Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab:8 Mama khawatir


__ADS_3

Mama khawatir kepada sang suami.


Mamanya Bianca, pulang dari pasar agak siang tidak seperti biasa. Karena dia mau memeriksa keadaan kondisi anaknya itu, ke dokter kandungan.


Apakah benar hamil atau tidak.


Melihat Papaya yang terlihat melamun lalu sang Mama, mencoba menghibur sang suami


"Pah, ini Mama, bawa makanan kesukaan Papa, udang goreng bumbu saos padang," ucapnya. Sambil mengusap pundak suaminya tersebut secara perlahan dan penuh perhatian.


***


Papa tidak bereaksi sedikitpun dengan ucapan sang istri, dia hanya diam seribu bahasa. Melihat sang suami seperti tidak memperdulikannya, kemudian Mama pun berlalu ke arah dapur, kemudian dia menuju meja makan dan membuka tudung saji.


Mama sedikit terkejut karena di atas meja makan itu, makanan masih utuh. Berrarti anaknya dan sang suami belum makan hari ini, padahal hari udah mau sore.


Sang Mama seakan tidak bisa berbuat apa-apa, kemudian dia duduk di tempat meja makan tersebut.

__ADS_1


Matanya lekat ke ayam goreng mentega, makanan itu merupakan makanan favorit dari Bianca. Anak itu jika Mamanya, masak ayam goreng mentega pasti dia sangat lahap makannya.


"Gara-gara lelaki itu, semua hancur. Keluargaku tidak harmonis," gumam hati Mama. Dia meremas rambutnya secara perlahan. Seakan ingin berteriak dari masalah yang kini tengah menghinggapinya.


***


Mama membuang napas kasar, kemudian dia berjalan ke arah kamarnya Bianca, lalu Mama mengintip dari celah jendela kamar, nampak anaknya itu sedang tertidur dengan posisi miring yang membelakangi arah pintu kamar. Mama tidak tahu, apakah anaknya itu dalam keadaan sudah tidur atau tidak, karena yang Mama lihat dia membelakangi pintu kamar.


Kemudian Mama membuka pintu secara perlahan. Karena pintu sedang dalam keadaan tidak terkunci jadi Mama sangat gampang untuk memasuki kamar anaknya tersebut.


Setelah berada di dalam kamar, Mama menatap lekat ke arah badannya Bianca, kemudian mata Mama, tertuju ke arah wajah anaknya itu.


Mama mencoba mengatur napasnya, dia pun tidak tahu memulai obrolan dari mana, ketika ingin mengajak Bianca, untuk berobat ke dokter kandungan.


"Sudah makan kamu, Nak?" tanya mama, lekat pandangannya ke arah bola mata sang anak, meskipun anaknya posisinya masih membelakanginya.


Bianca hanya menggelengkan kepalanya, pertanda dia belum makan dari pagi.

__ADS_1


"Ibu masak, masakan kesukaan kamu, ayam goreng mentega. Ayo, makan bareng sama Papa dan Mama," sang Mama mencoba membujuk sang anak.


Dalam hati Bianca, seakan sedih. Biasanya sang Mama, suka membawakan makannya ke dalam kamar sepulang sekolah ke dalam kamarnya, lalu sang Mama, menyuapinya.


"Mentang-mentang aku sedang berbadan dua, Mama sekarang sudah tidak peduli sama aku," pikiran buruk dan polos datang di benak anak itu yang pikirannya belum dewasa.


Bianca terdiam tidak bergeming sedikitpun.


Dia hanya memainkan game yang berada di gawai nya.


"Yasudah, kalau nggak mau makan, kamu siap-siap mandi, karena sebentar lagi Mama dan Papa, akan membawa kamu ke dokter, untuk memeriksa perut kamu apa benar kamu sedang mengandung." ucap sang Mama.


***


Mama pun berlalu dari hadapan anaknya tersebut, seperti menahan kesal tapi tidak bisa diungkapkan.


Setelah Mamanya keluar dari kamarnya, Bianca dihinggapi rasa kecewa karena sang Mama terlihat begitu tidak memperdulikannya, biasanya jika dirinya tidak mau makan, Mama selalu membujuknya. Namun sekarang Mamanya, begitu cuek dan tidak mau tahu.

__ADS_1


Bianca terlihat sedih, dia pun bangkit dari kasurnya dan berlalu ke kamar mandi untuk siap-siap pergi ke dokter bersama kedua


orang tuanya tersebut.


__ADS_2