
Tante Astrid memberi kabar.
{"Halo Kak Astri, Bianca sakit tapi menurutku Bianca mau melahirkan, dari pagi dia bolak-balik ke kamar mandi katanya perutnya mulas, dan terlihat mukanya pucat sekali,"} ucap Tante Astrid, ketika menelepon sang Kakak, yaitu Mama dari Bianca.
Terdengar dihinggapi rasa khawatir ketika sang adik menelepon.
Mendengar kabar tersebut dari sang adik, sontak hati Mama Astri gelisah, dia sedang berada di pasar saat itu. Kebetulan keadaan pasar lagi rame dan pembeli di Toko tempat Mama Astri berjualan sedang ramai banyak pembeli.
{"Ya Dek, aku minta tolong bawa saja ke Bidan terdekat, aku akan menelepon suamiku dan nanti segera berangkat ke Bekasi,"} ucap Mama Astrid terdengar panik.
{"Kak Astri sedang di pasar ya, terdengar ramai sekali,"} tanya sang adik.
{"Iya ini di pasar, kebetulan pembeli sedang rame,"} tangan Mama Astri berselancar melayani para pembeli.
{"Yasudah, Kak aku akan bawa Bianca ke Bidan ya, siapa tahu mau melahirkan karena mulasnya sudah gak tahan katanya,"} ucap sang adik
{"Masa baru tujuh bulan, lebih seminggu sudah mau melahirkan,"} ucap Mama Astri seakan tidak percaya dengan kabar tersebut.
{"Nggak tahu juga Kak,} jawab sang adik.
Kemudian sambungan telepon pun di tutup oleh Mama Astri karena dia terlihat sibuk banyak yang beli.
Nampak terlihat dari Toko sebelah yang bernama Bu Dena, dia adalah penjual sembako dan keadaan Tokonya nampak terlihat sedang sepi. Bu Dena pemilik Toko tersebut mendengar ucapan Mama Astri.
"Baru saja nikah, usia kandungannya sudah tujuh bulan," celetuk Bu Dena, terdengar mencibir dan pandangan mata terlihat sinis menatap Mama Astri, yang terlihat sibuk melayani pembeli.
Meskipun sedang ramai pembeli, tapi Mama Astri kupingnya mendengar apa yang di lontarkan oleh Bu Dena, pemilik Toko sebelah itu. Mama hanya menghela napas panjang, dia pun wajahnya nampak menjadi tidak semangat. Mama hanya menghela napas secara perlahan.
"Bu, anaknya mau melahirkan?" tanya sang pembeli. Mama Astri hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis tanpa bicara kepada sang pembeli tersebut.
Setelah Toko mulai tidak ada pembeli, lalu Mama Astri memberikan pesan kepada sang suami, dia mengabarkan kepada suaminya bahwa Bianca, anaknya kemungkinan akan melahirkan di usia kandungan tujuh bulan.
Setelah membaca isi pesan dari sang istri, Papanya Bianca pun ijin pulang dari kantor.
Nampak Mama Astri terlihat sedang membereskan semua dagangan yang terpajang di Toko tersebut, karena keadaannya berantakan tidak tertata rapih setelah tadi para pembeli sibuk memilih barang yang akan dibeli.
"Bu Astri mau tutup ya Tokonya, anaknya mau melahirkan. Anakmu Bianca sekarang sebenarnya tinggal dimana Bu?" tanya Bu Dena, dia terlihat seperti ingin tahu dan dihinggapi rasa penasaran.
"Di rumah Tantenya," jawab Mama Astri.
"Rumah Tantenya dimana?" tanya lagi Bu Dena. Pertanyaan Bu Dena seakan ingin mengetahui keadaan semua.
__ADS_1
"Sekarang Bianca di Bekasi Bu, ya udah Bu, saya mau pergi dulu ya," ucap Mama Astri tersenyum tipis dan setelah menutup Tokonya tersebut, Mama Astri berpamitan kepada Bu Dena dan Mama Astri pun berlalu dari Tokonya itu.
Melihat Mama Astri yang menjawab singkat pertanyaan dirinya, Bu Dena, terlihat menggerutu.
"Tutup saja Tokonya, sudah banyak pembeli ini!" gumamnya terlihat sinis.
Sampai rumah.
Setelah sampai rumah nampak sang suami sudah menunggu kedatangan sang istri.
"Mau pergi jam berapa kita Mah?" tanya Papa ketika sang istri baru saja merebahkan dirinya di kursi .
"Aku mandi bentar Pak, setelah itu kita langsung pergi," jawab sang istri.
kemudian Mama Astri pun berlalu dari hadapan sang suami menuju kamarnya untuk mandi dan membereskan pakaian yang akan dibawa ke Bekasi.
Sejam kemudian nampak Mama Astri dan sang suami sudah rapih, mereka sudah siap untuk pergi ke Kota Bekasi menengok anaknya.
"Mah, usia kandungan Bianca baru mau tujuh bulan lebih, kalau sampai melahirkan di usia sekarang yang masih tujuh bulan berarti nanti anaknya prematur," tanya sang suami ketika di mobil perjalanan menuju Kota Bekasi.
"Melahirkan tujuh bulan itu berarti Bianca kecapean, atau stres. Banyak pikiran bisa mempengaruhi kondisi Ibu hamil," ucap sang Mama mencoba menjelaskan kepada sang suami .
**
Mama Astri menelepon sang adik.
{"Gimana anakku, kondisi kehamilannya Dek?"} tanya mama Astri, kepada Tante Astrid sang adik.
{"Kata Bidan mau melahirkan,"} jawab sang adik terdengar dihinggapi rasa khawatir.
{Kakak posisi sekarang masih dimana?"} sambung sang adik kembali.
{Sebentar lagi mungkin setengah jam lagi sampai,"} jawab sang Kakak.
{"Yasudah hati-hati,"} ucap sang adik.
Sambungan telepon akhinya mereka tutup.
Drett.. Drett... Drett...
__ADS_1
Kemudian sambungan telepon Mama Astri, berbunyi kembali. Nampak terlihat ada yang menelepon, dan disana sang anak, Tyanca menelepon.
{"Halo Mah, aku mau ke Jakarta besok,"} ucapnya, dan Tyanca seperti mendengar sang Mama berada di dalam mobil.
{"Mama ini lagi di dalam mobil ya, mau kemana Mah?"} sambung lagi Tyanca.
{"Ke Bekasi, tadi Tante Astrid memberikan kabar adikmu akan melahirkan,"} jawab sang Mama.
{"Loh usia kandungannya bukannya baru tujuh bulan?"} nampak dari nada suara anaknya itu seakan dihinggapi rasa curiga.
{"Jangan-jangan waktu nikah dia sudah hamil besar, bukan jalan dua bulan."} sambung lagi Tyanca.
{"Enggak ko' pas nikah jalan dua bulan. Sekarang Bianca usia kandungannya tujuh bulan lebih seminggu. Mungkin stres Kak, jadi lahiran cepat,"} sang Mama terdengar membela anak bungsunya tersebut.
{"Yasudah aku akan datang ke Bekasi besok. Kalau ada apa-apa Mama kabari aku ya,"} ucap sang anak. Tyanca pun menutup sambungan teleponnya.
Tiba di Bekasi.
Akhirnya sampai juga di rumah Tante Astrid, kemudian Mama Astri, di antar ke Bidan oleh suami dari Tante Astrid untuk melihat kondisi Bianca. Karena Tante dan Bianca sudah berada di Bidan sejak satu jam yang lalu.
Setelah tiba di Bidan, sang Mama langsung menghampiri kamar pasien milik Bianca. Nampak Bianca sedang merasakan mulas karena mau melahirkan. Sang Mama langsung mencium kening dan memeluk sang anak. Bianca hanya tersenyum tipis dan merasakan mulas yang teramat.
{"Sabar, baca doa. Biar lahirannya lancar,"} ucap sang Mama, sambil mengelus perut Bianca, sang anak.
Kemudian Mama Astri duduk di dekat ranjang yang sedang di tiduri oleh sang anak.
Mama Astri melirik adiknya lalu dia berkata.
"Dek, apa kata Bu Bidan," tanya Mama Astri kepada Tante Astrid.
"Baru pembukaan dua Kak, tapi kata Bianca, mulasnya masih terasa dan barusan sudah di kasih obat," ucap Tante Astrid.
"Sakit Mah, mulas banget," Bianca merengek, sang Mama teringat masa lalu, ketika anaknya merengek nangis dengan menggenggam jemari tangan Mamanya, dan tidak mau di tinggalin dari tempat tidur.
Mama menatap sang anak lekat, lalu tersenyum, dan mata Mama, berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan menetes disana.
"Dulu dia merengek karena sakit demam, dan tidak mau di tinggalin di kamarnya. Sekarang juga sama sakit, tapi sakit karena menahan mulas yang mau melahirkan," gumam hati sang Mama.
Air mata Mama pun seakan tidak tertahan, bulir putih akhinya menetes di pelupuk mata sang Mama**
__ADS_1