
Di sebuah Kafe.
Rangga menatap lekat wajah Fani (Tantenya Rama) yang terlihat anggun, Rangga terlihat sedang dilanda asmara oleh sosok Fani.
Tapi Tante Fani seakan terlihat cuek, ketika Rangga mencoba menggodanya dan memberikan perhatian kecil.
"Fan, kalau punya sakit maag, jangan telat makan loh, nanti tambah kambuh sakitnya," ucap Rangga, seakan peduli terhadap Fani.
Padahal dia baru ketiga kalinya bertemu dengan Fani.
"Kamu pandai merayu, tahu dari mana aku punya sakit maag," ucap Fani tersipu malu.
"Aku sedikit tahu dari Rama, tentang kamu Fan.Hehehe.." ucap Rangga tertawa terkekeh.
"Maksud kamu apa? Ingin mengetahui semua tentang kehidupan dan kebiasaan aku," Tante Fani terlihat penasaran.
"Masa kamu tidak ngerti sih," ucap Rangga.
__
"Ternyata ada sosok wanita yang lebih dari
Rani, aku beruntung jika aku bisa
mendapatkan Fani," gumam hatinya.
__
Rangga menatap lekat bola mata Tante Fani.
Terlihat Tante Fani salah tingkah.
"Kita lanjutkan ke pokok masalah utama, tentang bisnis kita," Tante Fani terlihat gugup.
"Fan, sudah cukup kita bahas masalah bisnis kita, sekarang aku ingin membicarakan masalah pribadi," ucapnya.
"Maksud kamu apa?" Tante Fani terlihat dihinggapi rasa penasaran.
"Aku mencintaimu," ucapnya lirih, tatapan mata Rangga seakan tembus ke jantungnya, terasa dag-dig-dug berdetak begitu cepat.
Rangga menggenggam erat jemari tangan Tante Fani. Dengan cepat Tante Fani melepaskannya.
"Jangan macam-macam, kita datang kesini untuk urusan bisnis, jangan ada ikatan asmara. Aku ingin fokus kepada bisnis kita," ucap Tante Fani.
Sebenarnya dalam hati Tante Fani merasa ada perhatian khusus dari sosok Rangga beberapa hari ini. Namun Tante Fani tidak begitu saja menerima Rangga, untuk menjadi kekasihnya. Karena baru seumur jagung dia mengenal sosok Rangga.
"Justru kalau kita satukan hubungan bisnis dengan hubungan asmara, kita menjadi semangat untuk menjalankan bisnisnya, Fan," Rangga mencoba meyakinkan Tante Fani.
"Tidak ada hubungannya. Hahaha.." Tante Fani tertawa tertawa terbahak.
"Tidak lucu Fan!" Rangga terlihat kesal, raut mukanya serius.
Tante Fani pun dihinggapi rasa tanya. "Apa mungkin Rangga, ingin membina hubungan yang lebih serius?"
___
Rangga menghela napas panjang.
Dia seakan tidak tahu harus gimana lagi untuk meyakinkan hati Tante Fani. Dia memang lelaki pemarah dan dia cinta banget sama Rani.
Tapi entah mengapa ketika menemukan sosok Fani yang terlihat begitu cerdas ketika berbicara, hati Rangga seakan luluh untuk mencintainya, dan bisa berpaling untuk melupakan sosok Rani.
__ADS_1
Rangga pun sekarang dalam berbicara sangat santun, dia sangat menjaga ucapnya kepada Tante Fani, beda ketika menjalin dengan Rani dulu, dia cepat tersulut emosi.
Mungkin sifat Rani mantannya yang dari segi bicara kasar berpengaruh kepada sifat Rangga, dan emosi Rangga yang terlihat berapi- api karena sifat Rani, yang selalu membangkang jadi amarah Rangga tersulut.
Rani yang tiba-tiba meninggalkan dirinya, membuat dia sakit hati dan Rangga pun seakan ingin membalaskan dendamnya.
Kepada Rani dan suaminya.
"Fan, aku sebenarnya mau cerita masa laluku, boleh tidak? Itu pun kalau kamu tidak keberatan sih," ucap Rangga. Dia berharap Tante Fani bisa mendengarkan ceritanya.
Tanpa disadari oleh Rangga ternyata Fani menganggukkan kepalanya. Nampak Rangga tersenyum lebar karena pertanda Tante Fani ingin mendengarkan ceritanya.
"Terima kasih ya, Fan. Dulu aku pernah dekat dengan seorang wanita kaya, dia kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia juga tipe wanita pencemburu, begitupun dengan aku sama pencemburu. Orang tua kita masing-masing punya bisnis kuliner, dan niatku bersama kedua orang tuaku menjalin bisnis bersama, tapi.." Nampak Rangga menghela napas secara perlahan. Kemudian dia kembali melanjutkan obrolannya.
"Tapi, tiba-tiba ada kabar dia akan menikah, sontak aku kesal. Aku bertemu dengan dia dan terjadi percekcokan lalu tanpa aku sadari, aku menampar pipinya karena dia mulutnya begitu lancang. Aku menyesali aku kasar terhadap dia dan aku begitu menyayanginya!"
Degh..
Hati Fani terasa dihinggapi tidak karuan, dia berpikir, Rangga adalah lelaki yang kasar, tempramental.
"Maaf, mungkin kamu kasar!" ucap Tante Fani, memandang kedua bola mata Rangga.
Mata mereka saling bertatapan lekat.
"Semakin aku menatapnya, semakin ada benih-benih cinta." gumam hati Rangga.
"Aku sebenarnya tidak kasar, hanya terbawa emosi saja oleh pacarku sendiri," ucapnya
"Jangan hanya lihat cintaku dari mataku, tapi rasakan cintaku dari hati yang paling dalam, rasakan tanganmu di dadaku, maka kamu akan merasakannya." ucap Rangga.
Rangga spontan meraih jemari tangan Fani, lalu dia genggam erat, dan dia lekatkan ke dadanya, Fani tidak bergeming sedikitpun.
Dia seakan kehabisan kata, terlihat di manik mata Rangga, ada ketulusan cinta yang begitu dalam terhadap sosok wanita yang tengah berada di hadapannya itu.
Fani menghela napas panjang.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Fani dengan pandangannya langsung menunduk dan jemari tangan yang di genggam oleh Rangga, dengan cepat dia lepaskan.
__ADS_1
"Kita sudah sama-sama gagal, mengapa butuh waktu untuk berpikir! kita niat untuk ibadah kedepan. Jujur aku sangat menyayangi dan mencintaimu," Rangga kembali berucap.
"Kita baru kenal, aku hanya butuh waktu untuk berpikir,. Untuk saat ini, aku nggak mau berurusan lagi dengan mamanya cinta. Bagiku sudah cukup kegagalan yang kemarin," Tante Fani membuang napas kasar.
"Sampai kapan Fan, aku akan tetap menunggumu!" ucapnya.
"Aku ragu, pasti kamu masih mencintai mantan kamu itu, jadi lebih baik kita mengenal pribadi diri kita masing-masing dulu," ucap Fani.
\_\_\_\_\_
Baginya tidak mudah untuk membuka kembali lembaran baru dalam membina mahligai cinta, karena dia pernah terluka oleh sebuah cinta.
Kegagalan terdahulu dan ketika melihat sang Kakak dilukai olah sang suami, begitu pun dengan Rama yang sudah menyakiti 2 perempuan. Itu membuat Tante Fani dihinggapi rasa krisis kepercayaan terhadap lelaki.
Mungkin tante Fani hatinya terluka, karena kegagalan terdahulu membuatnya trauma, kembali untuk menjalin percintaan.
Sekarang Tante Fani tidak bisa berpikir untuk memulai mahligai cinta tetapi kedepannya tidak tahu.
\_\_\_\_\_
Rangga nampak menghela napas panjang
"kalau tidak kita dijalani, bagaimana kamu tahu kalau aku itu tulus mencintai dan menyayangimu! Jujur dari awal pas pertama kita ketemu, aku sangat mengagumimu, dengan kecerdasan dan sifat dewasa kamu Fani." ucap Rangga.
•••
Rangga pun seakan tidak tahu harus bagaimana lagi, cara meyakinkan hatinya terhadap Fani, bahwa dia sangat mencintainya.
"Aku percaya Fan, Kamu itu orang baik, meskipun kita baru ketemu."ucap Rangga.
"Rangga, buka matamu! Kamu baru mengenalku! Aku perlu waktu untuk berpikir. Kata siapa aku baik?" Tante Fani mencoba meyakinkan hati Rangga, agar dia jangan terbawa emosi dan napsu sesaat.
"Kata hati aku yang paling dalam," ucap Rangga lirih. Pandangannya kini menunduk. Rangga bingung mesti bicara apa lagi, terhadap wanita yang kini sedang dihinggapi beribu tanya. (Mengapa secepat itu, Rangga mengungkapkan isi hatinya dan kata cintanya.)
Fani membuang napas kasar, dia pun tidak membalas kembali ucapan dari Rangga.
Pikiran Tante Fani kini melayang jauh, mengingat masa lalu cintanya yang begitu berliku dan terluka.
Setengah jam kemudian.
"Aku pulang saja, dan untuk minggu depan, jika aku sibuk untuk acara survei ke Bandung, akan aku wakilkan ke Asisten aku." ucap Rangga lirih.
Sontak hati Tante Fani seakan tidak karuan, entah mengapa dadanya bergemuruh dengan pernyataan Rangga, karena Rangga seakan memutuskan tidak bisa hadir untuk survei tempat bisnisnya kedepan.
__ADS_1
Meskipun Rangga sudah tahu tempatnya, ketika sebelum dia ketemu Tante Fani, dia sudah survei. Tapi Tante Fani berharap jika ada Rangga nanti di sampingnya, biar urusan bisnisnya berjalan lancar.
Bersambung...