
Terlihat Bianca nampak cantik dan anggun ketika memakai Celana Kulot Jeans berwarna hitam, yang dipadu padankan dengan Baju Kemeja berwarna pink muda. Dia memakai bedak tipis dan polesan bibir dengan Lip Gloss terlihat lembut dan lembab.
"Anggun sekali anak Mama," Mama Astri menatap sang Anak penuh lekat.
Bianca hanya tersenyum tipis ketika sang Mama, memujinya.
"Ayo, Mah. Aku udah siap," ucapnya.
Mereka pun memesan mobil online menuju Mall. Tidak butuh lama untuk menunggu lama mobil online. 10 menit kemudian, sang pengemudi mobil online sudah membunyikan klakson di depan halaman rumah.
Bianca dan Mama Astri yang menggendong Anaknya Bianca, langsung menaiki Mobil
kendaraan beroda 4. Sang supir pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiba di Mall.
Setelah tiba di tujuan nampak anaknya Bianca terlihat tersenyum lebar. Bianca dan sang Mama tatkala melihat tingkah polah anak tersebut sontak tertawa. Karena anak kecil itu seakan mengerti, dia sedang berada di tempat keramaian.
"Mah, mungkin dalam hati si Neng berkata. (Hore, Aku ke Mall)." ucap Bianca terdengar lucu. Sang Mama pun kemudian tertawa terbahak mendengar ucapan anaknya itu.
"Kita kemana dulu Mah," ucap Bianca, sambil memegang perutnya yang terasa lapar.
"Kita makan dulu aja, kamu lapar kan," ucap sang Mama seakan mengejek sang anak yang terlihat lelah menahan haus dan lapar.
Kemudian mereka ke Restoran Steak. Lalu mereka memesan beberapa makanan dan minuman. Sedangkan anaknya Bianca, matanya masih berselancar mengelilingi tempat sekitar, sang Nenek terus saja mengoceh membawa main anak tersebut.
Tak lama kemudian pesanan pun datang, mereka pun menyantap makanan yang telah datang dengan disajikan begitu hangat seakan menggugah selera.
"Mama senang sekali, kamu makannya lahap dan mukamu tampak ceria," ucap sang Mama menatap lekat kepada sang anak.
Acara makan pun telah selesai, kemudian mereka langsung menuju tempat fashion, karena mau membeli baju.
"Mah, yang ini atau.. Hehehe," Bianca memilih dua baju yang dia suka. Dia ingin sekali membeli baju 2 pasang, tapi dia tidak berani bicara sama sang Mama.
"Ambil saja dua-duanya Nak, nggak apa-apa," ucap sang Mama mengusap lembut rambut sang anak.
•••
Nampak wajah Bianca tersenyum sumringah, Mama mengelus dada. Kali ini mengelus dada karena rasa bahagia. Mama tidak bisa ungkapkan rasa bahagia tersebut dengan kata-kata, karena sang anak begitu tahu diri, tidak memanfaatkan sesuatu, dia sangat dewasa cara menghargai Mamanya.
Tidak seperti dulu segala keinginan Bianca, selalu mau di turutin.
Mama matanya berkaca-kaca dan mengelus dada teringat dulu, karena ada sesak dalam diri. Rasa sakitnya ketika sang anak hamil di usia belia dan Mama merasa sangat iba.
•••
"Mah, kenapa," Bianca mengusap lembut pundak sang Mama.
"Ng-nggak, apa-apa, Nak," Mama langsung dengan cepat mengusap air mata yang menetes di ujung matanya.
__ADS_1
Mama berlalu kemudian dia mendekati baju anak yang tertata rapi di rak.
"Nih, buat si Neng," Mama memilih 5 pasang baju untuk sang Cucu.
"Mah, kebanyakan, jangan. Nanti uang Mama habis," ucap Bianca seakan menolak pemberian sang Mama.
"Nggak apa-apa, nggak tiap hari kan, Mama ngasih baju sama kamu dan Cucunya Mama," Mama tersenyum.
"Nanti uang Mama habis, itu kan buat modal dagang," sambung lagi Bianca.
"Sudah, kamu jangan memikirkan hal itu, Mama ikhlas ko, kebetulan Mama lagi ada sedikit rezeki," Jawabnya.
Kemudian Mama berlalu ke kasir untuk membayar barang belanjaan. Sesudah itu mereka ke Super Market. Nampak Mama membeli banyak makanan snack untuk Bianca dan Mama juga berpikir di rumah ada keluarga Tante Astrid, dan nanti Tyanca bersama keluarga kecilnya datang, jadi untuk persediaan Mama beli.
Setelah selesai belanja dan nampak puas, mereka pun pulang, memesan mobil online kembali. Nampak Anaknya Bianca tertidur pulas di gendongan sang Nenek.
Di dalam mobil nampak Bianca bercerita selama dia tinggal di Bekasi dengan sang Tante. Dia di ajarkan masak dan sekarang dia sudah pintar masak.
"Bianca ingin buka usaha kuliner Mah, dan nanti ada yang bantu buat masaknya," ucap Bianca berharap impiannya buka usaha terwujud.
"Benar kamu ingin buka usaha kuliner," ucap sang Mama memegang erat jemari sang anak.
"Iya, Mah. Tapi bingung mau buka usaha dimana ya," ucapnya.
"Kalau catering gimana Mah, online saja. Kan kalau ada pegawai enak. Kita tinggal bantu saja dia yang mengerjakan full. Kan, Bianca ada anak jadi repot kalau sendiri," ucapnya menggebu.
•••
Dalam pikir Mama terharu karena anaknya pikirannya sudah dewasa, mungkin dia berpikir tidak mau menyusahkan orang tua lagi dan dia ingin mandiri ingin menghasilkan uang sendiri.
"Nanti kita bicarakan semua ya, dengan keluarga jalan keluarnya," sambung sang Mama kembali.
"Oh, ya, Mah. Kalau Amel yang bantu gimana. Aku berprasangka dia suaminya sibuk atau nggak ada ya, mungkin dia mau kalau nanti kerjasama sama aku," ucapnya nampak menatap kearah sang Mama.
"Jangan ngaco ah, masa Amel mau sih, terus jangan berpikiran jauh kalau suami Amel itu nggak ada. Siapa tahu dia suaminya sedang keluar kota sibuk," jawab sang Mama.
_____
Mama Astri nampak sedang berpikir serius.
"Iya juga ya, kenapa kalau di tanya suaminya, Amel seperti menyembunyikan sesuatu. Aku pun curiga. Tapi entah kenapa terhadap Amel, aku merasa iba dan selalu ingat," gumam hati Mama Astri memikirkan sosok Amel.
_____
Setengah jam kemudian.
Mobil pun berhenti tepat di depan rumah.
"Mah, Mah...bangun," Bianca menepuk lembut badan sang Mama. Karena sang Mama, nampak tertidur pulas.
Sang Mama membuka matanya secara perlahan lalu mulai terbuka dengan lebar.
"Dimana ini.." Mama terkejut karena mobilnya nampak berhenti dan anaknya sedang menatapnya lekat.
"Sudah sampai Mah," ucap Amel tersenyum.
__ADS_1
Sang Mama pun merogoh dompet di dalam tasnya kemudian memberikan uang satu lembar berwarna merah.
__________
"Pak, kembaliannya ambil saja," ucap sang Mama kepada Supir online.
{"Jazakumullah Khairan Katsiran,"}
semoga Allah memberikan kebaikan untukmu yang banyak. Ucap sang supir online.
__________
Sang Mama dan Bianca pun turun dari dalam mobil, nampak diluar teras Tante Astrid beserta suami dan anak-anaknya sedang duduk. Terlihat pula anak-anak Tante Astrid sedang menunggu kedatangan anaknya Bianca karena mereka sudah sangat dekat sekali kepada Bianca dan anaknya.
"Kakak.." teriak kedua anak-anak dari Tante Astrid menjemput kedatangan Bianca. Mereka memeluk Bianca dengan erat.
Tiba-tiba suara mobil terdengar akan memasuki halaman rumah. Nampak keluarga kecil Tyanca datang. Terlihat di dalam mobil anaknya dari Tyanca yang bernama Mischa, membuka kaca jendela mobil dan Mischa tersenyum lebar.
"Nenekkk..." teriaknya memanggil Mama Astri.
Sontak Mama Astri tersenyum bahagia tatkala mendengar suara sang Cucu. Bianca pun nampak terlihat menampakkan senyum bahagia tatkala melihat Mischa yang sangat dekat dengannya.
Setelah mobil memasuki halaman garasi lalu Tyanca keluar dari dalam mobil sambil menggendong sang anak.
•••
Mischa nampak turun dari gendongan Mamanya dan tersenyum kepada Bianca.
Bianca pun melambaikan tangannya kepada Mischa, kemudian melebarkan kedua tangannya, lalu memeluk erat Mischa.
"Sayang, Kak Bianca kangen banget," Bianca mencium gemas Mischa.
Nampak Tyanca dan sang suami menyalami semua orang yang berada disana.
"Sehat kamu Dek," Tyanca menatap lekat kepada Bianca, yang selama ini sang adik selalu jadi sasaran amarahnya.
"Sehat Kak, Alhamdulillah," Bianca memeluk sang Kakak.
Nampak Tyanca matanya berkaca-kaca, dia seakan dihinggapi rasa bersalah selama ini selalu mengejek sang adik.
Dalam hati Bianca dihinggapi rasa nyaman dan tentram tatkala di peluk sang kakak.
"Maafkan, kakak ya, Sayang," bisik Tyanca, lekat ke kuping sang adik.
Bersambung...
__ADS_1