Bos Rangga, jangan sampai mati ini orang, pukul saja, biar ada sifat jera!"
"Kita harus cepat pergi dari sini karena takut warga menyerang kita," ucap lagi penjahat satu lagi.
____
"Bos Rangga! Apa Rangga yang di maksud adalah Rangga, mantan Rani!"
"Mungkinkah Rani, ada pertemuan dengan Rangga, dan dia ingin kembali lagi! Tapi Rani menolaknya, sehingga penjahat suruhan Rangga menyerangku," ucapnya penuh teka-teki.
"Kalau begitu Rani, harus aku selidiki! Siapa tahu dia juga menyimpan rasa saat ini kepada Rangga," pikirannya jauh melayang.
•••••
Bapaknya Rama, seakan rindu sosok istrinya dulu yang begitu telaten melayaninya jika dia sakit. Tapi kenyataan yang ada, sekarang malah dia dilayani oleh sang ART.
Rani yang selalu tergantung kepada sang ART, seakan malas untuk melayani suaminya.
Bapaknya Rama seakan bingung dengan keadaan sekarang ini, karena usaha yang dia jalani keadaannya sedang sepi. Dan dia takut nanti usahanya itu bangkrut.
Bapaknya Rama, seakan berpikir keras, dan dia tidak bisa membayangkan jika usahanya bangkrut. Mungkin jika terus menerus usaha yang dia jalani sepi, Rani akan menceraikannya, karena Rani kesal bahwa sang suami tidak becus mengurus usahanya.
"Aku takut membayangkan ini semua, aku di usir, dan aku mau tinggal dimana? Sedangkan untuk kembali dengan istriku malu" ucapnya, dia meremas rambut kepalanya.
Bersambung...
__ADS_1