
Tante Fani terlihat diam seribu bahasa, dia seakan menahan emosinya, agar tidak tersulut oleh ocehan Tyanca, yang terlihat sedang dihinggapi rasa emosi kepada sosok Rama.
"Sekali lagi maafkan Tante, tapi Tante akan menunggu datangnya Bianca, Tante ingin meminta maaf.
"Sudahlah, Tante, pergi saja dari sini, percuma adikku pasti lama pergi ke dokternya," ucap Tyanca seakan mengusir.
"Ada apa ini!" tiba-tiba Gerry, sang suami datang dari arah kamar. Dia mengucek matanya karena baru saja bangun.
Tante Fani nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah kepada Gerry. "Kenalkan saya Tante Fani," ucapnya.
Spontan Gerry mengernyitkan dahi dan melirik sang istri, pertanda dia tidak mengerti.
"Dia Tantenya Rama, ingin bertemu dengan Bianca," ucapnya.
Gerry menghela napas panjang.
"Apa lagi ini, kemarin datang ke rumah Angga dan ternyata adiknya istri dari Rama dan sekarang Tantenya Rama, datang kesini," gumam hati Gerry.
Dia berpikir keluarga istrinya seakan di rundung bertubi-tubi masalah.
"Ya, sudah, tunggu saja disini. Nggak apa-apa," ucap Gerry kemudian dia duduk di dekat sang istri.
"Mih, ambil minum, nggak baik, ada tamu nggak kasih minum," Gerry berbisik pelan kepada sang istri yang terlihat cemberut dan memalingkan muka kepada Tante Fani.
Tyanca pun berjalan menuju dapur, untuk membuatkan minuman.
•••••
"Maaf, Tante, sekarang Rama tinggal dimana ya, soalnya semenjak kepergian dia, dari rumah ini tidak pernah kesini lagi, untuk menengok sang anak. Padahal silaturahmi harus dijaga untuk anak walaupun, Rama ada masalah dengan Bianca." ucap Gerry masih terlihat santai ketika berucap.
"Iya, maafkan, Rama. Kedatangan Tante kesini untuk bertanggung jawab kepada anaknya Tyanca," sang Tante terlihat menundukkan kepalanya.
•••••
"Assalamualaikum.."
Tiba-tiba Bianca dan Ibunya yang menggendong anaknya Bianca datang.
Sang Ibu dan Bianca nampak terkejut ketika ada orang yang tengah duduk dan sedang asik ngobrol dengan Gerry.
Sang Ibu dan Bianca menatap kepada Tante Fani, sementara Tante Fani tengah menatap anak yang sedang di gendong oleh sang Ibu. Kemudian sang Tante melirik ke arah Bianca, dan matanya nampak terlihat berkaca-kaca.
"Ini yang namanya Bianca, dia masih imut dan terlihat cantik," gumam hati sang Tante.
__ADS_1
"Bu, kenalkan ini Tantenya Rama," ucap Gerry, menatap Ibu mertuanya kemudian Bianca.
Sontak Ibu dan Bianca, terperanjat ketika mengetahui yang sedang di hadapannya itu, adalah Tantenya Rama.
Sang Ibu dan Bianca, seakan tidak bisa berkata apapun, mereka termangu menatap Tante Fani.
Sang Tante kemudian tersenyum lebar kepada Bianca dan Ibunya Bianca, dia lalu berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ibu pun mengulurkan tangannya, ketika sang Tante mengulurkan tangannya kepada Bianca dan Bianca menyambutnya, dengan spontan Tante Fani memeluk erat Bianca.
"Maafkan Rama, maafkan ya, Sayang. Rama selama ini menelantarkan kamu, terutama anakmu! Maafkan ya, Sayang, agar perjalanan hidup dia lancar karena sudah ada maaf dari kamu,Bianca!" ucap Tante.
Tante Fani terlihat tersedu menangis, jantungnya berdetak lebih kencang, seakan tidak karuan, dadanya bergemuruh secara tidak beraturan.
"Maafkan, maafkan Rama!" emosi rasa kesal terhadap Rama, dan rasa iba terhadap orang yang saat ini tengah di peluknya, terasa kian menyiksa hati dan pikirannya itu.
Bianca mencoba melepaskan pelukan Tante Fani, tapi apa daya, pelukan sang Tante begitu kuat karena sedang terbawa emosi.
•••••
"Sudah, sudah, cukup." sang Ibu mencoba melepaskan pelukan Tante Fani terhadap Bianca. Gerry pun membantu Tante Fani, kembali duduk di kursi.
Nampak terlihat Tante Fani terisak tangis, kepala sang Tante, terasa pusing karena pikirannya sedang tidak karuan.
"Boleh, saya melihat anaknya Rama," ucap sang Tante, menatap sang anak yang sedang tertidur di gendongan neneknya.
Ibunya Bianca kemudian memberikan anaknya Bianca, ke pelukan Tante Fani.
"Wajah dan rambutnya mirip dengan Rama," ucap Tante Fani. kemudian sang Tante mendekap erat anak tersebut penuh kasih, dan tangis Tante Rani pun, akhirnya pecah, menambah suasana di rumah tersebut menjadi hening.
•••••
"Kenapa Rama, nggak kesini yang minta maaf dan lihat anaknya!" ucap sang Ibu terlihat dihinggapi rasa heran.
"Rama sedang sakit kondisi badannya, mungkin suatu saat pasti dia akan kesini, jika kesehatannya sudah memungkinkan," ucap sang Tante.
"Bianca, Tante akan bertanggung jawab kepada anak ini, Tante akan berikan biaya tiap bulan untuk anak ini. Sekarang Rama sedang merintis usaha, semoga lancar, kalau sudah ada kata maaf di ampuni oleh Bianca," ucap sang Tante.
"Ya, kenapa juga harus Tantenya yang kesini, padahal orang tuanya juga semestinya yang harus datang kesini melihat cucunya, bukannya lari dari tanggung jawab," ucap sang Ibu, masih terlihat tenang ketika berucap. Tapi tidak bisa dipungkiri meskipun terlihat tenang namun ucapan sang Ibu, seakan buat Tante Fani, tertampar dan tersindir.
"Bu, tidak perlu orang tua Rama atau Rama sendiri, datang untuk menjenguk anaknya kesini, untuk apa!" ucap Tyanca, yang tiba-tiba datang dari arah dapur sambil membawakan minuman.
"Mih, sudah..." ucap sang suami.
__ADS_1
Gerry mencoba menenangkan istrinya tersebut.
Tante Rani merogoh amplop berwarna coklat, lalu dia menyimpannya di bawah baju selimut sang anak.
"Saya harap Ibu jangan menolak pemberian saya, jangan lihat nilainya atau berpikir saya mencari perhatian. Saya ikhlas ini untuk beli susu formula dan buah untuk anak ini."
Sang Tante kembali mencium sang anak.
Bianca tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menundukkan kepalanya. Dia seakan ingin bicara kekesalan dia, rasa rindu dia, dan emosi dia yang ingin di luapkan.
Tapi apa daya, itu semua seakan tidak mampu dia luapkan, karena disana terlihat ada Tyanca, sang Kakak yang seakan menguasai keadaan.
"Tante, sebenarnya saya bertemu dengan istri tua Rama, kebetulan dia adiknya teman suamiku," ucap Tyanca.
Sang Tante terkejut tatkala mendengar, apa yang di katakan oleh Tyanca. Begitupun dengan Bianca dan sang Ibu karena Tyanca tidak berbicara sebelumnya bahwa dia sudah bertemu dengan Amel kembali.
"Ternyata dia lelaki brengsek ya, miris juga! Amel istri kedua pun tidak di nafkahi." sambung lagi Tyanca terlihat dari raut mukanya seakan gemas.
"Maksud kamu apa, Nak," sang Ibu pun seperti dihinggapi rasa penasaran.
"Jadi dia di usir oleh Bapak mertuanya, karena meminjam sejumlah uang 100 juta, dan tidak kembali. Dengar-dengar sih, ada yang bayarin Tantenya, mungkin...Ya, ini Tantenya yang bayar," Tyanca melirik Tante Fani, seakan mengejeknya.
Ucapan Tyanca seakan menyudutkan sang Tante, sosok Tyanca di mata sang Tante adalah wanita yang berani dan terlihat beda dengan adiknya, karena Bianca hanya terdiam tidak bicara sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, Tante Fani pun berpamitan dengan keluarga Bianca, dia berpikir kalau dia lebih lama tinggal disana, takut terjadi hal yang tidak di inginkan yaitu terjadi keributan karena sebenarnya sang Tante sudah tidak tahan dengan ocehan Tyanca yang seakan menyudutkan Rama.
Nampak Tante Fani memasuki mobil dan sebelum dia pulang nampak memeluk kembali erat Bianca dan juga anaknya.
"Maafkan Tante dan juga Rama ya," ucap Tante Fani lekat ke kuping Bianca.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah Tante Fani memasuki mobil dan mobil tersebut berlalu jauh dari halaman rumah, nampak Bianca menghela napas panjang.
__ADS_1
Bersambung...