Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 113 Cemburu


__ADS_3

Kang Burhan pun dan Bianca pamit kepada Gerry dan Tyanca, untuk pulang ke Bandung.


nampak wajah Bianca terlihat tersenyum lebar manakala dia duduk di samping Kang Burhan, Tyanca dan Gerry tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap sang adik yang sedang jatuh cinta kepada Kang Burhan.


Mereka hanya menyangka Bianca sedang bahagia karena mau membuka usaha, dan mungkin pikiran Bianca terasa rileks setelah berlibur di Bandung.


"Hati-hati ya," ucap Tyanca melambaikan tangan kepada sang adik yang tengah berlalu mobilnya dari hadapan garasi rumah tersebut.


_____


Di dalam mobil.


Sepanjang jalan Bianca hanya diam membisu dia tidak bisa berkata apa-apa, karena rasa malu yang menghinggapi dirinya ketika berdekatan dengan Kang Burhan.


"Kok diam saja sih, ngobrol dong! Biar aku enggak dihinggapi rasa ngantuk lagi nyetir," goda Kang Burhan terhadap Bianca yang nampak mukanya merah merona tersipu malu.


"Iya, Kang, ngobrol apa ya," Jawab Bianca, seakan tidak ada yang perlu dibicarakan.


"Ya, masalah usaha yang akan kamu jalani bersama Ibumu kedepannya mau seperti apa. Maaf ya Bianca, kita bertukar pikiran saja, karena Kang Burhan sudah menganggap adik atau saudara sama kamu," ucap Kang Burhan.


Degh..


Jantung Lia berasa copot karena dengan jujur dan terbuka Kang Burhan berucap, bahwa dia menganggap Bianca sebagai adik atau saudaranya, dan dia pun berpikir dengan Kang Burhan berkata begitu, mungkin sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dia untuk mengenal lebih dekat kepada sosok Kang Burhan atau bisa mendapatinya sebagai seorang kekasih.


"Di dalam usaha itu kita harus fokus dan yakin, karena kalau kita menggunakan pikiran tersebut otomatis usaha yang akan kita jalani itu akan berhasil. Kalau baru merintis usaha ya wajar, misal usahanya belum rame atau belum punya pelanggan," ucap Kang Burhan kembali.


Kang Burhan memberikan wejangan menilai usaha yang akan dikelolanya nanti oleh Bianca seperti apa, jadi tidak ada pembicaraan mengenai masalah pribadi dengan Bianca, karena Kang Burhan berpikir dia masih muda dan perjalanan hidupnya akan panjang. Jadi lebih baik dia jangan fokus dulu untuk mencari suami tapi lebih ke arah bisnisnya.


"Iya.." jawabnya lirih.


"Mungkin Bianca sedang banyak yang dipikirkan atau tersinggung dengan ucapan ku? Karena aku terlalu mengarahkan dia, agar kalau usaha itu harus ditekuni dan dijalani dengan serius." gumam dalam hatinya.


_____


Kang Burhan pun menghela napas secara perlahan. Mungkin dia salah jika bicara terlalu serius terhadap Bianca, karena Bianca usianya masih terbilang cukup muda meskipun dia sudah mempunyai anak. Sifat egois dan ingin dimengerti di usianya, nampak ingin dipahami oleh orang lain begitu besar.


___


2 jam kemudian.


"Mau makan, Istirahat dulu enggak?" Kang Burhan mencoba melumerkan suasana karena perjalanan yang mereka tempuh sudah hampir 2 jam.


"Terserah," jawab Lia, tersenyum manis.


Mereka pun turun di dalam mobil, dan melangkahkan kakinya ke arah sebuah Restoran.

__ADS_1


•••


Sang Pelayan datang menghampiri dengan membawa buku menu makanan, nampak Bianca dan Kang Burhan pun memesan beberapa makanan dan minuman.


Drett...Drett...Drett..


Nampak bunyi panggilan suara telepon terdengar dari ponsel milik Kang Burhan. Kebetulan ponsel tersebut tengah berada di meja dan terlihat jelas oleh Bianca, nama Amel muncul di ponsel milik Kang Burhan.


Bianca melihat ada binar mata yang nampak terlihat senang di mata Kang Burhan ketika melihat sang penelepon adalah Amel.


•••


Terdengar begitu perhatian Kang Burhan kepada Amel ketika menanyakan keadaan Amel.


"Jangan lupa makan ya, nanti penyakit lambungnya kumat lagi," ucapnya begitu perhatian Kang Burhan kepada Amel.


Kurang lebih lima belas menit Amel menelepon Kang Burhan. Setelah Kang Burhan menutup sambungan teleponnya lalu dia melirik makanan yang tersaji di meja.


"Wah, udangnya besar-besar," ucap Kang Burhan dia memesan saus udang padang di Restoran tersebut.


'"Amel, menelepon mau apa?" tanya Bianca.


Bianca seakan tidak menggubris ucapan dari Kang Burhan, padahal Kang Burhan sedang mengomentari makanannya yang sedari tadi sudah ada di meja.


"Ada perlu soal Bapaknya, Amel, kita kan ada bisnis sama bapaknya Amel," ucap Kang Burhan.


Kang Burhan pun menatap lekat ke arah Bianca, dia seakan penasaran dengan Bianca karena Bianca begitu detail menanyakan masalah sepele ketika dia menerima sambungan telepon dari Amel.


"Ya nggak apa-apa," jawab Kang Burhan.


Dia pun melahap makanan yang ada di meja tersebut.


"Ihhh, dingin banget dan tidak peka kepadaku," gumam hati Bianca.


_____


Setelah selesai makan, mereka pun kembali memasuki kedalam mobil.


Nampak terlihat oleh Kang Burhan Bianca menghela napas panjang, Kang Burhan pun seakan dihinggapi rasa penasaran kepada Bianca, karena Bianca nampak begitu gelisah dan cemberut dia pun bertanya kepada Bianca.


"Kenapa, kamu nampak gelisah Bianca?" tanya Kang Burhan.


Bianca hanya diam tidak berbicara, dia sedang dihinggapi rasa cemburu yang teramat.


"Kamu tadi makannya sedikit, apa makanannya tidak enak?" tanya Kang Burhan kembali.

__ADS_1


"Enak kok, cuma kurang enak badan," jawabnya.


"Loh, kok tiba-tiba nggak enak badan kenapa? kamu mau makan obat?" tanya Kang Burhan.


Bianca menggelengkan kepalanya dan masih tidak banyak kata yang diucapkan dari bibirnya.


Kang Burhan pun akhirnya diam tidak mau bicara lagi dengan Bianca karena Bianca seakan tidak menanggapinya.


_____


Setelah keluar tol menuju rumah Bianca jalanan nampak macet, terlihat oleh ekor mata Bianca nampak Kang Burhan mencoba memberikan pesan lewat aplikasi WhatsApp kepada Amel. Entah mengapa dag-dig-dug terasa jantung Bianca, dadanya terasa sesak.


Ting..


{"Terima kasih atas semua perhatiannya yang diberikan oleh Kang Burhan selama ini,"} balas pesan muncul dari Amel. Pesan tersebut terbaca oleh Amel karena ponselnya setelah tadi Kang Burhan memberikan sebuah pesan, lalu dia menyimpannya di dekat tempat minum yang berada didalam


mobil .


"Kang Burhan sudah lama hubungan dengan Amel?" tanya Bianca dihinggapi rasa penasaran, sebenarnya dia tidak mau bertanya seperti itu kepada Kang Burhan karena rasa gengsi nya yang tinggi tapi karena dia dihinggapi rasa penasaran jadi dia pun bertanya ke hal yang pribadi.


"Kan sudah dibahas sudah lama aku kenal sama Amel, tapi belum ada hubungan yang serius dari mulut dia. Padahal aku sangat mencintai dan menyayanginya, entah kenapa begitu tulus rasa sayangku kepada Amel." ucap Kang Burhan nampak dia tersenyum seperti sedang memikirkan sosok Amel.


Bianca berdebar dadanya, berasa diremas jantungnya degan pengajuan kang Burhan mengenai Amel


____


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul dari ponsel Bianca, pesan muncul dari sang Mama, menanyakan keberadaan Bianca sudah sampai mana, dan Ibu pun memberikan pesan bahwa sedang ada Raden di rumahnya.


"Ibu ngasih tau Raden sedang di rumah, kan Ibu melarang aku nggak boleh dekat sama Raden, Ibu berdalih usiaku masih muda, kenapa dia memberikan kabar Raden ada di rumah? Suka aneh," gumam hati Bianca.


"Pesan dari siapa?" tanya kang Burhan.


"Dari Mama," jawab Bianca.


"Bilang sama Mama, main dulu gitu dengan Kang Burhan, hehehe.." ucap Kang Burhan seakan menggoda Amel yang dari tadi melamun.


Bianca pun mendelik dan tidak mau tersenyum dengan ucapan Kang Burhan.


•••


"Enggak lucu, percuma aku bilang seperti itu kepada ibuku, kenyataannya aku tidak diajak main sama Kang Burhan," gumam Bianca.


Bianca Baper( Bawa perasaan). Sedangkan Kang Burhan, lelaki dewasa yang menganggap Bianca seperti adiknya sendiri).

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2