Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 58 Amel Terkejut


__ADS_3

Tiba di rumah Rama.


Setelah tiba di rumah Rama, Amel pun nampak terdiam sejenak karena keadaan rumah sangat sepi sekali, dalam hati Amel di hinggapi rasa penasaran. Mungkinkah tidak ada orang di rumah ini.


Sepeda Motor yang dia kendarai, Amel parkiran di halaman rumah dan pintu garasi pun tidak di kunci. Kemudian Amel menyeret langkah kakinya ke depan pintu rumah Rama.


Tokk...Tokk...Tokk..


"Assalamualaikum," Amel nampak memberikan salam kepada sang pemilik rumah. Kemudian dia mengintip dari arah jendela dekat pintu. Nampak terlihat tidak ada orang di rumah tersebut.


Kemudian dia duduk di teras rumah, peluh pun bercucuran karena cuaca diluar sangat panas menyengat, dan perjalanan dari rumahnya ke rumah Rama, lumayan jauh yaitu memakan waktu sekitar setengah jam lebih.


Amel lalu mencoba menelepon Tante Fani, begitu lama tidak di angkat telepon oleh Tante Fani. Kemudian dia mencoba menelepon Ibunya Rama, tapi nampak tidak di angkat juga. Akhirnya Amel pun mencoba menelepon Bapaknya Rama.



Setelah tersambung.


{"Halo, siapa ini?"} terdengar suara seorang wanita yang mengangkat sambungan telepon selularnya dari ponsel Bapaknya Rama.



Amel nampak terkejut karena yang mengangkat telepon tersebut bukan Ibunya Rama karena Amel tahu persis suara dari Ibunya Rama tersebut.



"Suara siapa ini." gumam hati Amel, dihinggapi rasa penasaran dan terkejut.



{"Halo, ini siapa!} suara wanita itu kembali terdengar lekat di kuping Amel.


Terdengar sangat asing di telinganya Amel.


Suara wanita tersebut tidak lain adalah istri siri dari Bapak mertuanya Rama yaitu Rani.



{"Ini siapa ya?"} tanya lagi Amel.


Amel berpikir dia salah memijit nomor yang mengakibatkan salah sambung.



{"Saya istri dari pemilik ponsel ini lah, kamu siapa?"} Rani terdengar sinis ketika berucap.


Sontak Amel terkejut, dadanya berdegup kencang tidak karuan. Dia yakin mungkin dia salah sambung ketika tadi menekan nomor telepon. Spontan Amel menutup sambungan teleponnya.


Amel menghela napas panjang.

__ADS_1


"Aku tadi salah menekan nomor telepon," gumam hati Amel, kemudian dia kembali menekan kembali nomor telepon dan langsung dia hubungkan ke nomor Bapaknya Rama. Tidak cukup lama untuk menunggu sambungan telepon tersambung.


{"Halllooo"} kembali suara wanita tersebut yang angkat.


Karena dihinggapi rasa penasaran lalu Amel menjawab.


{"Apa benar ini nomor ponselnya, Bapaknya Rama?"} Amel dengan nada lembut agar sang penerima telepon tidak marah.


{"Iya betul, ini siapa ya?} jawabnya.


{"Saya..."} Amel seakan tidak bisa melanjutkan ucapannya karena terdengar dari arah belakang wanita tersebut, Bapaknya Rama berbicara.


____


"Siapa yang menelepon sayang,"


ucap Bapaknya Rama, terdengar mesra.


_____


Sontak ponsel yang lekat di kuping Amel dia matikan karena dia tidak menyangka ketika mendengar suara Bapaknya Rama, dengan memanggil kata sayang kepada wanita tersebut.


Amel termangu dia seakan tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.


Tiba-tiba Tante Fani datang dan tersenyum lebar sambil memeluk erat Amel.


Dimana dia mendengar sang mertua dengan menyebut kata sayang kepada seorang wanita selain Ibu mertuanya.


"Sehat kamu, Amel," Tante Fani menatap Amel. Kemudian Tante Fani merogoh kunci dari saku celananya, kemudian dia membuka pintu, dan pintu yang tadinya tertutup rapat sekarang nampak pintu terbuka dengan lebar.


"Se..sehat Tante," ucapnya terbata-bata.


"Pada kemana Tante, ko' sepi," sambung Amel kembali.


"Ibu lagi ke Rumah Sakit, mengontrol kesehatan Rama. Oh iya, kamu tidak tahu ya, Rama kecelakaan minggu kemarin lalu dia masuk Rumah Sakit," ucap Tante Fani.


"Rama kecelakaan!" sontak matanya terbelalak dan dia seakan tidak percaya.


"Iya, tapi sekarang keadaannya sudah membaik, Alhamdulillah," Tante Fani terlihat mencoba menenangkan hati Amel yang terlihat khawatir.


~~


Amel pun terlihat tidak dihinggapi rasa khawatir lagi ketika mendengar kabar bahwa Rama sudah kembali pulih keadaannya.


Amel teringat ketika tadi dia menelepon Bapaknya Rama lalu yang mengangkat telepon adalah seorang wanita. Amel pun dihinggapi rasa penasaran kemudian dia menanyakan wanita tersebut kepada Tante Fani perihal wanita tersebut.



"Tante maaf, aku mau nanya." dia memandangi Tante Fani dan mencoba mengatur napasnya.

__ADS_1



"Tanya apa Amel," ucap sang Tante.



"Bapaknya Rama sekarang kemana?" tanya Amel.



"Sedang keluar. Oh, iya, gimana kabar anakmu sehat?" ucap Tante Fani tidak banyak kata seakan dia tidak mau membicarakan keadaan Bapaknya Rama, dan mengalihkan pembicaraan.



"Alhamdulillah sehat, Tante tadi aku menelepon Bapaknya Rama tapi yang mengangkat seorang wanita, dan tadi terdengar jelas Bapaknya Rama memanggil nama sayang kepada wanita tersebut. Wanita tersebut bilang bahwa dia itu adalah istrinya. Apa benar yang di ucapkan wanita tersebut," ucap Amel pandangan lekat ke arah Tante Fani. Dia seakan menunggu jawaban dengan kebenaran berita tersebut.


Tante Fani membuang napas kasar.


Karena terlanjur semua sudah diketahui oleh Amel, akhinya Tante Fani pun mengatakan semuanya apa yang sebenarnya terjadi yang menimpa ke keluarganya tersebut.


Mulai dari Rama kecelakaan, dan tertabrak oleh Rani istri siri dari Rama.


Tante Rama menceritakan semua dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi istri siri Bapaknya Rama menawarkan sejumlah uang sebesar 100 juta dengan pilihan bisa menceraikan Ibunya Rama?" tanya Amel terlihat kaget.


"Iya tapi sampai sekarang belum ada kepastian, Bapaknya malah kabur tidak kembali lagi," ucap sang Tante


"Ya Tante maksud tujuan aku kesini untuk menagih utang ke Rama yang 100 juta. Aku pusing Tante, karena di tagih terus sama Bapak. Dia uring-uringan terus," ucap Amel lirih dan pandangannya menunduk.


"Tante sedang menunggu pembayaran uang dari teman Tante. Rumah Tante yang di Bandung telah Tante jual, seharga 300 juta, dan uang tersebut sisanya buat modal usaha Tante. Rama juga nanti biar buka usaha saja dengan kamu biar tidak tidak nganggur," ucap sang Tante. Begitu peduli sang Tante terhadap Rama sampai merelakan Rumah yang di Bandung akan di jual.


"Tante, Rama jadi ngerepotin Tante ya," ucap Amel, seakan malu kepada sang Tante.


"Nggak apa-apa, dulu Tante selalu di bantu sama Ibunya Rama, dan ini saat yang tepat untuk membalas semua kebaikan sang Kakak," ucap Tante Fani.


____


Tante Fani teringat sang Kakak begitu peduli terhadap dirinya. Dulu Ibunya Rama keadaan berlebih dan Tante Fani waktu duku keadaan finansial sedang terpuruk. Tapi sang Kakak begitu peduli dan sayang kepada sang adik, sampai Tante Fani diberikan uang untuk modal usaha.


Akhirnya Tante Fani ada usaha yang di urus oleh temannya di Bandung. Dari hasil keuntungan dari sana Tante Fani bisa dapat uang berlebih dan mencukupi kebutuhan sang Kakek sekarang ini.



Suara bunyi mobil terdengar dari arah luar kemudian Tante Fani dan Amel berbarengan melirik ke arah luar. Nampak Rama keluar dari mobil online bersama sang Ibu.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2