Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 26 Bianca Menikah


__ADS_3

Bianca menikah.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Keluarga dari Bianca nampak gelisah karena Rama sang calon mempelai belum datang untuk mengucapkan -Ijab Kabul-.


Cukup sederhana acara pernikahan yang di langsungkan, dan dengan makanan ala kadarnya. Beda dengan pernikahan sang Kakak atau Tyanca waktu dulu.


Pernikahannya di adakan secara meriah, dan semua keluarga besar hadir.


~~


Nampak sang Mama dihinggapi rasa gelisah yang teramat. Pandangan matanya fokus ke arah pintu garasi menanti kedatangan sang calon mempelai laki-laki.


"Bianca, si Rama mau datang nggak sih, lihat ini sudah jam berapa!" ucap Tyanca. Telunjuknya mengqrah ke jam dinding yang berada di atas layar televisi.


Sang Kakak nampak terlihat kesal, dia terus-menerus mengoceh.


"Sabar Kak, mungkin macet sedang dalam perjalanan menuju kesini," jawab Tante Astrid, tersenyum tipis.


Sang Tante berusaha menyabarkan hati sang keponakan dan semua yang hadir di rumah tersebut, karena nampak dari wajah mereka tegang.Takut jika calon lelaki tidak bisa hadir.


Pak penghulu pun nampak sesekali melihat jam yang di pakai di pergelangan tangan sebelah kirinya tersebut.



"Bisa di telepon calon lelakinya, biar akad nikah segera di laksanakan." nampak sorot mata penghulu tertuju ke Papanya Bianca.



Sang Papa melirik Bianca, yang sedari tadi tertunduk. Nampak Papa menghela napas secara perlahan, Papa matanya berkaca-kaca tatkala melihat anak gadisnya yang masih belia memakai baju kebaya terlhat cantik namun tetap ada rasa sedih terpancar dari raut mukanya itu. Bukankah sejatinya ketika hendak melakukan pernikahan ada rasa gembira. Namun tidak dengan Bianca, hatinya pilu sangat sakit.



"Coba telepon," ucap sang Papa, menepuk lembut pundak anaknya itu.



"Sudah, dari tadi juga Pah, tapi..." ucapnya, tidak di lanjutkan, tatapan mengarah kepada Tyanca, sang Kakak.



"Tapi, di matikan gawai di Rama!" sambar Kakaknya tersebut.



"Mih...!" sang suami, Gerry melotot kepada sang istri.



Tyanca pun diam, ketika melihat Gerry, suaminya seakan ingin memarahinya.


\*\*\*



Malam itu jam menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, akhirnya sang calon pria datang bersama dua orang saksi.


Tyanca seakan mencibir kedatangan ketiga orang tersebut.



"Ko' bertiga, orang tuanya, kemana?" Tyanca bertanya pandangan lekat ke arah Rama.



"Kak, diam!" sang Papa melotot.

__ADS_1


Dalam diri Papa dihinggapi rasa kesal juga, oleh Rama, karena dia hanya membawa dua orang saksi, ternyata benar dia tidak membawa kedua orangtuanya.



Papa menghela napas panjang, dia mencoba menenangkan hatinya." syukur sudah datang juga," bisik hati sang Papa, mencoba menenangkan hatinya sendiri.



"Bisa dimulai acaranya?"tanya sang Penghulu, menatap Papanya Bianca.



Sang Papa menganggukkan kepalanya, dengan raut muka nampak tidak senang.


Padahal itu adalah pernikahan anaknya, yang Papa sayangi.


~~


Acara dimulai.



"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Rama Aditya Putra bin Abdul Aziz, dengan anak saya yang bernama Bianca Ayu Dewi dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 100 rb rupiah dibayar tunai," ucap sang Papa.


\_\_\_\_


Saya terima nikah dan kawinnya Bianca Ayu Dewi binti Teguh Nugraha, dengan maskawin tersebut dibayar tunai," Rama berucap dengan begitu gugup.



"Bagaimana para saksi, SAH..SAH...?" Pak Penghulu, melirik satu persatu para saksi yang hadir.




Barakallahu lakuma wa barakallah alaikuma wa jama'ah bainakuma Fii khoiiir.


(Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, serta keberkahan atasmu dan semoga Allah, mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan)


\*\*\*


Setelah acara ijab kabul di langsungkan kemudian kedua mempelai bersalaman kepada kedua orang tua Bianca, dan keluarga yang hadir.



Nampak Mama dari Bianca seakan tidak bisa membendung tangisannya, dia terisak pilu seakan tidak mampu menahan rasa emosi dan sesak yang menyelimuti.



Papanya Biwnca menepuk pundak sang istri dengan pelan. " Sudah Mah," bisiknya lirih.



Kemudian Rama bersalaman dengan sang mertua, nampak Mama seakan ingin menumpahkan rasa kesalnya.


Rasanya Mama ingin sekali memarahi lelaki yamg kini tengah berada dekat di hadapannya, tapi apa daya itu hanya angan-angan Mama saja.


Ketika Rama menyalami Tyanca, nampak terlihat dia mencibir.


"Setelah ini kamu akan menikahi wanita lain kan, kini tugasmu telah selesai. Tapi tunggu nanti kejutan dari aku!" Tyanca berbisik lekat ke kuping Rama.


Belum juga habis rasa amarah yang kian memuncak didalam diri sang Kakak teresebut.


Sontak Rama terkejut dengan ucapan dari Kakaknya Bianca tersebut.

__ADS_1


"Aku harus hati-hati dengan Kakaknya Bianca," gumam hati Rama.


***


Dua jam kemudian.


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, nampak keluarga Bianca, sedang berada di ruang keluarga. Sedangkan para saksi dari Rama sudah pulang.


"Aku pamit ya, pulang!" ucap Rama.


ketika Bianca dan Rama duduk di teras rumah.


Bianca terkejut. "Kemana! kita kan pengantin baru. Kita masuk kamar, istirahat. Kamarku sudah aku rias, banyak bunga semerbak mewangi," ucap Bianca terdengar polos.


"Nggak, aku malu dengan keluarga kamu. Dan orang tuaku. Mereka sudah menelepon terus dari tadi. Asal kamu tahu ya, sudah untung aku kesini mau nikahin kamu," Rama terdengar pelan ketika berucap takut terdengar oleh isi rumah, dan sorot mata lekat kepada Bianca.


Nampak Bianca meneteskan air mata, dia kesal, dan marah dengan perkataan Rama. Dia seakan tidak kuat menahan rasa kecewa, amarah dia pendam selama ini.


PLAK...


Bianca menampar pipi Rama, sontak Rama terkejut dengan perlakuan yang diberikan oleh Bianca. Dia tidak menyangka Bianca gadis polos itu, melakukan sebuah tamparan keras yang mendarat ke pipinya.


Rama meringis kesakitan, dia kemudian memegang pundak Bianca.


"Dengar ya, kamu kasar, aku tidak suka!" ucapnya. Rama seakan membela diri agar Bianca merasa bersalah.


"Kamu lelaki kurang ajar, jadi aku menampar kamu!" jawabnya, air matanya, mengalir deras.


"Sudah ya, aku mau pulang! lagian kamu mau di madu kalau aku nanti jadi menikah dengan Siska (Amel Larasati)."


Siska nama tren dari Amel, biasa sebagian teman Amel manggil dengan sebutan Siska.


Nampak Bianca tertegun dengan nama Siska, Febry kakak dari Merry pernah bercerita dengan nama Siska, dia adik kelas sewaktu jaman sekolah SMP dulu, dan orangnya begitu berani. Febry jika ada yang menggoda pasti yang membela Siska.


Tapi Bianca menepis semua itu, mungkin nama sebutan dengan panggilan Siska banyak, tidak hanya Siska yang sekarang sedang di bicarakan dengan Rama.


"Silahkan! kalau mau pergi," penuh emosi Bianca ketika berucap, dia nampak kesal dengan lelaki yang kini telah mengelabui ketulusan cintanya.


***


Tanpa pikir panjang, akhirnya Rama berlalu dari hadapan Bianca. Baru beberapa langkah Rama berjalan, kemudian Bianca mendorong Rama dengan kasar, dan dia dengan cepat memasuki rumah dan menutup pintu rumah dengan kasar.


Brukkk..


Suara pintu tertutup cukup keras, mengakibatkan semua keluarga yang sedang berkumpul, duduk di ruang tamu terkejut, mereka bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa gerangan yang terjadi di pintu depan.



Bianca kecewa.


Bianca melihat dari jendela pintu, nampak Rama tersungkur dan meringis kesakitan. Dengan cepat Rama melajukan motornya, untuk segera pergi dari rumah Bianca.



Melihat Rama yang seakan tidak tanggung jawab dan sudah tidak memperdulikannya, setelah acara pernikahan, dia pamit pulang. Hati Bianca terasa berkecamuk.


Badannya terasa lemah lunglai, kemudian dia menghempaskan badannya ke lantai, tepat di pintu masuk, dan kedua telapak tangannya meremas kepala rambutnya sambil memeluk kedua lututnya. Tangisan pecah.



Bianca memejamkan kedua matanya. Bayangan Rama kembali hadir, teringat masa itu, Rama merayunya dengan kata-kata romantis yang membuat angan terbang tinggi, wanita polos itu terbuai dengan bujuk rayu dan rayuan gombalnya.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2