
Pandangan pertama.
Mama Astri dan Bianca terlihat berjalan ke arah Kolam Ikan Koi untuk melihat sang Bayi yang dibawa oleh Gerry.
"Enak ya, tempatnya," ucap sang Mama, matanya berselancar mengelilingi area Kafe sekitar.
"Mah, aku ingin jadi karyawan Kafe saja. Aku mau ngelamar ah, buat kerja disini, ke Kak Gerry," ucap Bianca, dari nada bicaranya dia seakan serius.
Terlihat ada perubahan dari muka Bianca, ketika berucap, dia nampak sangat sumringah.
"Ada-ada saja kamu!" ucap sang Mama, mendelik.
"Aku serius Mah, biar aku nggak jenuh kalau kerja walau hanya sebagai pelayan," ucapnya, terdengar merengek. Sang Mama tidak menghiraukan ucapan anaknya tersebut.
"Mah," kembali Bianca berucap.
"Apa sih Nak, kamu masih kecil, ijazah kamu SMP saja tidak tamat," ucap Mama, mencoba meyakinkan anaknya itu.
"Tapi aku sudah ada anak, aku ingin mandiri, cari uang buat anakku.
Sontak mendengar ucapan anaknya yang terdengar ingin mencari uang buat sang buah hati, Mama dihinggapi rasa iba dan terharu.
"Kalau kamu ingin kerja, ya bantu saja jualan di pasar sama Mama, anakmu bisa dibawa untuk di urus bergantian dengan Mama," ucap sang Mama.
"Katanya kalau aku tinggal di Jakarta, Mama belum siap, dan nanti Mama takut kalau aku kena buli teman-teman," Bianca terdengar membela diri.
Mama sontak terdiam mendengar ucapan sang anak tersebut. Mama pun seakan berpikir keras dan membenarkan ucapan sang anak. Jika Bianca berada di Jakarta nanti kena buli teman dan tetangga, apalagi teman Mama yang berada di pasar mereka selalu mojokin Mama soal Bianca, sampai saat ini.
"Ya, nanti Mama bilang ke Kakakmu!" ucap sang Mama.
Tiba di belakang Kafe.
Nampak Angga sedang menggendong Bayinya Bianca, dia terlihat sangat asik ketika menggendong Bayi tersebut.
Mama nampak tersipu malu ketika sang Cucu di gendong oleh teman menantunya tersebut.
"Sama siapa itu, di gendong Nak," ucap Mama sambil tersenyum ke sang Bayi.
Nampak Bianca dan Angga saling berpandangan.
"Mah, ini relasi bisnis Gerry," ucap Gerry, sambil melirik ke arah Andri dan Angga.
Angga dan Andri tersenyum ramah dan mencium punggung tangan Mama Astri.
Mama tersenyum dan mencoba mengambil Bayinya Bianca, dari dekapan Angga.
"Ini adiknya istriku," ucap Gerry, ketika pandangan Angga melirik terus ke arah Bianca.
"Ibunya Bayi ini masih kecil, atau mungkin awet muda mukanya?" gumam hati Angga.
Angga dihinggapi rasa penasaran karena ketika melihat keadaan Bianca, nampak masih belia tapi sudah mempunyai Bayi.
Begitupun dengan hatinya Bianca, entah mengapa ketika beradu pandang, di kedua bola mata Angga, seakan menyimpan rasa nyaman ketika menatapnya.
"Angga.." ucapnya, sambil mengulurkan tangan kepada Bianca.
__ADS_1
Bianca pun melakukan hal yang sama, mengulurkan tangannya kepada Angga.
Melihat Bianca dan Angga begitu tersipu malu satu sama lain, lalu sang Mama seperti dihinggapi rasa takut. Takut jika sang anak Bianca jatuh cinta lagi, karena baru saja dia mengalami kegagalan dalam masalah percintaan bersama Rama.
"Nak, ayo, Kakakmu sudah menunggu!" ucap sang Mama, seakan mengejutkan hati Bianca dan Angga.
Angga dan Bianca pun tersipu malu dan mereka pun sama-sama terlihat salah tingkah.
Gerry seakan tahu isi hati dari sang mertua tersebut, kemudian dia mengajak kedua temannya untuk memasuki raungan yang selalu di pakai untuk diskusi.
"Ayo, kita kembali membicarakan menu baru yang akan kita produksi di Kafe ini," ucap Gerry, sambil berlalu dari hadapan mereka.
Andri dan Angga pun mengikuti Gerry dari arah belakang.
Nampak Mama Astri dan Bianca pun berlalu dari tempat Kolam Ikan Koi tersebut dan kembali ke meja semula, dimana sang suami dan Tyanca berada disana.
"Kak, temannya Gerry, yang bernama Angga itu orang mana?" tanya Mama berbisik pelan ke telinga Tyanca. Tatkala Mama sudah duduk dekat dengan Tyanca.
"Orang Jakarta, memangnya kenapa?" tanya Tyanca.
"Mama perasaan pernah lihat ya, tapi dimana," ucap sang Mama, seperti sedang memikirkan sosok Angga.
"Aku nggak terlalu bertanya lebih jauh Mah, pada Angga, dia di Jakartanya tinggal dimana," ucap Tyanca.
"Kenapa sih Mah, Kepo!" celetuk Tyanca, tertawa terkekeh.
"Bukan gitu Kak, tadi loh, adikmu dan Angga kelihatannya mereka saling pandang, terus..!" Mama tidak melanjutkan ucapannya, karena Bianca menatap lekat kepada sang Mama.
Tyanca pun terbahak tertawa.
"Takut kejadian seperti kemarin kalau Bianca mengenal laki-laki," ucap Tyanca, berbisik pelan lekat ke kuping sang Mama.
Tiba-tiba Gerry datang.
"Kak, aku pengen kerja disini," ucap Bianca begitu terdengar polos.
Mata Tyanca terbelalak tatkala mendengar ucapan sang adik tersebut.
"Apa, kamu bilang, kerja!" ucap Tyanca, seakan menahan tawa.
"Memangnya kenapa?" ucap Bianca, terlihat cuek.
"Ngurus anak saja belum benar! hiks.." ucap sang Kakak.
"Mih.." ucap Gerry melotot.
Bianca terlihat tertunduk dan nampak kesal dengan ejekan sang Kakak.
"Nanti ya, Kakak pikirkan," ucap Gerry menatap Bianca dan tersenyum ramah.
__ADS_1
Gerry tidak mau mengecewakan adik dari istrinya tersebut.
Pikiran Mama pun berselancar, seakan jauh. Mama berpikir mungkinkah Bianca mau bekerja karena merasa malu dengan keadaannya yang tidak bisa memberi masalah finansial, apalagi dia sekarang ada anak yang harus kali-kali diberikan susu formula, dan sebentar lagi jika usia anak sudah 6 bulan kebutuhan untuk yang lain seperti makan pasti akan bertambah.
Di belakang Kafe.
Nampak Angga menatap Bianca dari jauh, matanya seakan tidak bisa berkedip sedikitpun. Bianca seakan memesona dirinya.
"Kamu kayak yang suka sama Bianca," ejek Andri kepada Angga sambil tertawa terkekeh.
Angga tidak bereaksi sedikitpun pandangan tetap ke arah Bianca, yang sedang membetulkan kuncir rambutnya.
"Hai.." Andri menepuk pundak Angga, karena Angga tidak bergeming sedikitpun.
"Apa, sih," ucap Angga terdengar gugup.
"Iya, aku tadi nanya, kamu sepertinya menaruh hati kepada Bianca. Hehehe." ucap Andri.
"Nggak lah, aku cuma senang saja lihatnya, lucu. imut-imut. Mungkin usianya masih muda ya," ucap Angga.
"Ya, dia baru kelas 2 SMP, usianya masih belia," ucap Andri.
Sontak mata Angga terbelalak mendengar ucapan Andri, bahwa Bianca itu masih kelas 2 SMP tapi sudah mempunyai Bayi.
"Cuma aku heran saja sih, wajah Bayinya kenapa mirip persis anaknya Amel. Tahu nggak wajahnya seperti siapa? seperti Rama!" ucap Angga, sambil menatap Bayinya Bianca, dari kejauhan yang sedang di gendong oleh Papanya Bianca.
"Oh, ya. Kamu kapan pulang ke Jakarta?" tanya Andri kembali.
"Mungkin Minggu depan, dan aku ingin mengajak Amel berlibur kesini, sehari saja. Pulangnya dia bisa pakai Bis," ucap Angga.
Angga berharap Amel kerja saja di Kafe tersebut, biar Bayinya tinggal bersama Mamanya di Jakarta. Jika Amel bekerja otomatis tidak akan menyusahkan kedua orang tuanya untuk membeli susu formula.
Bersambung...
__ADS_1