Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 36 Amel melahirkan


__ADS_3

Lima Bulan kemudian.


Usia kehamilan Amel menginjak 9 bulan.


Pagi itu Amel sedang berada di kamar,


nampak dia sedang memegang perutnya, yang terasa mulas sekali.


Semenjak kehamilannya menginjak 8 bulan dan periut Amel, mulai membesar dia tinggal di rumah orangtuanya, tidak tinggal di rumah Rama lagi. Karena sang Ibu khawatir dengan kondisi kehamilan anaknya tersebut.


Rumah orang tuanya Amel, dan rumah kedua orang tuanya Bianca, kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh. Keluarga Amel tinggal di Jalan Anggrek, sedangkan Keluarga Bianca, tinggal di Jalan Mawar.


Jarak tempuh yang dilalui dengan berjalan kaki kira-kira 20 menit.



"Bu...Bu!" teriak Amel, sambil memegang perutnya yang terasa mulas sekali.



"Bu..Bu," Amel kembali memanggil sang Ibu. Tapi nampak tidak ada jawaban kembali.



"Kenapa sih, berisik!" ucap Angga, sang Kakak. Tiba-tiba dia memasuki kamar sang adik, dengan rambut yang terlihat kusut karena Angga, baru saja bangun dari tidur.



"Perutku mulas Kak," Amel menahan rasa mulas yang teramat.



"Ya mulas ke kamar mandi lah," sang Kakak, dengan santai berucap, dengan mengucek matanya seakan ingin kembali tidur.



"Bukan mulas itu, aku mau melahirkan!" terdengar sewot Amel ketika berucap, meskipun dengan kondisi perutnya yang mulas, nampak peluh pun bercucuran.



Angga terkesiap mendengar ucapan Amel, bahwa sang adik akan segera melahirkan, dan sang Kakak pun dihinggapi rasa khawatir karena kedua orang tuanya sedang keluar.


Sedangkan Rama, sang suami sedang pergi bekerja. Angga pun dengan cepat menelepon Rama, untuk segera pulang dari tempat kerja karena Amel akan segera melahirkan.


\_\_\_\_


{"Rama, Amel perutnya sudah mulas, kayaknya mau melahirkan, kamu cepat pulang,"} ucap Angga, di sambungan telepon selularnya.



{"Iyy...iya, Kak,"} jawab Rama, terdengar gugup ketika mendengar kabar bahwa istrinya akan melahirkan.



Rama pun ijin pulang kepada Bosnya, untuk pulang karena sang istri akan melahirkan.


\_\_\_\_\_\_


Amel meringis menahan rasa sakit, dia merengek terus menangis seakan bayinya akan keluar dengan cepat. Karena dihinggapi rasa khawatir yang teramat, lalu sang Kakak pun memanggil, Tukang Becak yang ada di dekat rumah untuk membawa sang adik dibawa ke Bidan yang terdekat.


Sampai di Bidan.


Amel berteriak histeris menahan rasa mulas yang teramat sangat.


"Sakit, Bu Bidan, sakit...!" Amel terus menerus mengelus perutnya, dan mulutnya terus mengoceh seakan tidak mau diam.

__ADS_1


______


Amel baru pembukaan 7, karena pembukaan 7 lebar serviks semakin bertambah besar menjadi sekitar 7cm, jeda kontraksi terasa makin singkat dengan nyeri juga semakin intens.


______


"Istighfar Bu, baru pembukaan 7, jangan cengeng," sang Bidan tersenyum ramah.


"Iya bukannya, istighfar baca-baca doa, biar diberikan keselamatan dan dilancarkan. Ini malah teriak," ucap sang Perawat, lekat ke kuping sang Bidan.


"Rama, mana Rama!" teriaknya kepada Angga, sang Kakak, yang berada di sebelahnya.


"Lagi dalam perjalanan, sebentar lagi datang, sabar...! kata Bu Bidan juga," Angga pun terlihat kesal kepada sang Adik.


___


___


"Mah.." ucap Rama.


Tiba-tiba Rama datang, dan menepis tangan istrinya itu yang sedang *******-***** rambutnya.


"Perutku mulas sakit.." teriak Amel.


Terlihat sang Perawat mencibir.


"Aduh manja banget, baru kali ini dapat pasien yang merengek seperti anak kecil," ucap sang Perawat, sambil mempersiapkan


alat -alat untuk pasien yang akan melahirkan.


Angga nampak tersipu malu, ketika mendengar ucapan sang Perawat, dan sang Perawat pun terlihat terkejut karena ucapannya barusan di dengar oleh Angga, adik dari pasien.


"Sus, adikku masih manja, dan rewel. Maafkan ya. Hehehe.." ucap Angga cengengesan.


Sang Perawat hanya tersenyum tipis.


_____


Nampak terlihat suara panggilan masuk terlihat ke ponsel milik Angga, di layar ponsel nampak sang Ibu menelepon.


{"Kak, Amel dibawa kemana sekarang? ini Ibu baru datang. Barusan kata tetangga adikmu dibawa ke Bidan ya,"} Ibunya Amel, terdengar khawatir dari nada bicaranya.


{"Iya, Bu. Ini sedang berada di Bidan Yessy,"}jawab Angga.


{"Tapi sudah melahirkan belum adikmu sekarang?"} tanya sang Ibu kembali.


{"Nih, dengar Bu..."} kemudian ponsel Angga di dekatkan ke arah ruangan dimana Amel sedang berada. {"Tuh, terdengar nggak, anak Ibu yang manja teriak-teriak..Ibu cepat kesini, aku malu sama Bu Bidan dan Bu Suster,"} sambung Angga lagi, dan nampak Angga, berbisik sangat pelan.


"Iya, Nak, Ibu segera kesana," ucap sang Ibu, terdengar dari nada suaranya dihinggapi rasa khawatir yang teramat.


Sambungan telepon pun di tutup oleh Angga, kemudian dia melirik sang Perawat, yang terlihat dari tadi matanya lekat ke arah Amel.


"Aku juga kesal dengarnya Sus, apalagi Suster," gumam hati Angga, melirik sang Suster.



Kemudian sang Ibu, mengajak suaminya untuk pergi menemui anaknya yang sedang berada di Bidan.


"Pak, ayo cepat. Amel mau lahiran. Tahu sendiri kan anak itu, ngeyel nya, minta ampunnnnn...." ucap sang Ibu.


Sang Ibu pun dan suaminya akhinya pergi memakai motor untuk menemui Amel yang sedang proses lahiran di Bidan Yessy, dan letaknya tidak jauh di daerah sana.



Tiba di Bidan.

__ADS_1


Setelah sampai di tempat Bidan Yessy, terdengar suara Amel berteriak. Sang Ibu pun dengan cepat menyeret kakinya, ke ruangan dimana sang anak sedang ditangani.


Setelah sang Ibu tiba di dalam kamar, nampak terlihat Amel sedang menahan rasa sakit. Rama sang suami, sedang memegang tangan sang istri, karena Amel seakan tidak bisa diam, tangannya meremas rambutnya.



Sang Ibu menghela napas secara panjang.


"Nak, yang sabar. Baca istighfar," ucap sang Ibu, sambil mengusap kepala rambut sang anak dan mengelap peluh yang bercucuran dengan tisu, namun sang anak tetap merengek menangis.


\_\_\_


Sang Bidan dan Perawat nampak terlihat serius ketika menangani pasien.


"Iya tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan dari mulut secara perlahan," ucap sang Bidan, ketika membantu proses persalinan berlangsung.



\_\_\_\_\_\#\#\#\_\_\_\_\_


Sang Ibu yang sedang menunggu proses untuk keluar bayinya akan terus diminta oleh sang Bidan, agar mengejan untuk melahirkan bayi sampai keluar seutuhnya.


\_\_\_\_\_\#\#\#\_\_\_\_\_


\_\_\_


Beberapa menit kemudian.


Terdengar suara tangis bayi begitu keras.


"Alhamdulillah, akhinya bayinya keluar dengan selamat," ucap sang Bidan.



Ibunya Amel terlihat bahagia akhinya dia bisa bernapas dengan lega, karena melihat sang cucu sudah keluar dengan selamat.



Nampak Bidan Yessy pun terlihat dari raut mukanya dihinggapi rasa gembira, karena pasien yang melahirkan dapat tertolong dengan selamat, dan keadaan bayi dalam keadaan normal dan sehat.



"Bayinya perempuan," celetuk sang Perawat, lalu sang Perawat pun membawa bayi tersebut untuk di mandikan.


Suara tangisan bayi yang terdengar begitu keras membuat Bapaknya Amel, Rama dan juga Angga, terlihat begitu bahagia, nampak terlihat dari raut muka mereka.


"Alhamdulillah, bayinya sudah lahir," ucap sang Bapak terseyum lebar.


Rama pun terlihat nampak bahagia dari raut mukanya.



Setelah Bayi beres di mandikan lalu sang Perawat meletakkan Bayi tersebut di dalam Box tempat tidur Bayi.


"Cantik, kayak Amel," ucap sang Bapak. Tiba-tiba Bapaknya Amel, datang menghampiri.



Rama tersenyum bahagia, ketika melihat sang Bayi, tapi nampak terlihat dia beberapa kali menghela napas panjang.


Pikirannya melayang jauh, dia teringat Bianca, yang sekarang sedang hamil dan beberapa bulan lagi Bianca pun akan melahirkan.


Rasa bersalah kian menyelimuti hati Rama.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2