
Pergi ke dokter kandungan
"Bianca.... Bianca!" cepetan, lama banget. ucap Mama berteriak kepada anaknya itu, karena sang anak tersebut, di panggil dari tadi tidak menampakkan dirinya.
Hal tersebut membuat sang Mama, kesal. Karena sang Papa, sudah membunyikan klakson beberapa kali di garasi halaman depan rumah.
***
Mama pun bergegas menuju kamar anaknya itu, setelah pintu terbuka lebar, sontak Mama tertegun karena anaknya tersebut sedang menyisir rambutnya untuk menguncir rambutnya menjadi 2 bagian.
Bianca yang selalu di kuncir rambutnya kalau mau hendak berangkat ke sekolah oleh sang Mama, hari ini tidak Mama, lakukan.
Sang Mama menghela napas panjang.
"Biasanya aku sisir dan aku yang menguncir rambutnya. Sekarang, mulai hari ini, aku tidak melakukannya lagi," Mama hatinya seakan pilu. Ada rasa kasihan dan juga kecewa di wajah sang Mama.
"Cepat, sudah belum. Lama banget!" sang Mama menatap pandangannya ke arah anaknya itu yang terlihat kesusahan ketika sedang menguncir rambutnya sendiri.
Hati seorang Mama mana, yang membiarkan anaknya, dalam kesusahan.
__ADS_1
Mama kemudian berjalan mendekati anaknya tersebut, lalu dia mencoba menyisir rambut sang anak, di sisirnya rambut halus anaknya tersebut. Kemudian oleh sang Mama, di bagi menjadi dua bagian dan Mama mengucirnya.
Seakan bulir putih yang halus akan meluncur dari ujung mata sang Mama, karena dia mengigat masa-masa anaknya sekolah, yang tiap pagi selalu di sisir rambutnya, kemudian Mama, kuncir rambut anaknya itu, menjadi 2 bagian. Sang anak merasa senang jika rambutnya di kuncir oleh sang Mama, karena terlihat rapih.
"Kunciran yang dibuat Mama rapih, nggak seperti yang aku buat tadi, ucap sang anak," tertawa cengengesan
"Ayo, cepat Papamu menunggu di mobil, kelamaan. Entar Papa, marah loh," ucap sang Mama menatap anaknya itu.
Kemudian Bianca mengambil tas selempang miliknya yang kecil lalu dia pakai.
Bianca pun dan sang Mama, berjalan ke arah garasi, dimana sang Papa, sedang menunggunya di sana.
***
Setelah memasuki mobil, pintu di tutup oleh Bianca dengan kasar.
"Pelan dong! kasar banget," ucap sang Papa matanya, mendelik ke arah anaknya itu. Seperti memendam rasa kesal.
Bianca, ketika melihat sang Papa, matanya mendelik, dia merasa sakit hatinya. Anak itu cemberut.
__ADS_1
"Gitu aja, marah!" ucap Bianca.
"Ya, pelan dong, masa kasar gitu, nutup pintunya," jawab sang Papa. Dari nada bicara Papa, terdengar kesal dan menahan emosi.
Kemudian sang Mama memandangi suaminya, nampak muka sang Papa cemberut. Mama hanya menghela napas panjang. Melihat kedua orang yang berselisih tersebut.
Mobil pun berlalu.
Di dalam mobil, mereka terdiam. Semua tak bergeming. Dahulu tidak seperti ini. Bianca anak polos dan riang. Mama dan Papa selalu tertawa lepas di dalam mobil tersebut.
Tangan kanan Bianca, selalu menempel dari arah belakang. Ketika sang Papa, dalam keadaan menyetir. Dan Papa pun mencium punggung tangan anak kesayangannya itu.
Hari ini Papa tidak meminta sang anak untuk melakukannya, begitu pun dengan Bianca, yang merasa risih untuk melakukan hal tersebut karena dia merasa, saat ini dia telah melakukan kesalahan.
Sang Papa menatap sang anak dari arah kaca spion bagian dalam. Nampak cantik dan polos anak belia itu. Wajahnya tanpa polesan bedak, namun polesan Lip Gloss pelembab bibir, seakan menambah fresh di wajah sang anak tersebut.
"Anakku cantik, begitu lugu dan polosnya kau Nak, tapi mengapa kamu mengecewakan Papamu ini," gumam hati sang Papa. Menghela napas panjang.
Melihat sang Papa, terlihat sedang memandangi anaknya, di kaca spion dan terlihat raut mukanya begitu sedih. Sang Mama nampak merasakan hal yang sama seperti sang suami, hatinya pilu tersayat.
__ADS_1