
Tante Fani dihinggapi rasa penasaran yang teramat ketika melihat Bapaknya Rama, sedang berbicara dengan wanita yang menabrak Rama. Nampak mereka terlihat begitu akrab dan kenal dekat sekali.
Sang Tante, tidak berani mendekati mereka, dia hanya memandangi dari kejauhan kepada Bapaknya Rama dan wanita itu.
Nampak oleh Tante Fani, kedua orang tersebut berjalan ke arah ruangan dimana Rama berada. Namun nampak Bapaknya Rama, tertegun sangat lama di jendela dekat pintu kamar, dan pandangannya mengarah ke ruangan dimana Rama sedang dirawat.
Kemudian Bapaknya Rama, seperti dihinggapi rasa terkejut dan takut, tatkala dia melihat lelaki yang di tabrak oleh istrinya adalah anaknya sendiri, lalu dengan cepat Bapaknya Rama, meninggalkan ruangan dan berjalan menuju keluar ruangan pasien.
Tante Fani pun semakin dihinggapi rasa penasaran yang teramat, tatkala melihat reaksi Bapaknya Rama, yang tiba-tiba dengan cepat meninggalkan ruangan dan berlalu keluar.
"Aku harus menyelidiki ini semua, ada hubungan apa wanita itu, dengan Bapaknya Rama. Apakah dia kekasih gelap dari Bapaknya Rama? karena aku semakin curiga, kenapa Bapaknya Rama meninggalkan ruangan dimana Rama berada. Dia tidak masuk untuk menjenguk anaknya tersebut," gumam hati Tante Fani, dihinggapi rasa penasaran yang teramat.
Tante Fani pun kemudian berjalan ke arah ruangan dimana Rama berada.
Krekkk...
Pintu terbuka dengan lebar lalu dia menghela napas panjang, dan menatap lekat kepada wanita tersebut.
Nampak wanita tersebut sedang sibuk dengan ponselnya, sementara Rama sedang tertidur lelap karena pengaruh obat yang sudah diberikan oleh sang dokter.
Sedangkan Ibunya Rama, sedang duduk di samping Rama, dan menatap lekat kepada sang anak.
Setelah melihat Tante Fani datang.
"Dek, Kakak mau sholat dulu bentar," ucap Ibunya Rama. Tante Fani pun menganggukkan kepalanya.
Kemudian Fani melirik wanita yang tengah berada di hadapannya.
"Mbak, aku dari tadi lupa nanyain nama, sebenarnya nama Mbak, siapa? tanya Tante Fani kepada wanita yang menabrak Rama.
"Saya Rani, Mbak," ucap wanita tersebut.
"Boleh saya minta nomor teleponnya," ucap Tante Fani, penuh harap diberi nomor ponsel dari sang wanita tersebut, karena dia dihinggapi rasa penasaran. Hubungan dia dan Bapaknya Rama itu sebenarnya ada hubungan apa?
"Boleh dong," ucapnya.
Rani pun tanpa ada rasa curiga, memberikan nomor ponselnya kepada Tante Fani
"Mbak ini, Tantenya Rama?" tanya Rani.
"Iya, saya Tantenya Rama," jawab Tante Fani.
"Rani, kenapa suami kamu belum datang?" sambung lagi Tante Fani.
"Tadi sudah datang, tapi tiba-tiba ada relasi bisnisnya menelepon, jadi dia langsung pergi lagi," ucap Rani.
"Dia tadi datang! maksud dari omongan Rani apa ya? apakah benar Bapaknya Rama, itu pacarnya Fani atau bahkan sudah menikah?" pertanyaan dan rasa curiga begitu menyelimuti otak pikirannya Tante Fani.
"Oh, ya, aku mau bayar semua biaya pengobatan Rumah Sakit, dan ini buat pegangan Rama," ucap Rani, memberikan uang dari dalam amplop terlihat isinya terlihat begitu tebal.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap Tante Fani singkat.
"Kalau ada apa-apa, atau pembayaran kurang bisa hubungi saya kembali, kan tadi sudah saya kasih nomor teleponnya," ucap Rani.
Tante Fani pun mengucapkan rasa terima kasih kepada Rani. Dan Rani pun kemudian berlalu dari Rumah Sakit.
"Rasanya wanita ini bukan orang biasa-biasa, tapi dia orang berada," gumam hati Tante Fani, ketika melihat dari segi penampilan dan isi amplop yang besar.
••••••
Rani tba di dalam mobil.
Rani nampak termenung setelah tiba di dalam mobil, dia nampak dihinggapi rasa penasaran, mengingat suaminya tadi, ketika melihat Rama dari kaca jendela langsung dengan cepat keluar dari ruangan, dengan alasan ada telepon dari teman bisnisnya, padahal tidak terdengar ada bunyi telepon dari relasi bisnisnya tersebut.
Dan mengapa mukanya nampak terlihat pucat pasi seperti orang ketakutan.
"Mengapa suamiku tadi nampak gugup, dan langsung mukanya pucat pasi ketika melihat Rama dan Ibunya," gumam hati Rani, dia pun dihinggapi rasa penasaran yang teramat.
Dia kemudian menelepon Bapaknya Rama atau suami siri nya itu.
{"Pah, dimana?"} tanya Rani.
{"Ak-Aku sedang bersama relasi bisnisku,"}ucapnya terdengar gugup.
{"Yasudah, nanti aku mau ngomong serius sama kamu Pah,"} ucap Rani.
Rani pun menutup sambungan teleponnya.
•••••
Fani terlihat ingin sekali berbicara lebih serius kepada Rani.
"Pasti Rani, masih berada di parkiran Rumah Sakit, aku harus secepatnya nanya ke dia. Ada hubungan apa Bapaknya Rama, dengan dia," gumam hati Tante Fani, diselimuti rasa penasaran.
Tante Fani pun kemudian berpamitan kepada Ibunya Rama, yang sudah beres dari sholatnya.
"Kak, aku mau ke toko bentar mau beli roti, dan snack. Kakak mau nitip apa?" ucap Tante Fani menatap sang Kakak.
Arrghh...
Suara menggeliat dari Rama seakan membuat hati Mama merasa gembira, dan nampak Rama, mukanya sudah tidak pucat lagi, dia terlihat lebih segar badannya.
"Beli roti saja sama," jawab Ibunya Rama.
__ADS_1
Tante Fani pun berlalu dari hadapan ruangan dimana Rama di rawat. Nampak Tante Fani pun dihinggapi rasa gembira karena Rama sudah agak bugar badannya.
"Rama alhamdulilah sudah bangun, Tante beliin jus kurma ya, biar badanmu pulih dan segar," ucap sang Tante.
Rama hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Tante Fani sudah berada di parkiran.
Nampak Tante Fani matanya berselancar mengelilingi area sekitar tempat parkir yang berada di halaman Rumah Sakit.
Mukanya langsung tersenyum lebar ketika melihat Rani, wanita yang dicarinya itu ternyata masih berada di parkiran.
Tokk..Tokk..Tokk..
Fani beberapa kali mengetuk pintu kaca mobil, tak berapa lama kemudian wanita yang berada di dalam mobil pun membuka lebar kaca pintu mobil.
"Mbak.." ucapnya tersenyum.
"Aku mau bicara sama kamu, boleh kita ke kantin depan dulu bentar, atau kamu mau cepat pergi," ucap Tante Fani.
"Nggak, ko, tapi aku jadi deg-degan ada apa ya," ucap Rani mencoba tersenyum, walau dalam hatinya dihinggapi rasa heran.
"Obrolan santai ko, ayo kita ngopi bentar," ucap Tante Fani.
Rani pun keluar dari dalam mobil, kemudian mereka berjalan menuju kantin yang berada tepat di depan parkiran mobil.
Sampai di kantin.
Setelah sampai di kantin, Rani dan Tante Fani duduk berhadapan, nampak kedua wanita tersebut dalam hatinya masing-masing dihinggapi rasa tanya.
"Mau pesan apa?" tanya Tante Fani kepada Rani.
"Pesan jus mangga," jawab Rani.
Kemudian Tante Fani melambaikan tangan kepada pelayan kantin, setelah pelayan kantin datang lalu Tante Fani memesan beberapa minuman dan snack.
Setelah beberapa menit kemudian, pesanan pun datang.
Nampak Rani meminum jus mangga yang terlihat menyegarkan tenggorokan. Tante Fani pun menyeruput kopi panas dengan wanginya yang menyeruak seakan menggoda penciuman.
"Ya ada apa, Mbak?" tanya Rani menatap lekat kepada Tante Fani.
"Maaf sebelumnya, tadi ketika aku keluar dari toilet kulihat kamu sedang bersama lelaki. Apakah itu suami kamu?" ucap Tante Fani menatap tajam kedua bola mata Rani, yang nampak dihinggapi rasa penasaran.
"Iyaa.." ucapnya.
Degh..
Jantung Tante Fani berasa mau copot, tatkala mendengar jawaban dari Rani, bahwa lelaki yang tadi bersamanya itu adalah suaminya.
Bersambung...
__ADS_1
.