Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab 33 Papa Kesal


__ADS_3

Setelah pulang dari pasar, Mama Astri terlihat capek. Kemudian dia merebahkan badannya di kursi sofa. Sang Papa nampak duduk di teras rumah dengan pandangan jauh seakan sedang melamun.


Mungkin memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di pasar, bertemu dengan Rama, mantan suami dari anaknya tersebut.


Mama pun berlalu ke dapur untuk membuatkan kopi panas untuk sang suami.



"Pah, ini kopinya, biar pikiran rileks," Mama tiba-tiba datang dengan membawa secangkir kopi yang masih ngebul, baunya menyeruak ke hidung Papa, yang tengah termangu di teras rumah.



"Oh, iya. Iya, Mah," ucapnya terlihat gugup.



"Ada apa Pah?" tanya sang istri. "Pasti masih memikirkan kejadian di pasar tadi ya, bertemu dengan Rama," sambungnya lagi.



Papa hanya menganggukkan kepalanya, lalu menyuruput kopi panas yang di suguhkan oleh sang istri.



"Aku mengerti perasaan kamu Pah, mungkin pertemuan tadi dengan Rama, terasa menusuk dada dan gelisah gundah gulana. Yang di rasakan oleh Kamu sebenarnya sama seperti yang aku rasakan Pah," gumam hati sang Mama.



Sang Mama tidak bisa berkata apapun kepada sang suami, dia hanya mengelus pundak suami dan menatap lekat.


\_\_\_\_\_



Drettt... Drettt... Drettt...



Tiba-tiba bunyi suara telepon masuk ke gawai milik sang Papa. Nampak terlihat sang anak, yaitu Bianca menelepon.



Papa tersenyum tipis dan menghela napas secara perlahan lalu dia mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Nak," ucap sang Papa, di sambungan telepon selularnya.



"Pah, Bianca mau ke Jakarta besok. Tante Astrid katanya ada acara mendadak besok ke Jakarta, boleh Bianca ikut? Merry mau merayakan ulang tahun," ucap Bianca, terdengar riang ketika berbicara.



"Nak, Papa dan Mama kan mau kesana lusa, jadi kamu jangan kesini ya," ucap sang Papa.



Papa sangat khawatir kalau sampai Bianca datang ke acara ulang tahun Merry, disana banyak teman-teman sekolahnya dan yang membuat sang Papa, merasa takut adalah keadaan anaknya tersebut sedang hamil.

__ADS_1


Jadi sang Papa, tidak mau jika anaknya datang ke acara perayaan ulang tahun Merry.



"Pah, Merry itu sahabatku," ucapnya sedikit maksa, dan merengek seperti ketika itu, rengekannya meminta sesuatu kepada sang Papa, untuk kebutuhan sekolah.



"Bianca, pokoknya Papa melarang ya, denger omongan Papa!" bujuk sang Papa.



Tapi Bianca yang polos itu tetap saja merengek, kepada sang Papa.


Sang Papa menghela napas, dia seakan kesal dengan kelakuan sang anak yang masih saja tetap manja walaupun sedang berbadan dua.



"Bianca, dengar!" Papa terdengar dari nada suaranya seperti kesal. "Terserah kamu, kalau kamu tidak mau mendengar omongan Papa, kalau kamu tidak malu dengan perutmu yang buncit dan dipermalukan oleh teman sekolahmu!" Papa terdengar marah ketika berucap.



Kemudian Bianca diam, sambungan telepon pun seakan sepi tidak ada yang yang berbicara satu sama lain. Mereka dengan pemikirannya masing-masing.


Mendengar suara Papa yang terdengar emosi, sang Mama langsung menyambar telepon selular yang sedang di pegang oleh sang suami tersebut. Mama dihinggapi rasa khawatir yang teramat kepada sang anak, karena sang suami terdengar memarahi anak tersebut.


"Halo, Halo Nak, ini Mama," ucap sang Mama, terdengar lembut.


Tidak ada jawaban disana, hanya ada isak tangis dari Bianca. Mama menghela napasnya, lalu melirik sang suami dan terlihat memasang muka kesal.


"Papa, sih!" ucapnya menggerutu.


"Aku serba salah!" gumam hati sang Mama.


Mama mengusap dadanya lalu berbicara lagi kepada Bianca.


"Bianca sayang, benar kata Papa, kamu jangan datang ya, ke acara ulang tahun Merry, kan usia kandungan kamu masih muda, takutnya nanti lemah dan akhirnya sakit,"



Mama mencoba meyakinkan anaknya tersebut dengan perkataan yang baik dan tidak menyinggung perasaan.


Mama juga dalam hati yang paling dalam sebenarnya tidak mau jika sang anak datang ke acara perayaan ulang tahun sahabatnya Merry, karena disana banyak teman-teman sekolahnya, takut kena ejekan temannya yang perutnya kian membesar.


Mama berpikir jika mereka tahu Bianca sedang hamil, maka Bianca akan kena buli. Apalagi sudah lama Bianca tidak masuk sekolah dan ini akan menimbulkan rasa curiga terhadap teman-teman sekolahnya.


Terdengar tangis sesunggukkan di telepon oleh sang Mama. Hanya mengelus dada yang dapat dilakukan oleh sang Mama.


"Mah, kandunganku belum besar, aku memakai jaket dan nanti kalau teman-teman tanya bilang saja pindah sekolah, gampang kan," ucap Bianca, terlihat polos ketika memberi jawaban kepada sang Mama.


"Astaghfirullah, dasar anak masih perlu bimbingan orang tua, dan aku salah kaprah mendidik mengakibatkan kecolongan dia jadi hamil." gumam hati Mama, menghela napas panjang dan mengelus dada.


"Mah..." rengek nya kembali.


Dan Mama seakan tidak bisa berkata apa-apa, ketika sang anak merengek terus untuk datang ke acara ulang tahun sahabatnya itu, yang bernama Merry.


"Yasudah, terserah kamu saja!" ucap sang Mama, terdengar sang Mama tidak ikhlas ketika berucap.

__ADS_1


"Nah, gitu dong Mah, terima kasih," jawab Bianca terdengar tertawa renyah.


Sambungan telepon pun ditutup oleh sang Mama, kemudian Mama memasuki rumah. Nampak Papa, sedang duduk di depan layar televisi. Namun entah acara apa yang sedang di tonton oleh suaminya tersebut, karena dari stasiun satu ke lainnnya, di pindah secara bergantian dalam kurun waktu yang cepat. seakan Papa tidak fokus ketika menatap layar televisi, pikirannya berselancar entah kemana.



"Pah, anak kita jadi dia datang kesini," ucap sang Mama, sambil duduk.di dekat sang suami.



"Ya, nggak apa-apa kesini asal jangan datang ke acara ulang tahun Merry!" jawab Papa terdengar tegas.



"Tapi..." ucap Mama



"Tapi apa? tapi ngeyel mau datang ke acara perayaan ulang tahun Merry, dengan perut bunting!" ucap Papa terlihat kesal.



"Pah, ko' sewot sih!" sang Mama nampak membela anaknya itu, meskipun ucapan suami benar, tapi seakan memojokkan anak kesayangannya itu yang nampak polos.



"Terserah, kalau keluarga kita ingin di permalukan oleh teman-temannya Bianca!" ucap Papa, sambil berlalu dari hadapan sang istri dengan raut muka terlihat marah.


Mama hanya bisa mengelus dada, Mama berpikir serba salah menghadapi kenyataan seperti sekarang yang Mama hadapi.


Mama harus berhadapan dan mencoba menenangkan kepada dua orang yang dia sayangi antara Bianca, yang masih polos pemikirannya belum dewasa, dan sang suami yang mencoba menekan sang anak agar tidak datang ke acara perayaan ulang tahun Merry.



Mama kemudian mencoba menelepon Tyanca. Kemudian Mama ungkapkan semua yang terjadi. Mulai dari Papa bertemu dengan Rama di pasar, dan Bianca yang merengek minta datang ke acara ulang tahun Merry.



"Harusnya si Rama, Papa siram pakai air, biar dia di permalukan di pasar!" ucap Tyanca seakan kesal.



"Kak, ngomongnya jangan gitu ah," ucap sang Mama lembut.



"Lagian aku geram dengarnya Mah," sambungnya lagi.



"Rama terburu-buru pergi ketika melihat muka Papa," ucap kembali sang Mama.



"Nah kalau Bianca ingin ke acara perayaan ulang tahun Merry, nggak apa-apa. Biar dia di permalukan oleh teman-temannya," ucapnya ketus.


__ADS_1


Mama menghela napas panjang.


Dalam hati Mama, berpikir bukan solusi yang dia dapat malah rasa kesal Tyanca, yang seakan menjadi-jadi.


__ADS_2