
Bianca nampak melamun.
Kota Bekasi hari ini sangat panas, keringat bercucuran nampak terlihat di badan Bianca. Seperti biasa rambutnya di kuncir menjadi 2 bagian. Dia nampak sedang duduk termenung di depan teras rumah, entah apa yang sedang dipikirkan dalam benaknya.
Mungkin dia sedang memikirkan Bayi yang kini sedang di rawat di inkubator, atau sedang memikirkan Rama, lelaki yang telah mengkhianatinya.
"Nak, jangan ngelamun nggak baik," tiba-tiba sang Mama datang dari dalam rumah dengan membawa jus jeruk dengan di tambah es batu yang nampak segar.
Bianca seakan tidak mau menghiraukan perkataan Mamanya tersebut, dia tetap saja pikirannya berselancar jauh.
"Nak, mikirin apa?" sambung Mama kembali, menepuk pundak sang anak secara perlahan.
"Aku ingat teman-teman di sekolah. Aku ingin kembali bersekolah," ucapnya matanya berkaca-kaca.
"Tidak, tidak mungkin Nak. Dengan perut yang masih sakit baru beres melahirkan, dan kamu masih memberikan ASI dengan bentuk tubuh yang bertambah melar," ucap sang Mama.
Bianca nampak ingin sekali kembali seperti masa lalu, bersekolah dan mempunyai teman banyak. Dia pintar di sekolahnya dan jadi pusat perhatian guru dan teman-teman sekolahnya saat itu.
"Mah, aku ingin bertemu Guruku, dan teman-teman aku. Kalau aku ikut Mama ke Jakarta untuk beberapa hari saja boleh nggak?" Bianca menatap lekat kepada sang Mama. Bianca ingin sekali bertemu Guru dan teman-temannya semasa sekolah dulu. Rasa rindu kepada mereka yang di rasakan Bianca cukup.dalam.
Sang Mama terlihat terkejut ketika mendengar anaknya ingin bertemu dengan Guru dan teman-temannya. Mungkin ini bukanlah saat yang tepat bagi Bianca, untuk bertemu dengan mereka, dengan kondisi badan yang seperti ini. Mama nampak belum siap jika nanti anaknya kena ejekan teman-temannya karena sudah melahirkan seorang Bayi.
"Saatnya belum tepat!" ucap Mama Astri secara spontan.
"Maksud Mama apa, saatnya belum tepat?" Bianca nampak tidak mengerti dengan ucapan sang Mama tersebut.
Kemudian sang Mama, mencoba meyakinkan anaknya tersebut. Dia memberikan pengertian kepada sang anak secara perlahan dan dapat di mengerti.
"Tapi Mah, mungkin mereka juga saat ini sudah tahu aku hamil dan tidak mungkin mereka mengejekku karena mereka sudah memahaminya," ucapnya dengan enteng.
Nampak sang Mama menghela napas secara perlahan, dia sangat mengerti dengan kepolosan sang anak dan mungkin juga Bianca, terlalu tidak memperdulikan semua dampaknya kedepan. Jika dia sekarang bertemu dengan teman-temannya dengan kondisi setelah melahirkan biasanya suasana hatinya sedang sensitif dan Mama tidak mau jika nanti Bianca, mendengar perkataan yang tidak di inginkan.
Mungkin saja suasana hati Bianca, menjadi kecewa karena ejekan dari teman-temannya.
"Sayang, nanti Mama atur ya, jadwalnya. Sekarang kan Bayimu, Putri. keadaannya belum pulih masih berada di inkubator." ucap sang Mama mencoba memberi tahu kepada sang anak bahwa Bayinya Bianca, yang bernama, Putri Jasmine, masih berada di inkubator dan keadaan masih belum pulih.
Bianca pun hanya menganggukkan kepalanya, ketika sang Mama melarangnya untuk bertemu dengan teman sekolahnya dulu, dengan raut muka cemberut.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson di depan halaman rumah. Sontak Mama dan Bianca saling berpandangan mereka seakan mencoba sedang menebak, siapakah yang datang. Dalam benak Mama Astri seakan sudah bisa menebak yang datang itu siapa.
"Tyanca itu, Mama yakin yang datang itu, adalah kakakmu!" ucap sang Mama.
Mama Astri kemudian dengan cepat membuka garasi, dan setelah terbuka lebar garasi halaman rumah tersebut, nampak muka sang Mama sumringah.
"Nak, suamimu mana? ko berdua saja sama Mischa?" Mama dihinggapi rasa heran karena Tyanca terlihat menyetir, dan di dalam mobil hanya ada Tyanca dan anaknya Mischa sedangkan Gery tidak nampak terlihat di dalam mobil tersebut.
Mobil pun memasuki halaman garasi.
Setelah mobil berada di dalam halaman garasi rumah lalu Tyanca keluar dari dalam mobil, bersama Mischa sang anak.
"Nenek.." ucap Mischa.
Sang Cucu langsung bergelayut manja kepada Mama Astri dan sang Nenek pun dengan sigap memeluk erat Cucunya tersebut.
"Gerry sedang sibuk Mah, dia sekarang mau ada bisnis dengan temannya," ucap Tyanca, mengabarkan bahwa sang suami tidak bisa ikut ke Bekasi karena sedang sibuk.
Tyanca Kemudian mencium punggung tangan sang Mama, dan memeluk erat.
Tyanca menatap tajam sang adik yang sedang duduk di teras, lalu Tyanca menyeret kakinya ke hadapan sang adik. Kemudian Tyanca memberikan keresek yang berisi cemilan kesukaan sang adik yaitu harum manis atau (rambut nenek).
"Kamu sehat, Dek,?" tanya Tyanca sambil mengelus kepala rambut sang adik.
Bianca hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Mungkin hubungan antara dia dan sang Kakak kini terasa hambar tidak seperti dulu sebelum Bianca hamil.
Bianca seakan sadar diri, dan malu juga kepada sang Kakak. Bianca pun merasakan perubahan dari sikap sang Kakak kepada dirinya sudah tidak seperti dulu lagi. Bianca seakan canggung untuk sekedar bergelayut manja dengan sang Kakak. Nampak Mama Astri pun menyadari hal.itu.
"Ayo, masuk Kak ke dalam rumah, diluar panas sekali," ucap sang Mama membuyarkan lamunan kedua anaknya tersebut.
Tiba di dalam rumah.
"Mah, adek Bayinya masih di Bidan ya, belum dibawa kerumah?" tanya Tyanca, lalu Tyanca menggeserkan kursi yang berada di ruang tamu, dia pun terlihat duduk disana, yang di ikuti oleh Mischa sang anak, yang terlihat di gendong di pangkuan Tyanca.
"Iya Kak, nanti bentar lagi kita mau kesana bareng dengan Tante Astrid. Tantenya sedang mandi dulu," ucap sang Mama.
Nampak Bianca berlalu ke kamarnya dan di ikuti oleh Mischa. Pandangan Tyanca lekat ke arah Bianca, yang terlihat begitu tidak bergairah dan capek.
"Mah, Bianca kenapa sakit?" tanya Tyanca, seakan dihinggapi rasa penasaran karena Bianca nampak dari tadi, dari mulai kedatangannya tidak banyak kata yang terucap.
__ADS_1
"Dia tadi cerita ke Mama, katanya ingin bertemu teman sekolahnya dan Guru, dia mungkin kangen," ucap sang Mama.
"Kalau menurutku dia jemu mah, hampir 8 bulan dia mengurung diri disini, tidak ada teman. Aku merasakan juga sih," ucap Tyanca, dia seakan iba kepada sang adik.
"Ya, mungkin dia kesal dan jenuh berada terus didalam rumah, menurut Mama juga begitu sih," Mama seperti dihinggapi rasa khawatir.
"Terus Mama mengijinkan anaknya untuk bertemu dengan teman sekolah dan Gurunya?" Tyanca kembali dihinggapi rasa penasaran kepada sang Mama.
"Ya, nggak lah," jawab sang Mama dengan cepat menjawab.
"Ya syukurlah kalau begitu," jawab Tyanca.
Drettt... Drettt... Drettt...
Tiba-tiba suara telepon terdengar dari gawai milik Tyanca, nampak disana terlihat Gerry, sang suami menelepon.
{"Mih, sudah sampai di Bekasi belum?"}
tanya Gerry terdengar sangat khawatir.
{"Sudah Pih, maaf tadi aku keasikan ngobrol bersama Mama, jadi belum ngabarin kamu Pih, hehehe.."} jawab Tyanca.
{"Yasudah nggak apa-apa, kalau sudah sampai, syukur. Aku khawatir soalnya dari tadi belum ada kabar,"} ucap sang suami.
{"Iya Pih, tenang aja. Mami sama Mischa sudah selamat sampai tujuan,"}
sambung lagi Tyanca.
{"Yasudah salam sama keluarga disana ya, ini Papi sedang menunggu teman Papi,"}
ucap Gerry, sang suami.
Sambungan telepon pun ditutup oleh Gerry, sang suami. Tyanca nampak gembira sekali karena sang suami begitu peduli terhadap dirinya dan Mischa anaknya itu.
__ADS_1
Bersambung...