
Amel memasuki rumah.
Setelah memasuki rumah nampak terlihat Rani sedang duduk dengan disuguhkan, secangkir kopi di meja ruang tamu tersebut.
Rani tersenyum ramah ketika melihat Amel yang menampakkan wajah yang terlihat masih dihinggapi rasa penasaran dengan sosok Rani.
"Maafkan, saya telah lancang berkunjung ke rumah kamu Mel," ucap Rani membuka obrolan tatkala Amel menghampirinya.
"Gisel, masuk saja ke kamar, istirahat," bisik Amel lekat ke kuping Gisel.
Akhirnya Gisel pun berlalu dari hadapan Amel dan dan tamu tersebut, menuju kamar Amel
_____
Rani menghela napas secara perlahan.
"Maaf sebenarnya inti dari saya ingin bertemu dengan kamu, hanya ingin membahas masalah Bapaknya Rama," ucapnya dengan pandangan menatap bola mata Amel.
Degh
"Siapa wanita ini?" Tapi sepertinya aku pernah lihat wanita ini, entah dimana, aku lupa," gumam hati Amel. Dia mengingat sosok Rani ini siapa, antara sudah bertemu atau melihat di sebuah gambar foto pikirannya seakan pudar.
"Jadi kalau begitu Tante bohong, tadi mau membicarakan booking Kafe, sekarang tiba-tiba bicara yang ada kaitannya dengan Rama, gimana sih,! Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Rama ya," ucap Amel dihinggapi rasa kesal jika pembicaraan berhubungan dengan nama Rama, karena Rama adalah masa lalu Amel yang harus cepat dia kubur.
"Tenang, jangan dulu marah dan tersulut emosi, jadi kalau untuk booking Kafe pasti jadi, karena temanku yang ada di Bandung, dia mau ada acara ulang tahun, hari sabtu depan," ucap Rani mencoba menenangkan hati Amel.
"Jadi maksud Tante mau membicarakan masalah Bapaknya Rama, tentang apa?" tanya Amel dihinggapi rasa kesal karena saat ini dia selalu di sangkut pautkan dengan sosok Rama padahal sudah berpisah.
"Tante cuma mau nanya, waktu itu Rama punya utang apa sudah di bayar?" tanya Rani menatap lekat kepada Amel, seakan ingin jawaban yang jujur.
"Sudah Tan, 6 bulan yang lalu sudah lama," ucap Amel, kembali teringat masa itu, tatkala Rama bersama Tante Fani datang ke rumah, membayar uang yang 100 juta, sambil merajuk minta kembali tapi sang Bapak menolak mentah-mentah.
"Benar yang kamu bilang?" tanya Rani nampak dihinggapi rasa penasaran.
"Memang kenapa? kenapa Tante menanyakan hal tersebut kepada aku, tanya saja sama Rama," jawab Amel kembali dia dihinggapi rasa kesal. Entah mengapa Amel seakan tidak mau membahas Rama dan masalah utang tersebut.
"Tante tidak percaya kalau sama keluarga Rama, takut berbohong," ucapnya Rani, meyakinkan Amel.
"Terus maksud kedatangan Tante kesini apa, kan sudah di bayar oleh Rama utangnya ke Bapakku," Amel mencoba meyakinkan Rani kembali.
"Berarti Bapaknya Rama bohong," ucapnya menggerutu dan nampak dari raut mukanya dihinggapi rasa kecewa yang teramat dalam.
"Maksud Tante, apa sih! Aku nggak ngerti Tante," Amel kembali dihinggapi rasa penasaran.
"Seminggu yang lalu dia meminta sejumlah uang 100 juta, dan berdalih uang tersebut untuk membayar utang anaknya, yaitu Rama. Karena Tante merasa peduli dengan suami, lalu Tante memberikannya uang tersebut," ucap Rani nampak dari raut mukanya terlihat geram kepada sosok Bapaknya Rama, karena akhir-akhir ini selalu meminta sejumlah uang kepada dirinya.
"Jadi Tante ini mungkin istrinya Bapaknya Rama yang baru ya?" Amel terlihat dihinggapi rasa kesal."Ini Pelakor, yang dulu pernah di ceritakan oleh Tante Fani," gumam hati Amel.
Rani menganggukkan kepalanya seakan dia malu ketika mendengar dari mulut Amel, karena dia istri baru dari Bapaknya Rama. (Pelakor), yang merebut Bapaknya Rama dari ibunya.
"Ya sudah, Tante hanya ingin mengklarifikasi uang tersebut, dan acara ulang tahun teman Tante yang akan diadakan di Kafe tempat bekerja Amel, mungkin Tante besok akan konfirmasi ke owner yang punya Kafe.
__ADS_1
Besok Tante akan datang ke Kafe tempat kerja Amel sama temen Tante yang mau ulang tahun," ucap Rani.
___
Rani dihinggapi rasa geram, di dalam hatinya ingin sekali cepat pulang dan menemui sang suami karena suaminya telah berbohong kepadanya dengan meminta uang yang 100 juta, dengan berdalih mau membayar utang ke Bapaknya Amel, yang Rama pinjam dulu, padahal utang tersebut udah dibayar oleh Tante Fani.
___
"Sudah dibayar oleh Tante Fani," ucap Amel kembali. Amel pun berpikir dalam hatinya kalau bapaknya Rama sudah tidak benar karena memakan uang Rani dan memanfaatkan situasi di mana Rani yang notabene banyak uang.
"Iya, maaf bukannya apa-apa, sebenarnya keadaan usaha Tante sedang terpuruk jadi yang 100 juta bagi Tante sangat berarti, beda ketika dulu, uang 100 juta tidak ada artinya bagi Tante," ucap Rani.
Ternyata kalau modal cinta saja mungkin tidak cukup karena kebutuhan resiko sehari-hari juga perlu di perhatikan.
"Maaf Tante, saya tidak mau ikut campur lagi soal masalah Bapaknya Rama, karena saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia," ucap Amel.
_____
Amel pun merasa dibebani dengan cerita dari Tante Rani, karena masalah utang yang 100 juta bukan menjadi urusan masalah dia lagi, karena semuanya sudah beres dibayar oleh Tante Fani.
"Iya, maaf, Tante tidak tahu, Tante kira kamu masih berstatus Suami-Istri dengan Rama, sekali lagi Tante minta maaf," ucap Rani.
Rani dihinggapi rasa malu oleh Amel.
_____
Rani pun pamit dari rumah Amel nampak mukanya tersipu malu, dia pun menyadari sebagai pelakor dari Bapaknya mantan suami Amel.
______
Tok...Tok...Tok...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari arah depan, Amel yang baru saja merebahkan badannya di kursi sofa, karena capek sepulang kerja akhirnya memanggil Teh Siti sang ART.
"Teh, tolong bukain pintu ada tamu di depan," teriak Amel kepada sang ART.
Teh Siti pun datang dari arah dapur, kemudian dia berjalan menuju pintu depan rumah untuk memastikan siapa tamu yang datang.
______
Krekkkk
Teh Siti membuka pintu.
Pintu pun akhirnya terbuka dengan lebar, nampak sesosok wanita tengah berdiri tegap di depan teras, parasnya sangat cantik.
"Amel nya ada," ucap wanita tersebut.
"Ada, silakan masuk," jawabnya.
"Saya nggak lama kok, mau kasih ini saja," ucap wanita tersebut, nampak membawa 1 kantong makanan.
__ADS_1
•••
Terdengar samar oleh telinga Amel, tamu tersebut menyebut namanya.
"Siapa, Teh?" teriak Amel yang sedang duduk di kursi sofa.
Amel pun menyeret langkah kakinya menuju depan rumah, karena dia dihinggapi rasa penasaran.
•••
"Bu Tyanca!" ucap Amel yang tiba-tiba datang menghampiri. Amel pun tersenyum ramah tatkala yang datang tersebut adalah istri Bosnya.
"Ibu hanya mau mengantarkan ini, ada sedikit makanan," ucap Tyanca sambil menyerahkan 1 kantong makanan sambil tersenyum renyah.
"Ngerepotin Bu, terima kasih," Amel tersenyum ramah kepada Tyanca.
"Silakan masuk dulu," ucap Amel kembali.
"Terima kasih, Ibu tidak lama, soalnya mau ada perlu mau ngajak adik Ibu jalan-jalan, mumpung dia sedang ada di Bandung," jawab Tyanca sambil melirik ke arah mobilnya.
_____
Nampak di sana terlihat Bianca yang sedang memainkan ponselnya, Amel pun menatap lekat ke arah Bianca cukup lama, Bianca pun merasakan dan terlihat oleh ekor matanya seperti ada yang memperhatikannya, Bianca kemudian melirik ke arah Amel.
Amel pun tersenyum renyah kepada Bianca, tapi dengan cepat Bianca memalingkan mukanya, nampak terlihat dari raut muka Amel dihinggapi rasa kecewa karena Bianca tidak ramah terhadapnya.
Amel hanya mengelus dada dengan perlakuan Bianca seperti itu.
_____
"Ada Bianca ya, kapan datang?" tanya Amel kepada Tyanca.
"Iya, dia kemarin datang bareng bersama saya ke sini, lusa juga dia mau pulang lagi," jawab Tyanca.
"Sama Ibu lagi, pulang ke Bandung nya!? Enak ya, Ibu jalan-jalan terus," ucap Amel menggoda dan tersenyum.
"Pulangnya katanya bareng Kang Burhan, karena kemarin kita ketemu dengan Kang Burhan, untuk membicarakan masalah Ruko.
Kata Kang Burhan, dia berada di Bandung sampai lusa ya, jadi nanti bareng sama Bianca pulangnya," ucap Tyanca mencoba menjelaskan.
"Iya Kang Burhan pulang lusa, syukur kalau pulang bareng Kang Burhan, jadi ada teman tidak sendiri. Kirain dengan ibu Tyanca kembali ke Bandung," ucap Amel.
_____
Amel pun dihinggapi rasa heran, dalam hatinya berpikir Bianca baru kenal dengan Kang Burhan, tapi mengapa dia berani bareng pulang ke Bandung bersama Kang Burhan.
Ini menjadi tanda tanya besar buat Amel, meskipun Amel belum menerima cinta Kang Burhan, tapi Amel seakan dihinggapi rasa cemburu kepada Bianca.
Tapi cemburu Amel tidak berlebihan seperti cemburunya yang dirasakan oleh Bianca.
_____
__ADS_1
Bersambung...