Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 94


__ADS_3

Angga tiba di rumah.


Angga merebahkan badannya di kursi sofa, nampak dia sedang berpikir keras, karena apa yang baru saja dia alami, seakan membuat kepala dia pusing dan hati tidak karuan.


Seakan jelas terngiang di kuping Angga, bahwa sosok dari kliennya besok yang akan datang adalah Tante Fani dan Rama.


Bola matanya lekat ke arah layar ponsel, karena Angga sedang menunggu telepon dari Gerry, tadi Gerry sudah berjanji kepadanya, akan menghubungi malam ini.


Tiba-tiba Amel datang dari arah kamarnya, sambil membawa minum air mineral.


"Belum tidur Kak, Kenapa?" tanya Amel. kemudian dia duduk di pinggir sang kakak.


Rangga menghela napas secara perlahan, nampak Amel dihinggapi rasa penasaran karena terlihat jelas dari raut muka sang kakak, nampak sedang berpikir keras.


"Kakak sedang bingung Dek, karena Ini masalah yang rumit!" ucap Angga menatap lekat kepada sang adik.


"Maksud kakak masalah kerjaan atau masalah percintaan? Hehehe..."


Amel berusaha menggoda sang Kakak, agar sang Kakak tidak terlihat serius.


"Masalah si penghianat! ucap sang Kakak terdengar dihinggapi rasa kesal dan geram.


Sontak Amel mengerngitkan dahi dan nampak tambah penasaran, dengan ucapan sang kakak yang terdengar penuh teka-teki itu.


"Penghianat! Maksud kakak apa?" tanya Amel.


"Terrnyata rekan bisnis Kakak yang mau bertemu dengan kakak besok itu, adalah..." Angga terlihat menghembuskan napas kasar, kemudian dia menatap lekat kembali sang adik.


Amel menggaruk pelan rambut kepalanya, pertanda dia semakin bingung dengan ucapan sang kakak yang terdengar sangat bertele-tele itu.


"Kak kalau ngomong jangan dipotong-potong, jadi Amel bingung dengarnya," ucap sang adik terlihat kesal dan cemberut.


"Rekan bisnis Kakak, kamu mau tahu orangnya? Dia adalah Rama, dan Tantenya!" ucapnya terdengar penuh emosi.


Degh..


Jantung Amel terasa di remas tatkala mendengar nama Rama kembali hadir.


Amel tertegun dan matanya terbelalak karena dia tidak percaya dengan ucapan sang kakak.


"Masa sih Kak, Kakak tidak sedang becanda kan?" tanya Amel.


"Ngapain becanda!" ucap Angga, terdengar emosi.


•••••


Drettt.. Drettt... Drettt


Bunyi suara telepon terdengar dari ponsel milik Angga. Nampak terlihat nama Gerry muncul di layar ponsel.


"Diam jangan bicara dulu, Kakak mau serius ngobrol dengan Pak Gerry," ucap Angga kepada Amel.


Amel menganggukkan kepalanya, dia pun mencoba merapikan rambut yang terlihat berantakan. Rambutnya dia ikat di kuncir satu, dia tarik ke belakang, mungkin dia pikir agar terdengar jelas kupingnya, ketika dia mendengarkan obrolan antara sang Kakak dan Gerry.

__ADS_1


•••••


{"Angga, saya sudah pikir matang. Ini pun saya sudah berdiskusi dengan istriku. kamu tahu sendiri kan, sifat istriku Tyanca, seperti apa. Dia sangat benci dengan Rama,"} ucap Gerry.


{"Iya, Pak, saya tahu sifat Ibu Tyanca, seperti apa. Jadi kesimpulannya gimana?"} tanya Angga dihinggapi rasa penasaran yang teramat dalam.


{"Sebenarnya, barusan saya udah mencoba menghubungi Rangga, dan saya memutuskan untuk Rangga saya kasih tempat usahanya yang tidak berdekatan dengan kita tetapi di daerah, Jalan. Lembang."} ucapnya.


{"Tadi sih, saya mencoba menelepon kepada Pak Rangga hanya sebentar saja, karena ponsel langsung di sambar oleh Tyanca, dan tanpa saya duga, ternyata istri saya menyimpan rasa dendam terhadap Rama. Kemudian Bu Tyanca, menceritakan semuanya tentang masalah pribadi Rama dulu bersama Bianca juga Amel, dan saya terkejut karena istri saya membatalkan bisnis dengan Rangga semuanya tanpa kecuali, termasuk yang di daerah Lembang, karena ada kaitannya dengan Rama. Tapi alhamdulilah, Pak Rangga mengerti dan paham,"} ucap Gerry,


Gerry, nampak menghela napas panjang. Setelah menceritakan semua, apa yang tengah terjadi.


{"Tapi saya khawatir Pak, apa nantinya Pak Rangga dengan Pak Gerry kedepannya akan menimbulkan masalah, atau terjadi perselisihan untuk bisnis kedepannya?"}


tanya Angga dihinggapi rasa khawatir yang teramat.


{"Nggak apa-apa kalau menurut saya, dia kan sahabat bisnis sudah lama. Dia pasti mengerti dan memahami hal itu."} Gerry kembali meyakinkan Angga.


______


Sebenarnya dalam hati Gerry dihinggapi rasa bersalah kepada Rangga, yang sudah memutuskan bisnisnya itu, karena sebelumnya, dia sudah berjanji untuk bisa menjadi rekanan bisnis kepada Rangga, di tempat yang tidak jauh dari tempat Kafenya.


Dia pun sangat kecewa dengan Tyanca istrinya, karena sudah berani menelepon Rangga, dan memutuskan bisnis sang suami.


Namun dia juga harus menjaga perasaan sang istri yang terbakar rasa kecewa dan amarah terhadap Rama.


_____


Setelah meluruskan semuanya


Gerry pun menutup sambungan teleponnya.


•••


Setelah Angga menutup sambungan teleponnya, kemudian dia terlihat bisa bernapas lega. karena Rama tidak di sangkut pautkan dengan bisnisnya.


"Jadi keputusannya gimana Kak?" tanya Amel dihinggapi rasa penasaran yang teramat dalam.


"Tenang, semuanya sudah beres," Angga menghela napas panjang.


Amel pun nampak wajahnya berseri, dia seakan bahagia karena tidak ada Rama, yang akan mengganggu lagi di kehidupannya.


"Sudah kamu tidur! Sudah malam," ucap Angga.


"Siap, Bos!" ucap Amel tersenyum. Dia pun berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


Angga nampak tersenyum bahagia karena sang adik, sudah kembali tersenyum seperti sedia kala.


"Semoga Amel ke depannya bahagia, dia akan menemukan pendamping yang lebih baik segalanya, bukan seperti lelaki brengsek seperti si Rama!" gumam hati Angga.


____


Angga pun berlalu ke dalam kamarnya, setelah berada di kamar, kemudian dia merebahkan badannya di atas kasur dan melihat langit-langit kamar. Kemudian dia memejamkan matanya, nampak sekelebat bayangan Bianca hingga di benaknya, Angga pun tersenyum.

__ADS_1


"Mengapa bayangan Bianca, kini selalu hadir hinggap di hatiku. Apakah dia merasakan hal yang sama?" ucap Angga.


"Arrghh..sedang memikirkan apa aku ini! dia masih terlalu muda untuk kujadikan istri, dan tidak sepantasnya jika aku menikahinya. Karena pernikahan dia terdahulu hanyalah sebuah keterpaksaan! Andai saja usia dia cukup untuk menikah, mungkin aku akan secepatnya menikahinya, dan meminta restu kedua orang tuanya."


"Andai saja tidak terjadi hal yang buruk yang menimpa Bianca, dan aku di pertemukan dengan Bianca dalam keadaan dia sudah cukup untuk menikah pasti aku akan menikahinya."


_____


Pikiran Angga berselancar cukup jauh, dia seakan memikirkan hal, yang tidak mungkin terjadi. Mungkin sedang banyak pikiran dan tengah di mabuk asmara jadi pikirannya seakan tidak karuan.


Angga nampak membuka layar ponselnya, disana dia membuka galeri foto, dibuka satu persatu foto yang masih tersimpan.


Matanya lekat ke gambar foto seorang wanita yang tengah duduk di sebuah taman, nampak dia terlihat anggun dengan memakai baju gamis. Senyuman gadis itu nampak begitu indah, seakan melunturkan hati sang Adam.


"Khumaira," ucap Angga.


Dia adalah teman kuliahnya dulu, jurusan hukum. Dia sosok wanita cerdas dan lembut.


Mereka berpisah karena saat itu, Ayah dari Khumaira di pindah tugaskan keluar kota.


Waktu itu Angga kehilangan telepon selularnya, dan Angga mengganti nomor teleponnya. Semenjak itu dia kehilangan komunikasi dengan Khumaira.


Rasa gundah gundah gulana menyelimuti hati Angga sampai saat ini, sebenarnya dia menunggu kehadiran Khumaira, entah di mana keberadaannya.


"Aku percaya keajaiban Tuhan, kalau mungkin dia jodohku, pasti dia akan kembali bersamaku," ucap Angga, matanya berkaca-kaca.



Keesokan harinya


Matahari nampak memperlihatkan sinarnya di pagi itu, begitu cerah dan sejuk terasa memantul dari arah luar jendela masuk ke dalam kamar.



Nampak Rama membuka lebar matanya dari tidur lelapnya, dia tersenyum merekah.


Entah mimpi apa semalam, dia merasa pikiran dan hatinya seakan tidak ada beban yang dipikirkan.



Ting..



Tiba--tiba pagi itu, Angga dikejutkan dengan bunyi pesan yang membuat hatinya berbunga-bunga. Rasa tidak percaya seakan menghiasi seluruh ruang hatinya.



"Assalamualaikum, Angga apa kabar? Masih ingatkah denganku Khumaira!"



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2