Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 76 Hujan Air Mata


__ADS_3

Bapak dan Ibu mendengar isak tangis Amel, karena orang tua tersebut dihinggapi rasa khawatir yang amat dalam, lalu mereka berjalan menuju kamar anaknya tersebut.


Nampak di sana sudah ada Angga, sedang mengintip di luar jendela.


Melihat sang anak terlihat dihinggapi rasa khawatir karena dengan pandangan seakan terkejut. Orang tua Amel pun tambah curiga dan penasaran.


•••


"Ada apa ini?" tanya sang Bapak seperti dihantui rasa khawatir, begitupun dengan sang Ibu, dia terlihat khawatir.


"Amel menangis," ucap Angga. Menghela napas panjang.


•••


Kemudian Angga menyeret kedua tangan orang tuanya itu menuju ruang keluarga.


Di sana Angga menceritakan semuanya, apa yang baru saja dia dengar di balik pintu.


Sontak sang orang tua kaget, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar, melongo.


Ibu menghela napas panjang sedangkan sang Bapak terlihat seperti sedang menahan emosi amarahnya. Dadanya bergemuruh tidak karuan. Keluarganya seakan di permainkan oleh Rama, terutama Amel selama ini.


Sang Bapak nampak beranjak dari kursinya, kemudian dia berlalu dari ruang keluarga untuk menghampiri Amel yang sedang tersedu menangis. Namun sang istri meraih tangan di suaminya tersebut.


•••


"Pak, kasian anak kita, nanti saja bicaranya," ucap sang istri.


Bapaknya Amel seakan tak kuasa membendung amarahnya, dia melepaskan genggaman tangan sang istri. Dia pun berlalu dari ruang keluarga.


Tanpa mengetuk pintu langsung sang Bapak, memasuki kamar Amel. Nampak terlihat Amel sedang sesenggukan terisak tangis dan ponselnya masih erat di genggamannya dan lekat di kupingnya.



Amel sontak terkejut tatkala melihat Bapaknya, telah berada tepat di hadapannya.


Terlihat tangannya Amel bergetar, matanya sembab. Sementara suara dari sang suami di sambungan telepon masih terdengar.



Sang Bapak langsung menyambar ponsel tersebut dari tangan sang anak dan Amel pun tidak bisa berbuat apapun.


•••


Nampak terdengar oleh sang Bapak, suara dari Rama yang terdengar memohon kepada Amel dia tidak mau berpisah.



{"Sayang, pokoknya aku nggak mau cerai dengan kamu. Seharusnya kamu bisa meyakinkan terhadap kedua orang tua kamu, terutama Bapakmu yang ingin kita berpisah,"} ucap Rama.


•••

__ADS_1


Tatkala mendengar ucapan sang menantu yang kelakuannya brengsek itu, sontak Bapaknya Amel, terlihat kesal dengan amarah menggebu mungkin seperti di siram bensin rasa panas langsung menyambar hatinya.


•••


{"Lelaki tak tahu diri, ngapain kamu bawa-bawa aku segala. Suruh Amel meyakinkan aku, agar bisa menerima kamu lagi!"} ucap sang Bapak. Terdengar sangat menaruh emosi yang teramat.



{"Baa-Bapak.."} terdengar gugup Rama ketika membalas ucapan sang Bapak.


Rama sangat terkejut, dalam hati berkata.


Mengapa tiba-tiba Bapaknya Amel, yang berbicara di sambungan telepon selularnya.



{"Amel akan mengurus perceraian. Kamu tunggu saja nanti surat dari pengadilan!"} ucap sang Bapak tegas.



Amel hatinya terasa hancur lebur, dia seakan tidak percaya. Apa yang baru saja didengar dari mulut sang Bapak.


Matanya lekat ke arah bola mata sang Bapak, rasa kesal, pilu, kecewa campur aduk menjadi satu. Dia berpikir kenapa semua keadaannya menjadi seperti ini.


\_\_\_


"Kalau saja kenyataan menjadi seperti ini, aku nggak mau mengenal sosok Rama, dan mungkin anak ini tidak akan hadir disini," gumam hati Amel sambil menatap sang anak.


\_\_\_


{"Aku, salah apa Pak,"} terdengar pilu Rama, ketika berucap di sambungan telepon tersebut.



{"Kamu mau tahu, alasannya apa!} ucap sang Bapak terdengar penuh emosi.


{"Kamu lelaki brengsek dan perusak hati wanita, ternyata istri kamu dua! dan hebatnya kamu pandai menyembunyikan dariku! asal kamu tahu, ya, Amel akan saya jodohkan dengan lelaki yang lebih tangguh jawab dan mapan,"} sambung sang Bapak kembali seakan mengejek.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Terasa di remas jantung Rama, tatkala mendengar jawaban dari sang mertua, bahwa istrinya akan di jodohkan dengan lelaki pilihan Bapaknya tersebut. Penuh sesak batin Rama. Dia hanya bercucuran air matanya menghiasi hamparan pipinya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Terdengar oleh Bapaknya Amel, suara Ibunya Rama dari arah belakang.


"{Nak, kenapa kamu nangis,"}.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Beberapa menit kemudian terdengar sepi, tidak ada suara yang terucap dari mulut Rama, hanya ada suara tangisannya yang terdengar histeris.

__ADS_1



Sang Bapak menutup teleponnya.


"Dasar lelaki cengeng. Pakai acara nangis segala. Pakai rok saja sekalian!} Bapaknya Amel membuang napas kasar.



"Pak, sudah," sang Ibu langsung menggandeng suaminya itu menuju keluar kamar. Dia takut jika amarah sang suami imbas ke Amel yang sedang tertunduk menangis sesenggukan.


Setelah berada di ruang keluarga.


"Pak, minum dulu, tarik napas secara perlahan," ucap sang Ibu. Mengelus lembut pundak sang suami. Sang Ibu mencoba menyabarkan hati sang suami.


"Bu, awasi Amel, jangan sampai dia menelepon dan tergoda oleh si Rama, aku muak dengan lelaki itu. Dia nggak ada moral. Selama ini kita telah di bodohi oleh lelaki brengsek itu. Ternyata dia sudah menikahi wanita lain sebelum anak kita, dan mirisnya wanita yang dulu juga hamil sebelum nikah," nampak sang Bapak tersengal-sengal ketika berucap.


•••


Angga menghampiri sang adik, yang tengah termenung dan bercucuran air mata, dan langsung Angga memeluk Amel. Nampak terlihat jelas matanya berkaca-kaca. Dia sangat merasakan hati sang adik saat ini sedang terluka.


"Dek, yang sabar ya, dan ikhlas. Ini ujian yang harus di hadapi agar kamu lebih dewasa dan ini adalah pelajaran hidup bagi kamu," ucap sang Kakak mencoba menenangkan hati sang adik.


Amel semakin sesenggukan ketika sang Kakak menyabarkan hatinya, dia selama ini merasa bersalah terhadap sang Kakak.


"Kak, maafkan aku," ucapnya terdengar parau. Suaranya seakan habis terkuras.


"Kamu nggak salah Dek," ucap sang Kakak.


"Aku melangkahi kakak nikah, dan aku juga tidak mendengar ucapan Kakak dulu. Kakak selalu mengingatkan aku dulu, jangan dekat dengan Rama, tapi aku salah menilai," ucap Amel sambil menatap sang anak yang matanya berkaca-kaca, seakan akan ada air mata yang akan jatuh di sana.


Anak kecil tersebut seakan merasakan hati sang Mama yang keadaannya sedang gundah gulana.


"Kasian, nasib anak ini Kak," Amel mengusap lembut rambut sang anak yang terlihat ikal seperti Rama.


"Jangan ngomong gitu, Kakak akan selalu berada di sampingmu Dek, dan anak ini biar masalah finansial semua Kakak yang nanggung," ucap sang Kakak.


Angga tidak menyinggung masalah lelaki yang akan di jodohkan oleh sang Bapak.


Dia hanya mencoba fokus untuk menenangkan hati sang adik.


"Aku beruntung mempunyai Kakak seperti Kak Angga, hatinya begitu tulus," ucap Amel mencoba tersenyum terhadap sang Kakak, meskipun ada rasa terpaksa karena hatinya sedang banyak pikiran.



"Assalamualaikum.."


Tiba-tiba ada suara bunyi salam terdengar dari arah teras rumah.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2