
Anak Bianca rewel.
Sang anak merengek terus-menerus dan menangis yang mengakibatkan rasa kesal menghinggapi diri Bianca, walaupun dibujuk untuk makan dan jalan-jalan, sang anak tetap rewel seakan tidak mau diam.
Bianca pun dihinggapi rasa khawatir terhadap sang anak karena dia memanggil kata Ayah terus, Bianca berpikir dalam hatinya. "Mungkinkah sang anak rindu dengan sosok Rama!?" akhirnya Bianca pun mengungkapkan semua isi hatinya kepada sang Mama.
"Mah, aku capek dengan anak ini, karena nangis terus dari pagi tidak henti. Padahal aku sudah bawa jalan-jalan keluar, dan sudah kasih makan, tapi tetap aja rewel dan memanggil Ayah terus," ucapnya dengan meletakkan anaknya di kursi sofa dengan kasar.
•••
Nampak peluh Bianca pun bercucuran karena dari pagi sampai sore dia mengurus anak sendiri, tanpa bantuan Mama Astri.
Kebetulan Mama Astri sibuk berjualan di pasar dari pagi dan sekarang sudah sore, dia baru datang ke rumah.
Dengan cepat Mama Astri pun menggendong sang cucu yang terus-menerus menangis tidak henti. Sang Mama pun seakan dihinggapi rasa khawatir terhadap sang Cucu yang rewel dan menangis terus.
•••
"Kamu kangen Nak, sama Ayah kamu!?" tanya Mama Astri menatap lekat kepada sang Cucu. Anaknya Bianca seakan mengerti ucapan dari sang Nenek, dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Kasih saja sama Rama, biar dia tahu gimana rasanya mengurus anak yang rewel, menangis dari tadi!" terdengar kesal Bianca ketika berucap sambil menatap lekat anak tersebut dengan pandangan mata yang mendelik.
"Sabar Bianca! Kamu kenapa sih," sang Mama terlihat tersulut emosi karena dari nada bicara Bianca begitu marah dan melotot terhadap sang anak yang terus-menerus menangis.
•••
Bianca matanya berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tumpah di sana, tapi dia coba tahan agar air mata tersebut tidak tumpah di hadapan Mamanya. Bianca berpikir tidak mau Mamanya sedih seperti dahulu ketika Bianca hamil diluar nikah.
Sang Mama begitu terpuruk dengan keadaan kondisi seperti itu. Bianca nampak membuang napas kasar.
Dia pun berlalu dari hadapan sang Mama.
__ADS_1
•••
Mama berlalu ke dapur.
kemudian sang mama membuatkan susu formula untuk Cucunya tersebut, dengan bernyanyi dan menepuk badan sang anak dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti itu, sang anak hanya menatap lekat sang Nenek yang sedang bersenandung.
Setelah susu selesai dibuat Mama Astri memberikan susu tersebut kepada anaknya Bianca dengan penuh kelembutan, dan mencoba membujuk sang anak agar diam tidak menangis. Karena bujukan sang Nenek begitu lembut dan halus, anak tersebut pun akhirnya diam tidak menangis, dan dia mau meminum susu botol yang diberikan oleh sang Nenek.
•••
Mama Astri menghela napas panjang.
"Bianca tidak bisa merayu sang anak dia kasar. Jadi sang anak pun takut terhadap sosok Ibunya sendiri," gumam hati sang Mama, dia pun tersenyum ketika melihat sang anak diam tidak menangis lagi.
Mama Astri pun berpikir jauh, mungkin Bianca dihinggapi rasa capek karena seharian mengurus anaknya yang sedang rewel. Biasanya dibantu sang Mama, tapi hari tadi sang Mama sibuk di pasar.
Teringat sosok Ayahnya yaitu Rama, Mama Astri pun seakan memahami hal tersebut, di samping Bianca usianya masih muda, dan baru mengurus anak. Berbagai masalah sudah menghampirinya seakan bertubi-tubi. (Saat dia hamil di luar nikah, dan harus menanggung rasa malu, lalu pergi ke Bekasi tinggal bersama Tante Astrid).
Sang Mama pun berpikir mungkin Bianca mengalami rasa lelah dan pikirannya sedang sedih, tapi bukan berarti dia tidak bisa melupakan hal tersebut. Ini adalah rasa sesal saja yang ditunjukkan oleh Bianca yang tidak bisa diungkapkan kepada siapapun.
___
Sontak pernyataan tersebut disambut dengan rasa marah oleh Tyanca karena dia tidak suka dengan Rama. {"Kalau Mama dan Bianca tidak mau mengurus anak itu, biar Tyanca besok ke Jakarta untuk mengambil anak itu!"} ucap Tyanca terdengar emosi kepada sang Mama lewat sambungan telepon selularnya.
{"Maksud Mama bukan Mama dan Bianca tidak mau mengurus anak ini, cuman dia memanggil nama Rama terus ngerti nggak sih!?" Mama pun terdengar dihinggapi rasa kesal terhadap sang anak yang tidak mengerti dengan ucapan sang Mama.
•••
Tyanca pun terdiam tidak memberi alasan lagi kepada sang Mama, sebenarnya dalam diri Tyanca dihinggapi rasa kecewa kepada Bianca, dengan bertemunya sang anak di rumah sakit bersama Rama waktu itu.
{"Ya sudah Kak, kalau kamu lagi sibuk. Ibu mau menidurkan dulu si Neng,"} ucap sang Mama seakan menyindir dan terdengar dihinggapi emosi ketika berbicara.
__ADS_1
Sang Mama pun menutup sambungan teleponnya dan menyimpan ponselnya tersebut di atas meja dengan kasar.
_____
"Tyanca itu anak aneh, kalau ngomong selalu saja dibarengi dengan marah, emosi, kesal aku jadinya." gerutu sang Mama meluapkan kekesalannya kepada Tyanca.
Ting..
Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponsel Mama Astri begitu jelas terlihat pesan tersebut muncul dari Tante Fani. Dia mengabarkan akan datang ke rumahnya dan jika tidak keberatan mau membawa anaknya Rama sementara waktu dengan alasan Ibunya Rama dihinggapi rasa rindu yang teramat dan keadaan Ibunya Rama sedang sakit teringat terus dengan sang Cucu.
Dalam benak sang Mama berpikir.
"kalaupun anaknya Bianca dibawa Tante Fani mungkin dia akan bertanggung jawab kepada sang anak, dan tidak ditelantarkan. Mama Astri pun nampak termenung memikirkan hal tersebut.
Mama Astri pikirannya berselancar jauh. Bianca minggu depan usahanya sudah mulai dan mungkin akan terlihat sibuk , apakah anak tersebut akan secara bergantian diasuh oleh Rama? atau Mama Astri akan mencari pengasuh untuk menjaga sang anak?.
Mama Astri dihinggapi rasa tanya dia pun tidak berani membicarakan hal tersebut kepada Tyanca. Padahal niat Mama Astri barusan ketika menelepon kepada Tyanca, dia akan mengatakan hal tersebut.
Tapi Tyanca malah terdengar emosi tidak mau menerima kenyataan yang ada.
"Apa aku harus cerita sama suamiku?" gumam Mama Astri.
Kebetulan sang suami sedang pergi ke luar kota belum kembali, dan jika sekarang Mama Astri menelepon sang suami takutnya salah persepsi.
Jika bicara di sambungan telepon Mama Astri berpikir itu tidak baik dan lebih baik jika membicarakan masalah anaknya Bianca, nanti saja setelah suaminya kembali datang ke rumah.
•••
Setelah anaknya Bianca tertidur pulas di gendongan Mama Astri. Sang Mama pun berlalu dari ruang tamu, dia memasuki kamarnya. Sang Mama tidak membawa ke kamar Bianca, karena Mama Astri memahami jika sang anak ditidurkan di kamarnya Bianca, takutnya Bianca dihinggapi rasa marah kembali dan kesal lagi terhadap sang anak.
Sang anak pun ditidurkan di kasur Mama Astri, nampak terlihat Mama Astri menghela napas secara perlahan. Mama Astri menatap lekat kepada anaknya Bianca lalu meneteskan air mata.
__ADS_1
"Semoga Bapakmu dan keluarganya, sadar dan sayang kepadamu Nak," ucap Mama Astri membelai rambut kepala rambut sang anak dan menciumnya.
Bersambung...