
Sang ART nampak terkejut tatkala melihat tamu yang datang, karena ternyata tamu yang datang itu adalah Rama. sang ART tahu bahwa Rama itu adalah anak sang majikan, sang ART pun menatap Rama dengan gugup.
"Mau bertemu siapa ya?" tanya sang ART kepada Rama, sang ART tersebut sebenarnya sudah tahu bahwa Rama mau bertemu dengan Bapaknya, tapi dia berusaha menutupi semuanya agar Rama tidak curiga bahwa anaknya sang ART, rumahnya dekat Rama. Dan Rama pun tidak menyadari hal itu.
"Saya mau bertemu dengan pemilik rumah ini!" ucap Rama, pandangannya mengarah ke dalam rumah dan nampak di rumah tersebut sepi, dan dalam benak Rama pun berpikir. Mungkin Bapaknya sedang keluar tidak ada di rumah itu.
•••••
"Silahkan masuk Mas, sang ART tersenyum ramah kepada Rama dan mempersilakan Rama untuk masuk.
"Terima kasih, saya di teras saja!" jawabnya.
Sang ART tersebut akhirnya berlalu dari hadapan Rama. Dalam benaknya berpikir mungkin ada hal serius yang terjadi kepada keluarga Rama karena Rama mendatangi Bapaknya secara tiba-tiba.
•••••
Tok...Tok...Tok...
"Pak,, Pak,, ada tamu di luar mau bertemu dengan Bapak," teriak sang ART dengan mengetuk pintu kamar sang majikan.
Rani dan sang suami saling bertatapan, dalam diri benak masing-masing penuh tanya. "Siapakah, tamu yang ada diluar!?"
"Tumben kamu kasih alamat rumah ini, biasanya kamu ketemu dengan klien di luar." tanya sang istri dengan tatapan penuh curiga.
Bapaknya Rama tidak pernah memberikan alamat rumah kepada siapapun, jadi kalaupun pertemuan dia dengan klien selalu di luar.
"Ya,,enggak tahu lah,, Mungkin pak RT atau Satpam komplek!" ucapnya dengan enteng.
•••••
Rani pun seakan tidak peduli dengan tamu yang datang kepada sang suami, dia hanya bisa merasakan rasa nyeri yang tadi terjatuh karena dorongan dari sang suami.
Bapaknya Rama pun menyeret langkah kakinya menuju luar dalam hatinya dihinggapi rasa tanya."Siapakah sosok tamu yang datang!?"
•••••
Dari arah ruang tamu nampak terlihat jelas oleh Bapaknya Rama sosok anaknya yang sedang duduk di teras, dengan muka menunduk dan terlihat menyimpan rasa kecewa yang dalam.
Sontak rasa terkejut hinggap menerpa lelaki tua itu. "Mau ngapain dia ke sini!?" gumam dalam hatinya, dihinggapi rasa tanya kembali.
_____
"Kamu ngapain ke sini!?" tanya sang Bapak terlihat begitu cuek dan dihinggapi rasa takut.
__ADS_1
Takut Rani tiba-tiba datang menghampiri.
Rama pun mendongakkan pandangannya ke arah sang Bapak yang terdengar begitu ketus ketika berucap, dengan tatapan dan sorot matanya begitu tajam mengarah terhadap sang anak.
"Hatimu busuk!" sindir sang anak.
Otomatis matanya sang Bapak melotot, dia merasa tersinggung dengan ucapan sang anak.
"Kamu tidak sopan ya," jawabnya seperti akan menampar Rama, tangannya mengepal.
"Silahkan, kalau berani!" Rama seakan menantang ingin dihantam oleh sang Bapak, dengan mendekatkan mukanya ke arah Bapaknya tersebut.
"kamu sudah berani ya, berucap begitu terhadap Bapakmu sendiri!" jawab sang Bapak seperti dihinggapi rasa kesal dan amarah yang memuncak.
"Bapak,,, Bapak, siapa!?" Rama seakan menyindir Bapaknya tersebut dengan tertawa terkekeh.
"lancang sekali, mulut kamu!" ucap sang Bapak dengan binar mata yang menyiratkan rasa kesal yang teramat, dengan ucapan yang seakan menyindir dan meremehkannya.
"Saya lancang karena saya tidak pernah dididik sopan santun oleh Bapak saya!" Rama Semakin menjadi-jadi mengejek sang Bapak. Rama pun seakan ingin Bapaknya dipermalukan di hadapannya.
"Sudah, cukup,,, cukup! ucap sang Bapak. Bapaknya Rama tidak berani berkata keras, sengaja volume suaranya dia rendahkan karena takut Rani keluar, meskipun keadaannya sedang tersulut emosi yang memuncak.
Rama tertawa lepas.
"Kamu ke sini mau ngapain? Cepat ngomong! ada Rani di dalam," sang Bapak kembali melotot ke arah anaknya tersebut.
"Bapak sembunyikan di mana sertifikat rumah kita?" tanya Rama kepada sang Bapak.
"Sertifikat yang mana?" tanyanya.
Sang Bapak berpikir dalam hatinya kalau sertifikat yang rumahnya dia kontrakan masih ada di ibunya Rama, tapi kalau sertifikat yang satunya lagi, rumah yang sekarang di tempati oleh Rama dan Ibunya sudah dia simpan di Bank, dan hal tersebut tidak diketahui oleh Rani. Bapaknya Rama pun harus membayar uang bulanan untuk membayar cicilan pinjaman rumah tersebut.
"Enggak tahu!" ucapnya cepat.
•••••
Sang Bapak dihinggapi rasa terkejut karena Rama baru mengetahui sertifikat tersebut sudah tidak ada, padahal sudah beberapa bulan yang lalu dia mengambil sertifikat tanpa sepengetahuan Rama.
Saat itu ketika Ibunya pergi ke pasar dan keadaan rumah sedang sepi, kebetulan rumah saat itu tidak dikunci. Mungkin saat itu Ibunya Rama berpikir tidak mengunci rumah, dengan alasan karena jarak rumah dan pasar tidak jauh dan keadaan di sekitar lingkungan tersebut aman.
"Jangan bohong Pak! Ibu sakit terus, dan biaya untuk kontrol ke dokter, juga beli obat tidak bisa di tunda. Sedangkan Rama usaha kan baru mulai. Rama berniat mau buka usaha di sekitar dekat rumah dan butuh modal. jadi Rama berniat untuk meminjam dana dan menyimpan sertifikat itu di Bank," ucap Rama mencoba menerangkan kepada sang Bapak.
"Enggak tahu, Bapak sudah bilang enggak tahu!" jawab sang Bapak.
__ADS_1
"Bohong!" ucap Rama dengan lantang.
_____
Di dalam kamar.
Sontak Rani terkejut dengan suara keras yang datang dari arah luar, Rani pun dihinggapi rasa penasaran dengan suara tersebut. Lalu dia mengintip dari arah jendela.
"Itu kan, Rama!" ucapnya.
Rani melihat percekcokan di antara sang suami dan Rama, karena dia pun ingin tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan. Rani pun menyeret langkahnya menuju keluar.
_____
Rani tiba di depan pintu depan.
Dia pun mendengar percakapan sang suami dan Rama.
"Hati dan pikiran Bapak tertutup oleh Rani, sang pelakor!" ucapnya dengan sorot mata penuh emosi.
Mendengar ucapan Rama menyebut dia sang pelakor, dan seakan merasa dipojokan. Rani pun dengan spontan memarahi Rama.
"Anak durhaka tidak tahu sopan santun!" ucapnya dengan menyerang Rama.
Rani mendorong dengan kasar Rama, karena keadaan Rama sedang tidak fokus dan pikirannya bercabang. Rama pun tersungkur oleh dorongan dari Rani yang dihinggapi rasa emosi yang memuncak.
Dengan cepat Rama bangkit lalu dia mendorong balik Rani. Rani yang keadaan badannya sedang sakit karena baru saja berantem dengan sang suami.
Dia pun tersungkur dan mengenai pintu yang mengakibatkan luka di kepala dan berdarah.
Brukk..
Nampak terlihat Rani begitu meringis menahan rasa sakit yang teramat. Bapaknya Rama dihinggapi rasa panik, dia pun dengan cepat membawa Rani ke dalam mobil sambil memaki sang anak.
"Awas kamu tunggu pembalasan aku!" ucapnya. sang Bapak pun menutup mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat
Sementara Rama hanya diam saja, peluh bercucuran dihinggapi rasa terkejut karena telah mendorong Rani dan mengakibatkan luka di kepala Rani. Dia dihinggapi rasa bersalah karena telah mendorong Rani begitu dengan keras.
•••
"Nak Rama, sabar ya. Mbak tahu kok, perasaan kamu saat ini seperti apa," tiba-tiba sang ART datang dengan membawa secangkir air putih.
Nampak sang ART tidak menyalahkan Rama, malah dia tersenyum puas karena dia pun kesal dengan sang majikan.
__ADS_1
Bersambung...