Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 138 Bianca pilu


__ADS_3

Ketika melihat sang anak meneteskan air mata, Mama Astri pun dihinggapi rasa penasaran dan khawatir dengan keadaan sang anak yang terlihat sedih.


"Kenapa Nak? kamu menangis, kamu terlihat sedih sebenarnya ada apa?" tanya sang Mama dengan mengusap air mata yang tengah menetes di hamparan pipi Bianca.


"Apa benar Papa menduakan Mama!?" tanya Bianca dengan tangisan tersedu.


Sang Mama nampak terkejut dengan pertanyaan sang anak.


"Maksud kamu apa Nak!? tanya sang Mama dan mencoba tersenyum walau hatinya dihinggapi rasa tidak karuan.


"Mama jangan pura-pura tidak paham dengan ucapan ku, Mah!" tanya Bianca kembali dengan wajah serius.


Sang Mama nampak terlihat terdiam dengan dada yang bergemuruh karena dia berpikir bahwa Bianca pasti sudah tahu tentang perselingkuhan sang suami atau Papanya Bianca.


"Ka-kamu, tahu dari mana Nak!?" tanya Mama terlihat gugup dan nampak terlihat dari gestur tubuh sang Mama nampak salah tingkah.


"Tidak penting tahu dari mana yang penting sekarang Mama harus jujur benar apa tidak!?"


Bianca seakan menunggu ucapan langsung dari mulut sang Mama.


____


Sang Mama pun seakan tidak mau untuk berkata jujur hanya tetesan bulir putih yang menetes di ekor matanya. Mungkin itulah jawaban yang mampu Mama berikan tidak dengan rangkaian kata.


"Benar berarti Mah,," ucap kembali Bianca dengan suara seraknya.


Sang Mama hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangan menunduk seakan tidak berani menatap kepada anaknya yang kini sedang dihinggapi rasa kaget.


"Siapakah wanita yang menganggu rumah tangga Papa? Apa dia teman kerja Papa atau siapa Mah,,!" Bianca terus memaksa sang Mama agar berkata jujur kepada dirinya.


"Ka- kamu kenal dengan wanita itu Bianca!" ucap sang Mama lirih dan terdengar terbata-bata ketika berucap.


____


Nampak Bianca mengernyitkan dahi seperti dihinggapi rasa penasaran yang teramat dalam, karena baru suja sang Mama mengatakan bahwa Bianca pun

__ADS_1


kenal terhadap sosok wanita yang pernah menjadi istri Papanya itu.


"Siapa,,siapa Mah!!?" Bianca menatap lekat kepada sang Mama.


•••


Sang Mama memandangi anaknya itu dengan penuh kasih sayang yang tulus di usapnya lembut rambut sang anak dengan lembut, air mata sang Mama kini menghujani hamparan pipinya, dia seakan tidak tega untuk berbicara bahwa sebenarnya, wanita atau pelaku utama yang masuk ke dalam hubungan keluarga harmonisnya adalah wanita yang selama ini dibanggakan oleh Bianca sendiri, wanita sholehah, dewasa dan sangat menyayangi dirinya yang tidak lain adalah Azizah.


•••


Sang Mama terlihat menghembuskan napas kasar sebelum dia bercerita.


"Azizah,,!!" ucapnya.


Nampak Bianca terdiam seakan belum memahami dari ucapan sang Mama tersebut. Bianca menyangka ada nama Azizah lain, selain Azizah guru spiritualnya yang hinggap kepada sang Papa.


"Azizah,,, Azizah mana Mah? Dia teman kantornya Papa!?" tanya Bianca dihinggapi rasa penasaran.


_____


Bianca pun nampak berpikir otaknya dan terlihat sedang berpikir. Tadi sang Mama berucap Bianca kenal dengan wanita tersebut dan ketika sang Mama kembali lagi berucap bahwa wanita tersebut adalah Azizah, sontak Bianca pun dihinggapi rasa terkejut dia berpikir bahwa sosok Azizah yang dimaksud oleh namanya tersebut mungkin Azizah yang kini tengah dekat dengannya yaitu Azizah guru spiritualnya.


_____


"Azizah yang pernah datang ke rumah ini bersama kamu," ucap sang Mama dengan bibir bergetar ketika berucap.


Degh..


Sontak Bianca dihinggapi rasa terkejut dan hatinya seakan hancur karena Azizah yang dimaksud adalah Azizah yang sudah dianggap seperti Ibunya sendiri, dan Bianca pun seakan tidak percaya apa yang sudah terucap dari bibir sang Mama.


"Bianca tidak percaya Mah, apa benar yang di ucapkan oleh Mama!? Jawab Mah,,, jawab jujur terhadap Bianca." ucap Bianca dengan dada yang begitu sesak ketika berucap seperti ada batu besar yang menghantam dirinya. Air mata Bianca pun menetes bercucuran dan pikirannya begitu tidak karuan.


"Iya,, Nak, Mama pun tidak percaya dengan semua ini!" ucap sang Mama.


___

__ADS_1


Bianca berpikir sosok Azizah yang begitu lembut dan rasa sayang, perhatian yang sudah diberikan oleh Azizah terhadap Bianca mungkin ada alasannya karena dia adalah istri dari Papanya. Pikiran Bianca tidak karuan dan badannya pun terasa lemah lunglai.


Bianca ingin merehatkan pikirannya sejenak karena kepalanya begitu pusing, dan seakan badannya tidak ada tenaga untuk bangkit dari tempat duduknya.


Rasa kesal sebenarnya hinggap menyelimuti di dalam hati anak itu namun semua sudah terjadi, mau gimana lagi.


"Aku harus menghubungkan Bu Azizah!" gumam hatinya. Bianca pun menyeret langkah kakinya menuju kamar.


"Nak, mau kemana?" tanya sang Mama.


Bianca tidak berucap hanya suara isak tangis kecil, Bianca coba tahan untuk tidak menangis di depan sang Mama yang mampu di dengar oleh sang Mama.


___


Tiba di dalam kamar.


Dia kunci pintu kamar lalu dia ambil ponselnya yang berada di atas nakas.


Dia pun memijit nomor telepon untuk mencoba menghubungi Azizah, entah apa yang akan dikatakan oleh Bianca karena hatinya pun sedang tidak karuan.


Setelah Bianca mencoba menghubungi Azizah beberapa kali namun tidak ada jawaban karena ponsel Azizah nampak tidak aktif, akhirnya Bianca pun memberikan sebuah pesan.


{"Assalamu'alaikum,,,Bu Azizah yang selalu dihormati oleh Bianca dan saya pun sudah menganggap Ibu saya sendiri kepada Ibu Azizah. Saya begitu sayang kepada Bu Azizah karena Ibu selalu mengajarkan kebaikan kepada saya dan arti kehidupan seperti apa.Tapi hari ini saya kecewa alasannya karena saya dapat kabar dari Mamaku bahwa Bu Azizah telah menikah dengan Papaku. Sungguh itu diluar dugaan karena saya tidak menyangka dengan semuanya. Saya hanya ingin bertanya sama Ibu. Apakah niat ibu untuk menikah dengan Papa saya? Dan Ibu tidak berpikir kedepannya akan seperti apa jika Ibu dengan berani menikah dengan lelaki yang sudah mempunyai istri!? Wanita itu akan merasa sakit hatinya dan kecewa. Nah, itulah sekarang yang dirasakan oleh Mamaku!" tulis pesan Bianca kepada Azizah.


Nampak Bianca menghela napas panjang bayangan Azizah guru spiritualnya yang baik dan alim hinggap nyata di benaknya. Saat datang kesini pun tutur kata dia sungguh terpuji yang mengakibatkan ada rasa nyaman dari sang Mama.


___


Tok..Tok...Tok..


"Bianca, maafkan Mama dan Papamu ya, kalau buat hatimu terluka!" ucap sang Mama dengan mengetuk pintu kamar.


"Kasihan dia, pasti hatinya sangat terluka, dan aku sebagai istri tidak bisa bertindak apapun terhadap suami. Aku bukan wanita tegas dan pandai memarahi suami beda seperti anakku Tyanca. Andai saja sikapku seperti anakku yang besar yaitu Tyanca, mungkin aku sudah menggugat cerai suamiku!" ucap sang Mama pikirannya menerawang jauh.


•••

__ADS_1


Sang Mama pun kembali berlalu dari depan pintu menuju kursi sofanya, lalu dia rebahkan badannya secara kasar dengan membuang napas kasar. Sang Mama memejamkan matanya bayangan Bianca yang di duakan oleh sang menantu yaitu Rama, kian nyata terlihat dan itu mengakibatkan rasa sakit yang teramat dari dalam hati Bianca, begitupun saat ini ketika ada wanita lain yang hinggap kepada dirinya rasa sakit kian hinggap menyelimuti hati dan pikirannya.


Bersambung...


__ADS_2