
Keesokan harinya.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, nampak Mama Astri sudah pergi ke pasar sedangkan Tyanca sang istri sedang berada di kamar bersama Mischa sang anak.
Bianca sedang berada di teras nampak dia sedang termenung melamun.
Gerry menatap dari kejauhan ke arah Bianca yang sedang melamun di teras rumah, dia pun menyeret langkah kakinya ke teras rumah, menghampiri Bianca.
"Pagi-pagi sudah melamun!" ejek Gerry kepada Bianca, sontak Bianca terkejut tatkala Gerry menyapanya.
"Eh, Kak Gerry," ucap Bianca terlihat terkejut saat Gerry menyapanya
"Mikirin apa sih?" tanya Gerry kepada Bianca nampak terlihat Gerry dihinggapi rasa penasaran karena Bianca dari hari kemarin terlihat wajahnya menyimpan rasa kesal.
"Aku sedang tidak melamun, mungin itu hanya penasaran Kakak saja," jawab Lia mencoba menutupi rasa gelisah nya.
"Syukur kalau begitu, Bianca, Kakak mau bicara dengan kamu tapi jawab jujur ya," ucap Gerry berucap secara perlahan, dan hati-hati karena takut menyinggung perasaan Bianca. Gerry mencoba bersifat lembut kepada adiknya sang istri karena Gerry seakan tahu perasaan Bianca saat ini seperti apa.
"Kakak mau nanya apa?" tanya Bianca terlihat dihinggapi rasa penasaran.
Bianca seakan takut jika Gerry, pagi ini mencoba membujuknya untuk melihat Ruko miliknya Kang Burhan.
"Santai aja Bianca jangan tegang," ucap Gerry tertawa terkekeh karena melihat Bianca seakan terlihat serius dari raut mukanya.
"Iya, ada apa Kak?" tanya Lia kepada Gerry.
"Kamu sedang ada masalah ya? Jawab jujur sama kakak, santai saja. Kakak enggak akan bilang kok, sama kakakmu dan juga Mama Astri. Kakak lihat dari kemarin, gestur tubuh kamu tidak bisa dibohongi, kamu itu sedang ada masalah," ucap Gerry menatap lekat kedua bola mata Bianca.
Degh...
Sontak Bianca terkejut dengan ucapan Gerry karena Gerry tahu kalau dirinya sedang dihinggapi rasa kesal terhadap situasi keadaan di rumah.
"Ng-nggak kok, enggak ada apa-apa! Itu hanya perasaan Kak Gerry saja," ucap Bianca mencoba mengelak.
"Betul, sedang tidak ada masalah? Tapi Kakak tidak yakin dengan ucapan kamu itu," ucap Gerry berusaha membujuk Bianca agar dia bisa bersikap jujur kepadanya.
"Enggak ada Kak Gerry," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Gerry menatap lekat kedua bola mata Bianca, nampak dari bola matanya seakan menyembunyikan sesuatu. Bianca pun terlihat gugup ketika pandangan Gerry terus tertuju ke bola matanya itu, karena dihinggapi rasa gugup Bianca pun pamit untuk masuk ke dalam rumah.
"Saya pamit dulu ya, Kak," ucapnya.
"Tunggu! Jawab dulu pertanyaan kakak," ucap Gerry seakan menahan Bianca, agar tidak meninggalkannya sebelum dia berkata jujur, tanpa ada yang ditutupi.
__ADS_1
"Apalagi sih Kak, udah dijelaskan barusan semuanya, aku tidak ada masalah," ucap Bianca terlihat kesal dari nada bicaranya.
"Ya, sudah kalau tidak ada masalah syukur, dan kakak mau kamu sekarang lihat Rukonya Kang Burhan, biar prosesnya cepat. Kakak akan kasih modal kamu itu bentuk hadiah dari Kakak, dan kamu tidak perlu memikirkan kapan bayarnya," ucap Gerry.
_____
Bianca seakan dihinggapi dilema tujuan dia, ingin agar Amel terluka dengan kehadiran dia karena Bianca akan mendekati Kang Burhan, di lain sisi dia begitu terharu tatkala Gerry berucap ingin memberikan modal dan tidak perlu membayarnya, Bianca pun tidak bergeming sedikitpun.
_____
"Enggak bisa Kak, saya harus ke rumah Merry sekarang!"ucap Bianca terdengar kesal karena Gerry seakan memaksa dia.
"Mana nomor telepon Merry, biar Kakak yang telepon. Kakak akan memberitahu Merry, bahwa kamu bisa ketemu sama dia sore, atau Merry suruh saja ke rumah datang. Pergi ke Ruko cuma sebentar kok, nggak lama. Paling satu atau dua jam," bujuk Gerry kepada Bianca.
Bianca terkejut dengan ucapannya Gerry, karena nampak Gerry terlihat serius dan kesal dari raut mukanya, karena sebelumnya Bianca tidak pernah melihat suami dari kakaknya tersebut berbicara dengan serius.
Gerry selama ini terlihat kalem dan lembut karena dihinggapi rasa takut Bianca pun mengikuti kemauan dari Gerry, dia mau diajak untuk melihat Ruko milik Kang Burhan.
____
Setelah semuanya beres.
Nampak Gerry sedang memanaskan mobil dan Tyanca pun tengah berada duduk di depan bersama Gerry, sementara Bianca masih berada di dalam rumah.
Kemudian Tyanca pun keluar dari dalam mobil dan kembali memasuki rumah.
Setelah berada dalam rumah nampak terlihat Bianca sedang merapikan bajunya.
"Cepat dong, lama banget sih," ucap Tyanca matanya melotot.
"Bentar Kak, bawel kamu itu!" jawab Bianca.
"Bukannya bawel! kamu yang lelet," jawab Tyanca, seakan tidak mau mengalah kepada sang adik.
Tyanca pun akhirnya berlalu dari hadapan Bianca, untuk kembali ke dalam mobil, sambil menggendong anaknya Bianca.
_____
"Aku harus rapi dan cantik, biar Kang Burhan terpesona sama aku," ucap Bianca.
Bianca nampak terlihat cantik dengan memakai baju kaos lengan pendek berwarna hitam, di padukan dengan celana jeans berwarna biru dongker. rambutnya dia ikat ke belakang, wajah Bianca nampak terlihat fresh dan segar.
____
__ADS_1
Bruk...
"Pelan dong, nutup pintu mobilnya," ucap Tyanca, nampak dari raut mukanya terlihat menyimpan rasa kesal.
"Pelan kok," jawabnya terdengar sewot
"Mih, sudah, sudah," ucap Gerry melirik sang Istri, dia mencoba menenangkan hati sang istri. Tyanca pun diam menahan kesal dan terlihat wajahnya cemberut.
_____
Dalam hati Bianca dihinggapi rasa puas dan tersenyum penuh kemenangan karena Gerry tengah membelanya.
Tampak dari kaca spion muka Tyanca terlihat seakan geram kepada Bianca.
___
Tiba di Ruko.
Nampak Kang Burhan sedang duduk di luar Ruko tersebut, penampilan Kang Burhan seakan beda. Hari ini dia memakai celana jeans warna biru dongker, dan kaos sama seperti yang dipakai oleh Bianca.
Kang Burhan dan Bianca saling bertatapan dann tersipu malu karena baju mereka sama.
"Loh, kok, bajunya sama ya, padahal kita nggak janjian," goda Kang Burhan tertawa terkekeh. Bianca pun seakan tersipu malu
"Iya, Kok, bisa sama ya," ucap Gerry melirik ke arah Kang Burhan dan Bianca.
"Ayo, ayo.. Silahkan lihat-lihat Rukonya," ucap Kang Burhan
Mereka pun melihat sekitar Ruko tersebut, cukup besar 3 lantai, dan tempatnya sangat strategis, dan tidak jauh dari Ruko tersebut ada Kampus dan beberapa kantor lainnnya.
"Wah aku kayaknya betah deh, kalau buka usaha di sini," ucap Gerry sambil memandangi sudut demi sudut ruangan tersebut.
"Iya tempatnya enak ya Pih! Mami juga kerasan kalau tinggal di sini," jawab sang istri.
"Gimana Bianca, kamu mau kalau buka usaha di sini? Tenang saja yang masak dan yang mengelola usaha udah Kakak persiapkan jadi kamu tinggal duduk manis saja di sini.
"Memangnya jadinya usaha apa?" tanya Kang Burhan menatap Bianca.
Entah mengapa Bianca salah tingkah ketika beradu pandang dengan Kang Burhan.
"Semalam saya sudah bilang sama Mama Astri, katanya usaha masakan Sunda saja, kebetulan pegawainya udah dipersiapkan semuanya," ucap Gerry.
"Ide bagus, karena di sini banyak kantor dan mahasiswa," ucap Kang Burhan.
__ADS_1
Bersambung...