
Sampai di tujuan, rumah Amel.
"Alhamdulillah sampai juga di tempat tujuan," ucap sang Tante terlihat senyum sumringah.
Rama terlihat mengatur napasnya, dia seakan sesak dadanya. Rasa bersalah, kecewa, kesal hinggap semua di dalam hatinya.
"Tenang, kamu harus kuat dan kamu itu seorang lelaki. Jangan jadi pengecut!" ucap Tante Fani.
Kemudian mereka keluar dari dalam mobil, sayup-sayup terdengar bunyi suara dari Bapaknya Amel yang terdengar mengoceh, dan disana terdengar nama Rama di sebut oleh suara lelaki tersebut.
•••
"Mana janjinya, katanya bulan ini akan bayar, dasar pembohong!" ucap Bapaknya Amel,"
Rama seakan takut dan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Bapaknya Amel setelah mendengar ocehan sang Bapak karena dihinggapi rasa takut.
•••
Melihat gelagat Rama yang terlihat gugup kemudian Tante Fani mencoba menyabarkan hatinya Rama.
"Sabar, tenang. Kita niat kesini untuk membayar utang dan ada niat baik untuk kamu bisa bersatu kembali dengan Amel dalam membina mahligai rumah tangga." ucap sang Tante tersenyum lembut.
Tante Fani mengusap lembut pundak Rama, dan menggandeng tangannya lalu secara perlahan berjalan menuju rumahnya Amel.
\_\_\_\_\_
Beberapa langkah lagi sampai di ruang tamu, dimana disana ada suara bariton yang terdengar menggelegar lekat ke kuping Rama.
Terdengar Isak tangis pula dari seorang perempuan dengan memelas.
"Pak, sabar, pasti Rama kesini mau bayar utang uang Bapak," lirih wanita tersebut di dalam ruangan yang seharusnya pagi itu dihinggapi suasana hati tentram karena mentari baru saja menampakkan sinarnya dengan udara sejuk.
\_\_\_\_\_
Tante Fani membuang napas kasar tepat di depan pintu kemudian melirik Rama.
Tokk...Tokk...Tokk...
Berkali-kali Tante Fani mengetuk pintu rumah, sambil perlahan membuang napas secara perlahan. Betapa dag-dig-dug jantungnya berdetak kencang tidak karuan, begitupun dengan Rama.
"Assalamualaikum," ucap sang Tante.
Begitu lama menunggu balasan ucapan salam dari dalam rumah, mungkin karena sang punya rumah sedang berbicara dan saling beradu argumen, antara Ibu dan Bapaknya Amel. Jadi ketukan pintu pun tak terdengar dari arah luar.
__ADS_1
Amel terlihat mengernyitkan dahi dan kupingnya dia coba untuk mendengarkan bunyi yang datang dari arah luar.
"Bu, ada yang ngetuk pintu," ucap Amel dan tatapan matanya lekat ke arah sang Ibu.
Sang Bapak pun yang dari tadi ngoceh berbicara, akhirnya terdiam. Lalu dia melakukan hal yang sama mencoba mendengarkan bunyi ketukan pintu yang berkali-kali di ketuk.
Setelah terasa jelas mendengar suara ketukan pintu dan ucapan salam, kemudian sang Ibu pun membalas ucapan salam.
"Wa'alaikumsalam," balasnya. Dan dia pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu masuk.
Krekkk..
"Rama..." ucap sang Ibu.
Sontak mata Ibu terbelalak melihat sang menantu yang terlihat badannya kurus dan mukanya seakan tidak segar.
"Bu...saya Tante Rama," ucap Tante Fani menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah. Sang Tante mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Ibunya Amel.
Ibunya Amel terlihat terkesiap dan seakan tidak sadar apa yang sebenarnya yang terjadi.
•••
"Siapa Bu," ucap suara sang Bapak dari arah dalam rumah, yang terdengar berat dan emosi
Rama terlihat gugup mendengar kembali suara Bapaknya Amel. Ibu tidak membalas pertanyaan sang suami hanya menatap sang ayah kemudian pandangannya kembali melirik ke arah tamu yang datang.
"Ayo, masuk," ucap sang Ibu sambil tatapannya lekat ke arah Rama.
Rama pun mengulurkan tangannya kepada sang Ibu mertua dan tersenyum tipis.
Setelah memasuki rumah.
"Rama..." ucap Amel terdengar lirih.
Dalam hati Amel dihinggapi rasa, bahwa dia pasti akan membayar utang kepada Bapaknya.
"Ayo, duduk.."ucap sang Ibu.
Ibunya Amel seakan malu dengan ucapan yang baru saja di ucapkan oleh sang suami karena seakan mengejek hati Rama.
Tante Fani dan Rama pun nampak terlihat menyalami sang Bapak dan Amel.
Tante Fani sekilas ketika menatap raut muka Bapaknya Rama, seakan dihinggapi rasa kesal yang membara tatkala sang Bapak, menatap menantunya itu dengan tatapan tajam dan penuh rasa kecewa.
__ADS_1
"Mungkin aku jangan basa-basi, aku harus bicara kepada pokok masalah." gumam hati Tante Fani mencoba tersenyum ramah kepada Bapaknya Amel.
"Saya, Tante Fani, maksud kedatangan saya kesini untuk membayar uang yang di pinjam Rama kepada Bapak. Dan maaf Rama baru bisa mengembalikan uangnya hari ini," ucap sang Tante terdengar sangat serius dan nada bicaranya dan begitu lirih.
•••
Dalam hati Bapaknya Rama, dihinggapi rasa syukur karena uang yang 100 juta bisa kembali. Tapi di lain sisi ada rasa kecewa karena sudah hampir mau setahun menantunya itu baru kembali.
Kemudian Tante Fani mengambil uang yang 100 juta di dalam tas yang telah di bungkus oleh amplop yang berwarna coklat. Lalu dia menaruhnya di atas meja tepat di hadapan Bapaknya Amel.
"Kenapa kamu baru datang menemui istri dan anakmu sekarang," kata sang Bapak dengan tatapan seakan penuh tanya.
"Aku malu Pak, karena belum bisa membayar uang utang ke Bapak," ucap Rama dengan menghela napas panjang dan peluh kembali bercucuran.
Tante Fani terlihat mengusap pundak Rama, dia seakan berusaha menyabarkan hati Rama. Dengan belaian lembut yang di berikan oleh sang Tante, seakan menambah rasa sesak di dada Rama. Hatinya seakan keping hancur.
"Amel mana anakmu, bawa sini," ucap sang Tante sambil melirik Rama. Tante seakan mengisyaratkan bahwa Rama, dari Ayahnya anak tersebut ingin melihatnya.
Amel melirik sang Bapak yang terlihat sorot matanya sinis kemudian melihat sang Ibu, dan sang Ibu menganggukkan kepalanya, seakan tanda isyarat bahwa benar yang di katakan oleh sang Tante, Rama harus bertemu dengan anaknya.
Amel pun berlalu dari hadapan mereka dan menuju kamar.
Tidak lama kemudian Amel datang dengan menggendong bayinya ke hadapan Tante Fani. Dan dengan spontan Tante Fani meraih bayi tersebut ke pangkuannya, kemudian mengarahkan pandangan bayi ke arah Rama yang tepat berada di samping Tante Fani.
Spontan bulir putih menetes di ujung matanya. Rama seakan tidak kuasa melihat sang anak yang sudah lama tidak bertemu sekitar 10 tahun.
"Maafkan, aku Nak," gumam hati Rama.
Dia seakan kecewa melihat sang anak dan menyalahkan diri. Karena dia sebagai seorang Bapak tidak bertanggung jawab selama ini kepada anak tersebut.
Sang Bapak terseyum sinis, dia seakan kesal melihat raut muka Rama yang memelas dan terlihat sedih. Dalam benak Bapak dihinggapi rasa kesal, kecewa, marah, campur jadi satu.
"Kamu sudah berapa bulan ninggalin anak dan istrimu?" Bapaknya Bianca, seakan mengejek lagi sang menantu.
Rama terdiam seribu bahasa, air mata di ujung matanya kini menetes ke pangkuannya yang sedang menggendong sang anak.
Di tatap lekat sang anak dia pun menghela napas panjang.
Amel hatinya dihinggapi rasa kecewa yang teramat namun dia juga terlihat menaruh iba terhadap sang suami.
"Rama begitu hancur hatinya, terlihat dari sorot matanya dan hamparan pipinya yang penuh deras dengan air mata, dia seakan menyesali perbuatan yang dia tuai waktu dulu," gumam hati Amel.
__ADS_1
Amel pun seakan menahan air mata yang akan tumpah di kedua ujung matanya tersebut.
Bersambung..