Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 122 Rasa bersalah


__ADS_3

Sang ART datang menghampiri.


Sang ART datang dengan sigap membantu Rama yang sedang meringis kesakitan, dia pun lalu memberikan sebotol air mineral kepada Rama.


Glekk..


Nampak Rama terlihat kesakitan karena barusan didorong oleh Rani meskipun dorongannya tidak kuat, tapi badan Rama terasa sakit dan dari ujung bibir terlihat lebam, terkena sudut meja akibat dorongan dari Rani.


"Duduk Nak, istirahatkan dulu badannya, kasihan Nak Rama ini ya," ucap sang ART.


Sang ART pun menceritakan semua keburukan yang akan direncanakan oleh Bapaknya tersebut mengenai rencana sertifikat yang akan dia simpan di Bank.


"Bukannya sertifikat itu sudah dibawa sama Bapakku, justru aku mau membicarakan sertifikat rumah yang di tempati oleh Ibuku sekarang, dan tadi Bapak bilang tidak tahu, mungkin dia berbohong sudah simpan di Bank dan uangnya entah dipakai buat apa!" ucap Rama mencoba menjelaskan kepada sang ART.


"Kata Bapak mau ambil lagi sertifikat rumah yang di tempati oleh temannya, rumah tersebut kan sedang di kontrakan," ucap sang ART kembali menjelaskan.


_____


Rama hanya bisa mengelus dada dengan tingkah polah sang Bapak. Rama pun seakan berpikir bagaimana caranya dia bisa pindah dari rumah itu agar bayangan Bapaknya tidak hinggap terus di dalam dirinya dan sang Ibu.


Rama pun akhirnya pamit kepada sang ART dan berlalu dari rumah Rani menuju kembali ke rumahnya.


Dia memasuki mobil, dengan hati yang tidak karuan. Mobil tersebut adalah pemberian Tante Fani kalau mobil tersebut di jual buat berobat sang Ibu, dia malu oleh sang Tante karena nanti sang Tante beranggapan tidak menghargai pemberian sang Tante.


Ting...


Tiba-tiba sebuah pesan berbunyi di ponsel milik Rama, sang Bapak nampak memberikan sebuah pesan.


{"Anak kurang ajar, istriku harus dirawat sekarang di Rumah Sakit, karena luka di kepalanya cukup serius,"} pesan yang di tulis oleh sang Bapak membuat hati Rama tidak karuan dia seakan berdosa dan dihinggapi rasa bersalah yang teramat besar. Meskipun dia benci terhadap sosok Rani, istri muda dari


Bapaknya tersebut.


"Apa aku harus minta maaf kepada Rani? atau biarkan saja dia menahan rasa nyeri di kepalanya," gumam hati Rama.


Tapi Rama seakan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Rani, dia pun melajukan mobilnya kembali ke arah rumahnya.


{"Maafkan aku, lebih baik aku berkelahi dengan Rani, dari pada Ibu tersakiti dengan ulah Bapak,"} balas pesan Rama.


{"Awas, tunggu pembalasanku!"} balas sang Bapak seakan mengancam.


{"Silahkan, nanti kalau Bapak berani! Nanti Bapak akan berurusan sama pihak berwajib,"} Rama pun dengan berani mengancam sang Bapak karena dirinya merasa di pojokan dan disalahkan oleh bapaknya itu.

__ADS_1


Nampak setelah Rama memberikan pesan tersebut, Bapaknya Rama tidak membalaskan pesan lagi.


_____


Sampai di rumah.


Setelah sampai di rumah nampak disana ada Tante Fani yang sedang duduk di teras rumah bersama Rangga.


Nampak sang Tante terlihat terkejut dengan kondisi Rama karena bibinya lebam dan jalan sempoyongan seperti menahan rasa sakit.


"Rama, kamu kenapa!?" nampak terkejut sang Tante tatkala melihat Rama yang terluka.


Kemudian Rama menceritakan semua apa yang terjadi, sontak sang Tante dihinggapi rasa marah nampak terlihat dari raut mukanya.


"Maunya apa sih, si Rani itu!" ucap sang Tante.


"Sabar,,,jangan marah nanti juga dia akan kena karma," ucap Rangga mencoba menenangkan pikiran sang kekasih.


Tante Fani sudah menerima cintanya Rangga, dan mereka akan melangsungkan pernikahan bulan depan.


______


Bruk...


"Astagfirullah,,," ucap Tante Fani


Sang Tante melihat Ibunya Rama sedang terkapar di bawah lantai nampaknya dia terjatuh dan pingsan.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, cepat!" ucap Rama dengan rasa panik dia berucap.


"Tenang dulu, jangan panik!" ucap Rangga lalu dia mengangkat Ibunya Rama ke atas kasur.


"Kak, bangun Kak!" ucap sang adik sambil membalurkan minyak kayu putih ke badannya sang Kakak.


_____


Beberapa menit kemudian.


Emmhh....


Akhirnya Ibunya Rama membuka matanya secara perlahan, dia pun meringis menahan rasa sakit karena badannya barusan terjatuh di atas ranjang.

__ADS_1


"Kakak mau dibawa ke Rumah Sakit!? kenapa kok bisa sampai terjatuh sih, kak," tanya Tante Rani dihinggapi rasa khawatir.


"Badan kakak lemah Dek, nggak tahu kenapa tadi mau ambil obat di atas meja, badan terasa lesu tidak berdaya, dan akhirnya terjatuh," ucap Ibunya Rama dengan mukanya yang pucat.


Sang Ibu menatap lekat ke arah Rama.


"Mana janji kamu, katanya mau bawa cucu Ibu ke sini!" tanya sang Ibu berharap dengan begitu memelas.


Nampak Ibunya Rama rindu dengan sosok Cucu dan akhir-akhir ini Ibunya Rama begitu terus menerus memikirkan kedua cucunya yang dia terlantarkan, rasa bersalah kian menghinggapi perasaan Ibunya Rama, rasa sakit yang dia alami sekarang karena terlalu memikirkan keadaan sang Cucu dan rasa rindu yang teramat dalam.


Rangga dan Tante Fani menatap paket ke arah Rama seakan ada tanya dari diri mereka masing-masing.


"Kakak mau bertemu dengan anaknya mantan Rama? Biar nanti Fani yang bawa kakak ke sana untuk menemui anaknya Rama atau Cucunya dibawa ke sini," ucap Tante Fani mencoba menghibur perasaan sang kakak.


"Sudah jangan ngerepotin Tante, biar Rama nanti yang mendatangi rumahnya," ucap Rama dengan menundukkan kepalanya. dalam hati Rama dihinggapi rasa bersalah dan malu yang teramat.


"Perut Ibu terasa perih, dan kepala begitu sakit," ucapnya dengan meringis seperti menahan rasa sakit yang teramat.


"Tadi makan enggak?"tanya Rangga matanya menatap ke arah meja, dan disana masih nampak nasi dan sayur beserta lauknya masih utuh.


"Percuma kalau tidak di isi perutnya, yang ada rasa sakit gak akan sembuh," ucap sang Tante dengan menghela napas panjang.


Tante Fani pun mengambil makanan yang ada di atas meja kemudian dia menyuapi sang kakak, Tante Fani nampak mengelus dada, dia khawatir dengan kondisi sang kakak yang semakin memburuk.


Tante Fani berpikir dalam hatinya mungkin kakaknya terlalu berat memikirkan suaminya yang pergi dengan sang pelakor, dan mungkin juga Ibunya Rama memikirkan kedua mantan menantunya yang pernah ditelantarkan oleh Rama.Di tambah bayangan sang Cucu yang dia rindukan selalu hadir menerpa bayang dan pikirannya.


"Sekarang makan dulu, minum obat dan nanti kalau sembuh, saya ajak kakak ke rumahnya Amel dan Bianca, untuk bertemu dengan Cucu kakak," ucap Tante Fani mencoba menghibur sang kakak agar tidak sedih dan pikirannya yang sedang tidak karuan.


Ibunya Rama hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Rangga pun keluar bersama Rama dari kamar Sedangkan Tante Fani masih menyuapi sang kakak di dalam kamar


_____


Nampak Rangga dan Rama berada di teras.


"Gimana hubunganmu dengan kedua mantan kamu, masih seperti dulu, tidak baik?" tanya Rangga menatap lekat kepada Rama.


Rama membuang napas kasar.


"Mereka belum bisa memaafkan aku atas kesalahan-kesalahan yang aku perbuat dulu. Entahlah aku harus berbuat apa," ucap Rama terlihat dari raut mukanya menahan rasa sedih yang teramat.

__ADS_1


Rangga pun hanya bisa menghela napas panjang melihat kondisi Rama yang hatinya sedang terpuruk.


Bersambung...


__ADS_2