
Tyanca nampak menatap tajam kepada Ibunya Rama, matanya berselancar melihat satu persatu lelaki yang berada disana.
"Mana yang namanya Rama?" tanya Tyanca, dengan mata melotot.
"Sabar, tenang," ucap Gerry, sang suami.
Gerry menghela napas secara perlahan.
Gerry memandang Ibunya Rama dan tersenyum tipis
"Bu, saya keluarga Bianca, apakah benar ini rumah Rama, jika benar Rama nya ada tidak?" tanya Gerry, begitu sopan ketika bertanya.
"Rama kerja lembur, belum pulang," jawab sang Ibu.
"Pulangnya jam berapa Bu?" tanya Tyanca.
"Rama pulang jam 8,karena sedang lembur. Maaf ada keperluan apa ya? mencari anak saya," sang Ibu dihinggapi rasa penasaran, karena melihat kedatangan dari keluarga Bianca begitu banyak, tidak 2 atau 3 orang tapi 6 orang.
~~
Mama menatap sang Papa.
"Apa kita keluar dulu bentar Pah, jam 8 baru kita kembali lagi kesini, ini baru jam 7 loh, lama kalau terlalu lama menunggu disini," ucap sang Mama, berbisik pelan kepada sang suami.
"Nggak! kita tunggu saja disini, takut kabur lelaki itu," sang Papa terlihat takut jika Rama, kabur.
__ADS_1
~~
"Bu, ini Bianca pacar dari Rama, dia sedang mengandung anak Rama, dan mau minta pertanggungjawaban anak Ibu," Gerry sangat pelan ketika berucap.
ibunya Rama, sangat terkejut lalu dia menatap lekat kepada Bianca, kemudian dia memandangi perut Bianca. Terlihat tidak percaya dari raut muka sang Ibu, kalau sang anak tega menghamili anak belia.
Dengan rambut di kuncir, Bianca terlihat polos dan nampak mukanya masih kecil.
Ibunya terlihat menghela napas panjang.
"Ayo kita masuk dulu. Kita bicara di dalam. Tidak enak diluar banyak orang," ucap sang Ibu, karena kalau bicara di luar sang Ibu malu, disana sedang kumpul keluarga.
Keluarga Rama sedang berkumpul, mereka sedang mengadakan acara keluarga. Membicarakan acara pernikahan Rama, yang akan di adakan bulan depan.
***
Nampak setelah memasuki rumah, semua terdiam, apalagi sang Papa hanya tertunduk pandangan seakan tidak mau mengarah ke Ibunya Rama.
Tiba-tiba Bapaknya Rama, datang dari dalam kamar. Sang Bapak terlihat dihinggapi rasa penasaran. Siapakah, tamu yang datang ke rumahnya itu.
Bapaknya Rama menatap satu persatu tamu yang hadir.
"Pak ini loh, tamu yang nanyain anak kita Rama," ucap sang Ibu.
Sang Ibu menghela napas panjang. Kemudian dia menceritakan semua yang terjadi yang menimpa sang anak.
__ADS_1
Sang Bapak ketika mendengar hal tersebut dadanya seakan panas, jantungnya berdetak lebih kencang. Bapaknya Rama, menatap Bianca seakan tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Tidak Bu, tidak mungkin anak kita melakukan hal tersebut, mungkin salah orang. Anak kita kan, mau menikah bulan depan dengan Amel," ucap sang Bapak.
Tyanca melotot.
"Loh, kenapa tidak percaya. Memang ini kenyataannya, gimana Bapak ini!" Tyanca terlihat emosi.
"Ya, iyalah nggak mungkin. Anak kita orang baik, dan tidak mungkin melakukan hal tersebut," Bapaknya Rama, terus membela sang anak.
Karena dihinggapi rasa kesal, Papa Bianca akhirnya dia berbicara.
"Sekarang gini saja, tunggu kedatangan anak Bapak. Apakah dia mengakuinya, kalau dia telah menghamili anak saya!" ucap sang Papa. Sang Papa pun menjadi terbakar emosi karena Bapaknya Rama, terlihat merendahkan keluarganya.
"Bianca, coba telepon Rama!" Tyanca terlihat marah kepada sang adik.
Sontak Bianca terkejut, dia seperti sedang melamun dan banyak pikiran.
Bianca kemudian menelepon Rama, namun ponselnya Rama tidak aktif, nampak muka Bianca gelisah.
"Nggak aktif Kak," Bianca pandangannya menunduk.
"Gobl*k"! spontan Tyanca berkata kasar.
Sang Mama, mengedipkan matanya, "Sabar, jangan tersulut emosi Kak," ucap Mama.
__ADS_1
"Lagian kita seperti di permalukan disini Mah," ucap Tyanca, dadanya bergemuruh.